Belajar Menulis Lembaran Baru

October 10, 2007 on 7:35 am | In Inspiring Stories | 2 Comments

SEORANG teman mengatakan padaku hari ini bagaimana ia ingin membuka sebuah lembaran baru dalam kehidupannya dan melupakan masa lalu. Sebuah buku baru hendak ditulis dalam jejak kehidupannya. Saat ia mengatakan itu, aku langsung teringat pada Pak Sitepu. Dan tulisan itu begitu saja mengalir…

NAMANYA Pak Sitepu. Aku sendiri tak tahu siapa nama depannya. Ia hanya dipanggil dengan nama keluarga yang lazim dimiliki orang Batak. Selama aku bekerja di Tribun Batam, aku sama sekali tak mengenal sosok tangguh ini.
Momen perkenalan itu terjadi ketika aku ditugaskan mencari agen koran Tribun yang beda dari yang lain, saat Tribun memasuki usia dua tahun. Setelah bekerjasama dengan bagian sirkulasi, akhirnya aku bertemu dengan Pak Sitepu.
Terus terang, aku agak kaget ketika melihatnya untuk pertama kali. Di tangan kirinya bersandar sebuah kruk saat ia duduk di sebuah kursi. Kakinya tinggal satu alias buntung. Namun bagaimana ia bisa menjadi seorang agen koran yang sukses?
Obrolan kami pun mengalir. Pak Sitepu menceritakan kisah hidupnya. Ia pernah kuliah di sebuah sekolah theologi di daerah Salatiga. Ia berhasil menempuh pendidikan di sana berkat jasa seorang warga negara asing yang memberikan beasiswa padanya. Sayang, orang itu keburu meninggal, sehingga kuliahnya pun tak bisa dilanjutkan.
Lalu bagaimana ia bisa kehilangan kakinya? Matanya menerawang. Tak terlihat lagi sebuah duka di sana. “Karena saya nggak bisa lanjutin kuliah, saya jadi sopir truk. Suatu hari, saya terpaksa menggantikan shift teman saya, meski kondisi saya sedang tak fit. Akhirnya benar, saya harus mengalami kecelakaan malam itu dan membuat kaki saya harus diamputasi,” kenangnya.
Sedih memang. Pak Sitepu pun pasti merasakan hal yang sama. Saat mengetahui kakinya harus diamputasi, ia menjerit histeris. Protes kepada Tuhan betapa tidak adilnya Dia karena sudah membuat Pak Sitepu kehilangan kakinya.
Untungnya Pak Sitepu tak mau lama-lama berkubang dalam kedukaan. Ia bangkit dan menuju ke Batam karena ada saudaranya yang mau menolongnya. Menuju sebuah lembaran baru…
Momen-momen awal di Batam kembali membuatnya kesulitan. Ia harus melawan kota metropolis ini untuk bertahan hidup. Semua jenis pekerjaan dilakoninya, meski dengan kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan.
Mulai dari tukang sapu jalanan, pedagang asongan hingga loper koran sudah digelutinya. Dari semua profesinya itu, ia memilih menjadi loper koran karena menurutnya lebih cepat mendatangkan keuntungan baginya.
Hujan deras, terik panas matahari tak pernah membuatnya menyerah. Dengan bantuan kruk-nya, ia terus berjuang menjajakan korannya. Tuhan semakin membukakan pintu rezeki bagi Pak Sitepu, ketika Tribun Batam terbit tahun 2004 lalu. Berbekal pengalaman menjadi loper, ia mencoba-coba melamar menjadi agen Tribun dan alhasil, diterima.
