John Terry, 13 wanita penggoda

March 5, 2010 on 3:28 am | In modern | 3 Comments


Sebanyak 13 wanita diketahui sudah pernah berkencan dengan Terry selama dia mengenal Toni Poole.

Kehidupan glamor memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan para pemain sepak bola. Limpahan harta melimpah sangat identik dengan kehidupan glamor yang tak jauh dari minuman beralkohol, judi, dan godaan wanita-wanita cantik.

Termasuk di antaranya John Terry. Sudah berulangkali kapten Inggris ini membuat ulah dengan para wanita cantik di klub-klub malam. Penunjukkan dirinya sebagai kapten Inggris pun tentu disertai dengan berbagai syarat, Terry harus mengubah perilakunya. Sang istri, Toni Poole, yang juga teman masa kecilnya pun bersemangat membantu. Namun ternyata Terry gagal membuktikannya. Dia terlibat affair dengan Vanessa Perroncel.

Parahnya, wanita yang satu ini merupakan mantan kekasih rekannya di Chelsea dan timnas Inggris, Wayne Bridge. Tak hanya itu, Bridge sendiri masih memiliki hubungan saudara dengan Toni. Tak heran, Toni dan Vanessa bersahabat dan kedua keluarga ini terlihat sering bepergian bersama di masa liburan.

Ternyata, bukan hanya Vanessa yang selama ini menghiasi daftar cinta dan skandal Terry. Masih banyak wanita lain yang masuk ke dalam daftar tersebut. Berikut beberapa di antaranya.

(dibuat anak-anak panah ya. John Terry ditaruh di tengah)

November 1999

Jayne Connery, model. Jayne merupakan salah satu affair pertama Terry, meski saat itu dia sudah berhubungan dengan Toni. Terry menjalin hubungan selama lima bulan dengan Connery.

Maret 2002

Nicola Ulian. Terry kembali menjalin hubungan selama lima bulan. Ulian tertangkap kamera sedang keluar dari hotel tempat Terry menginap saat Chelsea bertandang ke Liverpool.

September 2003

Rebecca Ryan. Model berusia 18 tahun ini diyakini sudah berada di kamar Terry di sebuah hotel di Manchester. Saat itu Terry bersama Timnas Inggris sedang berlaga di babak Pra-Piala Eropa 2004.

Januari 2004

Terry tertangkap kamera sedang mencium Linsey Dawn Mckenzie, seorang model telanjang di Inggris.

Mei 2004

Mantan bintang porno, Karina Clarke mengklaim Terry sudah menyelundupkannya ke kamar hotelnya. Di bulan yang sama, Emma Kearney, mengaku sudah pernah berhubungan intim dengan bintang Chelsea tersebut.

November 2004

Dikabarkan menjalin hubungan selama enam bulan dengan Lauren Pope, model glamor asal Inggris.

April 2005

Lianne Johnson, seorang wanita biasa di Inggris mengaku sudah berhubungan intim dengan Terry di toilet sebuah klub malam. Padahal Lianne saat itu sedang mengalami patah kaki dan menggunakan tongkat untuk berjalan.

September 2005

Menjalin hubungan selama dua bulan dengan Shalimar Wimble. Parahnya, Terry meminjam rumah Wayne Bridge untuk bertemu dengan Wimble.

November 2005

Jenny Barker, seorang gadis cantik berusia 17 tahun asal Inggris mengaku sudah berhubungan seks dengan Terry di mobil Bentley miliknya seharga 100 ribu pounds.

Januari 2006

Model glamor Alicia Douvall mengaku sudah berhubungan seks dengan Terry selama beberapa kali ketika Toni sedang mengandung anak Terry.

September 2009

Mulai berkencan dengan Vanessa Perroncel, mantan kekasih Wayne Bridge.

Desember 2009

Terry berjumpa dengan jurnalis sebuah tabloid di Inggris, Katie Hind di sebuah klub malam. Terry sempat membombardir Hind dengan SMS-SMS mesra, namun Hind tak pernah memedulikannya.

 

(BOKS)

Terry Merugi

Permasalahan yang harus dihadapi Terry ternyata tak berhenti hanya sebatas skandal seks dan cinta saja, melainkan sampai ke masalah finansial. Baru-baru ini, Aaron Lincoln, eks agen Terry, meminta bagian dari proses negosiasi deal iklan Terry dengan Umbro.

Pasalnya, meski deal belum terjadi, namun sebagai pihak yang sudah mewakili Terry dalam proses negosiasi itu, Lincoln merasa dia pantas dapat bagian. Pihak Umbro sendiri tak bersedia mengomentari permasalahan ini dan menganggap keributan yang terjadi antara pemain dan agennya bukan merupakan urusan sponsor.

Konflik ini terjadi setelah Terry secara sepihak memutuskan hubungan profesional dengan Lincoln pada Agustus lalu. Padahal Lincoln banyak membantunya mendapatkan berbagai tawaran iklan.

Selain Umbro, King of Shaves, dan Samsung, Terry juga menjadi bintang iklan Chelsea dan FA di seluruh Inggris. Uang sebesar lima juta pounds tercatat masuk dari iklan Umbro dan King of Shaves. Tak diketahui berapa jumlah pemasukan iklan-iklan lain yang dibintanginya.

Pemasukan dalam jumlah besar itu harus siap dirogoh dalam-dalam seandainya dia benar-benar bercerai dari Toni. Terry harus mengeluarkan tunjangan dalam jumlah besar dalam proses perceraian itu. Diperkirakan uang sebesar 10 juta dolar akan keluar dari kantongnya seandainya Toni benar-benar meminta cerai.

Hanya saja, Terry kini bisa sedikit bernafas lega. Mengingat sang istri masih memberikan satu lagi kesempatan untuk rujuk kembali. Hanya saja, kalau dia kembali berulah dan tak berubah, bukan tak mungkin permintaan cerai itu akan benar-benar terjadi.=Ruri

John Terry, Kehidupan tak lagi sama…

March 5, 2010 on 3:25 am | In modern | No Comments


Skandalnya mengguncang Inggris. Publik kini memusuhinya.

