Paul Ince, warna kulit tak lagi bicara
July 30, 2008 on 1:32 am | In Premier League | No CommentsInce mampu menginspirasi para pemain kulit hitam yang ingin ambil bagian dalam manajemen di akhir karier mereka nantinya.
Di tengah kehebohan berita kepindahan Cristiano Ronaldo dari Inggris, penunjukkan Paul Ince sebagai manajer baru Blackburn Rovers seakan tak lagi menjadi santapan berita utama di media-media Inggris. Padahal, sebuah prestasi baru sudah diukir mantan pemain Manchester United ini, yakni menjadi pelatih kelahiran Inggris berkulit hitam pertama di ajang Premier League.
Penunjukkan Ince dikonfirmasikan John Williams, Chairman Blackburn Rovers, Senin (23/6) lalu. Menurutnya, Ince akan membuktikan diri sebagai aset The Rovers yang luar biasa, meski belum memiliki lisensi kepelatihan UEFA.
“Kami memang memiliki beberapa kandidat lain, tapi Ince berada di tempat pertama dan saya pikir ia akan membuktikan diri sebagai manajer luar biasa,” kata Williams. “Saya gembira dengan penunjukkan ini, dan melihat reaksinya, Paul Ince juga sepertinya sangat gembira. Ia sudah sangat siap dan sangat menginginkan gelar juara.”
Sebagai pelatih muda, Ince memang diharapkan memiliki masa depan cerah sebagai pelatih masa depan di Inggris. Meski baru dua tahun menjabat sebagai pelatih, kapten kulit hitam pertama di Timnas Inggris ini berhasil membawa klub MK Dons ke promosi League One musim ini dan memenangkan Johnstone’s Paint Trophy di Stadion Wembley.
“Paul memiliki keinginan yang besar untuk menjadi manajer yang bagus. Ia sudah menunjukkannya di Macclesfield dan ia membawa beberapa trofi bagi MK Dons,” ujar Kevin Gallacher, mantan striker The Blue Army.
Gelandang Blackburn, David Dunn juga merasa yakin Paul Ince akan meneruskan mental juara yang pernah dibawa Mark Hughes ke Ewood Park. “Aku siap bekerjasama dengannya, seorang manajer ambisius dan mantan pemain dunia. Di beberapa segi, Ince memang mirip dengan Hughes,” kata dia.
Penunjukan Ince sebagai pelatih anyar Blackburn terjadi hanya berselang beberapa hari usai Premier League memberikan lampu hijau kepada Ince yang ingin mendapatkan lisensi kepelatihan. Dan Asosiasi Manajer Premier League (LMA) menyatakan dukungannya kepada Ince dan memberikan waktu dua tahun bagi Ince untuk mendapatkan lisensi tersebut.
MEMBERIKAN INSPIRASI
Sebagai manajer kulit hitam di Premier League, Ince akan menjadi pelatih kulit hitam ketiga setelah Ruud Gullit di Chelsea dan Newcastle, serta Jean Tigana di Fulham. Tapi, mengapa kulit hitam seakan kesulitan menembus barisan manajemen di Inggris, padahal lebih dari seperempat pemain di 92 klub di Inggris berkulit hitam?
Jawabannya sederhana, belum ada kesempatan. Bukti paling sahih adalah di gala dinner League Manager Awards belum lama ini. Ince menjadi satu-satunya manajer pemenang liga dari empat divisi yang tak diberikan gelar terbaik.
Prestasinya memang masih level League Two, ketika ia membawa MK Dons menjuarai divisi tersebut. Ironisnya, para peserta gala dinner lebih memilih Graham Turner yang “hanya” membawa klubnya, Hereford United, finis di posisi ketiga divisi yang sama. Tentu saja, Steve Kutner, agen Ince, menyindir penyelenggaraan gala dinner tersebut, mengingat prestasi Ince lebih baik daripada Turner.
Mungkin diskriminasi itu memang ada, mengingat rekan-rekan seangkatan Ince sudah lama menjabat sebagai manajer klub Premier League. Misalnya, Gareth Southgate yang sudah menangani Middlesbrough sejak 2006 atau Roy Keane yang menukangi Sunderland di tahun yang sama. Jalan keduanya untuk menuju ke top flight sepertinya sangat mudah dibandingkan apa yang harus dilakoni Ince.
Manajer yang juga mantan pemain West Ham dan Liverpool ini sadar prestasinya ini akan membawa konsekuensi tersendiri bagi generasi muda para pebola kulit hitam. Konsekuensinya tentu saja bersifat positif. Ia akan memberikan inspirasi bagi anak-anak muda berkulit hitam di Inggris yang memiliki ingin berkecimpung di dunia sepak bola.
Merunut kembali ke masa lalu, biasanya orang-orang kulit hitam mengambil bagian dalam dunia sepak bola sebagai pemain dan bukan sebagai pelatih atau pejabat eksekutif klub sekalipun. Mereka lebih diperlakukan sebagai pion dan bukan sebagai dalang.
Namun, Ince berhasil membalikkan semuanya hanya dalam waktu singkat. Kalau ia membuat prestasi yang lebih besar lagi di masa depan, bukan tak mungkin para atlet kulit hitam di Inggris hanya akan diperlakukan sebagai atlet saja. Kemungkinan untuk turut serta dalam tingkat manajemen di akhir karier, akan lebih terbuka. Penilaian tak lagi dilihat dari warna kulit semata, tetapi dari kemampuan individual mereka. Warna kulit pun tak lagi bisa bicara. Finally.(Ruri)
Giovani Dos Santos, berani ambil resiko
July 30, 2008 on 1:31 am | In Premier League | No CommentsLahir, hidup dan besar di keluarga sepak bola. Itulah lakon yang harus dialami Giovani Alex dos Santos yang dilahirkan pada 11 Mei 1989 di Monterrey, Nuevo León, Meksiko. Ia mengikuti jejak sang ayah menjadi pemain sepak bola. Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Gio merupakan putra pemain Brasil, Gerardo dos Santos, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Zizinho, yang bermain di América dan León di akhir 1980an. Istri Zizinho, Liliana Ramírez merupakan penduduk Meksiko asli. Gio memiliki dua saudara laki-laki yang juga berprofesi sebagai pemain bola. Kakak laki-lakinya, Eder dos Santos bermain di Club America, Meksiko. Sedangkan adiknya, Jonathan, bermain bagi tim Juvenil A Barcelona.