Ia pun mulai mengkoordinir para loper di daerah Sungai Panas, Batam. Setiap harinya, ia bisa membeli hingga 500 eksemplar yang dibagi-bagikannya bagi pelanggan bulanan maupun eceran.
Sebelum fajar menyingsing, Pak Sitepu sudah dipastikan berada di gubuk kecil yang sengaja dibangunnya di perempatan Sungai Panas. Dalam gubuk yang tingginya tak sampai satu meter itu disimpan koran-koran yang sudah diperolehnya dari penerbit.
“Sekarang, setiap bulannya saya mampu menggaji loper koran saya lebih dari gaji upah minimum regional (UMR) Kota Batam. Bahkan kalau ada rezeki lebih, saya sering memberikan bonus untuk mereka,” paparnya.
Sebuah manajemen sederhana bersifat kekeluargaan pun diterapkan untuk mengatur tukang loper korannya. Jika ada satu tukang loper korannya tak datang, ia tak lantas memotong honor mereka. “Saya juga pernah di posisi mereka, jadi kalau mereka tak datang, saya yang menggantikannya,” papar pria berambut putih itu. Kini, dengan menjadi agen Tribun, ia mampu menghidupi dua anaknya yang kini sudah di bangku SMA. “Semoga saya masih kuat dan mampu membiayai mereka hingga lulus kuliah nanti,” harapnya.
Dari obrolan ini, saya pun jadi akrab dengan Pak Sitepu. Setiap kali saya melewati perempatan Sungai Panas setelah liputan, tak lupa sekedar sapaan kecil saya ucapkan untuknya. Pak Sitepu pun tak akan segan menoleh dari gubuk kecilnya dan melambaikan tangan.
Suatu hari hujan deras menerpa Batam. Saya benar-benar kebingungan karena tak membawa jas hujan, apalagi saya sedang berpakaian rapi karena meliput sebuah tugas penting. Bayangan Pak Sitepu pun melintas karena saya kebetulan sedang berada di Perempatan Sungai Panas.
Saya pun berlari menghampirinya. “Ayo masuk mbak, hujan deras sekali,” pintanya menyuruhku masuk ke gubuk kecilnya. Langsung aku masuk ke sana. Sebuah obrolan lagi tersambung antara aku dan Pak Sitepu. Tak terasa, 30 menit sudah berlalu, aku sudah gelisah melihat jam tangan. Waktu liputan sudah tiba, namun hujan masih agak deras di luar.
Pak Sitepu mengetahui kegelisahanku. Dia langsung mengambil tas ranselku dan memasukkannya ke plastik. Hal yang sama dilakukannya pada sepatuku. “Udah mbak, dengan dibungkus plastik begini, barang-barang mbak aman. Tapi mbak terpaksa harus hujan-hujan sebentar. Toh Batam Centre tak jauh dari sini kan?” katanya. Aku bengong melihatnya. Plastik-plastik itu pasti masih dibutuhkannya untuk menutup koran supaya tak basah karena hujan. Beribu ucapan terima kasih kusampaikan. Ia sungguh membantuku melanjutkan tugas liputanku. Sederhana memang, tapi itu sungguh berarti buatku. Pasalnya, dengan semua bantuannya, tugasku terselesaikan dan kamera serta ponselku aman dari terjangan hujan.
Terimakasih Pak Sitepu. Namamu takkan hilang dari ingatanku. Perjuanganmulah yang harus kuteladani. Tak pernah menyerah dalam menghadapi segala sesuatu dan tetap tegar menulis sebuah lembaran hidup baru meski hanya dengan satu kaki. Terimakasih Pak…(ruri)

