Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (60-Habis)
August 17, 2007 on 2:09 am | In Marga Tionghoa | No CommentsXu Wei si Anak Cerdik
HANYA terdapat sebuah sumber mengenai asal-usul marga Xu dalam sejarah Tiongkok. Sumber tunggal itu mengatakan jika nama ini berasal dari marga Ying.
“Pada zaman Dinasti Xia, ada seseorang yang bernama Ruo Mu. Ia diberi daerah bernama Xu, sehingga keturunannya menggunakan nama itu sebagai nama marga,” jelas John, seorang pengamat budaya Tionghoa di Batam kepada Tribun.
Tokoh dalam marga Xu adalah Xu Guang Qi. Ia adalah seorang ilmuwan pada Dinasti Ming. Tokoh kedua adalah Xu Wei, yang merupakan seorang kaligrafer dan pelukis pada zaman Dinasti Ming. Tokoh ketiga adalah Xu Xia Ke, yakni seorang pengembara yang juga hidup pada masa Dinasti Ming.
Alkisah, sejak kecil Xu Wei sudah tampak pintar. Suatu hari, pamannya memanggil ia dan kawan-kawannya untuk berkumpul di samping sebuah jembatan. Paman Xu Wei sebenarnya ingin menguji anak-anak.
“Ia bertanya, siapa yang bisa membawa dua ember penuh berisi air melewati jembatan yang hanya berjarak 1 cm di atas air, tanpa tenggelam, maka ia akan mendapatkan hadiah,” terang John.
Jembatan yang akan mereka lewati memang terletak tipis di atas permukaan air, sehingga tak mungkin rasanya membawa dua ember penuh berisi air melewati jembatan.
Semua anak bingung tak tahu bagaimana harus melewati jembatan tersebut. Tapi tidak dengan Xu Wei. Ia tetap memiliki ide untuk membawa dua ember penuh air menggunakan tali panjang. Setelah itu, ia menaruh ember itu ke dalam air dan menyeretnya dengan tali.
“Ember yang tenggelam di bawah permukaan air otomatis tak akan mempengaruhi berat badan Xu, sehingga ia bisa dengan mudah melewatinya,” papar John.
“Jembatan yang menanggung berat ember tetapi hanya menanggung beban berat badan. Xu yang cerdik akhirnya berhasil membawa hadiah,” tambahnya.
Tapi, ujian dari sang paman tak hanya berhenti di situ. Ia kembali memberikan hadiah bagi anak yang bisa mengambil hadiah yang digantung di atas tangkai pohon bambu yang tinggi. Dengan syarat, mereka tak boleh naik tangga atau kursi untuk memanjat. Anak-anak lainnya kembali tak bisa melakukannya.
Tapi Xu Wei bisa melakukannya. Ia membawa tangkai bambu tersebut dan memasukkannya ke sebuah sumur. Xu menurunkan tangkai bambu itu dan mengambil hadiah itu yang diletakkan di bagian atas tangkai dengan mudah. “Sejak saat itu, Xu dikenal sebagai anak yang cerdik,” pungkas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (59)
August 17, 2007 on 2:08 am | In Marga Tionghoa | No CommentsLin Ze Xu Pemberantas Candu
ADA tiga sumber nama marga Lin dalam sejarah Tiongkok. Sumber pertama berasal dari marga Zi yakni keturunan pejabat terkenal di zaman Dinasti Zhang yang bernama Bi Gan. Sumber kedua berasal dari marga Ji dan sumber ketiga dari suku-suku kecil di Tiongkok.
“Tokoh dalam marga Lin adalah Lin Bu, yakni seorang penyair terkenal di zaman pemerintahan Dinasti Song utara,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa kepada Tribun.
Tokoh kedua adalah Lin Ze Xu. Ia adalah seorang pahlwan bangsa pada zaman Dinasti Qing. Ia mampu menumpas peredaran candu saat itu dengan membakar dan menghancurkan candu di sebuah tempat bernama Hu Men. Namanya pun dikenal luas karena prestasinya ini.
Menurut kisahnya, Lin Ze Xu hidup pada masa pemerintahan Kaisar Dao Guang di zaman Dinasti Qing. Pada waktu itu, Inggris mengekspor banyak candu ke negeri Tiongkok. Karena rakyat menyukainya, perekonomian bangsa pun terancam. Inggris mengekspor candu dengan maksud untuk menjajah Tiongkok dan melemahkan kekuatan mereka.
Lin pun memberikan laporan kepada Kaisar Dao Guang dan menjelaskan bahaya candu bagi masyarakat Tiongkok. Ia mengusulkan pada kaisar untuk membasmi semua candu tersebut.
