Sebuah Pelajaran Sederhana
January 14, 2008 on 6:23 am | In kisahku | 1 CommentJARUM jam dinding di kantorku baru menunjukkan pukul 17.54 WIB di hari Minggu (13/1) lalu ketika ponselku berdering. Dari Pak Suwarno, narasumber setiaku soal aktivitas orang Tionghoa di Batam. Aku sama sekali tak mengira bakal dapat kejutan spesial sore itu. Awalnya aku mengira itu dari Pak Suwarno, karena namanya tertera di ponselku. Ternyata suaranya lain, meski sama-sama medhok.
“Halo Mbak Ruri, ini Andrie Wongso, aku meh pamitan balik ndek Jakarta,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang kental. Sejenak aku terpana dan tak mampu menjawabnya. Si penelepon di ujung sana yang merupakan motivator nasional itu sampai berulangkali berkata,”Halo, halo, Mbak Ruri, halo?” Dia bingung karena aku tak kunjung menjawabnya.
“Eh iya pak, maturnuwun. Selamat jalan pak, ati-ati di jalan,” Itu aja yang keluar dari mulutku.
“Saya juga mau bilang terimakasih Mbak Ruri sudah banyak membantu saya selama di Batam,” katanya.
“Iya pak, sami-sami. Maturnuwun juga atas semua motivasinya,” balasku.
“Yo wis nek ngono, aku pamitan sik yo. Dah!”
“Inggih pak, maturnuwun.”
Dari sebuah percakapan sederhana itu aku membuktikan sendiri betapa seorang motivator nasional sekaliber Andrie Wongso ternyata tak hanya jago berbicara dan memotivasi orang, ia juga mau melakukan apa yang diucapkannya sendiri di depan ribuan orang. Menghargai orang lain.
Andrie Wongso datang ke Batam dalam acara Seminar One is One’s Own Lord yang diadakan di Planet Holiday Batam, Minggu (13/1). Ia datang atas undangan UKM Agama Buddha Universitas Internasional Batam.
Ia sempat mampir ke kantorku, yang menjadi satu di antara sponsor acara seminar tersebut. Dalam kunjungan itu, kami sempat diskusi banyak hal. “Punya tujuan, fokus, bersikap profesional, antusias, konsisten, punya skill, fleksibel, aksi dan selalu menikmati semua proses dari tujuan adalah kunci menuju kesuksesan,” katanya.
Semua harus dimulai dari diri kita sendiri. Anda harus tahu apa peranan Anda sekarang, memiliki kekuatan pikiran dan potensi diri. Mampu menilai orang lain, fokus pada target, siap membayar semua harga keletihan dan kegagalan selama proses menuju sukses dan tetap sadar serta tetap belajar.
“Terus hadapi tantangan maka sukses akan ada di tangan Anda. Sukses bukan milik orang-orang tertentu, tetapi milik saya dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan dan memperjuangkannya dengan sepenuh hati,” tambahnya.
Aku juga sempat mengatakan padanya jika dulu dia sempat masuk ke kelasku di mata kuliah Service Program Design di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma, saat aku masih menuntut ilmu di sana. “Lha, ternyata sampeyan mahasiswane Bu Lanny to? Aku yo kenal apiklah,” paparnya.
Aku pun menuliskan diskusi kami di malam minggu itu bersama Pemredku di Harian Tribun Batam edisi Minggu (14/1). Dan ketika aku bertemu dengan Andrie Wongso di siang harinya, ia sempat menggodaku. “Endi beritane mau bengi? Wis ditulis durung?”
Waduh, tentu saja aku gelagapan, karena kupastikan berita itu sudah dimuat di halaman satu. Tapi ternyata setelah kutanyakan langsung pada Suwarno, dia menjawab.
“Walah, dia cuma ngerjain kamu Rur, tadi pagi dia sudah baca beritanya dan bilang bagus kok,” kata Suwarno. Walah, sempat-sempatnya Andrie Wongso ngerjain aku sebelum seminar. Apa mungkin dia grogi ya? Entahlah.