Kehidupan kini tak lagi sama bagi eks kapten Inggris, John Terry. Usai skandal seksnya terkuak bebas ke media, dipastikan hidupnya tak akan lagi sama. Ke manapun dia pergi, pasti semua mata meliriknya, menghinanya. Skandal seks itu akan terus diingat publik sepak bola Inggris sampai kapanpun.

Dia tak akan lagi bisa berjalan di lounge khusus sponsor di Stadion Wembley dan mewakili timnas Inggris tanpa melihat pandangan-pandangan negatif di sekitarnya. Penonton dan jurnalis pasti akan berbisik-bisik dan menghinanya saat melihatnya berjalan di lounge tersebut.

Dia juga tak bisa lagi duduk di konferensi pers dan berbicara mengenai nilai-nilai kepercayaan dan kekompakan dalam sebuah tim. Terry tak akan punya nyali untuk memberi contoh kepada anak-anak yang ingin menjadi pemain sepak bola. Semua orang pun pasti akan menertawakannya ketika dia berbicara mengenai tanggungjawab seorang pemimpin.

Jadi, sebenarnya kalau Terry punya harga diri, dia akan menerima itu semua dengan lapang dada dan mengundurkan diri sebagai kapten timnas dan dari timnas Inggris. Dengan begitu, dia akan bisa meminimalisir semua berita negatif tentangnya dan menunjukkan pada dunia, betapa dia masih punya harga diri.

Tapi ternyata tidak. Kendati sudah tak lagi berstatus sebagai kapten Inggris, namun tanda-tanda untuk mundur dari timnas tak juga muncul. Padahal skandal seks ini sudah benar-benar mencoreng sejarah sepak bola Inggris dalam satu dekade terakhir.

Skandal ini merupakan yang terbesar sejak mantan manajer Manchester United, Tommy Docherty terbukti menjalin affair dengan istri ahli fisioterapi klub itu pada 1977. Skandal itu membuat dirinya dipecat. Namun, Clive James, seorang presenter televisi asal Australia, masih membela Docherty dengan mengatakan jika Docherty sebenarnya masih pantas mengelola sebuah klub, meski terlibat skandal itu.

Terry bisa saja mengusung alasan tersebut. Malaikat pun tahu talentanya yang besar sebagai pemain sepak bola. Tak ada yang bisa membantah kedudukannya sebagai bek tengah timnas Inggris. Hanya saja, publik pasti akan sulit melupakan perilaku negatifnya tersebut.

Sulit rasanya mengurangi banyaknya publikasi mengenai dirinya saat ini, meski mungkin hanya setengah dari berita itu yang benar. Satu-satunya kesempatan adalah meminta maaf dan menggunakan alasan lama jika kehidupan pribadinya tak akan pernah memengaruhi performanya di dunia sepak bola.

Apabila Terry mengatakannya, dia sama saja dengan mengatakan jika politik dan olahraga seharusnya tak boleh dicampur. Ide bagus tentunya. Tapi sangat naif rasanya mengatakan hal itu di sebuah negara di mana kehidupan sepak bola berjalan seiring dengan kehidupan glamor ala selebriti.

Rasanya kesempatan itu sudah tak ada lagi bagi Terry. Dia sudah tak lagi memegang kartu truf. Kisah pengkhianatannya terhadap Wayne Bridge, eks rekan setim di Chelsea dan rekan di timnas Inggris, rasanya akan sangat sulit dilupakan.

Jadi, apa yang terjadi pada Terry dan Perroncel di kamar tidur kini sudah bergeser ke ruang ganti timnas Inggris. Dan ini yang menjadi masalah Fabio Capello, manajer The Three Lions.

Manajer asal Italia itu enggan mengambil keputusan gegabah. Dia bukan tipe orang yang bisa dipojokkan media. Hanya saja dia harus membuat keputusan besar dalam waktu dekat. Apakah dengan mencoret nama Terry dari skuad Inggris akan memengaruhi peluang Inggris merebut gelar juara di Piala Dunia nanti?

Keputusan itu bakal sulit karena bakat Terry sebagai defender terbaik Inggris dan memiliki bakat alami sebagai pemimpin di lapangan. Namun sebelum mengambil keputusan tersebut, baik rasanya Capello mendengarkan nasehat dari Harry Redknapp, manajer Tottenham Hotspur.

“Harus ada standar tertentu bagi para pemain sepak bola di Inggris. Pasalnya mereka adalah contoh bagi anak-anak muda di luar sana yang ingin menjadi pemain sepak bola. Para pemain haruslah berperilaku positif karena anak-anak mencontoh mereka setiap hari,” kata Redknapp.

Terry tentu saja tak akan bisa menjadi contoh lagi. Dia kini menjadi musuh banyak orang. Dia sudah melangkah terlalu jauh, dan tak ada lagi jalan mundur baginya. So, kehidupan memang tak lagi sama bagi Terry mulai sekarang.(*)

Christian Carrasco, Spiderman dari Chile

November 26, 2009 on 2:10 am | In modern | No Comments


            Para suporter Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Persipura Jayapura pasti tak akan pernah melupakan sosok striker yang satu ini. Betapa tidak, setiap kali habis mencetak gol, sosok striker bernama Christian Carrasco ini pasti langsung mengenakan topeng Spiderman untuk merayakan golnya.

            Apa sebenarnya alasan “Spiderman” asal Chile ini melakukannya? Sederhana ternyata. Dia mengaku sebagai penggemar sejati tokoh komik itu sejak kecil. Kegemarannya dimulai karena kakaknya, Raul Carrasco Jr, juga merupakan penggemar tokoh itu.

            “Setiap kali ada tokoh Spiderman muncul di televisi, aku langsung ada di depan TV untuk menontonnya bersama kakakku. Saat aku dan Raul sedang tak berada di depan TV, ayahku, Raul Carrasco Sr, memanggil kami berdua untuk segera menontonnya,” kenang striker yang kini bermukim di PSM Makassar itu dalam wawancaranya dengan SOCCER.