Zizinho sudah dipastikan berada di belakang karier Gio sebagai pemain bola. Ia mendirikan sebuah sekolah sepak bola di Sao Paulo, Meksiko. Di sana ia melatih sendiri anak-anaknya, dan juga anak-anak lain yang berbakat. Di 2001, SSB ini pernah meraih Dallas Cup, sebuah turnamen sepak bola bergengsi U-12 di Amerika Serikat.
Sejak kemenangan itu, Zizinho yakin Gio sudah pantas masuk ke level klub profesional dan ia memasukkan Gio ke sistem pembibitan pemain muda Barcelona pada 2002, di mana ia memulai karier profesionalnya.
Di ajang Piala Dunia FIFA U-17, Gio berhasil membuat banyak assist bagi gol-gol Meksiko yang tercipta di turnamen tersebut. Ia pun langsung diganjar penghargaan Adidas Super Ball sebagai pemain terbaik kedua di turnamen tersebut.
Setahun kemudian, Gio mendapatkan tawaran masuk ke skuad tim senior Barcelona. Ketika Barcelona melakoni laga persahabatan melawan Aarhus, Denmark pada 29 Juli 2006, Gio berhasil mencetak gol. Pelatih Timnas Meksiko saat itu, Hugo Sanchez, memanggilnya masuk ke timnas. Debut di timnas terjadi saat Meksiko melawan Panama pada 9 September 2007.
Bersama Blaugrana, Gio belum sempat mencatat prestasi. Gio tampil sebanyak 38 kali dan mencetak 4 gol dan 4 assist bagi Barcelona. Tiga gol dicetak di level La Liga, dan satu gol dicetak di Liga Champions.
Di pertandingan terakhirnya bagi Barcelona, Gio berhasil mencetak hattrick ke kandang Real Murcia sekaligus memberikan kemenangan tandang terakhir bagi Barca di musim 2007-08.
KEPUTUSAN TEPAT?
Banyak yang menyayangkan keputusan Giovani Dos Santos ketika memutuskan pindah ke Tottenham Hotspur pada awal Juni lalu. Ia memutuskan pindah dari klub sekelas Barcelona yang tampil di ajang Liga Champions ke Tottenham yang hanya finis di posisi ke-11 di Premier League musim lalu.
Ternyata pemain asal Meksiko ini punya alasan tersendiri. Ia ingin tampil maksimal dengan tetap memiliki posisi di skuad utama. Sederhana memang. Tapi, keinginan sesederhana itu tak bisa ia wujudkan semasa di Barcelona karena ia kalah bersaing dengan Lionel Messi di lini depan dan lebih banyak duduk di bangku cadangan.
“Meninggalkan Barcelona adalah sebuah pilihan yang sangat beresiko. Namun, dengan kualitas yang dimilikinya sekarang, pilihan ini adalah yang terbaik,” kata Zizinho, ayah Gio yang mendukung keputusannya.
Dukungan serupa juga diberikan Juande Ramos, pelatih Tottenham Hotspur ketika pertama kali menyatakan Gio resmi sebagai pemain Tottenham. Ramos berharap Gio bisa berkembang sesuai dengan harapannya, dengan begitu ia akan tumbuh menjadi pemain bagus.
“Dia adalah seorang pemain muda yang penuh potensi. Saya sudah memantaunya sejak lama. Kami tentu saja senang ketika dia memutuskan bermain di sini. Dia bisa bermain di berbagai posisi yang berbeda. Dan di atas semuanya, teknik bermain Gio sangatlah sempurna.”
Berbanderol 6 juta euro atau sekitar Rp87 miliar, Gio tampaknya sudah ingin memberikan yang terbaik bagi klub barunya. Apalagi, ia mengaku sangat senang dengan sambutan para fans Tottenham ketika ia pertama kali tiba di White Hart Lane.
“Tottenham adalah klub yang penuh sejarah. Atmosfer sepak bola di Inggris juga sangat menarik bagiku. Jadi, dua sebab itu akan menjadi motivasi tersendiri untukku,” kata Gio.
“Bagiku, ini sebuah tantangan baru. Aku datang ke Inggris untuk menunjukkan kualitas terbaikku, tentu saja dengan bermain sebanyak mungkin dan memberikan kemenangan bagi Tottenham.”
Pembuktian itu tak membutuhkan waktu lama. Da lam pertandingan persahabatan melawan klub Tavernes, Spanyol, Gio langsung mencetak gol ketika pertandingan baru berjalan 8 menit. Di pertandingan yang berakhir dengan skor 8-0 itu, Gio mencetak dua gol dari jarak dekat. Gol-gol lainnya dicetak Tomas Pekhart, Jamie O’Hara – masing-masing dua gol – Aaron Lennon dan Steed Malbranque.
“Pertandingan ini sangat menyenangkan untukku. Sebuah awal yang bagus. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari tim ini. Aku pikir aku sudah membuat keputusan tepat,” kata Gio.(Ruri)
Luiz Felipe Scolari, A Sombra Perna-de Pau
July 30, 2008 on 1:30 am | In Premier League | No CommentsSederet gelar direngkuh guna menepis bayang-bayang sang ayah. Sosok sederhana yang dianggap sebagai dewa.
Keluarga selalu menjadi bagian paling penting dalam kehidupan Luiz Felipe Scolari di dunia sepak bola. Keluarga bukan hanya menjadi alasan utama kepindahannya ke Chelsea, namun sejak dulu, keluarga juga yang menjadi alasan dirinya menekuni sepak bola.
Selama menekuni kariernya sebagai pemain bola, Scolari selalu dianggap tak bisa menyamai bakat sang ayah, Benjamin Scolari. Meski sama-sama berstatus sebagai bek tengah, namun Luiz Felipe hanya mampu merengkuh satu gelar juara, sementara sang ayah diakui sebagai bek terbaik di wilayah Passo Fundo pada 1940-an.
Dilahirkan di Passo Fundo, negara bagian barat Rio Grande do Sul, Luiz Felipe memang disiapkan untuk mengikuti jejak sang ayah. Memulai kariernya sebagai pemain di usia 17 tahun di klub Aimore, Scolari kemudian pindah ke Caxias, Juventude, Novo Hamburgo dan CSA. Di lima klub tersebut, Scolari bisa bermain dengan baik, sehingga ia mendapatkan julukan perna-de pau atau si kaki kayu, karena kepiawaiannya menjadi bek tengah.
“Scolari disegani rekan-rekan setimnya dan juga tim-tim lawan. Para pemain lawan pasti akan berteriak, ‘awas, ada truk lewat!’, setiap kali ia membawa bola,” kata Carlos Froner, pelatih yang dianggap sebagai guru oleh Scolari.