Tapi nggak mungkin juga ya kali? hehehehe. Yang pasti, aku dapat sebuah pelajaran sederhana dari seorang Andrie Wongso, selain motivasinya tentu. Jangan pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada siapapun juga, tak peduli siapapun itu setiap kali Anda sudah dibantu orang lain dan menghargai mereka. Jadi, masih mengutip kata mutiara Andrie Wongso, tak ada kesuksesan sejati yang bisa diraih tanpa adanya keterlibatan orang lain. Betul?(*)
Arti Sebuah Ketulusan
December 20, 2007 on 8:22 am | In kisahku | No CommentsKETULUSAN mungkin sudah jarang ditemukan di tengah dunia yang penuh keegosian saat ini. Ketika sebuah ketulusan tak lagi dihargai oleh manusia-manusia di dunia yang lebih memilih untuk menguntungkan diri mereka sendiri dan tanpa mempedulikan keberadaan orang lain.
Namun semua itu tak kutemukan dalam diri Lao Sh-ku (guru, Bahasa Mandarin, red). Sebuah nilai ketulusan masih ada dalam dirinya yang sudah mulai digerogoti usia. Semua berawal ketika aku meminta dirinya untuk memberiku les Mandarin sekitar tiga bulan lalu. Ia langsung mengiyakan, bahkan memberiku les cuma-cuma alias gratis kalau aku bisa menyelesaikan paket 3 bulan dengan 24 kali pertemuan tanpa putus.
Aku langsung mengiyakan tantangan itu. Ketika aku bertanya pada Lao Sh mengapa dia memberikanku les gratisan, dia hanya mengungkapkan sebuah alasan sederhana. Menurutnya, semangat anak pribumi untuk belajar Mandarin harusnya dihargai dan sebagai seorang pensiunan, ia hanya ingin memiliki teman ngobrol selain ingin memiliki murid seorang jurnalis seperti aku.
Dalam hati aku hanya tersenyum. Sungguh, sebuah ketulusan yang berasal dari orang Tionghoa yang selama ini terpinggirkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pribumi. Aku sebenarnya tak pernah suka dengan penggolongan ras dan suku seperti itu. Kenapa rezim Soeharto dengan teganya merusak tatanan kehidupan kaum Tionghoa sehingga mereka terpinggirkan? Sungguh sebuah pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya hingga saat ini.
Ketulusan Lao Sh pun kubayar dengan belajar sungguh-sungguh di tengah kesibukanku yang padat, meski yang lebih sering terjadi aku kesulitan menghapal kosakata Mandarin, namun Lao Sh tetap sabar menghadapiku. Tak jarang, aku harus buru-buru berangkat les, meski harus melakukan liputan kilat sebelumnya. Rumah Lao Sh yang berada di kawasan banjir pun tak pernah menyurutkan niatku untuk belajar Mandarin.
Dan benar, aku berhasil menyelesaikan 24 pertemuan itu. Lao Sh pun menepati janjinya. Mengembalikan seluruh uang yang sebelumnya kubayar setiap bulan. Namun, baik aku dan temanku langsung menggelengkan kepala. Kami ingin uang itu sebagai bayaran tenaga Lao Sh yang sudah menularkan ilmunya pada kami.
Tapi Lao Sh terus mendesak. Akhirnya setelah melalui proses tawar-menawar, dua amplop itu dibagi rata. Satu untuk Lao Sh, dan satu untuk kami berdua. Sungguh, sebuah ketulusan yang luar biasa, dari seorang etnis Tionghoa yang dulunya terpinggirkan.
Selain bisa belajar Bahasa Mandarin, aku juga bisa belajar sebuah nilai ketulusan dari diri Lao Sh. Sebuah ketulusan yang tak pernah memandang suku, agama, ras dan golongan. Terutama ketulusan untuk berbagi….Xie Xie Lao Sh. Wo pu yau wang ci Lao Sh…(*)
Saat Latah Dilatahkan…
December 13, 2007 on 8:31 am | In kisahku | 1 CommentPENYAKIT ini punya dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, latah dianggap sebagai penyakit dan di sisi lain sebagai alat pengantar untuk bisa lebih bergaul, terutama di kalangan anak muda.
