Kado Pahit di Ultahku…

May 23, 2008 on 9:33 am | In kabar | No Comments

Jam di hapeku baru menunjukkan pukul 21.46, Jumat, 23 Mei 2008. Aku baru pulang dari kantor. Kuambil remote TV, kunyalakan kipas angin, karena panas tiba-tiba menyengat. Breaking News. Hmmm… apalagi ini? Batinku. Ternyata sebuah kado pahit ditujukan padaku di hari jelang ulang tahunku…

Aku melihat wajah Sri Mulyani, Menteri apa ya, aku lupa. Sejak adanya system reshuffle di cabinet, aku jadi susah ngapalin nama-nama menteri. Sri Mulyani berbicara panjang lebar mengenai perekonomian. Satu intinya, harga bahan bakar minyak naik!

Deg. Cuma itu yang muncul di hatiku. Kacau banget. Bukan tentang aku, sama sekali aku gak mikir gimana kelanjutan hidupku or apapun juga tentang diriku usai mendengar pengumuman tak mengenakkan itu.

Ingatanku melayang ke pulau-pulau berpenduduk miskin di Kepulauan Riau, tepatnya di sekitar Batam yang dulu menjadi tempat tinggalku. Dengan harga BBM sebesar Rp 4.500 saja mereka sudah kewalahan, bahkan sulit sekali menjalani hidup.

Mereka harus menunggu angin laut yang kondusif sebelum bisa mencari ikan untuk dijual.  Dari masa 12 bulan yang terdapat dalam kurun waktu satu tahun, mungkin mereka hanya bisa menggunakan masa selama enam bulan untuk mencari ikan. Sisanya, kondisi laut sama sekali tak memungkinkan untuk mencari ikan.

Musim angin utara yang terjadi di akhir dan awal tahun benar-benar melumpuhkan kehidupan nelayan. Jangankan mencari ikan, untuk menjaga rumah mereka dari amukan dan terjangan ombak saja, mereka sudah kesulitan. Rumah mereka yang terletak di pinggir pantai dan hanya terbuat dari kayu, triplek, atau tumpukan karung goni, tentu saja tak akan kuat menerjang amukan laut.

Saat malam tiba, jangan harap bisa tidur nyenyak selama musim utara berlangsung.  “Lantai” rumah mereka yang terbuat dari kayu bekas, dipastikan akan tergenang air laut. Di bagian “atap” yang terbuat dari karung goni dan kayu bekas atau seng, dipastikan akan terbuka bila angin laut benar-benar mengamuk.  Itu juga yang kualami selama berada di Pulau Medang, Kabupaten Lingga setahun lalu.

Meski aku tak mengerti dunia ekonomi, tapi aku benar-benar tak mengerti kenapa Pemerintah tega menaikkan harga BBM padahal kehidupan di pulau-pulau di sana benar-benar memprihatinkan.  Harga jual ikan yang tak seberapa (kecuali ikan dingkis di masa Imlek), tak sebanding dengan harga beli BBM yang dibutuhkan nelayan untuk kapal mereka.

Opsi mendayung ke laut? Luar biasa. Rentang jarak puluhan kilometer tak akan mampu ditempuh nelayan dengan menggunakan dayung, sekuat apapun fisik mereka. Ancaman ombak ganas tak akan mampu dilawan hanya dengan tangan. Hasil akhirnya, cukup memanjatkan doa.

Ya. Hanya doa. Doa supaya nelayan-nelayan miskin itu tak tambah merana dengan adanya pengumuman kenaikan BBM. Ah, seandainya Pemerintah Indonesia itu tak terbiasa korupsi, seandainya semua hasil bumi di Indonesia yang kaya ini bisa dinikmati penduduknya sendiri, seandainya…seandainya…dan seandainya… Banyak kata seandainya tersampaikan, tapi ketika kata itu terucap, hal yang sebaliknyalah terjadi.

Capek. Lelah hidup di bumi Indonesia yang kacau-balau ini. Tapi mau bagaimana lagi. Kehidupan dan penghidupanku semua ada di sini. Semua ada di bumi Indonesia yang katanya harus dicintai ini… yang katanya harus bangkit di 100 tahun peringatan Kebangkitan Nasional. Tapi semuanya malah terjadi sebaliknya, rakyat Indonesia harus menelan kepahitan, entah untuk yang keberapa kalinya. Sepahit diriku yang harus menerima kado pahit ini tepat menjelang ulang tahunku. Kado yang benar-benar pahit…(*)

 

Paul Scholes, Sebuah Enigma Tanpa Akhir

May 16, 2008 on 5:50 am | In kabar | No Comments

Tak ingin diturunkan di laga final karena simpati. Calon legenda yang sederhana.