Kepiawaiannya sebagai bek tengah itu pula yang membuat dirinya tampil sebagai kapten di klub manapun ia bermain. Keberuntungannya didukung dengan budaya sepak bola yang sudah begitu mengakar di tempat tinggalnya. Budaya yang sama yang sudah melahirkan pemain sekelas Ronaldinho sampai Alexandre Pato.
Namun, meski diakui sebagai bek tengah mumpuni di klub-klub yang dinaunginya, tetap saja Scolari dianggap belum bisa menyamai prestasi sang ayah. Hanya satu gelar yang diperolehnya semasa menjadi pemain, yakni The Alagoano State Championship bersama CSA pada 1982.
DEWA YANG SEDERHANA
Kontras dengan kariernya sebagai pemain, Scolari banyak merengkuh gelar setelah ia memutuskan menjadi pelatih sejak pensiun pada 1982. Di musim pertamanya sebagai pelatih di CSA, ia kembali merebut gelar yang sama. Sayang, musim paceklik gelar pun mendatanginya selama lima tahun, karena ia tak mampu merengkuh gelar apapun ketika menangani Juventude, Brasil de Pelotas sampai Al-Shahab, Saudi Arabia.
Baru ketika ia menangani Gremio, gelar Gaúcho state championship baru menghampirinya pada 1987. Setelah itu, gelar Kuwait Emir Cup juga dicapainya ketika menangani Al Qadisiya, Kuwait pada 1989. Karena Saddam Hussein menginvasi Kuwait, Scolari kembali ke Brasil dan memberikan gelar Copa do Brasil 1991 saat menangani Klub Criciuma, Brasil.
Dua tahun kemudian, ia kembali ke Gremio, Porto Alegre. Di sana, ia dikritik media setempat karena memainkan sisi buruk sepak bola, mengingat banyaknya pemain yang terlibat perkelahian, bahkan ketika masih berada di lapangan hijau. Meski demikian, ia meraih enam gelar bagi Gremio hanya dalam kurun waktu tiga tahun, termasuk gelar Copa Libertadores pada 1995, dan juara Liga Brasil setahun kemudian.
“Di Gremio, Felipao adalah seorang dewa. Kalau ia mengunjungi Porto Alegre, bandara mungkin akan ditutup untuk menghormati kedatangannya,” kata Haroldo Santos, Direktur Komunikasi Gremio yang sudah bekerja sama dengan Scolari sejak ia berusia 17 tahun.
Meski dianggap sebagai dewa, Scolari tetaplah sebuah sosok yang sederhana. Ia dikenal sebagai pria yang selalu bersikap rendah hati, tak suka berpesta, dan tipe family man. “Ia juga seorang pria bijaksana dan gentleman sejati. Itulah Felipao,” bilang Fabio Koff, yang menunjuk Scolari sebagai pelatih Gremio untuk kedua kalinya pada 1993.
Menurutnya, jangan pernah berharap Felipao akan membelikan segelas bir pada para pemain atau sahabatnya sekalipun. Big Phil lebih memilih makan barbekyu tradisional Brasil di sebuah restoran sederhana di Porta Larga usai melatih Gremio. Mobil yang dikendarainya semasa di Gremio pun sangat sederhana, Vauxhall Monza yang dibelinya pada 1987.
Kendati sederhana, Felipao juga memiliki temperamen tinggi. Ia dikenal sebagai pelatih yang meledak-ledak di pinggir lapangan dan sering memrotes kebijakan wasit. Ia pernah menendang pintu kamar ganti Gremio, ketika kalah 3-0 melawan Medellin di ajang Piala Libertadores.
Tapi temperamen tinggi itu ditutup dengan kesederhanaan dan sederet gelar yang diraihnya. Sayang, sederet gelar tersebut, termasuk di level timnas, belum tentu membuat publik Passo Fundo mau mengakui prestasi Felipao sudah melebihi sang ayah. A Sombra Perna-de Pau, si kaki kayu yang dibayang-bayangi sang ayah. Itulah lakon Felipao di dunia sepak bola.(Ruri)
Apa kata mereka
Francisco Javier Arce
(Palmeiras 1999-00, Grêmio 1995-96)
Pelatih paling komplet, loyal dan sempurna. Ia tak pernah membedakan pemain muda atau pemain bintang. Siapapun yang tampil bagus akan dimainkan sebagai starter, karenanya, semua orang menyukainya.
Geovanni
(Cruzeiro dan Brasil 2000-02)
Felipao adalah pria yang dilahirkan untuk menang. Profilnya agak berbeda dibandingkan para pelatih lain. Ia sangat penuntut tetap juga tahu bagaimana berkomunikasi dengan para pemainnya.
Goiano
(Grêmio 1995-96)
Scolari bisa mengajarkan pada kami untuk mencintai apa yang kami lakukan, sekaligus memberikan kepercayaan diri yang besar dengan meyakini hal-hal yang sederhana. Aku selalu masuk ke lapangan dengan keyakinan bahwa kami akan menang.
Darnlei
(Grêmio 1993-96)
Ia tak pernah memaksakan taktik favoritnya ke sebuah tim. Scolari selalu memeriksa komponen pemain yang dimilikinya dan bekerja dengan modal itu. Ia seperti seorang ayah bagi pemain.
Taktik Felipao
Fleksibel dan dinamis
Roman Abramovich mungkin akan berpikir seribu kali apabila ia ingin mencampuri taktik Felipao di setiap pertandingan Chelsea nantinya. Bukan tak mungkin Felipao akan berani melawannya, sama seperti ketika ia melawan seluruh publik Brasil ketika tak membawa Romario ke pentas Piala Dunia 2002, yang dimenangkannya.
Taktik favorit Felipao adalah 4-5-1, di mana ia bisa menyuguhkan permainan ultra defensif sekaligus memainkan pola counter attack dari kreativitas di lini tengah. Biasanya, ia menempatkan dua gelandang bertahan untuk mendukung lini pertahanan. Dengan pola seperti ini, lini tengah bisa terus menguasai bola dan jauh dari area penalti tim yang ditanganinya.
Tapi, ia bukanlah pelatih yang memaksakan diri untuk menerapkan taktik favoritnya apabila tak memiliki skuad yang memadai. Berbagai taktik pernah dicobanya, antara lain
di Euro 2008 lalu, ketika menerapkan taktik 4-2-3-1, meski akhirnya harus rela tersingkir di babak perempatfinal.