Pada bulan Desember 1838, Lin mendapatkan tugas pergi ke Provinsi Guangzhou untuk membasmi semua candu di sana. Dia bekerjasama dengan gubernur dan memberantas candu atau penyelundupan candu.
Ia juga memaksa saudagar-saudagar Inggris dan Amerika untuk menyerahkan 200 kilogram candu yang mereka bawa. Sesampainya di daerah Hu Men, semua candu tersebut dimusnahkan.
Rakyat setempat langsung menyambut keputusan Lin dengan sukacita. Mereka menganggap Lin Ze Xu sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkan mereka dari bahaya candu.
“Lin Ze Xu berhasil menunjukkan tekad besar untuk memberantas peredaran candu saat itu. Dan namanya dikenal luas karena prestasinya ini,” pungkas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (58)
August 17, 2007 on 2:03 am | In Marga Tionghoa | No CommentsGuo Shou Jing Astrolog Terkenal
TERDAPAT tiga sumber mengenai asal-usul marga Guo. Sumber pertama berasal dari keturunan Guo Zhi dan Guo Chong, yang hidup pada masa Dinasti Xia dan Shang. Sumber kedua berasal dari sebuah daerah bernama Guo, yang akhirnya digunakan sebagai nama marga.
“Sementara sumber ketiga menyebutkan, nama ini berasal dari marga Ji yang merupakan keturunan Huang Di,” jelas John, seorang pengamat budaya Tionghoa di Batam kepada Tribun.
Tokoh dalam marga Guo adalah Guo Zhong, yakni seorang konglomerat pada zaman Zhan Guo. Ia mengelola produksi besi saat itu, sehingga ia bisa mengumpulkan banyak harta.
Tokoh kedua adalah Guo Shou Jing. Ia merupakan seorang astrolog pada zaman Dinastu Yuan. Selain itu, ia dikenal sebagai ahli perairan dan imuwan.
Menurut kisahnya, Guo Shou Jing berhasil menciptakan sebuah alat bernama Jian Yi atau Chi Dao Yi. Selain alat tersebut, ia memiliki 20 peralatan lainnya dalam bidang astrologi.
Guo Shou Jing juga sering memperhatikan perubahan cuaca dan langit, sehingga ia berhasil membuat daftar bintang di langit secara mendetil. Guo juga membantu proses pembuatan kalender Shou Shi Li, yang pernah digunakan selama lebih dari 300 tahun.
Sebagai seorang ahli perairan, Guo mampu mengelola berbagai proyek irigasi dan proyek pembangunan sungai-sungai. Karenanya, ia dianggap berjasa terhadap pertumbuhan ekonomi di Cina utara.
Keberhasilannya tak hanya berhenti di situ. Ia juga berhasil dalam bidang matematika, sehingga namanya dikenal luas.
Karena rentetan prestasinya, pada tahun 1970, Asosiasi Astrologi Internasional menggunakan nama Guo untuk menamai gunung di bulan yang tak kelihatan dari bumi.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (57)
August 17, 2007 on 2:02 am | In Marga Tionghoa | No CommentsJiang Mi Belajar di Atap
NAMA marga Jiang berasal dari marga Ying yang merupakan keturunan kaisar Yao Di. saat kaisar Yao Di berkuasa, ada orang bernama Bo Yi yang membantu Da Yu atau pejabat yang mengatasi masalah banjir. Atas jasa-jasanya, Bo Yi mendapatkan hadiah marga Ying.
“Pada waktu Dinasti Zhou barat berkuasa, keturunan Bo Yi diberikan daerah bernama Jiang, dan mereka mendirikan negara Jiang. Meski akhirnya punah, namun keturunannya tetap menggunakan nama itu sebagai nama marga,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa di Batam kepada Tribun.
Tokoh dalam marga Jiang adalah Jiang Gong, yang merupakan sarjana terkenal di Dinasti Han barat. Tokoh kedua adalah Jiang Mi. Ia adalah seorang yang sangat berbakti kepada orang tua dan juga merupakan seorang sarjana terkenal di Dinasti Nan Bei. Tokoh ketiga adalah Jiang Yan, yakni seorang sastrawan di Dinasti Nan Bei.
Menurut legenda, sejak kecil Jiang Mi sudah hidup sangat miskin. Ia hidup di sebuah keluarga sederhana di sebuah desa. Setiap hari, kerjanya hanya membantu orang membuat alas sandal yang terbuat dari kayu. “Ia terpaksa menekuni pekerjaan itu untuk membantu perekonomian keluarganya. Kendati sibuk bekerja, Jiang Mi tak pernah lupa belajar, karena ia memang hobi membaca buku dan belajar,” terang John.
