Juventus, Dianggap tak kompeten

March 5, 2010 on 3:29 am | In Uncategorized | 1 Comment


Penunjukkan Alberto Zaccheroni sebagai pelatih menjadi bukti betapa amatirnya Juventus.

Peluru itu akhirnya ditembakkan. Vonis pun akhirnya dijatuhkan. Kursi Ciro Ferrara akhirnya dicongkel dan dilengserkan. Namun sepertinya solusi ini tak akan memecahkan persoalan Juventus. Tindakan ini justru membuktikan, setelah kembali ke Serie-A usai skandal Calciopoli, Juve sama sekali tak berkompeten untuk berada di level tertinggi.

Jean-Claude Blanc dipromosikan dari posisi general manager menjadi Presiden Klub. Padahal sesungguhnya dia masih mengendalikan tugas-tugas sebelumnya sebagai general manager. General Manager saat ini, Roberto Bettega malah lebih berperan sebagai asisten Blanc.

Tak hanya itu. Secara teknis, sebenarnya Blanc juga merangkap sebagai Direktur Umum Juventus, karena tak ada satu orang pun mengisi jabatan itu di Bianconeri sekarang. Dengan kondisi tersebut, paling tidak Blanc mempermudah publik untuk langsung menunjuk hidungnya saat Juventus terus mengalami kemunduran.

Pebisnis asal Prancis itu memang boleh punya pengalaman segudang. Dia sangat berpengalaman mengorganisir event-event olahraga kelas dunia, seperti turnamen tenis Prancis Terbuka atau balap Paris-Dakar. Namun satu hal harus diingat, dia sama sekali belum pernah berkecimpung dalam dunia sepak bola sebelum di Juventus.

Keberadaan dirinya di Juve sebenarnya lebih karena Juve membutuhkan figur baru dan “bersih” pasca skandal Calciopoli pada 2006 lalu. Sayang, desakan akan adanya figur tersebut ternyata malah membuat Juve menunjuk orang yang sama sekali tak berkompeten.

Lihatlah seperti apa kinerjanya selama empat tahun terakhir. Didier Deschamps yang membawa Juve promosi kembali ke Serie-A sadar betul dirinya tak akan mendapatkan pemain yang diinginkannya setelah promosi. Mundur pun menjadi solusi Deschamps sebelum musim baru bergulir.

 

BOM WAKTU

Blanc pun lalu memasukkan nama Claudio Ranieri ke Juve. Bukan sebuah kesuksesan yang didapat, melainkan surat pemecatan diulurkan ke tangan Ranieri ketika musim tinggal menyisakan dua pekan. Ferrara pun ditunjuk untuk menggantikannya.

Tapi ternyata Ferrara didapuk sebagai pelatih permanen, bukan pelatih sementara seperti yang sebelumnya diperkirakan publik. Sekarang Ferrara sudah pergi, sehingga posisi itu jatuh ke tangan Alberto Zaccheroni, tapi hanya sampai Rafael Benitez bisa membebaskan dirinya dari Liverpool. Rencana ini pun sebenarnya tak ubahnya seperti bom waktu.

Kenapa? Kalau memang Juve berniat mempersilakan Rafa menggelar era baru musim depan, mengapa sekarang mereka memperkerjakan pelatih yang memiliki taktik andalan yang jauh berbeda dengan Rafa? Sekarang Zac sudah mulai mempraktikkan taktik tiga pemain defender yang pastinya akan langsung diobrak-abrik Rafa kalau memang dia tiba musim panas nanti.

Pemilihan Zac seakan menandakan Juve yang terdesak memperkerjakan pelatih yang masih available di bursa saat ini. Pelatih yang rela menerima kontrak hanya selama empat bulan, tak peduli taktiknya sesuai bagi Juve atau tidak.

Melihat kondisi tersebut, wajar rasanya seandainya Juve nanti tak lolos ke Liga Champions musim depan. Dalam beberapa musim terakhir, kecuali Inter, peta kekuatan di Serie-A cenderung seimbang. Misalnya musim ini. Ajaib rasanya melihat Lazio dan Udinese berkutat di papan bawah, sementara Palermo, Napoli, Bari, dan Genoa, malah sibuk bersaing menuju ke pentas Eropa.

