Berawal di Zaman Dinasti Tang

September 5, 2007 on 6:18 am | In chinatown | 2 Comments

* Arus Migrasi Bangsa Tiongkok

BATAM, TRIBUN - Sebuah pepatah menyebutkan, di mana ada matahari bersinar dan air yang mengalir pasti di sana ada orang Tionghoa. Pepatah itu seakan menjelaskan jika orang Tionghoa memang sudah berpencar ke seluruh penjuru dunia.
Menurut John, seorang pengamat budaya Tionghoa di Batam, arus migrasi warga Tiongkok ke luar negeri diketahui sudah dimulai pada zaman Dinasti Tang sekitar abad ke-7 hingga ke-9.
“Pasalnya, di zaman itu, Tiongkok sedang memasuki zaman keemasan, sehingga banyak orang dari luar Tiongkok yang datang ke sana untuk mempererat hubungan perekonomian sekaligus mempelajari berbagai hal mengenai Tiongkok,” ujarnya kepada Tribun, Rabu (5/9).
Saat orang-orang itu kembali ke negaranya masing-masing mereka yang mengajak orang Tiongkok. Warga Tiongkok bersedia karena sebagian besar dikelabui mengenai indahnya negeri mereka dibandingkan di Tiongkok.
Arus migrasi semakin meningkat ketika dinasti terakhir di Tiongkok berkuasa, yakni Dinasti Qing. Pada masa pemerintahan dinasti ini, banyak kemiskinan yang melanda publik Tiongkok. Alasannya, pemerintahan Dinasti Qing ternyata terdiri merupakan sebuah suku kecil yang jumlahnya kalah besar dibandingkan suku Han yang menjadi suku paling mayoritas di Tiongkok.
“Kapal-kapal dari Eropa yang datang ke Tiongkok mengelabui orang Tiongkok untuk ikut mereka kembali ke negaranya. Padahal di negara mereka, banyak orang Tiongkok yang akhirnya dijual dan menjadi budak,” papar pria asal Moro itu.
Keadaan itu semakin diperparah dengan banyaknya peperangan, perang candu dan pemerintahan yang kacau balau. Pada masa peralihan ke pemerintahan Sun Yat Tsen inilah, arus migrasi semakin meningkat. ” Penjajah Eropa juga membutuhkan tenaga pekerja yang akhirnya dibawa dari Tiongkok menuju ke Asia Tenggara, dan warga Tiongkok pergi ke luar negaranya dengan membawa impiannya masing-masing akan masa depan yang lebih cerah,” ungkap John.
Selain alasan pemerintahan Dinasti Qing, masalah geografis di Tiongkok juga menjadi alasan tersendiri mengapa banyak terjadi imigrasi. Geografis di Tiongkok yang dipenuhi dengan kawasan pegunungan membuat orang sulit melakukan interaksi antara satu dengan yang lain. Orang juga sulit mendapatkan dataran yang bisa dijadikan lahan cocok tanam.
“Lagipula pada waktu itu, jumlah penduduk sudah padat. Tercatat, pada masa Dinasti Qin, sekitar 200 tahun sebelum Masehi, penduduk di Tiongkok sudah mencapai 60 juta jiwa. Sebuah jumlah yang besar untuk ukuran zaman itu,” terang pria berkacamata ini.
Namun sepanjang sejarah imigrasi orang Tionghoa, alasan utamanya adalah untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Karena kehidupan di sana benar-benar miskin, dan semakin miskin karena terjadi berbagai peperangan yang menyengsarakan rakyat.
“Mereka yang larut dalam arus migrasi sebagian besar terdiri dari orang-orang yang tak berpendidikan, yang tak tahu lagi bagaimana harus menyambung hidup mereka kecuali merantau. Tetapi ada sebagian kecil yang merupakan kaum berpendidikan, namun jumlahnya sangat kecil,” katanya.
Secara geografis, mereka yang merantau yang ke luar adalah penduduk Tiongkok bagian selatan. Sebagian besar berasal dari Provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi. Pasalnya, kawasan Tiongkok selatan sangat dekat dengan laut sehingga memudahkan arus migrasinya.
“Kalaupun mereka dari Tiongkok utara merantau ke kawasan Eropa biasanya mereka lebih memilih jalur sutra yang dikenal sebagai jalur perdagangan,” tuturnya.(rur)