            Kegemaran itu semakin bertambah ketika dia sudah bisa mencari uang sendiri lewat sepak bola. Dia membeli berbagai pernik Spiderman, termasuk selimut bermotif pahlawan laba-laba itu, yang kini sampai dibawanya ke Indonesia.

Ditambah lagi ketika merumput di Persebaya Surabaya, Carrasco sering melihat banyak anak kecil yang mengenakan kaos bertema Spiderman. Fakta itu membuat kegemarannya terhadap Spiderman semakin kuat. “Aku sudah tak bisa dipisahkan lagi dengan Spiderman. Dia sudah jadi idolaku sejak kecil,” bilang dia.

            Di sela sesi wawancara, Carrasco tak lupa menunjukkan topeng Spiderman yang selalu dibawanya di tas. Hanya saja, karena tasnya sering berganti, topeng itu tak selalu dibawanya saat pergi. “Yang pasti, topeng ini selalu aku bawa di pertandingan dan aku simpan di saku celana. Aku akan mengenakannya kalau aku berhasil mencetak gol,” kata dia. “Lagipula merayakan gol dengan mengenakan topeng Spiderman membuat selebrasi golku lain daripada yang lain.”

            Meski selebrasinya unik, tapi peraturan dunia sepak bola bisa jadi melarangnya. Sudah jadi rahasia umum kalau selebrasi gol berlebihan akan berbuah ganjaran kartu kuning. Namun top skorer turnamen Piala Bang Yos 2006 ini tak pernah gentar. “Aku akan selalu merayakan golku dengan mengenakan topeng Spiderman, tak peduli kalau aku sampai terkena hukuman kartu kuning sekalipun,” tegas dia.

 

CINTA INDONESIA

            Sampai sekarang, selebrasi gol Carrasco dengan mengenakan topeng ini sudah tak terhitung jumlahnya. Maklum, sebelum mendarat di Makassar Agustus lalu, dia sudah merumput selama empat musim di Indonesia. Yakni di klub Persim Maros, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Persipura Jayapura.

            “Pengalaman di keempat klub itu tentu sangat banyak. Yang paling mengesankan adalah waktu aku bermain di Persebaya. Momen yang tak bisa aku lupakan adalah saat aku mencetak ke gawang Deltras yang membuat Persebaya menang 1-0 di 2004. Kenapa berkesan? Karena usai mencetak gol itu, aku mengenakan topeng Spiderman untuk pertama kalinya,” cetus bungsu dari dua bersaudara ini.

            Bukan hanya gol itu yang membuat pengalaman Carrasco di Persebaya berkesan. Menurutnya, atmosfer dukungan suporter terhadap Persebaya juga membuatnya terkesan. “Mereka benar-benar mencurahkan energi untuk membela klubnya,” kata Carrasco.

            Setelah dari Persebaya,  striker kelahiran Santiago tersebut memutuskan pindah ke PSMS Medan dan Persipura Jayapura. Banyak prestasi sudah diraihnya. Namun setelah empat tahun berkarier di Indonesia, Carrasco mau tak mau harus pulang ke negaranya, Chile.

            “Menurut peraturan PSSI, pemain asing harus keluar setelah empat tahun merumput di Indonesia. Begitu pula aku. Di Chile, aku masuk ke klub De Porte. Setelah satu tahun merumput di sana, aku kembali ke Indonesia,” jelas pemain berambut panjang ini.

            Mengapa memutuskan kembali ke Indonesia? “Aku sudah mencintai negara ini. Banyak orang baik di Indonesia. Mereka sering membantuku, sehingga aku betah di sini,” kata dia.

            Well, apapun itu, yang pasti kini Carrasco sudah kembali ke Indonesia. Pasti dia ingin kembali menancapkan kukunya di ranah sepak bola negeri ini. “Paling tidak, sepak bola Indonesia sekarang sudah lebih baik. Yang paling ingin aku soroti adalah perbaikan kinerja wasit dan kondisi lapangan. Kalau kedua unsur itu sudah lebih baik, pasti sepak bola Indonesia akan lebih maju,” pungkas dia.=Ruri

 

(BOKS)

Ingin main di luar negeri

            “Setiap pemain sepak bola di Chile pasti ingin bermain di luar negeri.” Begitu kata Carrasco ketika ditanya mengapa dia tak memilih bermain di negaranya, yang notabene merupakan negara berakar sepak bola kuat. “Begitu pula aku. Ketika ada tawaran datang untuk datang ke Indonesia, aku langsung mengiyakannya.”

            Secara terus terang, Carrasco mengaku sama sekali tak memiliki gambaran seperti apa wajah Indonesia yang terletak sangat jauh dengan Chile. “Tapi orang tuaku langsung memberikan izin begitu aku bilang kalau aku akan pergi ke Indonesia,” bilang dia.

            Ingatannya pun kembali ke masa lalu saat dia mendarat di klub Persim Maros. Awalnya Carrasco mengaku kesulitan karena tak ada satupun pemain maupun pengurus di klub itu bisa berbahasa Spanyol. Akhirnya, secara perlahan, dia mempelajari Bahasa Indonesia secara mandiri. Dan kini, kemampuannya berbicara Bahasa Indonesia bisa diacungi jempol.

            “Aku sudah banyak tahu Bahasa Indonesia. Yang paling membuatku sulit untuk mengerti adalah ketika orang-orang di sekitarku mulai berbahasa Jawa, seperti ketika di Persebaya,” katanya sambil tergelak.

            Kini, jarak jauh yang membentang antara Chile dan Indonesia bukan lagi sebuah masalah bagi Carrasco. “Dalam seminggu, aku selalu menelepon keluargaku sebanyak dua atau tiga kali. Selain itu juga ada fasilitas internet untuk mengetahui kabar keluarga di sana,” cetus dia.

            Banyaknya kabar insiden pengeboman dan gempa pun tak pernah membuatnya gentar. “Pas gempa di Padang, keluargaku langsung menelepon. Bertanya apa aku baik-baik saja. Pasti mereka tak tahu kalau jarak Padang dan Makassar itu sangat jauh,” katanya sambil tertawa.