Di musim ini juga, siapa yang bisa menduga ketika AS Roma disulap dari klub yang sempat berkutat di zona degradasi, tapi mampu duduk di posisi kedua di periode Februari?

Ranieri pasti sedang menikmati momen ini. Melihat bekas klubnya mengais poin di Livorno. Rasanya pasti menyenangkan ketika dendam itu terbalaskan, meski mungkin Ranieri tak terlalu frontal saat mengatakannya. Dia berhasil membuat Roma tak terkalahkan dalam 19 laga. Dan ketika Luca Toni pulih, siapa yang bisa menyangkal AS Roma sebagai kandidat scudetto musim ini?

Tentu saja keinginan itu ditebar dengan harapan Inter akan tersandung, meski Nerazzurri kini bukan lagi sebuah klub yang membeli pemain hanya berdasarkan penampilan. Dan tak peduli bagaimana pemain-pemain itu akan masuk ke skema taktik pelatih.

Inter juga bukan lagi klub yang menghabiskan dana besar untuk membeli bintang dadakan dan berharap mereka akan tetap menjadi bintang di Serie-A tanpa memberi waktu beradaptasi. Inter bukan lagi klub yang terus memecat pelatihnya dan tak punya rencana jelas di masa depan.

Inter tak lagi jadi klub yang tak punya kemampuan manajerial yang kompeten. Intinya, kini semua jejak inkompetensi Inter dulu diikuti Juventus yang kini sama sekali tak kompeten.(*)

Don Revie, Disayang dan Dibenci

March 5, 2010 on 3:27 am | In Uncategorized | 6 Comments


Berhasil mendidik pemain bermental jawara, tim asuhan Revie sekaligus menjadi salah satu tim paling dibenci di Inggris.

PARA penggemar sepak bola pasti sulit melupakan tim Leeds United di era 1960-an dan awal 1970-an. Kesuksesan demi kesuksesan mereka raih sepanjang tahun itu. Mulai dari juara Divisi I musim 1963-64, Juara Liga Inggris musim 1968-69 dan 1973-74, Piala FA 1972, Piala Liga 1968, dua Piala Inter-Cities Fairs 1968 dan 1971.

Lalu, siapa sebenarnya tokoh di balik sederet kesuksesan tersebut? Jawabannya, Donald George Revie, atau yang lebih dikenal sebagai Don Revie. Dia memulai kariernya di The Whites sebagai player-manager pada Maret 1961. Sekitar 2,5 tahun sebelumnya, Revie berstatus sebagai pemain Leeds dengan posisi sebagai centre-forward.

 Di awal kariernya sebagai manajer, dia belum berhasil membawa timnya merebut gelar juara Divisi II. Apalagi kondisi klub tengah terkena krisis keuangan, sehingga membuat Revie tak mampu berbuat banyak. Untungnya, di akhir musim itu, dia berhasil menghindari zona degradasi dan tak turun ke Divisi III.

Keberhasilan itu seakan melecut semangat Revie. Di musim berikutnya, dia membalikkan semua kondisi. Leeds United berhasil promosi ke Divisi I di musim 1963-64. Sejak itu Revie beserta pasukannya sama sekali tak tertahankan. Mereka tak pernah finis di luar posisi empat besar antara 1965—1974. Kesuksesan demi kesuksesan pun mereka raih sepanjang rentang waktu tersebut.

Apa rahasia sukses Revie? Ternyata dia berhasil membakar semangat para pemainnya setiap menjelang laga. “Kalau kalian ingin menjadi juara, milikilah mental juara. Begitupun kalau kalian sudah menjadi juara, bersikaplah sebagai seorang jawara, di dalam lapangan atau di luar lapangan. Seorang pemain sepak bola tak cukup hanya mampu meraih gelar, tapi dia juga harus berperilaku layaknya seorang jawara,” kata dia.