Bersihkan Sampah di Pikiran

September 5, 2007 on 6:06 am | In chinatown | No Comments

* Pesan David Liu di Seminar Tzu Chi

BATAM, TRIBUN - Sekitar 200-an warga Batam mengikuti Seminar Voice of the Mind (Xin Ling Ji Yu) yang diadakan di Pasific Palace Hotel, Minggu (2/9) lalu. Dalam seminar tersebut menghadirkan David Liu, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Singapura-Malaysia.
Di seminar ini, David mencoba membagi tipsnya mengenai cara meraih kebahagiaan sejati. Ia mencontohkan, di masa-masa sekarang yang masih masuk dalam bulan hantu, kita harus memiliki pijakan sendiri untuk menghayati kepercayaan kita.
“Jangan percaya yang tidak-tidak, bulan tujuh sama sekali bukan bulan hantu, melainkan bulan untuk belas kasih dan bakti kepada leluhur. Setiap hari sepanjang tahun adalah hari yang baik, jadi jangan terlalu percaya terhadap hal-hal yang bukan-bukan,” kata David dalam ceramahnya.
Menurut pria asal Taiwan itu, kalaupun ada sebuah kejadian buruk menimpa seseorang di bulan hantu, jangan pernah menyalahkan harinya, tetapi salahkan diri Anda sendiri. Mungkin kita belum cukup memberikan derma, kebaikan ataupun amal terhadap orang lain.
Dikatakan David Liu, dengan berbuat baik, kita akan dipenuhi berkat. Ia mencontohkan, di Taiwan ada tradisi yang mengatakan jika kita akan mendapatkan berkat jika sudah disentuh kepalanya oleh seorang bhiksu. “Padahal itu sebenarnya tak perlu. Dengan berbuat baik, otomatis kita akan mendapatkan berkat, seperti melalui ceramah di seminar ini, otomatis kita mendapatkan berkah,” jelasnya.
Master Cheng Yen, yang merupakan pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, menurut David, juga tak pernah meminta tubuhnya selalu sehat secara jasmani setiap hari. Master Cheng Yen justru meminta agar kondisi rohaninya yang tetap baik setiap hari, karena dengan rohani yang sehat otomatis jasmani juga akan sehat.
“Semua kelebihan yang kita miliki disumbangkan untuk mereka yang membutuhkan, dengan demikian kita bisa menanamkan karma yang baik untuk diri kita sendiri,” paparnya.
Menurut David, sebaiknya manusia sebaiknya lebih mementingkan membuat hubungan baik dengan sesama daripada mengerti kitab-kitab agama. “Meski sebenarnya kedua-duanya juga penting. Dan dengan masuk ke Tzu Chi, kita bisa lebih sabar menghadapi hidup dan mengubah sifat kita yang selama ini mungkin egois serta memikirkan diri sendiri,” jelas pria berkacamata ini.
Memang banyak rintangan dalam kehidupan manusia, sehingga kadang manusia harus menyerah menghadapinya. Hidup kita hanya diisi menunggu hari libur, menunggu tanggal gajian dan menunggu bonus tahunan. Otomatis, hidup pun penuh diisi tekanan hidup dan stres yang berlebihan.
“Kita harus menghadapinya dengan hati yang lapang. Banyak orang biasanya membersihkan sampah di lingkungannya atau rumahnya, tapi dalam seminar ini, mari kita bersama-sama membersihkan sampah di dalam hati dan pikiran kita. Itulah inti maksud Seminar Voice of the Mind ini,” katanya.
Menurutnya, bentuk wajah kita akan dibentuk oleh kondisi hati dan pikiran setelah kita berumur lebih dari 40 tahun. Sebelum itu, wajah kita merupakan bentukan atau warisan dari orang tua kita. “Karenanya, mari kita bersama-sama membersihkan pikiran dan hati sehingga wajah kita nantinya akan terlihat indah dan cerah,” pungkasnya.(ruri)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^