            Di sela kesibukannya sebagai pemain sepak bola, Carrasco selalu menyempatkan diri untuk berlibur. Tempat wisata di Indonesia yang jadi favoritnya adalah Bali. “Pantai di Bali sangat indah. Di kampung halamanku juga ada pantai, tapi tak seindah di Bali. Senang rasanya berada di sana,” kata dia. So, welcome back to Indonesia, Spiderman!(*)

Hantu cedera di Arsenal, Menumpuk di November

November 26, 2009 on 2:07 am | In modern | No Comments


            Udara dingin nan menusuk di November, ternyata tak pernah membuat Arsene Wenger merasa khawatir. Dia lebih mengkhawatirkan bahaya cedera yang selalu menghantuinya setiap November tiba. Dan kalau hantu cedera ini tak diwaspadai, bukan tak mungkin gelar juara akan jadi taruhannya.

            “Di Inggris, banyak pemain yang dibekap cedera setiap November tiba. Fakta itu sungguh membuat saya frustasi. Lihatlah data statistik, cedera pemain selalu menghantui di bulan November. Dengan melihat pemain yang cedera di November, Anda baru tahu apakah Anda akan menang atau tidak ketika Desember tiba,” bilang Wenger.

            “Yang jadi penyebab utama adalah banyaknya laga yang harus kami jalani di jenis lapangan yang berbeda-beda. Belum lagi para pemain yang masuk ke timnas. Sampai akhir babak putaran pertama Liga Champions saja, seorang pemain bisa bertanding sebanyak 20 kali,” imbuh dia.   

            Pemain Arsenal terakhir yang jadi korban adalah bek kiri andalan mereka, Gael Clichy. Kondisi itu mau tak mau membuat dia harus memilih Kieran Gibbs, bek kiri The Gunners, yang baru berusia 20 tahun, sebagai pengganti. “Bagi kami, kehilangan Clichy adalah sebuah pukulan tersendiri. Dia akan absen selama 1-2 bulan. Itu terlalu lama,” cetus Wenger.

            Sebelum Clichy, pemain Arsenal lain yang bertumbangan adalah Johan Djourou, Lukasz Fabianski, Samir Nasri, Nicklas Bendtner, Theo Walcott, Jack Wilshere, Denilson, dan Tomas Rosicky. Khusus bagi Rosicky dan Nasri, jangka waktu mereka untuk pulih kembali cukup lama. Sementara, Bendtner hanya membutuhkan waktu sebulan untuk pulih.

            Sederet pemain yang dibekap cedera memang membuat Wenger pusing tujuh keliling. Padahal dia sangat membutuhkan mereka guna mengejar ketertinggalan dari Chelsea dan MU yang berada di peringkat satu dan dua di klasemen sementara.

“Seperti tim lain, kami hanya ingin kondisi fisik para pemain selalu prima dan siap turun kapanpun dibutuhkan. Tapi kami tak seperti itu. Tim lain yang mungkin hampir semua pemainnya bebas cedera saat ini hanyalah Chelsea,” bilang Wenger.

 

BUKAN ALASAN

            Keinginan Wenger untuk memiliki pemain bebas cedera seperti Chelsea mungkin belum terwujud bulan ini. Sampai pekan ke-11, Arsenal sudah kehilangan tujuh pemain akibat cedera. Jumlah itu sama dengan jumlah pemain cedera di MU, hanya saja lima dari tujuh pemain mereka bisa kembali dalam akhir pekan lalu.

            Sedangkan di Arsenal, diperkirakan hanya Wilshere yang bisa kembali pekan ini. Enam pemain lainnya setidaknya menunggu sampai akhir bulan ini untuk bisa tampil kembali. Kabar bagusnya, Carlos Vela dan Armand Traore segera menjalani sesi latihan sebagai bagian dari upaya pemulihan cedera.

            Dua kabar baik itu setidaknya terselip di antara banyaknya hantaman cedera bagi Arsenal di November. Di periode yang sama tahun lalu, sebanyak sembilan penggawa The Gunners harus absen akibat cedera. Mulai dari Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Bacary Sagna, Walcott, Diaby, dan lainnya.

            Jumlah itu sedikit menurun di dua musim lalu, ketika “hanya” delapan pemain yang dibekap cedera. Namun tetap saja jumlah itu masih terlalu banyak bagi Wenger. Uniknya, dengan jumlah pemain cedera yang sama di November, The Gunners mampu menjadi juara Premier League di musim 2003-04. Saat itu, tercatat Ray Parlour, Gilberto Silva, Dennis Bergkamp, Bisan Lauren, sampai Sylvain Wiltord harus absen dari lapangan akibat cedera di November.

            So, sepertinya tujuh pemain cedera yang melanda Arsenal bulan ini tak akan memengaruhi pasukan Wenger, meski sang bos mengeluh. Apalagi menurut Wenger, persaingan Premier League musim ini lebih terbuka. Ditambah Arsenal masih memiliki tabungan satu laga dibandingkan dua tim di atasnya. So, don’t worry Prof!=Ruri

 

JUMLAH PEMAIN ARSENAL CEDERA DI NOVEMBER      

Musim            Jumlah pemain           Hasil akhir

2009-10           7                                  3*

2008-09           9                                  4                     

2007-08           7                                  3

2006-07           5                                  4

2005-06           6                                  4

2004-05           8                                  2

2003-04           8                                  Juara

2002-03           9                                  2

*Sampai pekan ke-11

 

PERBANDINGAN JUMLAH PEMAIN CEDERA TIM BIG FOUR DI NOVEMBER

Musim            Arsenal        MU        Chelsea        Liverpool        Hasil akhir

2009-10           7                   7             3                   8                      -

2008-09           9                   7             7                   5                      MU Juara

2007-08           7                   4             4                   1                      MU Juara

2006-07           5                   6             5                   8                      MU Juara

2005-06           6                   1             4                   5                      Chelsea Juara

2004-05           8                   9             3                   4                      Chelsea Juara

2003-04           8                   2             4                   5                      Arsenal Juara

2002-03           9                   3             8                   4                      MU Juara

Alexandre Song, Gugup lihat Bergkamp

November 26, 2009 on 2:05 am | In modern | No Comments


“Jantungku seperti berdetak 200 kali per menit.” Begitu pengakuan Alexandre Song ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Arsenal. “Saat itu aku datang ke Arsenal bersama chairman Bastia, klubku sebelumnya. Betapa kagetnya aku ketika melihat Robert Pires, Thierry Henry, dan Dennis Bergkamp ada di ruang ganti pemain.”