Di Indonesia, gangguan latah berkembang pada suku-suku di Pulau Jawa, Sumatera, dan pedalaman Kalimantan. Sementara itu, di wilayah Asia lainnya, penyakit latah ditemukan antara lain di tengah masyarakat suku Ainu di Jepang dan masyarakat gurun pasir di Gobi. Di Eropa, latah juga ada pada suatu suku di Prancis.
Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Teori kuno menyatakan, penderita latah biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah, dan berasal kelas ekonomi bawah. Namun, teori itu tak sepenuhnya tepat. Buktinya, kini banyak remaja yang mengidap latah. Penderita latah pria pun ada meski jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan perempuan.
Nah ini dia. Penyakit yang di zaman dulu mungkin dihindari, kini malah dicari-cari. Latah menjadi penyakit yang dilatahkan. Banyak orang memilih untuk (pura-pura) latah, terutama kaum remaja, supaya mereka bisa dianggap lebih gaul. Tak jarang, latah ini juga menjadi alat supaya remaja itu bisa masuk ke komunitas tertentu di kalangan remaja seusianya.
Lalu mengapa latah harus dilatahkan? Tak bisakah remaja berlaku secara sewajarnya saja supaya lebih bisa dianggap gaul? Tak bisakah mereka tak perlu menggunakan latah supaya bisa diterima teman-temannya? Entahlah. Mungkin, akibat tingkat kepercayaan diri yang rendah, mereka memilih “jalan pintas” ini supaya bisa diterima publik.
Sebenarnya apa sih penyebab latah? Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebab timbulnya gangguan ini. Pertama, teori pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang, tanpa merasa salah. Gejala ini merupakan se-macam gangguan tingkah laku. Lebih ke arah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu. Kedua, teori kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu, tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah, selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian, tokoh otoriter tak harus berasal dari lingkungan keluarga.Ketiga, teori pengondisian. Inilah yang sering disebut latah gara-gara ketularan.
Nah inilah yang saya alami, ketika saya berada di sebuah toko kamera di daerah Panbil, Kamis (13/12) lalu. Dari lima karyawan yang bekerja di sana, tiga di antaranya ternyata mengidap penyakit latah. Sampai saya bertanya apakah syarat latah itu dipakai untuk penerimaan pegawai di toko kamera itu? Sambil tersenyum, sang pemilik hanya menjawab kalau mereka sudah ketularan. Dari satu orang, menjadi dua orang dan menjadi tiga orang. Mungkin lama-kelamaan, semua pegawai toko itu menjadi latah.
Dan kebetulan, saya mungkin merupakan musuh nomor satu bagi orang latah. Bisa dibilang saya jahat karena paling suka mengganggu orang latah. Padahal, konon orang latah tak akan pernah sembuh jika ia terus dilatahi, tapi apa boleh buat.
Begitupun yang saya lakukan di toko kamera itu. Saya dan teman malah sibuk melatahi para pelayan. Ada yang sibuk memegangi lehernya karena mengaku tak bisa berenang pas saya teriak, banjir, banjir! Ada juga yang menggeleng-gelengkan kepalanya bak tripping ketika kami menggerakkan tangan bak tripping. Yang paling parah, satu karyawan membuang uang yang saya bayar ketika teman meneriakkan kata, buang! Beruntung sang pemilik tak marah melihat tingkah laku kami yang mengganggu anak buahnya. Tapi apa jadinya ya, kalau kami menyuruh mereka menendang ketika mereka berdiri dekat etalase. Pasti etalase itu dijamin hancur.
Meski menjadi orang jahil nomor satu yang suka melatahi orang, saya bisa sedikit berbagi tips supaya para penderita latah (yang sejati) bisa sembuh. Dan supaya orang-orang seperti saya ini tak seakan menemukan objek hiburan dengan mengganggu para penderita latah.Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, ia harus bisa menemukan ketenangan hidup. Misalnya, keluar dari rumah kalau orang tuanya kerap melakukan tekanan atau berganti bidang pekerjaan jika pekerjaannya itu membuatnya stres.