To A Very Special Father… (3)

September 22, 2007 on 6:55 am | In Inspiring Stories | No Comments

Kau menggenggam tanganku apabila aku takut, apabila aku sakit, apabila aku resah, dan apabila aku bingung. Dari balik bahumu aku melihat dunia. Aku melihat dunia yang dirangkul oleh genggamanmu yang erat. Aku melihat tanganmu bekerja. Aku kagum akan keahliannya.

Kau mengizinkan aku pergi. Kau melepas diriku. Tetapi tanganmu menyentuh bahuku apabila aku memerlukan ketentraman dan keyakinan. Dan jika tangan-tangan itu telah berubah dimakan waktu, mereka akan tetap menjadi tangan ayahku. Yang menyentuhku, dengan cinta…

From To Give and To Keep

To A Very Special Father… (2)

September 22, 2007 on 6:52 am | In Inspiring Stories | No Comments

Ayah,

Terimakasih untuk semua ceritamu. Terimakasih untuk tidak memukulku ketika aku nakal. Terimakasih kau telah mengajariku nilai kesopanan dan rasa hormat dengan memberikannya kepadaku sejak aku masih sangat kecil.

Terimakasih telah membuatku merasa aku nomor satu, tak peduli biaya dan waktu yang harus kau keluarkan. Terimakasih untuk semua nasehat yang aku abaikan, dulu.

Terimakasih telah membuatku tersadar betapa unik dan berharganya setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini. Dan betapa mereka sangat tergantung satu dengan yang lainnya.

Terimakasih karena telah membuat peraturan dan melanggar peraturan itu apabila diperlukan. Terimakasih telah mengajariku arti diam. Terimakasih telah meyakinkan diriku bahwa aku istimewa. Dan mengatakan kalau berkah istimewa itu harus kubagi dengan semua manusia.

Terimakasih atas sepedaku yang kau perbaiki dan boneka beruang yang kau lem dan saat berkemah yang kehujanan dan demonstrasi semuanya. Terimakasih telah pernah berada di sisiku.

Terimakasih Ayah…

To A Very Special Father…

September 22, 2007 on 6:44 am | In Inspiring Stories | No Comments

Seorang ayah yang bijaksana tahu, pelukan yang tenang mampu mengobati semua luka

 Di atas bahumu, di bawah pohon-pohon yang bernyanyi, tanganku kau pegang erat di dalam tanganmu. Sambil berjalan di bukit yang tinggi, dunia terasa ada di bawah kakiku. Dan aku merasa aman dan yakin kalau aku tidak akan jatuh.

Di penghujung hari yang melelahkan itu, lenganmu memelukku, wajahku bersandar pada bahumu. Bau bajumu tercium di bawah hidungku dan kita berlari kecil ke rumah. Di halte bis aku bersembunyi di balik jas hujanmu agar tidak terkena hujan dan ketakutan akan hari yang semakin gelap.

Mengantuk di dalam tubuhmu sementara malam semakin larut. Aman. Yakin. Kita pulang ke rumah.(*)

 

From  To Give and To Keep

Nguyen Bukan Pahlawan…

August 29, 2007 on 6:59 am | In Inspiring Stories | No Comments

*Nguyen Dimakamkan Rabu (7/12)