“Aku lupa tanggal berapa, tapi masih di Juli 2005. Aku bisa langsung melihat mereka, pemain-pemain yang biasanya Anda lihat di televisi. Aku sungguh gembira bisa berjumpa dengan pemain-pemain besar seperti mereka. Aku tak bisa melupakan kenangan itu sampai sekarang,” bilang Song.

Bersua dengan pemain-pemain besar tentu membuat Song gugup setengah mati. Bahkan ketika Henry menyapa dan mengucapkan selamat datang kepadanya, Song hanya mampu membalasnya dengan senyuman. Hingga akhirnya Dennis Bergkamp bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”

“Karena aku tak bisa berbicara bahasa Inggris, aku bertanya kepada Henry apa yang dikatakan Bergkamp kepadaku. Dia berkata kalau Bergkamp juga ikut mengucapkan selamat datang ke Arsenal dan dia terkesan pada kehadiranku di sana,” kata Song. “Saat itu juga aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Apa yang kau lakukan di sini Alex?”

Sebuah pertanyaan yang kini sudah berujung pada sebuah jawaban. From zero to hero. Mungkin itulah ungkapan yang tepat bagi pemain asal Kamerun ini. Sejak Juli 2005 sampai akhir musim lalu, dia sudah berulangkali dihujani kritikan. Kritikan yang menganggapnya tak cukup bagus untuk berada di klub sebesar Arsenal.

Namun pemain berusia 22 tahun itu kini sanggup menjawab semua kritikan itu. Perannya sebagai gelandang jangkar di barisan tengah Arsene Wenger sekarang sama sekali tak terbantahkan. Bukti terbaru terjadi dalam laga versus Wolverhampton Wanderers di Stadion Molineux, Sabtu (7/11) lalu.

Menggantikan Abou Diaby di menit ke-24, Song membawa perubahan bagi skuad Arsenal yang tadinya terus diteror tim tuan rumah. Song mampu memberikan perlindungan bagi barisan defender dan sempurna memposisikan diri menahan berbagai serangan lawan. Kemampuannya membaca pertandingan membuatnya bisa membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk mendobrak pertahanan lawan.

Tak hanya itu, Song malah mendorong irama pertandingan ke daerah pertahanan Wolves yang akhirnya membuat Jody Craddock mencetak gol bunuh diri. Setelah itu, Arsenal tampil memukau dan membuat pertandingan berakhir dengan keunggulan telak 4-1 atas tuan rumah.

Prestasi inilah yang membuat Arsene Wenger pasti akan kesulitan mencari pengganti sepadan bagi Song. Pasalnya, Song harus meninggalkan Inggris guna membela negaranya di ajang Piala Afrika awal tahun depan. Mungkin ada seorang pemain Brasil di sana yang bisa menggantikannya, namun apakah kemampuannya akan menyamai level bintang Kamerun itu?

 

HUJAN PUJIAN

“Memang mungkin tak ada satupun orang yang mengira kalau dia akan berada di level seperti sekarang,” kata manajer Arsenal, Arsene Wenger. “Saya yakin dia pemain hebat, dan saya adalah salah satu dari sedikit orang yang meyakini itu. Saya bisa menunjukkan banyaknya artikel yang menuliskan kalau dia adalah pemain terburuk yang pernah saya beli. Tapi lihatlah nanti, dia akan menjadi salah satu pemain besar.”

            “Percayalah, kalau saya menempatkan seorang pemain di lapangan, itu sudah berdasar pada karakteristik fisik, mental, dan gaya mereka. Saya menempatkan Song sebagai centre-back karena saya yakin dia akan menjadi centre-back hebat di Arsenal suatu hari nanti,” imbuh dia.

Pujian bukan hanya dari Wenger. Kapten Arsenal 1971, Frank McLintock, bahkan bisa melihat kesamaan gaya permainan Song dengan Peter Storey. Bersama Storey, McLintock berhasil meraih gelar ganda bagi Arsenal, Piala FA dan Liga Inggris musim 1970-71.

“Saya yakin Song akan bisa melakukan tugas yang sama seperti yang Storey lakukan dulu. Storey selalu bertugas sebagai gelandang jangkar dan begitu melindungi barisan pertahanan. Sama seperti Song,” papar McLintock.

Berbagai pujian yang diterimanya tak lantas membuat Song besar kepala. Dia yakin klub sebesar Arsenal tak akan kesulitan mencari penggantinya untuk sementara. Ada Denilson dan Abou Diaby di sana. Menurutnya, Arsenal yang hanya kehilangan dirinya dan Emmanuel Eboue akan tetap bisa meretas jejak juara di level Premier League.

“Kami tak akan kehilangan terlalu banyak pemain. Karena hanya ada dua pemain Afrika di Emirates. Aku yakin Arsenal punya skuad yang mumpuni untuk mengatasi kehilangan ini. Denilson akan mampu menggantikanku. Dia memang cedera sekarang, tapi aku harap dia bisa segera turun bermain dalam beberapa bulan ke depan,” imbuh Song rendah hati.

Keyakinan Song bukan keputusan Wenger. Sang pelatih kini seakan sudah menemukan pengganti Patrick Vieira dalam diri sosok keponakan Rigobert Song ini. Kerja keras, kecepatan, dan kemampuan tekel Song benar-benar memberikan kontribusi besar bagi The Gunners.=Ruri

 

(BOKS)

Menikah muda

Sebagai pemain muda yang berlimpah harta, Alexandre Song tak menjalani hidup seperti kebanyakan pemain muda sepertinya. Di saat pemain seusianya sibuk berganti pasangan dan hidup dari satu pesta ke pesta lainnya, Song memilih untuk menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.