Untuk menyembuhkan si latah, lingkungan memang mesti berempati (nah ini dia!). Ada penderita latah yang sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya, penderita dianjurkan melakukan latihan relaksasi, meditasi, dan konsentrasi secara rutin. Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan, sering-seringlah melakukan aktivitas menyenangkan yang tidak membuat stres. Jadi, penyakit latah tak akan lagi dilatahkan…(*)
Mudik Pertamaku…
December 6, 2007 on 10:44 am | In kisahku | No CommentsMUDIK. Kata ini sepertinya merupakan sebuah kata sakti bagi seluruh penduduk Indonesia. Betapa tidak, kata ini mampu menggerakkan ratusan juta umat manusia di Indonesia untuk mengunjungi kampung halaman mereka saat hari raya tiba.
Hitung saja berapa orang yang bergerak dari rumah mereka menuju ke kampung halaman ketika Lebaran tiba. Jangan lupa hitung juga berapa putaran uang yang terjadi saat manusia-manusia itu bergerak. Puluhan juta atau puluhan miliar rupiah barangkali. Entahlah…
Yang pasti, kehangatan keluargalah yang mereka rindukan. Di tengah himpitan ekonomi dan perjuangan hidup yang mereka rasakan selama setahun, apa salah jika mereka merindukan kehangatan keluarga yang hanya dicicipi setahun sekali itu?
Tapi yang menjadi sebuah tanda tanya besar, tak bisakah momen pulang kampung itu tidak dilakukan secara bersama-sama? Apakah memang harus di Hari Idul Fitri? Atau Hari Natal? Tak bisakah di bulan-bulan lain yang ada dalam kalender setahun itu? Masih banyak pilihan lain kan?
Tapi, kehangatan keluarga plus keluarga besar mungkin menjadi incaran para pemudik ini setiap kali melakukan “aktivitas” tahunannya. Bisa jadi, ajang mudik tersebut digunakan untuk ajang mencari jodoh di kalangan keluarga besar, bisa juga jadi ajang pamer hasil kerja yang sudah dilakoni selama setahun.
Ya sudahlah, yang pasti mudik juga yang akan kulakoni di Hari Natal ini. Mudik Natal pertamaku setelah hampir empat tahun merantau di Batam. Gimana ya rasanya? Ketemu keluarga lagi, ketemu temen-temen lama dan yang pasti aku dapat “bonus” dari Tuhan di Natal tahun ini. “Bonus”-nya bahkan berlipat-lipat. This christmas will be the most wonderful christmas I’ve ever had in my life. Thanks Lord Jesus…
Ruri
Siksaan Waktu
October 19, 2007 on 2:30 am | In kisahku | No CommentsDinginnya hembusan angin malam ini
Sedingin hatiku yang terbekap rindu di hati
Sebuah rindu yang tak kunjung bertepi
Kapankah akan berhenti menanti?
Siksaan waktu jadi ujian
Saat kerinduan jadi dambaan
Siksaan waktu tak kunjung berlalu
Mendera hati dan kalbuku
Masihkah asa itu ada di sini?
Masihkah harapan berpendar di hati?
Siksaan waktu terus menemaniku
Akankah cepat berlalu?
D
Jelajah Pulau III Tribun-Telkomsel (3-Habis)
August 3, 2007 on 5:40 am | In kisahku | No Comments2 Jam Tunggu Kedatangan Bidan
HAMPARAN ikan-ikan kering dan sotong yang dijemur di samping rumah menjadi pemandangan tersendiri ketika kapal Tim Jelajah Pulau III Tribun-Telkomsel mendarat di Pulau Limas belum lama ini. Tak hanya itu, keramahan keluarga Amat pun menyambut tim jelajah pulau dengan senyum mereka.
Anak perempuan Amat, Yani, langsung menceritakan kondisi kesehatan di Pulau Limas begitu ditanyai mengenai semua fasilitas kesehatan di pulau yang masuk ke wilayah Kecamatan Senayang itu.
“Prihatin. Mungkin itu yang bisa sampaikan karena di Pulau Limas ini belum ada seorang bidan yang tinggal di sini. Tak hanya itu, puskesmas ataupun polindes juga tak terdapat di sini,” ujar wanita yang juga menjadi guru SD Jarak Jauh Pulau Limas itu. Selain ketiadaan puskesmas maupun polindes guna menunjang kesehatan warga, keberadaan posyandu ternyata baru diselenggarakan belum lama ini. “Kalaupun ada itu sama sekali tak rutin, jadi bisa dibilang memprihatinkan-lah,” katanya.