Felipao adalah pelatih yang mementingkan hasil akhir, tak peduli seburuk apapun tipe permainan yang disuguhkannya. Dinamisme dan kejutan selalu menjadi senjata utama Scolari, termasuk kejutan kreativitas permainan yang dimulai dari lini belakang.
Scolari’s Dream Team (4-5-1)
Kiper : Petr Cech
Defenders : Jose Boswinga, Ricardo Carvalho, John Terry, Ashley Cole
Midfielders : Michael Essien, Michael Ballack, Deco, Kaka, Ricardo Quaresma
Forward : David Villa
Andalkan Sun Tzu
Seperti Mourinho, Scolari juga bersikap tegas pada para pemainnya. Menurut Euller, striker yang pernah diasuh Scolari di Palmeiras, Scolari sangat tahu bagaimana membentuk sebuah skuad dengan mudah. “Berurusan dengan pemain-pemain bintang bukanlah sebuah masalah baginya.”
Karakter kerasnya dianggap bagus untuk beberapa hal, karena ia ingin membebaskan para pemainnya dari tekanan pihak luar. Tapi, ia berhasil membangun figur ayah sekaligus teman bagi para pemainnya.
“Scolari pernah masuk ke sebuah kelab malam di Porto Alegre. Di sana ia menemukan tiga pemain Gremio. Sehari berikutnya, ia tak mengatakan apapun pada mereka. “Namun, ketiga pemain itu tahu mereka sudah melanggar disiplin, dan berhenti pergi ke kelab malam,” kata Mario Jardel, mantan pemain Gremio.
Sama seperti di Piala Dunia 2002, Felipao memberikan fotokopi buku The Art of War milik Sun Tzu yang ditulis pada abad ke-6 kepada para pemain Chelsea. Pemain-pemain seperti John Terry, Joe Cole dan Ashley Cole diyakini akan diberikan buku yang sama, untuk mempersiapkan timnya berlaga di ajang Premier League musim depan.
Buku ini mencerminkan komitmen Scolari untuk menyiapkan timnya dengan detil, dengan fokus pada kelebihan para pemainnya dan mengenali karakter tim lawan. “Jika Anda mengetahui karakter diri Anda sendiri dan lawan, maka Anda akan menghadapi pertempuran tanpa resiko apapun,” begitu kutipan Sun Tzu.(*)
Scolari’s Facts
1948: Dilahirkan pada 9 November di Born Passo Fundo, Rio Grande do Sul, Brasil
1966-1982: Bermain untuk Aymore, Caxias, Novo Hamburgo, Juventude dan CSA sebagai bek tengah.
1991: Membawa Criciuma menjuarai Copa do Brasil
1993: Bergabung dengan Gremio, dan memberikan gelar Copa do Brasil
1995: Memenangkan Piala Libertadores de America bersama Gremio
Runner-up Piala Interkontinental
1997: Bergabung dengan Palmeiras dan membawa mereka menjuarai Copa do Brasil, Runner-up Piala Mercosur.
1999: Memenangkan Piala Libertadores de America bersama Palmeiras.
Runner-up Piala Interkontinental
2000: Bergabung dengan Cruzeiro
2001: Mulai menjadi pelatih Timnas Brasil
2002: Memenangkan gelar juara Piala Dunia 2002
December 2002: Mulai menjadi Pelatih Portugal
2004: Mengantar Portugal menjadi runner-up Piala Eropa 2004 sekaligus menjadi pelatih asing pertama yang membawa tim Eropa masuk ke babak final Piala Eropa.
2006: Muncul sebagai kandidat pengganti Sven-Goran Eriksson sebagai pelatih Timnas Inggris
Juni-Juli 2006: Membawa Portugal ke babak semifinal Piala Dunia 2006
14 Juli 2006: Menandatangani kontrak dua tahun dengan Portugal
Desember 2006: Mengungkapkan keinginannya untuk keluar dari Portugal di akhir masa kontraknya nanti.
6 Februari 2007: Mengungkapkan keinginannya melatih klub Inggris
20 September 2007: Dikenai hukuman empat pertandingan akibat insiden dengan Ivica Dragutinovic.
21 November 2007: Portugal memastikan tempat di putaran final 2008
23 November 2007: Sekali lagi dihubung-hubungkan menjadi pelatih Timnas Inggris menggantikan Steve McClaren
10 April 2008: Mengaku mendapatkan tawaran menjadi pelatih Timnas Meksiko
7 Mei 2008: Menyangkal sudah didekati oleh Manchester City
31 Mei 2008: Chelsea menyangkal sudah menghubungi Scolari
11 Juni 2008: Resmi sebagai pelatih Chelsea mulai 1 Juli 2008
Jadwal Premier League 2008-09
July 30, 2008 on 1:28 am | In Premier League | No CommentsSaturday, 16 August 2008
Arsenal v West Brom, 15:00
Aston Villa v Man City, 15:00
Bolton v Stoke, 15:00
Chelsea v Portsmouth, 15:00
Everton v Blackburn, 15:00
Hull v Fulham, 15:00
Man Utd v Newcastle, 15:00
Middlesbrough v Tottenham, 15:00
Sunderland v Liverpool, 15:00
West Ham v Wigan, 15:00
Saturday, 23 August 2008
Blackburn v Hull, 15:00
Fulham v Arsenal, 15:00
Liverpool v Middlesbrough, 15:00
Man City v West Ham, 15:00
Newcastle v Bolton, 15:00
Portsmouth v Man Utd, 15:00
Stoke v Aston Villa, 15:00
Tottenham v Sunderland, 15:00
West Brom v Everton, 15:00
Wigan v Chelsea, 15:00
Saturday, 30 August 2008
Arsenal v Newcastle, 15:00
Aston Villa v Liverpool, 15:00
Bolton v West Brom, 15:00
Chelsea v Tottenham, 15:00
Everton v Portsmouth, 15:00
Hull v Wigan, 15:00
Man Utd v Fulham, 15:00
Middlesbrough v Stoke, 15:00
Sunderland v Man City, 15:00
West Ham v Blackburn, 15:00
Saturday, 13 September 2008
Blackburn v Arsenal, 15:00
Fulham v Bolton, 15:00
Liverpool v Man Utd, 15:00
Man City v Chelsea, 15:00
Newcastle v Hull, 15:00
Portsmouth v Middlesbrough, 15:00
Stoke v Everton, 15:00
Tottenham v Aston Villa, 15:00
West Brom v West Ham, 15:00
Wigan v Sunderland, 15:00
Saturday, 20 September 2008
Blackburn v Fulham, 15:00
Bolton v Arsenal, 15:00
Chelsea v Man Utd, 15:00