            Dalam Webster Dictionary, kata enigma salah satunya bisa berarti riddle atau teka-teki. Dan teka-teki itulah yang selalu hinggap dalam diri Paul Scholes, gelandang veteran Manchester United. Betapa tidak, usai mencetak gol kemenangan melawan Barcelona akhir April lalu, ia langsung ngeloyor pergi meninggalkan Old Trafford tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Meninggalkan sebuah enigma.

Padahal saat itu, puluhan media Inggris sudah menunggu kata-katanya usai mencetak gol kemenangan di penampilannya ke-100 di Liga Champions. Semua orang pasti tahu gol itu sangat berarti untuknya, karena dengan gol tersebut, ia berhasil membawa MU ke final Liga Champions. Partai final untuk pertama kali sepanjang kariernya.

Ya. Sembilan tahun lalu, tepatnya di 26 Mei 1999, Scholes hanya bisa ikut bertepuk tangan di pinggir lapangan ketika MU mengalahkan Bayern Muenchen dengan skor 2-1. Saat itu, ia terkena hukuman larangan tampil bersama Roy Keane akibat akumulasi kartu. Tapi, enigma The Ginger Prince tak hanya terhenti di sini.

Pemain berusia 33 tahun ini tak mau jika Sir Alex Ferguson menempatkannya di laga final hanya berdasarkan rasa simpati atau kasihan semata. Ia sadar, jika rasa simpati sama sekali tak berhubungan dengan pilihan skuad Fergie. Ambisilah yang membuat ia kembali tampil bagus meski sebuah penyakit membuat pandangannya berkurang selama dua tahun terakhir ini. Penyakit inilah yang membuat dirinya harus absen dari lapangan hijau selama lima bulan di 2006.

            Sir Alex pun langsung memberikan jaminannya. Ia akan memasukkan Scholes sebagai starter di final Liga Champions 21 Mei mendatang. Bukan berdasarkan simpati, tapi berdasarkan penampilan apiknya di babak semifinal. Dan Scholes dipastikan akan mengeluarkan seluruh kemampuannya agar bisa tampil apik di final nanti.

Meski sudah memperoleh jaminan masuk ke skuad di laga final, Paul Scholes tetaplah Paul Scholes. Ia tetap rendah hati dan tak terlalu menyukai sorotan media. “Aku hanya seorang pemain sepak bola, aku bukan siapa-siapa, jadi izinkanlah aku dan keluarga menikmati hidup ini secara sederhana,” ucap dia.

            Dia tak mau disorot media terlalu berlebih.  Itulah yang membuat dia menolak diwawancarai televisi, yang lazim dilakukan usai pertandingan. Toh, bek MU, Michael Silvestre mengaku melihat Scholes mengembangkan senyum tanda kelegaan ketika mereka masih berada di kamar ganti. “Anda pasti bisa melihat kelegaan yang luar biasa di wajahnya. Ia tak tampil di final 1999, dan sekarang, ia mampu menebus kegagalannya dengan membawa MU ke Moskwa,” kata bek asal Perancis ini.

 

DUKUNGAN BECKHAM

            Pernyataan gelandang MU, Michael Carrick menambah enigma di diri Scholes.

 “Scholes memang tak mengatakan apapun usai pertandingan. Ia hanya pergi begitu saja. Tapi itulah dia, sebagai seorang legenda, ia akan dikenang untuk waktu lama. Bermain di sampingnya dan mempelajari semua teknik yang dimilikinya, sudah merupakan kesenangan sendiri untukku,” kata Michael Carrick, gelandang MU.

Legenda. Itulah sebutan yang pantas bagi Scholes setelah ia mencetak gol yang membawa MU ke final Eropa untuk kali ketiga dan bermain bagi MU selama 14 tahun.

Legenda yang selalu sederhana sebab meski bergelimang harta namun tak pernah ingin mengekspos kehidupan pribadinya. “Ia seorang pemain berbakat luar biasa, yang tak pernah ingin masuk dunia selebriti karena ia adalah seorang yang sederhana,” kata Roy Keane yang kini melatih Sunderland.