Karenanya, dia benar-benar menanamkan disiplin keras kepada para pemain. Revie tak mengizinkan pemain memiliki rambut melebihi krah kostum. Dia pun dikabarkan pernah menggertak dua pemain yang diketahuinya menonton bioskop dengan membeli kursi yang paling murah. “Sebagai seorang jawara, seharusnya kalian duduk di kursi untuk juara, dan bukan di kursi murahan seperti ini!” bentak Revie.

 

JAUH KE DEPAN

Uniknya, tak ada satu pun pemain yang mengeluh karena harus menaati peraturan-peraturan yang diterapkan Revie. Bahkan Peter Lorimer, salah satu pemain legendaris Leeds menyebut, sosok Revie malah dianggap sebagai sosok ayah dalam tim. “Kami sadar, apa yang dilarang olehnya merupakan yang terbaik buat kami,” kata dia.

“Pemikiran Revie selalu ke jauh depan. Di saat klub lain belum menerapkan peraturan berangkat ke laga tandang sehari sebelum pertandingan, kami sudah melakukannya. Begitu pula dengan peraturan diet makanan sebelum laga. Mungkin itu normal dilakukan di zaman sekarang, tapi Revie sudah menerapkannya 40 tahun lalu,” imbuh Lorimer.

Sayang, di balik semua kesuksesan itu, Leeds United di era Revie harus rela disebut sebagai salah satu tim paling dibenci sepanjang sejarah sepak bola Inggris. Di lapangan, mereka diberkahi bakat yang luar biasa seperti Lorimer, Johnny Giles, dan Billy Bremmer.

Tapi bakat itu diikuti dengan gelar Dirty Leeds yang tersemat di dahi mereka. Media sering menghujat tim Leeds yang sering bermain kasar. Pemain-pemain seperti Billy Bremner dan Norman Hunter, sering terlibat pertikaian dengan pemain lawan. Bremner bahkan pernah menarik krah kostum pemain Tottenham Hotspur, Dave Mackay, akibat menekel Bremner pada 20 Agustus 1966.

Namun di balik sikap bengalnya, rupanya Bremner merupakan anak kesayangan Revie. Revie pernah sampai mengancam manajemen klub yang ingin menjual Bremner dengan harga 25 ribu pounds. “Kalau dia pergi, maka saya juga pergi.” Ancaman itu ternyata manjur, klub tak jadi menjual Bremner.

Revie sadar betul Bremner adalah salah satu aset berharga bagi tim, termasuk Bobby Collins tentunya. Tak heran, di bawah asuhan Revie, Bremner sampai merebut gelar Pemain Terbaik Liga Inggris bersama Collins. Di saat yang sama, Revie juga merebut gelar sebagai manajer terbaik se-antero Inggris.=Ruri

 

DATA REVIE

Nama lengkap      : Donald George Revie

Lahir                     : Middlesbrough (Inggris), 10 Juli 1927

Wafat                    : Edinburgh (Skotlandia), 26 Mei 1989

Karier pemain      : Leicester City (1944-1949), Hull City (1949-1951), Manchester City (1951-1956), Sunderland (1956-1958), Leeds United (1958-1962)

Karier pelatih       : Leeds United (1961-1974), Inggris (1974-1977), Uni Emirat Arab (1977-1980), Al-Nasr (1980-1984), Al-Ahly (1984-1985)

 

(BOKS)

Dimusuhi FA

USAI mengantar kesuksesan bagi Leeds, Revie pun menerima tawaran sebagai manajer timnas Inggris. Kontroversi lain dibuatnya saat menukangi Inggris. Padahal awalnya dia memulai jabatan itu dengan baik saat mengalahkan Cekoslovakia dengan skor 3-0 di Pra-Piala Eropa 1976.

Tapi dia gagal membawa Inggris lolos ke turnamen tersebut. Sejak itu dia dianggap gagal membawa kesuksesan bagi The Three Lions. Bukan prestasi yang diukir, tapi malah kontroversi yang dibuat. Dia mengaku diam-diam sudah bernegosiasi dengan Asosiasi Sepak Bola Arab Saudi saat dia masih menjabat sebagai manajer Inggris.