Karenanya, ia memilih untuk bekerja di seorang tukang sepatu yang terletak dekat sebuah kelas. Dari tempatnya bekerja, ia bisa mendengar penjelasan guru karena ia tak mampu membayar biaya sekolah.
Setelah bekerja, ia akan tetap belajar, meski ia tak mampu membeli lampu minyak sebagai alat penerangan saat ia belajar.
Suatu hari, tepat pada tanggal 15 bulan 8 atau tepat pada perayaan Qong Qiu, bulan purnama sedang bersinar penuh. Jiang Mi pun mendapat ilham agar ia bisa belajar dengan bantuan sinar bulan.
“Jiang naik ke atap sembari membawa buku-bukunya. Ia memilih belajar di atap yang lebih terang dengan sinar bulan daripada di dalam rumah yang gelap,” kata John.
“Kadang saat rasa kantuk menerpanya, Jiang sering jatuh dari atap. Tapi ia tetap tak menyerah dan terus belajar,” tambahnya.
Lama-kelamaan, ilmunya semakin bertambah dengan upayanya yang tak kenal lelah itu. Ia pun dikenal luas sebagai sarjana yang memiliki pengetahuan tinggi.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (56)
August 17, 2007 on 2:02 am | In Marga Tionghoa | No CommentsJia Dao Penyair Sejati
TERDAPAT dua sumber mengenai asal-usul nama marga Jia. Sumber pertama mengatakan, nama ini berasal dari marga Ji di zaman Dinasti Zhou. Saat itu, Kaisar Zhou Kan Wang memberikan sebuah daerah bernama Jia kepada adiknya.
“Setelah itu, adik kaisar mendirikan negara Jia di dataran Tiongkok. Meski akhirnya, negara itu dimusnahkan musuh, namun keturunannya tetap menggunakan nama itu sebagai nama marga,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing, terbitan Tiongkok kepada Tribun.
Sumber kedua mengatakan, setelah negara Jia musnah, daerah tersebut dibeirkan kepada seseorang bernama Qu Yan. Kendati demikian, keturunannya tetap menggunakan nama Jia sebagai nama marga.
Tokoh dalam marga Jia adalah Jia Dao. Ia adalah seorang penyair di zaman Dinasti Tang. Tokoh kedua adalah Jia Yu, yakni seorang kritikus politik pada Dinasti Han Barat. Ia juga merupakan seorang sastrawan.
Alkisah, Jia Dao selalu menulis syair yang liriknya serius setiap kali menggoreskan penanya. Dia juga dikenal sebagai penyair yang hobi membacakan syairnya di depan umum.
Suatu hari, ia mendapatkan inspirasi untuk menulis syair yang menggambarkan indahnya malam saat bulan purnama. Saat hendak membuatnya, ia kebingungan apakah hendak menggunakan karakter yang Qiao yang berarti mengetuk atau Tui yang berarti mendorong atau menarik.
Ia pun terus berpikir karakter mana yang akan dipilihnya. Karena terus berpikir, ia sering memperagakan gaya mendorong atau mengetuk di pinggir jalan, supaya ia segera mendapatkan ide.
“Waktu itu, ketika Jia Dao sedang mendorong dan mengetuk di pinggir jalan lewatlah Han Yu, seorang sastrawan Tiongkok. Ia heran melihat perilaku Jia Dao yang memperagakan gaya mendorong dan mengetuk di pinggir jalan,” papar John.
“Setelah mengetahui alasan Jia, mereka menjadi kawan baik. Han merasa kagum terhadap kesungguhan Jia membuat syair sampai harus memperagakan gaya di pinggir jalan,” tambahnya.
Sejak saat itu, kata Tui dan Qiao digabungkan menjadi Tui Qiao dan artinya dikenal sebagai orang yang serius dalam belajar. “Karena jasa-jasa Jia Dao, maka sebuah karakter baru muncul dan bermakna baik,” jelas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (55)
August 17, 2007 on 2:00 am | In Marga Tionghoa | No CommentsDu Fu Penyair Idealis
NAMA marga Du berasal dari keturunan Kaisar Yao Di. Pada waktu Dinasti Zhou barat, kaisar Zhou Wen Wang memusnahkan negara Tang.
“Tak lama setelah dimusnahkan, warga negara Tang pindah ke Kota Du, sehingga keturunannya menggunakan nama itu sebagai nama marga,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing, terbitan Tiongkok kepada Tribun.
Tokoh dalam marga Du adalah Du Fu, yakni seorang penyair terkenal pada zaman Dinasti Tang. Tokoh kedua adalah Du Mu, yang merupakan seorang penyair juga di masa pemerintahan Dinasti Tang.
Tokoh ketiga, atau tokoh terakhir adalah Du You, yakni seorang ahli sejarah yang hidup pada zaman Dinasti Tang.