Ya, di usia 22 tahun, Song sudah memiliki dua anak laki-laki, Nolan dan Kaylian. Dia menikah dengan teman masa kecilnya, Olivia, di usia 18 tahun. Kematian ayahnya di saat Song baru berusia tiga tahun mendorongnya untuk menikah di usia muda.

“Beberapa orang mengatakan, aku masih terlalu muda untuk memiliki dua anak. Tapi inilah hidupku dan aku tak akan pernah mengubahnya. Aku bahagia dan selalu bersyukur karena Tuhan sudah memberikanku anugerah itu. Sekarang aku hanya ingin membuat keluargaku bahagia,” kata dia.

“Aku kehilangan ayahku di usia tiga tahun. Jadi aku tahu betapa pentingnya peran ayah bagi seorang anak laki-laki. Ketika aku masih muda, teman-temanku selalu dijemput ayahnya usai pulang latihan. Tapi aku tak punya siapa-siapa. Kenyataan itu sungguh memengaruhiku,” kenangnya pahit.

Tapi kini semua sudah berlalu. Dia mengaku sudah memiliki segalanya. Dua anak laki-laki dan seorang istri yang sempurna. Sekarang dia hanya ingin melihat kedua anaknya tumbuh dewasa. “Kini tak ada lagi yang aku inginkan selain melihat keluargaku hidup bahagia. Merekalah yang selalu menjadi sumber inspirasiku,” pungkas dia.(*)

 

(BOKS2)

Berkat Rigobert

Ditinggal sang ayah di usia tiga tahun dan berada di sebuah keluarga besar yang terdiri dari 17 saudara perempuan dan 10 saudara laki-laki tentu membuat masa kecil Alexandre Song berada di bawah garis kemiskinan. Beruntung, sebuah tangan terulur kepadanya. Dari seorang pemain sepak bola nasional Kamerun, Rigobert Song, yang juga merupakan pamannya.

Melalui Rigobert, Alex meretas jalan kesuksesannya menjadi pemain sepak bola. Dengan jeli Rigobert mencium bakat keponakannya dan mendidiknya menjadi pemain sepak bola. “Hubunganku dengan paman sangat dekat. Kalau aku punya masalah, aku bisa membicarakannya dengan paman Rigobert. Dia tahu bagaimana menjadi pemain sepak bola yang benar. Dia memberikanku berbagai nasehat kapanpun aku memerlukannya,” kata Alex.

Dia kini bermain bersama sang paman di timnas Kamerun. Awalnya, tentu banyak cibiran menghampirinya. Banyak yang mengatakan kalau keberadaannya di timnas adalah karena pamannya dan bukan karena kemampuannya.

“Mereka mengatakan aku ada di timnas karena pamanku juga ada di sana. Tapi sekarang semua sudah berubah. Orang-orang kini berkata, ‘Keponakanmu sangat bagus, kami bangga memilikinya dalam tim.’,” kata Alex.

Dan kini generasi sepak bola itu sepertinya akan berlanjut. Anak tertua Alex, Nolan yang baru berusia dua tahun sudah mulai menunjukkan bakatnya. “Ketika aku mengajaknya bersepeda, dia langsung menolak dan memilih bermain dengan bola. Tenaganya saat menendang sungguh mengagumkan untuk anak seusianya, mungkin itu sudah mendarah daging dalam keluarga kami,” bilang Alex bangga.(*)

 

Alexandre Song

Nama lengkap: Alexandre Dimitri Song Billong

Julukan: The Rhino

Lahir: Douala (Kamerun), 9 September 1987

Tinggi/Berat: 185 cm / 75 kg

Posisi: Defensive midfielder / Centre back

Nomor kostum: 17

Debut Premier League: Arsenal 2-0 Everton, 19 September 2005

Debut timnas: Mesir 4-2 Kamerun, 22 Januari 2008

Karier klub:

2004-06                       Bastia (34 main/0 gol)

2005-06                       Arsenal (pinjam) (5 main/0 gol)

2006-…                        Arsenal (52 main/1 gol)

2007                            Charlton (12 main/0 gol)

 

(INFOGRAFIS)

Perbandingan tiga pemain

            Sampai akhir musim lalu, sebuah lubang besar menganga di posisi defensive midfielder setelah kepergian Patrick Vieira. Para pemain muda yang menghuni Emirates dianggap belum mampu menggantikan Vieira. Hingga akhirnya muncul nama Denilson, Alexandre Song, dan Abou Diaby. Seperti apa perbandingan statistik Actim Index ketiga pemain itu di lapangan? Berikut perbandingannya.

 

Statistik

Song

Denilson

Diaby

Menit bermain

924

324

860

Gol

0

1

3

Passes

231

93

214

Dribbles

3

5

7

Skor Indeks

129

65

148

Ranking Indeks

80

204

50

Tampil

10

4

10

Starter

9

4

10

Pengganti

1

0

0

Persentase tekel sukses musim lalu

76 %

64 %

52%

 

Film Garuda di Dadaku, cita-cita, persahabatan, dan sepak bola

June 10, 2009 on 6:42 am | In modern | No Comments


            Gantungkanlah cita-citamu hingga setinggi langit! Begitulah kira-kira ungkapan yang pas menggambarkan jalan cerita film Garuda di Dadaku. Tokoh Bayu sebagai pemeran utama film ini tak pernah mengenal kata lelah untuk mengejar impiannya menjadi seorang pemain sepak bola. Apapun halangannya.

            Bayu terpaksa mencuri-curi waktu supaya bisa bermain sepak bola dengan bantuan sahabatnya yang menderita cacat kaki, Heri. Pasalnya, sang kakek, Usman, tak menyetujui cita-cita Bayu. Menurut dia, menjadi pemain sepak bola itu identik dengan hidup miskin dan tak memiliki masa depan.