Hull v Everton, 15:00
Liverpool v Stoke, 15:00
Man City v Portsmouth, 15:00
Sunderland v Middlesbrough, 15:00
Tottenham v Wigan, 15:00
West Brom v Aston Villa, 15:00
West Ham v Newcastle, 15:00
Saturday, 27 September 2008
Arsenal v Hull, 15:00
Aston Villa v Sunderland, 15:00
Everton v Liverpool, 15:00
Fulham v West Ham, 15:00
Man Utd v Bolton, 15:00
Middlesbrough v West Brom, 15:00
Newcastle v Blackburn, 15:00
Portsmouth v Tottenham, 15:00
Stoke v Chelsea, 15:00
Wigan v Man City, 15:00
Saturday, 04 October 2008
Blackburn v Man Utd, 15:00
Chelsea v Aston Villa, 15:00
Everton v Newcastle, 15:00
Man City v Liverpool, 15:00
Portsmouth v Stoke, 15:00
Sunderland v Arsenal, 15:00
Tottenham v Hull, 15:00
West Brom v Fulham, 15:00
West Ham v Bolton, 15:00
Wigan v Middlesbrough, 15:00
Saturday, 18 October 2008
Arsenal v Everton, 15:00
Aston Villa v Portsmouth, 15:00
Bolton v Blackburn, 15:00
Fulham v Sunderland, 15:00
Hull v West Ham, 15:00
Liverpool v Wigan, 15:00
Man Utd v West Brom, 15:00
Middlesbrough v Chelsea, 15:00
Newcastle v Man City, 15:00
Stoke v Tottenham, 15:00
Saturday, 25 October 2008
Blackburn v Middlesbrough, 15:00
Chelsea v Liverpool, 15:00
Everton v Man Utd, 15:00
Man City v Stoke, 15:00
Portsmouth v Fulham, 15:00
Sunderland v Newcastle, 15:00
Tottenham v Bolton, 15:00
West Brom v Hull, 15:00
West Ham v Arsenal, 15:00
Wigan v Aston Villa, 15:00
Tuesday, 28 October 2008
Arsenal v Tottenham, 19:45
Bolton v Everton, 20:00
Hull v Chelsea, 19:45
Man Utd v West Ham, 20:00
Middlesbrough v Man City, 20:00
Stoke v Sunderland, 19:45
Wednesday, 29 October 2008
Aston Villa v Blackburn, 19:45
Fulham v Wigan, 20:00
Liverpool v Portsmouth, 20:00
Newcastle v West Brom, 19:45
Saturday, 01 November 2008
Bolton v Man City, 15:00
Chelsea v Sunderland, 15:00
Everton v Fulham, 15:00
Man Utd v Hull, 15:00
Middlesbrough v West Ham, 15:00
Newcastle v Aston Villa, 15:00
Portsmouth v Wigan, 15:00
Stoke v Arsenal, 15:00
Tottenham v Liverpool, 15:00
West Brom v Blackburn, 15:00
Saturday, 08 November 2008
Arsenal v Man Utd, 15:00
Aston Villa v Middlesbrough, 15:00
Blackburn v Chelsea, 15:00
Fulham v Newcastle, 15:00
Hull v Bolton, 15:00
Liverpool v West Brom, 15:00
Man City v Tottenham, 15:00
Sunderland v Portsmouth, 15:00
West Ham v Everton, 15:00
Wigan v Stoke, 15:00
Saturday, 15 November 2008
Arsenal v Aston Villa, 15:00
Blackburn v Sunderland, 15:00
Bolton v Liverpool, 15:00
Everton v Middlesbrough, 15:00
Fulham v Tottenham, 15:00
Hull v Man City, 15:00
Man Utd v Stoke, 15:00
Newcastle v Wigan, 15:00
West Brom v Chelsea, 15:00
West Ham v Portsmouth, 15:00
Saturday, 22 November 2008
Aston Villa v Man Utd, 15:00
Chelsea v Newcastle, 15:00
Liverpool v Fulham, 15:00
Man City v Arsenal, 15:00
Middlesbrough v Bolton, 15:00
Portsmouth v Hull, 15:00
Stoke v West Brom, 15:00
Sunderland v West Ham, 15:00
Tottenham v Blackburn, 15:00
Wigan v Everton, 15:00
Saturday, 29 November 2008
Aston Villa v Fulham, 15:00
Chelsea v Arsenal, 15:00
Liverpool v West Ham, 15:00
Man City v Man Utd, 15:00
Middlesbrough v Newcastle, 15:00
Portsmouth v Blackburn, 15:00
Stoke v Hull, 15:00
Sunderland v Bolton, 15:00
Tottenham v Everton, 15:00
Wigan v West Brom, 15:00
Saturday, 06 December 2008
Arsenal v Wigan, 15:00
Blackburn v Liverpool, 15:00
Bolton v Chelsea, 15:00
Everton v Aston Villa, 15:00
Fulham v Man City, 15:00
Hull v Middlesbrough, 15:00
Man Utd v Sunderland, 15:00
Newcastle v Stoke, 15:00
West Brom v Portsmouth, 15:00
West Ham v Tottenham, 15:00
Saturday, 13 December 2008
Aston Villa v Bolton, 15:00
Chelsea v West Ham, 15:00
Liverpool v Hull, 15:00
Man City v Everton, 15:00
Middlesbrough v Arsenal, 15:00
Portsmouth v Newcastle, 15:00
Stoke v Fulham, 15:00
Sunderland v West Brom, 15:00
Tottenham v Man Utd, 15:00
Wigan v Blackburn, 15:00
Saturday, 20 December 2008
Arsenal v Liverpool, 15:00
Blackburn v Stoke, 15:00
Bolton v Portsmouth, 15:00
Everton v Chelsea, 15:00
Fulham v Middlesbrough, 15:00
Hull v Sunderland, 15:00
Man Utd v Wigan, 15:00
Newcastle v Tottenham, 15:00
West Brom v Man City, 15:00
West Ham v Aston Villa, 15:00
Friday, 26 December 2008
Aston Villa v Arsenal, 15:00
Chelsea v West Brom, 13:00
Liverpool v Bolton, 15:00
Man City v Hull, 15:00
Middlesbrough v Everton, 15:00
Portsmouth v West Ham, 15:00
Stoke v Man Utd, 15:00
Sunderland v Blackburn, 15:00
Tottenham v Fulham, 13:00
Wigan v Newcastle, 15:00
Sunday, 28 December 2008
Arsenal v Portsmouth, 14:00
Blackburn v Man City, 14:00
Bolton v Wigan, 14:00
Everton v Sunderland, 14:00
Fulham v Chelsea, 14:00
Hull v Aston Villa, 14:00
Man Utd v Middlesbrough, 14:00
Newcastle v Liverpool, 14:00
West Brom v Tottenham, 14:00
West Ham v Stoke, 14:00
Saturday, 10 January 2009
Arsenal v Bolton, 15:00
Aston Villa v West Brom, 15:00
Everton v Hull, 15:00
Fulham v Blackburn, 15:00
Man Utd v Chelsea, 15:00
Middlesbrough v Sunderland, 15:00
Newcastle v West Ham, 15:00
Portsmouth v Man City, 15:00
Stoke v Liverpool, 15:00
Wigan v Tottenham, 15:00
Saturday, 17 January 2009
Blackburn v Newcastle, 15:00
Bolton v Man Utd, 15:00
Chelsea v Stoke, 15:00
Hull v Arsenal, 15:00
Liverpool v Everton, 15:00