Tak hanya itu, dia pun dihujani kritik ketika menjual kontrak pembuatan kostum timnas ke perusahaan lain. Dia dianggap mengambil keuntungan dari penjualan tersebut. Kontroversi lain terjadi saat dia memutuskan mengundurkan diri.

Dia lebih memilih menjual ceritanya secara eksklusif kepada Harian Daily Mail, bahkan sebelum mengatakan keputusannya kepada FA. Media lain pun langsung heboh dan menyebut Revie menerima jabatan itu karena gajinya di Arab Saudi naik 17 kali lipat dibandingkan gajinya sebagai manajer Inggris.

Tentu saja berita ini membuat FA meradang. Mereka melarang Revie terlibat dalam dunia sepak bola selama 10 tahun. Namun, hukuman ini dihapus ketika Revie melakukan banding. Revie pun akhirnya memilih berkarier di Arab Saudi hingga akhir kariernya sebagai pelatih.

Sepertinya FA benar-benar menaruh dendam terhadap Revie. Di saat Revie meninggal dunia pada 26 Mei 1989, tak satupun pejabat FA yang datang menghadiri pemakamannya. Bahkan FA juga tak memerintahkan semua pertandingan untuk menggelar upacara penghormatan selama satu menit bagi Revie.

Beruntung masih ada mantan-mantan pemain Leeds yang masih menghormatinya dan datang ke upacara pemakaman. Mulai dari Allan Clarke, Jack Charlton, Billy Bremner, sampai Johnny Giles.

“Dia adalah seorang pria sejati sekaligus sebagai manajer terbaik yang membungkus kami dengan kain emas dan memperlakukan kami dengan baik. Di bawah asuhannya, Anda akan merasa lebih tinggi tiga meter daripada pemain, dan membuat kami merasa rela sekalipun harus mati demi Leeds United,” pungas Terry Cooper, pemain legendaris Leeds.(*)

Tomas Rosicky, Mozart kembali bersimfoni

August 14, 2009 on 12:26 am | In Uncategorized | 1 Comment


Simfoni itu akan segera kembali. Usai dibekap cedera selama 18 bulan, Tomas Rosicky akan segera kembali merumput musim gugur nanti. Sekitar periode September-Oktober, sang Little Mozart akan segera kembali bersimfoni. Bersimfoni di tengah ketatnya persaingan di pentas Premier League.

“Aku akan kembali pada musim gugur tahun ini. Sebenarnya pelatih kebugaran Tony Colbert mengatakan kalau aku sudah siap bermain akhir musim lalu. Namun klub memutuskan tidak menurunkanku. Bagiku itu tak jadi masalah, klub tak ingin berjudi dengan kondisiku,” kata pemain asal Republik Ceko tersebut.

Tapi, bukan sebuah hal mudah bagi Rosicky untuk segera bersimfoni. Sederet midfielder elegan berkumpul di lini tengah Arsenal. Mulai dari Cesc Fabregas, Theo Walcott, sampai Samir Nasri. Beruntung Rosicky menyadarinya. “Aku kehilangan banyak laga kompetitif. Tapi, bermain bersama Cesc Fabregas dan Theo Walcott akan membuatku merasa nyaman. Aku pasti akan segera lupa kalau sudah absen begitu lama,” kata Rosicky.

Dukungan pelatih pun dimilikinya. Wenger memberinya waktu sampai kontraknya di Arsenal berakhir pada akhir musim depan. Sampai waktu itu tiba, Rosicky harus membuktikan kalau dia bisa kembali menjadi pemain kunci The Gunners.          

“Kalau aku bisa kembali menemukan formula permainan idealku sebelum cedera, aku akan kembali bermain. Wenger sempat merasa frustasi ketika aku katakan kalau aku butuh operasi lagi. Tapi dia tak pernah mencoba menjualku, jadi pasti dia percaya kepada kemampuanku,” kata Rosicky.

“Tomas sudah menjalani semua proses pemulihan dengan baik. Dia juga kuat menjalani semuanya.  Sulit bagi seorang pemain untuk pulih kembali setelah dibekap cedera begitu lama.. Ketika mulai berlatih, kemudian tak berjalan lancar, Anda harus memulainya kembali. Tapi Tomas bisa mengatasi semuanya. Kami begitu merindukannya di skuad,” timpal Wenger.