            Namun Bayu tak menyerah. Dia terus mengiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya. Setiap kali tiba di rumah, dia selalu menyembunyikan bolanya agar sang kakek tak memarahinya.

            Heri dan Bang Duloh, supirnya, akhirnya menemukan jalan keluar. Mereka mengajak Bayu berlatih di kuburan, karena kesulitan mencari lapangan sepak bola di Jakarta. Di kuburan itu, mereka bersua dengan Zahra, anak perempuan misterius yang tinggal di kuburan tersebut.

Ketiganya tak membutuhkan waktu lama untuk bersahabat. Zahra bahkan membantu Bayu melukis, karena Kakek Usman menginginkan Bayu menjadi pelukis. Namun lama-kelamaan, kebohongan Bayu pun terbongkar. Keberhasilannya masuk menjadi murid beasiswa di Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal pun jadi sia-sia. Kakek Usman terkena serangan jantung saat melihat Bayu bermain bola.

            Alhasil, persahabatan Bayu dan Heri pun retak. Bayu menyesal telah membohongi sang kakek. Semua hal yang berhubungan dengan dunia sepak bola pun ditinggalkannya. Dia enggan bersentuhan dengan sepak bola lagi. Satu-satunya keinginan Bayu hanyalah melihat sang kakek sehat kembali.

            Lalu, apakah Kakek Bayu bisa kembali sehat? Apakah dia akan merestui keinginan Bayu menjadi pemain sepak bola? Dan akankah Bayu berhasil mewujudkan impian dengan menjadi pemain sepak bola yang sesungguhnya? Semua jawaban bisa dilihat di film Garuda di Dadaku yang akan resmi beredar pada 18 Juni 2009 nanti.(adv)

 

FILM GARUDA DI DADAKU

Produser                     : Shanty Harmayn

Sutradara                    : Ifa Isfansyah

Penulis skenario         : Salman Aristo

Bayu                            : Emir Mahira

Heri                             : Aldo Tansani

Zahra                           : Marsha Aruan

Kakek Usman            : Ikranagara

Wahyuni                     : Maudy Koesnaedi

Pak Johan                  : Ari Sihasale

Bang Duloh                : Ramzi

 

(SOSOK BINTANG)

Emir Mahira

Memang siswa sepak bola

Kebolehan Bayu menggocek bola dalam film Garuda di Dadaku ini tak terjun dari langit begitu saja. Ternyata, sang pemeran Bayu, Emir Mahira, merupakan anak didik Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal. Bahkan, bocah laki-laki berusia 12 tahun ini bercita-cita menjadi pemain sepak bola.

Kenangan Emir pun dimulai ketika awal mula dirinya mulai menyukai olahraga si kulit bundar tersebut. Dia mengungkapkan, kalau kesukaannya terhadap sepak bola dimulai ketika ikut menonton pertandingan bersama sang ayah melalui layar televisi.

“Waktu itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Pertama kali suka sepak bola karena setelah melihat ayah sedang menonton pertandingan Arsenal di televisi. Sejak saat itu aku langsung suka dengan sepak bola,” tutur putra pasangan dari Herry Budi Azhari Salim dan Trien B. Salim ini.

Tak cukup sekedar menjadi penggemar saja, Emir lalu meminta ayahnya untuk mendaftarkan dirinya dalam tim sepak bola Madania. Ketika Arsenal membuka klub di Indonesia, Emir lalu ikut mendaftar di sana. Saat itu ia sedang berada di bangku kelas 5 SD.

Ada dua tim yang menjadi idola Emir, yaitu Barcelona dan Liverpool. “Aku suka Barcelona karena tim ini kalau bermain enak dilihat. Sedangkan aku suka Liverpool karena ada Steven Gerrard,” ungkap bocah penyuka makanan Fettucini ini.

            Karenanya, tak heran kalau Emir bahkan bercita-cita menjadi pemain bola terkenal seperti idolanya, antara lain Samuel Etoo, Bojan Krkic, dan Ronaldinho. Akan tetapi, penyuka grup musik ABBA ini memiliki cita-cita lain andai impiannya menjadi pemain bola gagal di tengah jalan.

“Kalau aku gagal menjadi pemain bola, aku ingin menjadi seorang animator. Aku suka sekali menggambar dan tergila-gila pada komik Jepang,” tukas anak kedua dari tiga bersaudara ini. (*)

Paolo Maldini, sebuah antiklimaks

June 10, 2009 on 6:41 am | In modern | No Comments


            Antiklimaks. Itulah yang terjadi dalam pertandingan perpisahan Paolo Maldini di San Siro pada Minggu (24/5) lalu. Menjamu AS Roma di kandang sendiri, Maldini malah harus mendapati timnya kalah dengan skor 2-3 dari tamunya. Sebuah akhir yang pahit bagi perjalanan karier Maldini di Milan yang sudah berlangsung 24 tahun.

            Tak hanya itu, dia juga menerima cacian dan hinaan dari kelompok ultras Milan, Curva Sud. Mereka menganggap kalau Franco Baresi lebih baik dari Maldini. Maldini memang sudah lama dikenal sebagai kapten yang enggan tunduk terhadap kemauan kelompok ultras tersebut.

            Maldini tak mau menghadiri berbagai acara yang dilaksanakan Ultras. Dia memiliki sikap sendiri bagaimana menghadapi kelompok suporter fanatik AC Milan itu. Hubungan buruk mereka semakin memuncak saat Milan kalah secara menyakitkan di babak final Liga Champions musim 2004-05 dari Liverpool.

            Usai pertandingan itu, sekelompok anggota ultras melakukan demonstrasi di bandara guna menyambut kedatangan tim AC Milan. Dan entah apa sebabnya, Maldini dikabarkan langsung marah dan mengucapkan kalimat-kalimat yang tak pantas didengar.

            “Aksi kami di pertandingan perpisahan Maldini kemarin bukanlah sebuah aksi demonstrasi. Kami hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi pikiran kami mengenai beberapa komentar dan perilaku Maldini dalam beberapa musim terakhir,” kata Giancarlo “Baron” Capelli, pemimpin Ultras.