Man City v Wigan, 15:00
Sunderland v Aston Villa, 15:00
Tottenham v Portsmouth, 15:00
West Brom v Middlesbrough, 15:00
West Ham v Fulham, 15:00
Tuesday, 27 January 2009
Portsmouth v Aston Villa, 19:45
Sunderland v Fulham, 19:45
Tottenham v Stoke, 20:00
West Brom v Man Utd, 19:45
West Ham v Hull, 19:45
Wigan v Liverpool, 19:45
Wednesday, 28 January 2009
Blackburn v Bolton, 20:00
Chelsea v Middlesbrough, 19:45
Everton v Arsenal, 20:00
Man City v Newcastle, 19:45
Saturday, 31 January 2009
Arsenal v West Ham, 15:00
Aston Villa v Wigan, 15:00
Bolton v Tottenham, 15:00
Fulham v Portsmouth, 15:00
Hull v West Brom, 15:00
Liverpool v Chelsea, 15:00
Man Utd v Everton, 15:00
Middlesbrough v Blackburn, 15:00
Newcastle v Sunderland, 15:00
Stoke v Man City, 15:00
Saturday, 07 February 2009
Blackburn v Aston Villa, 15:00
Chelsea v Hull, 15:00
Everton v Bolton, 15:00
Man City v Middlesbrough, 15:00
Portsmouth v Liverpool, 15:00
Sunderland v Stoke, 15:00
Tottenham v Arsenal, 15:00
West Brom v Newcastle, 15:00
West Ham v Man Utd, 15:00
Wigan v Fulham, 15:00
Saturday, 21 February 2009
Arsenal v Sunderland, 15:00
Aston Villa v Chelsea, 15:00
Bolton v West Ham, 15:00
Fulham v West Brom, 15:00
Hull v Tottenham, 15:00
Liverpool v Man City, 15:00
Man Utd v Blackburn, 15:00
Middlesbrough v Wigan, 15:00
Newcastle v Everton, 15:00
Stoke v Portsmouth, 15:00
Saturday, 28 February 2009
Arsenal v Fulham, 15:00
Aston Villa v Stoke, 15:00
Bolton v Newcastle, 15:00
Chelsea v Wigan, 15:00
Everton v West Brom, 15:00
Hull v Blackburn, 15:00
Man Utd v Portsmouth, 15:00
Middlesbrough v Liverpool, 15:00
Sunderland v Tottenham, 15:00
West Ham v Man City, 15:00
Tuesday, 03 March 2009
Portsmouth v Chelsea, 19:45
Stoke v Bolton, 19:45
Tottenham v Middlesbrough, 20:00
West Brom v Arsenal, 19:45
Wigan v West Ham, 19:45
Wednesday, 04 March 2009
Blackburn v Everton, 20:00
Fulham v Hull, 20:00
Liverpool v Sunderland, 20:00
Man City v Aston Villa, 19:45
Newcastle v Man Utd, 19:45
Saturday, 14 March 2009
Arsenal v Blackburn, 15:00
Aston Villa v Tottenham, 15:00
Bolton v Fulham, 15:00
Chelsea v Man City, 15:00
Everton v Stoke, 15:00
Hull v Newcastle, 15:00
Man Utd v Liverpool, 15:00
Middlesbrough v Portsmouth, 15:00
Sunderland v Wigan, 15:00
West Ham v West Brom, 15:00
Saturday, 21 March 2009
Blackburn v West Ham, 15:00
Fulham v Man Utd, 15:00
Liverpool v Aston Villa, 15:00
Man City v Sunderland, 15:00
Newcastle v Arsenal, 15:00
Portsmouth v Everton, 15:00
Stoke v Middlesbrough, 15:00
Tottenham v Chelsea, 15:00
West Brom v Bolton, 15:00
Wigan v Hull, 15:00
Saturday, 04 April 2009
Arsenal v Man City, 15:00
Blackburn v Tottenham, 15:00
Bolton v Middlesbrough, 15:00
Everton v Wigan, 15:00
Fulham v Liverpool, 15:00
Hull v Portsmouth, 15:00
Man Utd v Aston Villa, 15:00
Newcastle v Chelsea, 15:00
West Brom v Stoke, 15:00
West Ham v Sunderland, 15:00
Saturday, 11 April 2009
Aston Villa v Everton, 15:00
Chelsea v Bolton, 15:00
Liverpool v Blackburn, 15:00
Man City v Fulham, 15:00
Middlesbrough v Hull, 15:00
Portsmouth v West Brom, 15:00
Stoke v Newcastle, 15:00
Sunderland v Man Utd, 15:00
Tottenham v West Ham, 15:00
Wigan v Arsenal, 15:00
Saturday, 18 April 2009
Aston Villa v West Ham, 15:00
Chelsea v Everton, 15:00
Liverpool v Arsenal, 15:00
Man City v West Brom, 15:00
Middlesbrough v Fulham, 15:00
Portsmouth v Bolton, 15:00
Stoke v Blackburn, 15:00
Sunderland v Hull, 15:00
Tottenham v Newcastle, 15:00
Wigan v Man Utd, 15:00
Saturday, 25 April 2009
Arsenal v Middlesbrough, 15:00
Blackburn v Wigan, 15:00
Bolton v Aston Villa, 15:00
Everton v Man City, 15:00
Fulham v Stoke, 15:00
Hull v Liverpool, 15:00
Man Utd v Tottenham, 15:00
Newcastle v Portsmouth, 15:00
West Brom v Sunderland, 15:00
West Ham v Chelsea, 15:00
Saturday, 02 May 2009
Aston Villa v Hull, 15:00
Chelsea v Fulham, 15:00
Liverpool v Newcastle, 15:00
Man City v Blackburn, 15:00
Middlesbrough v Man Utd, 15:00
Portsmouth v Arsenal, 15:00
Stoke v West Ham, 15:00
Sunderland v Everton, 15:00
Tottenham v West Brom, 15:00
Wigan v Bolton, 15:00
Saturday, 09 May 2009
Arsenal v Chelsea, 15:00
Blackburn v Portsmouth, 15:00
Bolton v Sunderland, 15:00
Everton v Tottenham, 15:00
Fulham v Aston Villa, 15:00
Hull v Stoke, 15:00
Man Utd v Man City, 15:00
Newcastle v Middlesbrough, 15:00
West Brom v Wigan, 15:00
West Ham v Liverpool, 15:00
Saturday, 16 May 2009
Bolton v Hull, 15:00
Chelsea v Blackburn, 15:00
Everton v West Ham, 15:00
Man Utd v Arsenal, 15:00
Middlesbrough v Aston Villa, 15:00
Newcastle v Fulham, 15:00
Portsmouth v Sunderland, 15:00
Stoke v Wigan, 15:00
Tottenham v Man City, 15:00
West Brom v Liverpool, 15:00
Sunday, 24 May 2009
Arsenal v Stoke, 16:00
Aston Villa v Newcastle, 16:00
Blackburn v West Brom, 16:00
Fulham v Everton, 16:00
Hull v Man Utd, 16:00
Liverpool v Tottenham, 16:00
Man City v Bolton, 16:00
Sunderland v Chelsea, 16:00
West Ham v Middlesbrough, 16:00
Wigan v Portsmouth, 16:00
Fenomena transfer Premier League 2008-09
July 30, 2008 on 1:25 am | In Premier League | No Comments Nafsu besar para kurcaci
Klub-klub medioker lebih rajin memperkuat skuad dengan target menggeser dominasi Big Four.