            Kalau Rosicky kembali bermain,dia akan menambah kualitas skuad Arsenal. Tapi siapa kira-kira pemain yang akan dikorbankan seandainya dia diturunkan? Nasri bisa jadi salah satu kemungkinan. Dia harus rela bergantian menjadi sayap kiri bersama Rosicky. Atau bisa juga Andrei Arshavin lebih didorong ke depan dan membiarkan Rosicky berperan menjadi gelandang serang di belakang striker.

            Apapun peran Rosicky nanti di lapangan, tetap saja pecinta Arsenal menunggu-nunggu penampilannya kembali. Rosicky pun menyambutnya dengan gembira dan mengatakan kalau kondisinya jauh lebih baik dibandingkan ketika pertama kali tiba di Stadion Emirates. So, Mozart tampaknya sudah siap untuk kembali bersimfoni.(Ruri)

 

Riwayat cedera Rosicky

16 Oktober 2007 – Mengalami cedera struktur otot.

26 Januari 2008 – Ditarik di menit ke-9 saat melawan Newcastle di Piala FA akibat cedera hamstring.

27 Februari 2008 – Wenger yakin Rosicky akan kembali setelah menjalani masa pemulihan.

9 Mei 2008 – Rosicky menyatakan jika dirinya tak bisa membela Ceko di Euro 2008.

21 Juli 2008 – Rosicky sadar dirinya tak akan bisa tampil di awal musim 2008-09.

27 September 2008 – Wenger tak dapat memastikan kapan Rosicky akan kembali bermain.

5 Oktober 2008 – Wenger berharap Rosicky akan kembali di awal 2009.

19 Januari 2009 – Rosicky ingin kembali turun sesegera mungkin.

2 April 2009 – Wenger mengatakan jika Rosicky akan kembali dalam kurun waktu empat pekan.

24 April 2009 – Media menyebut kalau Rosicky tak akan pernah bermain bagi Arsenal lagi.

7 Juli 2009 – Rosicky menjalani latihan perdana bersama Arsenal di awal musim 2009-10.

 

ini versi lengkap utak-atik statistik itu…

May 27, 2009 on 2:43 pm | In Uncategorized | No Comments


Warna kostum jawara

Dominasi merah dan polos

Apa pun julukan bagi mereka, yang pasti kostum warna merah lebih sering keluar sebagai juara.

            Majunya tiga klub Inggris ke semifinal Liga Champions musim ini membuat pertemuan antara dua warna yang jamak dimiliki klub pun terjadi. Merah versus biru. Perang itu akan terjadi di babak final karena pertemuan di babak semifinal mempertemukan tim merah dan biru.

            Manchester United yang identik dengan seragam merah akan berjumpa dengan Arsenal yang juga mengusung warna seragam yang sama. Di pertandingan lain, The Blues akan melawan tim yang dominasi warna seragamnya biru, yakni Barcelona.

            Siapa pun yang melangkah ke babak final, duel dua warna sudah pasti terjadi. Duel antara tim merah dan biru. Duel seperti ini sudah pernah terjadi musim lalu saat MU bersua dengan Chelsea di babak final Liga Champions musim 2007-08.

            Jauh sebelumnya, pertemuan antara dua warna bebuyutan ini sudah terjadi di musim 1960-61. Saat itu Benfica, klub asal Portugal yang identik dengan warna merah menyala berhadapan dengan Barcelona di babak final. Benfica merupakan tim merah pertama yang berhasil menjadi jawara di kompetisi tertinggi antarklub Eropa ini.

Pasalnya, sejak digelar untuk pertama kalinya di musim 1955-56, warna putihlah yang cenderung mendominasi. Karena Real Madrid menjadi jawara lima kali berturut-turut.