Melbourne, Tribun - Episode terakhir kisah tragis Nguyen sudah tiba. Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Nguyen Tuong Van (25), Rabu (7/12). Dalam upacara tersebut Pastur Peter Hansen juga membacakan surat permintaan maaf Nguyen.
Sekitar 2.000 pelayat memenuhi Gereja Katolik Katedral St Patrick di Melbourne timur untuk menghadiri misa requiem bagi Nguyen. Diantaranya hadir ibu Nguyen, Kim Nguyen, saudara kembar Nguyen, Nguyen Dang Khoa dan tim pengacaranya.
Di tengah upacara tersebut, buku harian Nguyen bagian terakhir dibacakan. Diduga tulisan itu dibuat sekitar dua jam sebelum dirinya dieksekusi di penjara Changi, Jumat (2/12) lalu.
Dalam surat itu ia menyebutkan surat permintaan maaf kepada semua orang dan dirinya juga mengatakan sudah menghadapi tiang gantungan dengan perasaan damai.
“Ada beberapa episode dalam hidup Van (Nguyen-red) di mana ia bukanlah seorang pria yang baik hati. Saya tak mencoba menyembunyikannya, dan juga keluarga dan temannya pun tak pernah menyembunyikannya. Bahkan Van sendiri juga tak pernah menyembunyikannya,” jelas Pastur Hansen dalam pidatonya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir kehidupannya, kehidupan Nguyen telah dipenuhi dengan keberanian dan kerendahan hati,” lanjutnya.
Pada halaman terakhir di buku harian Nguyen, ia mengungkapkan kepercayaannya yang penuh pada Tuhan.
“Wahai saudara-saudaraku, bagi semua yang sudah berjuang supaya saya tetap hidup, dan bagi semua yang sudah mendoakan atau bagi mereka yang sudah saya sakiti, saya mohon maafkan semua kesalahan saya dan terimalah permohonan maaf saya itu,” demikian tulis Nguyen dalam buku hariannya.
“Sekarang sudah jam 23.00, tugas saya berakhir di sini. Doakan agar saya tak mengecewakan Anda semua. Dan dengan berkat Tuhan semoga Anda semua menemukan kekuatan dan kehangatan dari kata-kata yang muncul dari lubuk hati saya yang paling dalam.”
“Sekarang saya sudah bisa tersenyum saat saya mempersiapkan diri menghadap Tuhan. Anda semua dalam untaian doa saya. Jangan pernah bersedih, tapi bergembiralah selalu dengan kehidupan yang sudah dianugerahkan Tuhan pada kalian semua,” lanjut Nguyen.
Seusai upacara berlangsung, peti jenazah Nguyen, yang dilaporkan membawa heroin dari Kamboja ke Australia untuk membayar hutang Khoa, dibawa Khoa dan anggota tim pembelanya ke luar gereja.
Nguyen dijatuhi hukuman gantung pada 20 Maret 2004 oleh Hakim Kan Ting Chiu di Singapura dan dieksekusi Jumat (2/12) lalu, setelah berbagai upaya permohonan dan pengampunan gagal.
Masih berhubungan dengan kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan warga negara Australia, kali ini Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajuda meminta pemerintah Australia agar tak menaikka emosinya apabila sembilan WN Australia yang menyelundupkan heroin di Denpasar juga dikenai hukuman mati.
“Saya berharap eksekusi Nguyen kemarin bisa mengurangi tingkat kemarahan publik Australia jika Bali Nine juga dikenai hukuman mati dengan ditembak mati,” jelasnya kepada The Australian seperti dilansir dari The Straits Times, Rabu (7/12).
“Karena ada kemungkinan mereka akan dihukum mati nantinya, maka kami mengantisipasi reaksi emosional dari publik Australia,” lanjutnya.
Wirajuda juga meminta publik Australia memahami sistem perundang-undangan negara-negara di Asia.
“Mungkin hukuman mati yang dijatuhkan bagi WN Australia adalah sesuatu yang bisa direfleksikan oleh publik Australia sendiri. Karena di Malaysia, Singapura dan Indonesia, hukuman mati adalah bagian dari hukum positif untuk melawan pelanggaran hukum serius seperti penyelundupan narkoba,” terangnya.
Wirajuda juga tak akan menuduh Australia telah memberlakukan standar ganda karena tak mengkritik hukuman mati bagi Amrozi, tapi terus melakukan protes untuk hukuman mati bagi Nguyen.
“Tentu saja karena Australia adalah korban bom Bali, tapi untuk kasus penyelundupan obat-obatan, kami, warga Indonesia dan Singapuralah yang menjadi korban,” jelasnya.(AFP/rur)

Mengintip Kisah Tragis Nguyen (3-Habis)