Karena tidak adanya bidan, maka imunisasi ataupun penyuluhan kesehatan jarang dilakukan di Limas. Kalaupun ada itu pun sangat jarang dilakukan karena bidan harus didatangkan dari Pulau Tajur Biru yang berjarak sekitar satu jam perjalanan.
“Biasanya, anak-anak sudah menderita gejala penyakit tertentu sebelum mendapatkan imunisasi. Imunisasi terakhir dilakukan kalau tidak salah pada bulan Desember tahun lalu,” jelas Yani.
Jarak jauh yang memisahkan Pulau Limas dengan pulau-pulau di sekitarnya pula yang membuat nyawa menjadi taruhan setiap kali ibu-ibu di pulau tersebut hendak melahirkan. Bagaimana tidak, ketika sudah saatnya melahirkan, sang ibu harus menunggu datangnya bidan dari Tajur Biru.
“Paling tidak ya harus menunggu selama dua jam, karena harus menjemput bidan di Tajur Biru yang menempuh waktu 1 jam dan 1 jam lagi untuk kembali ke Limas. Sebelumnya, kami mengontaknya dulu melalui orari. Namun, alhamdulilah, sampai sekarang belum ada ibu yang meninggal akibat melahirkan,” jelasnya.
Keadaan itu ditolong oleh keberadaan seorang bidan kampung bernama Raonah. Bidan kampung atau dukun beranak ini lebih sering dipilih masyarakat setempat untuk membantu kelahiran.
Namun, kalau dukun ini tak mampu membantu kelahiran, misalnya karena keadaan ibu yang parah, bidan terpaksa harus didatangkan untuk membantu dukun beranak tersebut. “Jadi, bisa dibayangkan betapa sakitnya ibu itu harus menunggu kedatangan bidan yang baru bisa datang dua jam kemudian,” jelasnya.
Sebuah pil pahit juga harus ditelan oleh ibu yang melahirkan dengan bantuan bidan. Biaya melahirkan sebesar Rp 500 ribu sudah menanti di depan mata. “Biaya itu tentu saja berat untuk ukuran penduduk Limas yang semuanya berprofesi sebagai nelayan. Kalau ke bidan kampung, kami bisa menyicilnya,” papar Yani. “Biaya sebesar Rp 500 ribu itu belum termasuk ongkos yang mereka keluarkan untuk membeli bahan bakar minyak,” ungkap wanita beranak satu itu.
Sementara itu, jika masyarakat di pulau Limas menderita penyakit, mereka tidak bisa secepat itu memeriksakannya ke mantri. “Kita harus mengontak mantri di Tajur Biru dengan menggunakan orari. Nanti, setelah dikontak, mantri tersebut datang kesini. Bisa juga kita langsung menuju Tajur Biru,” terangnya.
Kesulitan utama yang mereka alami adalah transportasi. “Jika yang sakit itu orang yang mampu, mereka bisa menggunakan pompong sendiri, ataupun mencarternya. Namun, jika yang sakit itu orang yang tidak mampu dan tidak memiliki pompong, bagaimana,” terangnya. (ruri)
Jelajah Pulau III Tribun-Telkomsel (2)
August 3, 2007 on 5:39 am | In kisahku | No CommentsDukun Larang Makan Sayur Usai Melahirkan
MATAHARI baru saja terbenam ketika tim Jelajah Pulau III Tribun-Telkomsel tiba di Pulau Mesanak, Kecamatan Senayang belum lama ini. Kondisi di pulau yang langsung berhadapan dengan Laut Natuna itu sedikit berbeda dengan Pulau Medang.
Fasilitas kesehatan di pulau itu sudah lumayan dibandingkan Pulau Medang. Dua orang bidan dan seorang mantri kesehatan sudah melayani lebih dari 2.000 jiwa yang tinggal di pulau yang terbagi menjadi 11 desa tersebut.
Menurut Zaldi, mantri desa Teluk Dalam, penyakit yang biasa diderita masyarakat setempat adalah hipertensi dan sakit gigi. Sakit gigi sering diderita karena hampir sebagian besar warga Teluk Dalam tak pernah menyikat giginya. “Saya bahkan pernah mencabut gigi seorang warga empat gigi sekaligus, karena kondisinya sudah benar-benar buruk akibat tak pernah menggosok gigi,” papar pria asal Padang ini.