Alkisah, Du Fu adalah seorang penyair zaman Dinasti Tang yang memiliki aliran realisme. Sejak kecil, sudah tampak semua bakatnya karena ia sangat rajin belajar. Saat ia masih berusia tujuh tahun, ia sudah mampu mengarang sebuah syair. Ilmunya yang semakin bertambah ketika ia sudah dewasa membuat dirinya mampu menguasai ilmu kaligrafi, melukis, musik, dan menunggang kuda sambil memanah.
Suatu hari, ia mengikuti ujian kerajaan. Siapa saja yang lulus dalam ujian tersebut akan menjadi pejabat istana. Sayang, waktu itu sudah berlaku sistem nepotisme, sehingga siapa saja yang tak memiliki saudara di kantor pemerintahan, tak akan lulus ujian kerajaan.
“Karena Du Fu tak memiliki saudara, maka ia tak bisa sukses ujian dan gagal menjadi pejabat kerajaan. Namun, ia malah merasa lebih nyaman hidup sebagai rakyat biasa, dibandingkan menjadi pejabat kerajaan,” tutur John.
Suatu saat, ia berjumpa dengan Li Bai, seorang penyair aliran romantis pada Dinasti Tiongkok. Mereka pergi bersama dan sering mencari ilham untuk syair-syair mereka.
Du Fu sering ikut Libai ke pegunungan atau melihat pemandangan untuk menulis syair. Namun, ia tak merasa nyaman dengan aliran romantis yang digeluti Li Bai.
“Tak lama kemudian, ia memutuskan pergi sendiri dan tetap menggeluti pembuatan syair beralirkan realisme yang selama ini ditekuninya,” pungkas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (54)
August 17, 2007 on 2:00 am | In Marga Tionghoa | No CommentsLiang Hong Sarjana Terkenal di Tiongkok
NAMA marga Liang berasal dari banyak sumber. Satu di antaranya menyebutkan jika nama ini berasal dari nama marga Ying, sedangkan sumber kedua menyebut nama ini dari marga Ji. Pada Dinasti Zhou timur, seorang anak kaisar Zhou Ping Wang diberikan tempat yang bernama Nan Liang. Dan keturunannya menggunakan nama itu sebagai nama marga.
“Sumber ketiga menyebutkan banyak orang di daerah lain yang juga memakai nama marga Liang. Dan sumber keempat menyebutkan, pada zaman Zhan Guo ada negara Wei yang beribukota di daerah bernama Da Liang, sehingga keturunan warga kota itu menggunakan nama Liang sebagai nama marga,” tutur John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing kepada Tribun.
Tokoh dalam marga Liang antara lain adalah Liang Hong, yakni seorang sarjana terkenal pada zaman Dinasti Han. Tokoh kedua adalah Liang Hu, yakni seorang ahli kaligrafi terkenal di zaman Han Timur.
“Sedangkan tokoh ketiga adalah Liang Qi Chao, yang hidup di Dinasti Qing akhir. Ia dikenal sebagai orang yang mempropagandakan kapitalisme di Tiongkok,” papar John.
Alkisah, Liang Hong tak hanya memiliki wajah yang rupawan, tetapi juga memiliki pengetahuan yang sangat luas. Di kampungnya, banyak wanita yang ingin menjadi istrinya. Namun, akhirnya, ia memilih seorang wanita bernama Meng Kuang.
Kendati Meng Kuang bukan wanita yang cantik, tapi ia dikenal memiliki etika dan hati yang baik. Jadi setelah menikah, mereka hidup bahagia.
Pada suatu ketika, Liang Hong mengarang sebuah buku yang menyindir perilaku seorang politikus setempat. Ia pun langsung dicari pasukan kerajaan untuk ditangkap. Liang segera melarikan diri ke daerah bernama Dong Sang bersama istrinya, Meng Kuang.
“Setelah tinggal di Dong sang, Liang pun sibuk mencari nafkah. Ia terpaksa menjadi pembantu, namun setelah bekerja ia tetap memasak untuk istrinya,” jelasnya.
Setiap kali Liang hendak memberikan makanan bagi istrinya, ia selalu mengangkat makanan itu sampai ke alis matanya, tanda jika ia sangat menghormati sang istri.
“Kehidupan pasangan suami-istri yang sangat harmonis ini sampai sekarang masih diingat orang dan dijadikan contoh bagi pasangan suami-istri lainnya,” papar John.
“Bahkan ada sebuah pepatah dalam bahasa Mandarin, yakni Ju An Qi Mei, yang artinya harus ada rasa saling menghormati diantara suami dan istri,” pungkas John.(ruri)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^