August 29, 2007 on 6:56 am | In Inspiring Stories | No Comments

Sebuah Akhir yang Pahit bagi Kim

NGUYEN memang sudah menebus rasa cintanya pada sang adik yang membuatnya harus digantung di Singapura, Jumat (2/12) lalu. Tapi pengorbanannya tak cukup sampai di situ. Ternyata sang adik, Nguyen Dang Khoa terjerat kasus lain yang membuatnya harus dipenjara karena telah melakukan penganiayaan.
Entah apa yang dirasakan Kim Nguyen saat ini. Anaknya yang satu sudah meninggal di tiang gantungan, sekarang giliran anaknya yang lain yang akan menghadapi penjara karena kasus penganiayaan yang dilakukannya.
Cita-citanya masuk ke Australia supaya kedua anaknya bisa hidup dengan layak dan juga memperoleh pekerjaan yang layak, sepertinya sudah kandas. Keduanya berakhir di penjara, dan yang lebih parah, satu anaknya bahkan sudah mati di sana.
Sebuah keluarga di Melbourne sudah mengajukan tuntutan terhadap Nguyen Dang Khoa karena pernah menganiaya Glen Kohu (23) dengan menggunakan pedang samurai. “Semuanya tak adil, ia seharusnya dipenjara,” ujar Glen Kohu Sr, ayah Glen.
Khoa (25) memang mendapatkan penundaan hukuman penjara selama tiga tahun karena situasi keluarganya yang dianggap hakim sangat traumatik, setelah saudara kembarnya dieksekusi.
Khoa memang mengaku bersalah telah menganiaya Kohu pada Desember 1998 lalu. Kemungkinan besar penundaan hukuman ini akan dicabut setelah Nguyen dieksekusi.
Sampai sekarang, Kohu masih menderita tekanan psikologis dan fisik karena penganiayaan itu. Kohu pun harus menjalani operasi plastik untuk memulihkan luka-lukanya.
“Saya memang bersimpati pada Kim Nguyen pada apa yang harus dialaminya, tapi saya sama sekali tak bersimpati pada Khoa. Ia memang terlihat tenang dan kalem menghadapi semuanya, tapi itu bukan Khoa yang sesungguhnya,” ujar Bonnie, ibu Glen Kohu.
Sementara itu, sebuah pesan dikirimkan seorang laki-laki bernama Jason yang mengaku pernah satu sekolah dengan Nguyen. Nama orang itu disamarkan untuk melindungi identitasnya.
Jason mengaku dirinya sangat sedih mendengar apa yang terjadi pada Nguyen. Ia tak pernah terlibat dengan obat-obatan, saudaranyalah yang membuatnya seperti itu. Nguyen sama sekali tak pernah mengeluh dan selalu mendukung teman dan keluarganya.
Nguyen juga seorang atlit dan pelajar yang handal dan siapapun yang berada di sekitarnya, pasti merasa beruntung telah mengenal dirinya. Nguyen juga tak pernah bermaksud mengedarkan heroin di Singapura, ia juga sudah bekerja sama dengan baik dengan Pemerintah Singapura dan Australia.
“Apa yang terjadi pada Nguyen bisa terjadi pada siapa saja. Apakah yang akan Anda lakukan untuk menolong saudara yang terlibat hutang?” tukas Jason.
Sedangkan Stacy, juga disamarkan, dari Melbourne, mengaku sudah mengenal Nguyen selama beberapa tahun. “Ia orang baik, dan selalu sabar pada anak laki-laki saya yang baru berusia empat tahun,” jelasnya. “Van selalu mengajak anak saya bermain, ketika saya dan Tyrone, anak saya, bermain ke rumahnya. Van juga akan mengatakan pada semua orang jika Tyrone adalah tamu penting baginya dan tak akan membiarkan barang-barang berbahaya seperti rokok atau asbak di sekitar Tyrone,” lanjutnya.
Dalam upacara pemakaman Nguyen yang akan dilakukan Rabu (7/12) hari ini, surat-surat Nguyen yang terakhir akan dibacakan di Gereja St Patrick, Melbourne, Australia.
Nguyen juga telah meminta lagu Ave Maria, Amazing Grace dan The Lord is My Shepherd sebagai lagu pemakamannya. Ia juga meminta semua tamu yang menghadiri pemakamannya agar saling memeluk satu sama lain, sebagai tanda cinta sebagai sesama manusia.
Tapi, sebaik apapun Nguyen, hidupnya sudah berakhir di tiang gantungan untuk membayar rasa tanggung jawab dan cintanya pada sang adik. Hanya Tuhan yang tahu berapa perih hati Kim Nguyen saat ini.(hanonsari paramita)