            Dominasi merah baru terhenti di musim 1963-64 saat Internazionale Milan merengkuh gelar juara usai mengalahkan Madrid 3-1. Tim merah kembali muncul di musim 1967-68 ketika MU menduduki takhta juara setelah mengalahkan sesama tim merah lainnya, Benfica, dengan skor 4-1 di Stadion Wembley, Inggris.

            Sejak itu, MU seakan memulai start dominasi merah di Liga Champions. Setelah MU, giliran Milan, Feyenoord, Ajax, Bayern Muenchen, dan Liverpool. Tim merah berkuasa selama 14 musim yakni mulai musim 1967-68 sampai musim 1980-81, karena Ajax dan Liverpool berkuasa sebanyak tiga kali. Sementara, Muenchen juara empat kali, dan Nottingham Forest menjadi juara di musim 1978-79 dan 1979-80.

            Kekuasaan warna merah dihentikan oleh Aston Villa yang berhasil mengalahkan Bayern Muenchen dengan skor 1-0 lewat gol Peter Withe di menit ke-67. Meski sebenarnya kostum Aston Villa juga memiliki unsur warna merah, meski tak terlalu dominan.

            Setelah merah kembali berkuasa selama dua musim melalui Hamburg dan Liverpool, tim hitam-putih Juventus akhirnya mematahkan dominasi tersebut. Mereka menjadi jawara Liga Champions musim 1984-85 setelah mengalahkan Liverpool dengan skor 1-0 lewat gol Michel Platini di menit ke-56.

           

TAK LAGI MENDOMINASI

            Usai kemenangan Porto atas Bayern Muenchen di musim 1986-87, tim merah tak lagi bisa mendominasi selama bermusim-musim. Paling lama, mereka hanya berkuasa selama empat musim. Yakni melalui PSV Eindhoven, Milan, dan Red Star Belgrade. Barcelona menghentikan dominasi itu di musim 1991-92 saat mengalahkan Sampdoria.

            Sampai sekarang, tim merah, biru, dan hitam-putih secara bergiliran menjadi juara Liga Champions. Warna kuning sempat muncul selama semusim yakni di musim 1996-97 saat Borussia Dortmund mengalahkan Juventus di pentas Liga Champions musim 1996-97.

            Kalau melihat catatan sejarah, sebenarnya warna biru tak pernah lama mendominasi perolehan gelar juara Liga Champions. Mereka hanya mampu mendominasi paling lama selama dua musim, yakni lewat Internazionale Milan yang menjadi jawara dua musim berturut-turut. Yakni di musim 1963-64 dan musim 1964-65.

            Warna putih justru lebih lama mendominasi. Mereka unjuk gigi di masa-masa awal permulaan Liga Champions. Real Madrid yang identik dengan warna putih terus bertakhta di pentas Champions mulai musim 1955-56 sampai 1959-60.

            Kalau dibandingkan secara motif kostum, kostum polos juga tampaknya lebih mendominasi dibandingkan kostum bergaris-garis. Dari 54 kali pergelaran babak final Liga Champions, kostum polos menjadi jawara sebanyak 32 kali sedangkan kostum garis berhasil merebut gelar sebanyak 22 kali.

            Tim bermotif garis yang terakhir kali merengkuh juara adalah AC Milan di musim 2006-07. Meski saat itu Milan mengenakan kostum putih polos di babak final. Untuk musim ini, hanya ada satu tim dengan kostum bergaris tampil di babak semifinal, yakni Barcelona. Mampukah mereka mengalahkan dominasi tim polos dari Inggris. Kita lihat saja nanti.(Ruri)

 

(INFOGRAFIS)

WARNA DOMINASI  JUARA

Putih             Biru         Merah              Kuning             Hitam-Putih          Hijau

7                    11         32                       1                    2                          1

12,96%       20,37%     59,27%          1,85%              3,7%                1,85%

 

MOTIF DOMINAN JUARA

Polos                                        Garis 

32                                              22

-59,27%                                  40,73

 

WARNA TIM JUARA 10 MUSIM TERAKHIR

Musim    Klub

1998-99  Man. United: Merah

1999-00 Real Madrid : Putih

2000-01 Bayern Muenchen: Merah

2001-02 Real Madrid: Putih

2002-03 AC Milan: Merah

2003-04 Porto : Biru-putih

2004-05 Liverpool: Merah

2005-06 Barcelona: Merah biru

2006-07 Milan: Putih

2007-08 Man. United: Merah

 

 (BOKS)

Giliran Barcelona?