Premier League sudah lama dikritik karena daya tariknya berkurang seiring makin kokohnya Big Four – Man. United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool – di setiap musim. Namun, untuk musim ini ada gejala yang cukup unik. Big Four terlihat kurang agresif, sementara klub-klub medioker seolah berlomba untuk mendapatkan skuad yang hebat.
Klub-klub di luar zona empat besar mulai bergeliat mencari tambahan amunisi. Klub-klub seperti Tottenham Hotspur, Manchester City, Everton, dan Aston Villa sudah sibuk belanja pemain bagus tapi murah guna memperkuat skuad mereka. Salah satu tujuannya sudah tentu mendekatkan diri dengan Big Four.
Tottenham menjadi klub medioker paling giat di bursa transfer kali ini. Pelatih Juande Ramos sudah menghabiskan dana 39 juta euro guna mendatangkan Heurelho Silva Gomes (PSV), Luka Modric (Dinamo Zagreb), dan Giovani dos Santos (Barcelona). Di luar itu masih ada sejumlah nama beken lain yang jadi incaran. Di antaranya striker andalan Espanyol, Luis Garcia.
Aksi Tottenham di bursa transfer sangat erat kaitannya dengan hasil peringkat kelima di dua musim terakhir. Alhasil, nafsu merekrut pemain hebat pun kian besar karena ambisi menggeser dominasi Big Four.
“Berada di posisi kesepuluh saja di akhir musim sudah bisa disebut sebagai kegagalan bagi Tottenham yang begitu menggebu membeli pemain,” tulis Goal.
Peringkat ke-6 musim lalu Aston Villa tak kalah penasaran dari Tottenham. Dana lebih dari 17 juta pounds sudah dikeluarkan hanya untuk mendapatkan dua pemain, Curtis Davies dan Steve Sidwell. Dan, masih ada banyak incaran Villa lain untuk menghadapi musim depan yang lebih berat.
City tak kalah gaung. Dengan sokongan dana dari Thaksin Shinawatra, City jadi klub medioker lain yang sangat bernafsu membeli pemain-pemain besar. Setelah membayar 24 juta euro untuk mendapatkan Jo dari CSKA Moskva, kini The Citizens tengah mengincar Ronaldinho. Media Inggris menyebut kalau keinginan itu terlalu muluk, namun setidaknya hal tersebut mencerminkan cita-cita besar sang pemilik.
DOMINASI BIG FOUR
Gairah transfer yang dialami klub-klub medioker seolah tak dipedulikan oleh Big Four. Empat klub elite Inggris ini tetap adem ayem saja dalam berbelanja. Praktis hanya Chelsea dan Liverpool yang masih rajin menambah pemain. Man. United dan Arsenal masih malu-malu.
Bisa jadi, ketenangan Big Four dalam merekrut pemain anyar didasari pengalaman selama ini. Sangat sulit menggeser empat klub tersebut dari posisi puncak klasemen. Meski di awal musim agak terseok-seok, tetap saja di akhir musim keempatnya yang bercokol di zona Liga Champions.
Sang juara bertahan, Manchester United malah tak banyak melakukan gebrakan. Fokus mereka saat ini memang ingin menjamin keberadaan megabintang Cristiano Ronaldo. MU berharap Ronaldo tetap berada di Old Trafford satu tahun lagi sebelum pindah ke Real Madrid yang nilai transfernya diperkirakan mencapai 75 juta pounds.
Justru Chelsea yang sudah memanaskan bursa transfer kali ini dengan penunjukkan Luiz Felipe Scolari sebagai manajer. Chelsea pun mendatangkan Deco dari Barcelona dan Jose Bosingwa dari Porto sebagai tambahan amunisi.
Sementara Arsenal masih memilih untuk menggunakan jasa pemain muda. Kedatangan dua pemain muda Aaron Ramsey dan Samir Nasri jadi indikasi yang jelas bahwa Arsene Wenger masih ingin mempertahankan komposisi skuad mudanya yang sudah mengagetkan Liga Champions musim lalu.
Sebagai klub tersukses sepanjang sejarah klub sepak bola Inggris, Liverpool sudah bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dengan kedatangan Fernando Torres musim lalu. Sayang, ia hanya mendapatkan suplai bola matang dari Gerrard saja. Karenanya, Rafael Benitez pun memfokuskan diri pada pembelian sejumlah gelandang kreatif yang tak hanya pintar menyerang tapi juga kuat dalam bertahan.
Dengan kondisi seperti itu, kekuatan Big Four memang masih tetap menakutkan. Meski tak terlalu ngoyo, kemampuan para pemain andalan Big Four masih tetap sulit untuk disaingi pemain-pemain bintang klub-klub medioker.