Mengintip Kisah Tragis Nguyen (2)

August 29, 2007 on 6:55 am | In Inspiring Stories | No Comments

Tunggu Hantaran Heroin di Hotel

DAN pada saat itulah, seorang petugas bandara di terminal keberangkatan Bandara Changi Singapura, di mana Nguyen transit sebelum menaiki pesawat Qantas nomor penerbangan 10 yang akan membawanya kembali ke Melbourne, melihat kegelisahan Nguyen dan menduga ada heroin dalam tas Nguyen.
Menurut dokumen pengadilan, setelah Nguyen bertemu Tan, ia terbang ke Sydney dan bertemu dengan seorang pria Vietnam bernama Sun, yang memberinya tiket PP ke Phnom Penh via Singapura. Selain itu ia juga diberi uang sebesar 1.000 dolar Australia dan daftar instruksi yang harus dilakukan untuk menyelundupkan heroin.
Sesampainya di Phnom Penh, Nguyen menginap di Hotel Pacific, untuk menunggu hantaran heroin dari kenalan Sun di Lucky Burger Restaurant, Phnom Penh.
Kenalan Sun, seorang pria Kamboja dan pria lain yang berbicara Vietnam memaksa Nguyen menghisap heroin menggunakan uang kertas di sebuah bengkel di Phnom Penh.
Ketika Nguyen menolaknya, pria yang berbicara bahasa Vietnam itu memukulkan sebuah balok ke atas meja dan menggertaknya. “Persetan dengan ibumu, hisap atau kau mati!” gertak pria yang tak diketahui namanya itu.
“Saya tahu saya akan dibunuh kalau tak melakukan apa yang mereka katakan,” ujar Nguyen kepada para penyidik.
Nguyen akhirnya memutuskan pergi ke Vietnam, karena ia terlalu stres di Phnom Penh. Ia menghabiskan sembilan harinya di sana dengan berbelanja jam tangan dan ikat pinggang yang akan diberikannya pada keluarganya saat ia kembali ke rumahnya.
Sindikat heroin itu akhirnya memberinya dua paket heroin yang masih utuh. Nguyen disuruh menumbuknya dan memisahkannya dalam dua tas berbeda. Nguyen kembali ke hotel dan menumbuk heroin dengan palu dan memasukkannya ke tas. Kemudian ia menggunakan selotip untuk mengikat bungkusan heroin itu ke tubuhnya.
Dalam penerbangan dari Phnom Penh ke Singapura pada 12 Desember 2002, Nguyen kesulitan bernafas karena ikatan heroin di tubuhnya. Selama transit di Singapura, Nguyen pun akhirnya memutuskan melepaskan ikatan tersebut.
“Beberapa orang di Phnom Penh sudah memperingatkanku jika sindikat itu sudah mengetahui rumahku di Australia, dan mengingatkanku untuk tak menghancurkan proses pengiriman ini. Saya tak memiliki pilihan lain selain mengirimkan dua paket heroin ke seseorang di Australia,” jelasnya.
Tak lama setelah ia memutuskan untuk tetap meneruskan rencananya, polisi pun langsung menangkapnya saat tubuhnya melewati detektor metal di bandara Changi.
Ia pun akhirnya menjalani proses pengadilan dan dijatuhi hukuman mati oleh Hakim Kan Ting Chiu pada 20 Maret 2004. (hanonsariparamita/dariberbagaisumber)

Next Page »

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^