            Setelah dominasi merah menghilang mulai musim 1986-87 usai kemenangan Porto, warna lain mulai bermunculan mencuri gelar juara. Warna kuning menjadi pengecualian saat Borussia Dortmund menjadi jawara musim 1996-97. Bahkan saat itu, warna merah sempat tidak berkuasa selama tiga musim ketika Juve juara musim 1995-96, Dortmund, dan Madrid juara musim 1997-98.

            Kalau ditarik selama 10 musim terakhir, kostum merah mendominasi sebanyak enam musim. Sementara biru dan putih masing-masing merebut dua musim. Sementara, kalau dilihat bentuk motif kostumnya, terdapat suatu fenomena yang unik.

            Apabila dirunut dalam enam musim terakhir, terdapat siklus antara motif bergaris dan polos. Siklusnya adalah dua kostum garis dan satu kostum polos. Milan dan Porto yang memiliki kostum bergaris menjadi juara Champions secara berurutan di musim 2002-03 dan 2003-04. Semusim kemudian giliran Liverpool yang berkostum merah polos menjadi juara.

            Lalu, Barcelona dan Milan yang aslinya berkostum garis menjadi juara di musim 2005-06 dan 2006-07. Kemudian, terakhir Man. United yang berkostum merah polos menjadi juara di musim 2008-09.

            So, kalau menurut siklus tersebut, musim ini giliran tim berkostum garis yang akan menjadi juara. Bisa jadi siklus sekarang merupakan kebalikan siklus musim 1995-96 sampai 1997-98. Saat itu, Madrid yang berkostum polos menjadi juara setelah dua musim sebelumnya dua tim bergaris, yakni Juventus dan Borussia Dortmund merengkuh gelar juara. Siapa tahu?(*)

 

ramalan mbah joko (bukan) bodo

May 27, 2009 on 2:33 pm | In Uncategorized | No Comments


 

(berikut tulisan saya di Tabloid Soccer yang dimuat di edisi 41/IX, terbti 18 April 2009) senangnya….

 

Giliran Barcelona?

            Setelah dominasi merah menghilang mulai musim 1986-87 usai kemenangan Porto, warna lain mulai bermunculan mencuri gelar juara. Warna kuning menjadi perkecualian saat Borussia Dortmund menjadi jawara musim 1996-97. Bahkan saat itu, warna merah sempat tidak berkuasa selama tiga musim ketika Juve juara musim 1995-96, Dortmund, dan Madrid juara musim 1997-98.

            Kalau ditarik selama 10 musim terakhir, kostum merah mendominasi sebanyak enam musim. Sementara biru dan putih masing-masing merebut dua musim. Sementara, kalau dilihat bentuk motif kostumnya, terdapat suatu fenomena yang unik.

            Apabila dirunut dalam enam musim terakhir, terdapat siklus antara motif bergaris dan polos. Siklusnya adalah dua kostum garis dan satu kostum polos. Milan dan Porto yang memiliki kostum bergaris menjadi juara Champions secara berurutan di musim 2002-03 dan 2003-04. Semusim kemudian giliran Liverpool yang berkostum merah polos menjadi juara.

            Lalu, Barcelona dan Milan yang aslinya berkostum garis menjadi juara di musim 2005-06 dan 2006-07. Kemudian, terakhir Man. United yang berkostum merah polos menjadi juara di musim 2008-09.

            So, kalau menurut siklus tersebut, musim ini giliran tim berkostum garis yang akan menjadi juara. Bisa jadi siklus sekarang merupakan kebalikan siklus musim 1995-96 sampai 1997-98. Saat itu, Madrid yang berkostum polos menjadi juara setelah dua musim sebelumnya dua tim bergaris, yakni Juventus dan Borussia Dortmund merengkuh gelar juara. Siapa tahu?(*)

 

 

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^