Jadi, kendati klub-klub medioker Inggris giat membeli pemain di bursa transfer, publik masih belum percaya mereka akan mampu mendapat tempat di empat besar Premier League. Inilah yang disebut media-media Inggris sebagai bursa transfer yang penuh kepandiran.
Mengapa begitu? Akibat dominasi Big Four yang begitu menggila, target paling realistis bagi klub-klub medioker adalah mengincar posisi ke-5 klasemen akhir. Jadi, segiat apapun mereka membeli pemain di bursa transfer, sebanyak apapun uang yang mereka keluarkan, masih sulit menggoyahkan dominasi Big Four. (Ruri)
Titik balik dari Afrika bagi MU
July 30, 2008 on 1:25 am | In Premier League | No CommentsMembawa banyak problem ke Afrika, MU berharap pramusim di Afrika bisa jadi titik balik perbaikan penampilan.
Dua bulan usai menjadi juara Liga Champions, Manchester United melakukan pertandingan pramusim ke Afrika Selatan. Tepatnya di turnamen Vodacom Challenge. Sang juara mendatangi benua hitam, bukan dengan tim bermental juara, tetapi lebih sebagai tim yang dilanda banyak krisis.
Ya, keinginan Cristiano Ronaldo meninggalkan Old Trafford, kepergian Carlos Queiroz, dan minim tambahan skuad, membuat MU pergi ke Afrika dengan buntut kurang sedap.
Ketika pergi ke Afrika dua tahun lalu, sebenarnya kondisi MU hampir sama. Saat itu, Ruud van Nistelrooy sudah hampir menuju Real Madrid dan Ronaldo baru saja mengalami insiden melawan Wayne Rooney di Piala Dunia 2006. Tapi, skuad Fergie bisa bangkit dan tur Afrika dianggap sebagai titik balik ke tahap yang lebih baik. Terutama berkat penampilan apik Patrice Evra dan Ole-Gunnar Solskjaer ketika itu.
Toh dengan hadirnya sejumlah masalah, MU mengaku bisa tetap memulai musim ini dengan rileks. Setidaknya hal itu diungkapkan gelandang MU, Michael Carrick.
“Kami bisa memenangkan pertandingan pertama di Aberdeen. Kami memang belum menunjukkan performa terbaik saat itu, tapi kami akan memperbaikinya. Dan itulah manfaat pertandingan pramusim, terutama dengan menghadapi tim Afrika Selatan,” ucap Carrick.
Pernyataan itu didukung oleh sang manajer, Sir Alex Ferguson, yang menganggap pertandingan di Afrika Selatan lebih untuk mengukur kesiapan para pemainnya. “Pertandingan di Afrika Selatan tak pernah mudah. Levelnya sangat tinggi dan kompetitif, jadi seharusnya bisa memberikan nilai positif bagi sehingga kami bisa siap di awal musim nanti,” kata dia.
Sekedar informasi, dua lawan MU di Vodacom Challenge, Kaizer Chiefs dan Orlando Pirates merupakan dua klub terbaik Afrika Selatan. Keduanya mendominasi Premier Soccer League Afrika Selatan dalam beberapa musim terakhir.
KEUNTUNGAN EKONOMIS
Sudah menjadi rahasia umum, penduduk Afrika dikenal sebagai kaum miskin dan kelaparan. Mereka tak tahu atau bahkan tak peduli dengan peraturan pembelian tiket tempat duduk ketika hendak menonton sepak bola. Intinya, mereka ingin menonton sepak bola secara cuma-cuma.
Panitia turnamen Vodacom Challenge pun menyadari hal tersebut. Panita menjual tiket, dengan harga lebih murah daripada kisaran tiket Piala Dunia 2010 nanti. Harga tiket dijual mulai 60 Rand (Rp73.200) sampai 350 Rand (sekitar Rp305 ribu) untuk satu pertandingan.
Dengan kondisi seperti itu, mengapa Afrika Selatan dipilih oleh MU sebagai uji coba pramusim? Jawabannya bisa saja untuk menaikkan popularitas mereka di negeri Nelson Mandela itu, juga Afrika secara keseluruhan. Sebab, MU juga akan mengunjungi Nigeria guna berhadapan dengan sesama klub Premier League, Porstmouth.
“Menurut penelitian kami, sekitar 13,6 juta penduduknya merupakan fans berat MU. Jadi sepertinya ini kesempatan bagi kami untuk berterimakasih pada mereka,” kata David Gill, Chief Executive MU.
Menurut sebuah penelitian, sampai 2008, MU memiliki 139 juta fans fanatik yang tersebar di seluruh dunia dan 333 juta fans follower. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan data 2006, yakni 75 juta fans dari seluruh dunia.
Tambahan, saat ini lebih dari 1 juta penduduk Korea Selatan memiliki kartu kredit atau kartu debit MU branded. Maka, setelah cukup menginvasi Asia Timur, Setan Merah coba mengalihkan pandangan ke Afrika. Khususnya negara-negara Afrika yang relatif bagus kondisi perekonomiannya seperti Afrika Selatan.
Jadi tidak salah jika Afrika Selatan jadi tujuan melakukan persiapan pramusim. Selain mereguk keuntungan, MU juga bisa meningkatkan teknik bermain melalui pertandingan pramusim yang dijadikan titik balik jelang Premier League. (Ruri)
Simbiosis mutualisme
Berbagai keuntungan didapatkan kedua pihak, MU dan Afrika Selatan, dalam Vodacom Challenge ini. MU mendapatkan keuntungan secara teknik, mental, dan tentu saja perolehan match fee. Sementara Afsel mendapatkan jumlah turis dari London. Karena kepergian MU ke Afsel membawa serta para pendukung fanatiknya.
Perkiraan biaya mendatangkan MU
- Match Fee (8 juta dolar AS) = Rp73.200.000.000
- Tarif kamar Rp 3,7 juta X 30 kamar X 9 hari = Rp999.000.000
Total = Rp74.199.000.000
Ket: Jumlah ini di luar biaya transportasi dan perkiraan jumlah sekitar 30 pemain. MU menginap di Beverly Hills Hotel, Umhlanga Rocks, Kwazulu Natal.
Keuntungan Afrika Selatan
- Jadi persiapan jelang Piala Dunia 2010.
- Pemain legendaris Afrika Selatan, Irvin Khoza, berharap MU bisa mengubah pola pikir para fans sepak bola Afrika jelang Piala Dunia.
- MU membawa turis asal London ke Afsel, yang bisa meningkatkan pariwisata di Afsel.
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^