Kim Nguyen: Biarkan Saya Memeluknya
March 26, 2008 on 1:02 am | In ceritaku | No CommentsNGUYEN Tuong Van. Nama itu tak pernah lepas dari pikiranku hingga saat ini. Nama seorang anak muda yang harus kehilangan nyawanya karena rasa tanggung jawab menolong saudara kembarnya tanpa tahu akan resikonya. Begitu pula dengan raut wajah duka yang ditunjukkan sang ibu, Kim Nguyen, ketika keluar dari Penjara Changi Singapura sehari sebelum Nguyen dieksekusi pada akhir 2005 lalu.
Saat itu saya berkesempatan melihat ibu dan adiknya, Kim Nguyen dan Nguyen Dang Khoa yang bak pinang dibelah dua dengan Nguyen Tuong Van di Penjara Changi. Sampai sekarang, sulit rasanya melupakan wajah Kim Nguyen yang terus menutupi wajahnya dengan kain menangisi kepergian anaknya. Wajah seorang ibu yang harus merelakan anaknya mati di tiang gantungan untuk menolong saudara kembarnya.
Perjuangannya ketika menjadi pengungsi dari Vietnam menuju Thailand dan melahirkan kedua anak kembarnya di sana seakan sia-sia kendati mereka sudah mampu mencapai Australia sebagai negara ketiga yang menampung mereka. Perjuangan membesarkan kedua anak kembarnya sendirian pun ikut sia-sia setelah Van tak bisa lagi meneruskan kehidupannya.
Semua penderitaan keluarga itu bermula ketika Nguyen Tuong Van nekad membawa 400 gram heroin dari Vietnam ke Australia melalui Singapura hanya untuk menolong saudara kembarnya, Nguyen Dang Khoa yang terjerat hutang. Padahal Tuong Van tak pernah tahu mengapa saudaranya bisa terjerat hutang tersebut. Kenekadan berdasar tanggungjawab terhadap adiknya ini pula yang membuat hidupnya berakhir di sebuah tiang gantungan, meski ia tak pernah menggunakan obat-obatan terlarang itu sepanjang hidupnya.
Kisah mereka pastinya memberikan inspirasi bagi banyak orang, terutama mengingat pengorbanan Nguyen Tuong Van terhadap saudara kembarnya, Nguyen Dang Khoa. Bagaimana sebuah rasa cinta yang tak mengenal batas resiko dipersembahkan Van untuk Khoa. Dan bagaimana tegarnya Van saat menghadapi tiang gantungan untuk menebus rasa cintanya.
Bagaimana kisah dan berita mengenai Nguyen Tuong Van, Nguyen Dang Khoa dan Kim Nguyen. Berikut kisahnya dimuat di Tribun Batam di bulan Desember 2005.
Penebusan Cinta Nguyen Tuong Van di Penjara Changi, Singapura
KASIH ibu memang sepanjang jalan. Seribu jalan akan ditempuhnya untuk menyelamatkan buah hatinya dengan segala daya upayanya. Begitu pula yang dilakoni Kim Nguyen, ibunda Nguyen Tuong Van, narapidana kasus penyelundupan heroin yang terancam hukuman mati di Singapura. Kim meminta Pemerintah Singapura mengizinkan dirinya memeluk anaknya untuk terakhir kalinya sebelum ia dihukum gantung pada 2 Desember 2005 lalu.
Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, mendukung permintaan Kim Nguyen, dan meminta Pemerintah Singapura untuk melonggarkan peraturan penjara hingga Kim bisa memeluk anaknya sebelum Nguyen digantung.
Kim, yang saat ini berada di Singapura, hanya diizinkan untuk mengunjungi anaknya selama satu jam setiap harinya, namun selama tiga hari terakhir, ia diizinkan untuk mengunjunginya dari jam 09.00 sampai 17.00 setiap harinya. Namun, ia hanya bisa menemui anaknya melalui kaca tebal karena peraturan di Penjara Changi melarang adanya kontak fisik antara terdakwa hukuman mati dan keluarga mereka.
“Biarkan saya memeluknya. Saya ingin memeluknya untuk yang terakhir kali, saya mohon,” ujarnya singkat usai meninggalkan penjara Changi.
Perwakilan Komisi Pengadilan Tinggi Australia untuk Singapura telah meminta pemerintah untuk mengizinkan kontak fisik antara ibu dan anak itu. Sayang, permintaan itu ditolak Pemerintah Singapura, sehingga Tuong Van harus mati di tiang gantungan.
Siapa sebenarnya Nguyen bersaudara ini? Mereka dilahirkan 17 Agustus 1980 dalam sebuah kamp penampungan di Songkhla, Thailand. Kim harus melahirkan keduanya melalui operasi caesar, bahkan saat melahirkan, Kim tak tahu apakah Nguyen atau Khoa yang lahir lebih dulu. “Tapi Van lebih berat dibandingkan adiknya, sehingga saya memutuskan Van sebagai anak yang lebih tua karena badannya lebih berat,” kata Kim.