Tak hanya itu, bagi mereka yang tinggal di hutan, mereka juga sudah terbiasa buang air besar di tengah hutan. “Setelah buang air besar, mungkin mereka menutupnya dengan pasir,” kata Zaldi. Zaldi mengaku jika dirinya memang harus berjuang keras untuk mengajarkan kesehatan kepada penduduk di pulau tersebut.
Khusus bagi ibu dan anak, ia melakukan penimbangan bayi bersama bidan secara rutin setiap tanggal 2. “Selain posyandu, saya memeriksa tensi, keadaan ibu hamil biasanya sejak usia kehamilan 3 bulan ke atas,” jelas Zaldi yang bersama istrinya, Wati, mendirikan Posyandu Harapan Bunda di Teluk Dalam. “Bagi anak-anak saya memberikan imunisasi PIN dan vitamin A. Namun untuk imunisasi PIN yang terakhir belum dilakukan karena obatnya belum sampai ke Mesanak,” sambungnya. Ibu-ibu setempat sebagian tak merasa keberatan ketika anaknya langsung demam usai menerima imunisasi. “Kami terus memberikan pengertian kepada mereka mengenai masalah ini,” terang Zaldi.
Keberadaan dukun di Desa Teluk Dalam pasti ada. Menurut Zaldi, secara turun-temurun, warga Desa Teluk Dalam sudah terbiasa berobat ke dukun. Tapi Zaldi berhasil mengajak dukun itu untuk bekerjasama, meski sering terjadi benturan antara keduanya.
Wati mencontohkan, seorang dukun beranak biasanya menyarankan kepada para ibu yang baru melahirkan agar jangan mengkonsumsi sayur, telur atau ikan. “Katanya itu akan membuat mulut anak muncul warna keputih-putihan. Mungkin itu kepercayaan masyarakat di sini. Padahal secara logis, sayur, telur dan ikan harus dimakan guna memperbaiki gizi ibu yang menyusui,” papar Wati.
“Sayur dianggap tidak penting di sini. Penduduk sini menganggap makan sayur itu sama seperti kambing yang juga makan sayur,” tambahnya.
Penyuluhan pasti dilakukan Zaldi dan Wati kepada penduduk sekitar setiap kali posyandu digelar. “Sedikit-sedikit kami memberikan pengertian kepada mereka. Dan alhamdulilah, sekarang mereka sudah mau makan sayur,” jelas Wati.
Kendati sudah bersedia makan sayur, satu hambatan lagi harus dihadapi Zaldi dan Wati. Pasokan sayur ke Pulau Mesanak sangatlah minim, sehingga meski sudah sibuk memberikan penyuluhan untuk makan sayur, penduduk tak bisa mengkonsumsinya, karena ketiadaan persediaan.
Zaldi mengakui jika penduduk setempat jarang mengunjunginya jika mereka tak benar-benar sakit, bahkan bagi seorang wanita hamil sekalipun. “Kalau tak merasakan sakit apapun ketika hamil, maka mereka tak akan datang ke saya untuk memeriksakan kehamilan. Tahu-tahu sudah hampir melahirkan, mereka baru datang ke saya, atau ke dukun,” keluhnya.
Untuk menggugah kesadaran warga, Zaldi dan istrinya pernah memberikan pembagian vitamin A secara gratis dari rumah ke rumah. Mereka membagikannya sekaligus memberikan penyuluhan mengenai fungsi vitamin A.
Pengobatan gratis juga mereka sediakan kepada penduduk setiap hari kerja mulai pukul 07.00-12.00 WIB. “Cukup dengan menunjukkan KTP, Askes dan Askeskin, maka mereka akan mendapatkan pelayanan gratis. Meski gratis, kami tak pernah mengurangi dosis atau jumlah obat dan tetap dengan pelayanan kesehatan yang tak gratis,” ungkapnya.
“Tapi tetap saja, penduduk tetap malas untuk datang ke mantri, meski sudah digratiskan,” tambahnya.(ruri)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^