            Tindakan mereka tentu saja membuat Maldini mau tak mau harus menghela nafas. Dia sama sekali tak mengerti alasan kelompok ultras itu merusak pesta pertandingan terakhirnya. “Aku selalu menjaga sikapku dan menghormati semua orang. Aku memang tak pernah menghadiri acara-acara mereka, tapi itu bukan bentuk kesombonganku terhadap Ultras,” terang sang kapten.

            Kekecewaan yang diterima Maldini tak berhenti di sini. Dia kembali kecewa saat dia merasa kalau klub yang sudah dibelanya selama hampir 25 tahun itu, sama sekali tak melindunginya saat harus menghadapi sikap para ultras.

            “Klub sama sekali tak berkomentar terhadap reaksi ultras. Itu yang paling mengecewakanku. Keputusan mereka untuk diam inilah yang membuatku kecewa. Tak ada satupun perwakilan manajemen klub yang mengomentari insiden ini. Tidak dari pejabat level paling atas ataupun paling bawah,” kata Maldini.

            Secara terus terang, Maldini merasa sakit hati, meski dia mengaku tak memiliki waktu untuk memikirkan insiden itu lagi. “Mungkin aku terlalu idealis, tapi itulah reaksiku terhadap insiden yang terjadi di sebuah pesta yang mungkin sudah kurencanakan selama berbulan-bulan ini. Namun aku yakin klub seperti Milan seharusnya tak terlibat dengan insiden-insiden seperti ini,” imbuh dia.

 

HUJAN PUJIAN

            Setajam apapun kritikan yang diterimanya dari kelompok ultras, Maldini tetaplah Maldini. Namanya akan dikenang sebagai salah satu pemain legendaris dunia. Bahkan pelatih Barcelona, Pep Guardiola mendedikasikan kemenangan Barca di pentas Liga Champions lalu bagi Maldini. “Saya mendedikasikan kemenangan ini bagi dunia sepak bola Italia dan Paolo Maldini. Dia tak perlu khawatir, karena dunia sepak bola Eropa menghormatinya,” kata dia.

            Pep benar. Maldini tak perlu khawatir. Semua rekam jejak prestasinya di AC Milan sudah membuktikan segalanya. Lebih dari 900 pertandingan level profesional sudah dicatatnya. Lebih dari 26 trofi sudah dipersembahkannya bagi Il Diavolo. Termasuk lima gelar Liga Champions bersama AC Milan.

            Karenanya, tak sulit rasanya bagi para pelaku sepak bola di sekitar Maldini melontarkan pujian bagi sang legenda. Pujian pertama muncul dari Presiden Rossonerri, Silvio Berlusconi. “Saya akan menempatkan nama Maldini di posisi paling atas dari daftar pemain terbaik Milan dalam 20 tahun terakhir. Kami selalu mencintainya sampai kapanpun, karena dia pemain yang sangat profesional dan berdedikasi bagi tim,” kata dia.

            Pujian juga datang dari pelatih AC Milan, Carlo Ancelotti. “Maldini memiliki karier yang bagus di Milan, dia bisa menjadi contoh yang bagi bagi pemain lain,” bilang Ancelotti. Pujian serupa juga datang dari Franco Baresi, yang juga sesama pemain legendaris AC Milan.

Dia bahkan menyebut Maldini tak pantas mendapatkan perlakuan serendah itu dari Curva Sud. “Paolo (Maldini, Red) tak pantas mendapat hinaan dari ultras seperti itu. Namun, saya enggan berkomentar lebih lanjut. Memalukan,” kata dia. Sungguh sebuah antiklimaks.(Rur

 


(BOKS1)

Sulit lupakan The Kop

            25 Mei 2005 di Istanbul. Malam itu akan sulit dilupakan Maldini sampai sekarang. Maklum, malam itu, dia harus rela melihat timnya menelan kekalahan menyakitkan dari Liverpool di babak final Liga Champions musim 2004-05. Setelah unggul telak 3-0, mereka harus kalah 2-3 lewat adu penalti melawan The Kop.

            “Aku sulit melupakan pertandingan itu, yang merupakan salah satu pertandingan final terbaik yang pernah kualami. Kami bermain lebih baik, lebih baik dari Liverpool dan kami lebih pantas menang dibandingkan mereka. Tapi itulah sepak bola. Kekalahan itu sudah kami balas di babak final dua musim kemudian,” kata Maldini.

            “Harus kuakui kalau kami sebenarnya tak tampil bagus di musim 2006-07 itu. Namun setidaknya pertandingan itu menunjukkan determinasi kami yang tinggi sebagai tim. Aku sudah banyak merebut gelar sepanjang karierku sebagai pemain sepak bola. Tapi, aku juga bisa menerima kekalahan, sepanjang kami sudah berusaha maksimal,” bilang dia.(*)

 

(BOKS2)

10 rahasia Maldini

1.Ketika masih muda, Maldini adalah seorang fans Juventus.

2. Penggemar musik rap, terutama musisi seperti Will Smith, Articolo 31, dan 2 pac.

3. Ingin merasakan masa di mana The Beatles masih berjaya.

4. Dia hanya menjadi bintang iklan bagi Opel dan Adidas, dua sponsor utama AC Milan.

5. Dia menjamin tak akan meneruskan karier sebagai pelatih. Dia hanya ingin dikenang sebagai pemain sepak bola yang jujur dan sukses.

6. Dia tak mau membicarakan sepak bola saat makan bersama keluarga.

7. Maldini menyukai pizza atau makanan apapun yang dimasak ibunya. Dia mengakui kalau istrinya, Adriana, tak begitu suka masak.

8. Membeli mobil pertamanya di usia 18 tahun.

9. Pernah tinggal di sebuah rumah mungil bersama istrinya, adik perempuan dan suaminya.

10. Membagi tahap kehidupannya dalam dua bagian. Sebelum dan sesudah anaknya lahir. Dia sangat menyukai perannya sebagai ayah.

Next Page »

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^