            Pemain legendaris sekaliber Bobby Charlton pun tak ketinggalan menyatakan pujiannya. “Ia selalu bisa mengendalikan diri dan memberikan passing yang sangat akurat. Pemain bagus yang penampilannya enak dilihat di lapangan hijau.”

Nada simpati juga muncul dari mantan pemain MU yang turut dalam final Liga Champions 1999, David Beckham. Ia tak akan pernah melupakan absennya Scholes di partai puncak itu.

“Aku harap MU akan berusaha semaksimal mungkin memenangkan pertandingan bagi Paul Scholes, karena ia tak bisa tampil di final 1999. Aku ingat kekecewaannya karena tak bisa tampil saat itu, jadi senang rasanya jika ia akhirnya bisa tampil di final nanti,” terang Beckham. “Kemenangan di Liga Champions sekaligus akan menjadi penghargaan tersendiri bagi Scholes yang sudah mengabdikan dirinya sebagai pemain sepak bola di MU.”

Kecemerlangan teknik permainannya membuat banyak kalangan mendukungnya untuk tetap berada di Old Trafford lebih lama lagi. Kendati demikian, jika Scholes angkat kaki dari MU pun, Mark Hughes, manajer Blackburn Rovers sudah siap menampungnya. Biasanya MU hanya menawarkan kontrak satu tahun bagi pemain berusia di atas 30 tahun, tapi untuk Paul Scholes mungkin akan menjadi pengecualian, karena ia sebuah enigma tanpa akhir. (Ruri)

 

Ketika Nasionalisme Berbicara…

July 14, 2007 on 7:38 am | In kabar | 2 Comments

SUASANA kantor mendadak berubah ricuh. Komputer-komputer yang biasanya sibuk digunakan awak redaksi mendadak menganggur. Teriakan-teriakan bermunculan di ruangan redaksi yang biasanya sepi di malam Minggu. Sepupu saya yang masih ABG pun tak ketinggalan histeris waktu menelepon dari Jogjakarta. Sepupu saya dari Solo mendadak membatalkan jadwal traktiran ulang tahunnya. Semua teman chatting di Yahoo Messenger mendadak mengubah status mereka. Mulai dari Indonesia Libas Lawanmu! Ayo Indonesia! Go Indonesia! Stop press! Indonesia-Arab Saudi! Dan berbagai dukungan lainnya bermunculan di dunia maya itu.
Apa pasal? Nasionalismelah yang berbicara. Nasionalisme yang selama ini dilupakan. Nasionalisme yang terpaksa dipinggirkan karena rasa pesimis terhadap nasib Bangsa Indonesia yang tak kunjung membaik. Continue reading Ketika Nasionalisme Berbicara……

Kakek Junu yang Membuat Hidupku Berarti

June 15, 2007 on 5:49 am | In kabar | 2 Comments

KAKEK yang satu ini benar-benar berhasil membuat hidup saya jadi lebih berguna selama menjalani kehidupan sebagai jurnalis. Saya berhasil membantunya kembali ke kampung halamannya di Flores melalui goresan tinta saya dan teman saya. Sampai sekarang, setitik air mata selalu jatuh setiap kali mengenangnya. Di usianya yang hampir seabad, ia hanya ingin meninggal di kampung halamannya dengan semua keterbatasannya. Lalu bagaimana ia bisa membuat hidup saya jadi berarti? Begini ceritanya. Pada bulan Oktober 2005, saat itu pemerintah menaikan harga BBM. Mendapat protes masyarakat, pemerintah lantas membuat kebijakan: memberikan dana kompensasi BBM. Masyarakat miskin berhak mendapatkan dana kompensasi BBM sebesar Rp 300 ribu perbulan. Nah, Tribun Batam (sebagai koran peduli masyarakat kecil) mempunyai ide untuk memuat kisah warga miskin yang tidak mendapatkan Dana Kompensasi BBM. Telusur punya telusur, tersebutlah si Kakek Junu, warga Flores yang sudah lama merantau di Batam. Ia sehari-hari berkeliling jalan kaki menjual minyak urut. Dari pintu ke pintu. Continue reading Kakek Junu yang Membuat Hidupku Berarti…

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^