Dan statusnya sebagai anak sulung itulah yang membuat Van terbeban untuk merawat ibu dan adiknya, meski mereka lahir pada hari yang sama. Dan selama 25 tahun masa hidupnya di dunia, hidup Nguyen hanyalah dipenuhi tanggung jawab dan beban sebagai anak sulung.
Sama seperti warga Vietnam lainnya, kehidupan Kim Nguyen hancur ketika tentara Vietnam Utara masuk ke Saigon setelah AS melarikan diri pada tahun 1975. Ayah dan saudara Kim pun masuk ke penjara karena bekerja untuk sebuah perusahaan Prancis dan AS. Akhirnya, semua keadaan itu memaksa Kim melarikan diri dengan kedua anak dalam rahimnya setelah ia bercerai dengan suaminya tahun 1980. Kim menantang hidup dan mengarungi samudra dengan sebuah kapal nelayan sebelum akhirnya sampai ke Thailand. Dan disanalah ia memulai hidup baru.
Saat kedua anaknya masih berusia beberapa bulan, Kim memutuskan pindah ke Australia. Kim memilih Australia karena ia tahu negara itu dari peta dan di sana ia juga berharap anak-anaknya bisa tumbuh dan memperoleh pekerjaan yang layak. “Sampai perjalanannya ke Singapura kemarin untuk menjenguk anaknya, saya tak pernah meninggalkan Australia sedetikpun, karena di sana juga menjadi tempat untuk menghidupi kedua anak saya,” paparnya.
Nguyen Tuong Van dikenal keluarga dan sahabatnya sebagai remaja suburban biasa yang suka main tenis. Baik Nguyen maupun Khoa tumbuh sebagai remaja yang tak pernah mengenal sosok ayah, meski ada kabar mereka berdua sempat bertemu dengan sang ayah yang kini tinggal di AS, empat tahun lalu.
Seorang perempuan bernama Stacy, dari Melbourne, mengaku sudah mengenal Nguyen Tuong Van selama beberapa tahun. “Ia orang baik, dan selalu sabar pada anak laki-laki saya yang baru berusia empat tahun,” jelasnya. “Van selalu mengajak anak saya bermain ketika saya dan Tyrone, anak saya, bermain ke rumahnya. Van juga akan mengatakan pada semua orang jika Tyrone adalah tamu penting baginya dan tak akan membiarkan barang-barang berbahaya seperti rokok atau asbak di sekitar Tyrone,” lanjutnya.
Semuanya indah untuk Kim dan kedua anaknya, si bungsu, Khoa, terjerat heroin sampai memiliki hutang sebesar 25 ribu dolar Australia. Dan kehidupan yang indah itu harus berakhir pada awal November 2002, saat seorang teman Nguyen, yang hanya dikenal dengan nama Tan menawarkan sebuah solusi untuk membayar hutang Khoa. Karena sudah terbiasa merawat dan menjaga adiknya, tanpa berpikir panjang, Nguyen pun mengiyakan permintaan Tan. Tapi ia tak pernah berpikir kalau rencana Tan akan melibatkannya untuk membawa 400 gram heroin melalui sebuah negara yang paling tegas menerapkan UU narkoba, Singapura.
Van memang sudah menebus rasa cintanya pada sang adik yang membuatnya harus digantung. Tapi pengorbanannya tak cukup sampai di situ. Ternyata sang adik, Nguyen Dang Khoa terjerat kasus lain yang membuatnya harus dipenjara karena telah melakukan penganiayaan. Entah apa yang dirasakan Kim Nguyen saat ini. Anaknya yang satu sudah meninggal di tiang gantungan, sekarang giliran anaknya yang lain yang akan menghadapi penjara karena kasus penganiayaan yang dilakukannya.
Cita-citanya masuk ke Australia supaya kedua anaknya bisa hidup dengan layak dan juga memperoleh pekerjaan yang layak, sepertinya sudah kandas. Keduanya berakhir di penjara, dan yang lebih parah, satu anaknya bahkan sudah mati di sana.
Nguyen Dang Khoa (25) memang mendapatkan penundaan hukuman penjara selama tiga tahun karena situasi keluarganya yang dianggap hakim sangat traumatik, setelah saudara kembarnya dieksekusi. Khoa memang mengaku bersalah telah menganiaya Glen Kohu pada Desember 1998 lalu. Kemungkinan besar penundaan hukuman ini akan dicabut setelah Nguyen dieksekusi dan Dang Khoa segera menjalani masa hukumannya. Sampai sekarang, Kohu masih menderita tekanan psikologis dan fisik karena penganiayaan itu. Kohu pun harus menjalani operasi plastik untuk memulihkan luka-lukanya.
Nguyen juga telah meminta lagu Ave Maria, Amazing Grace dan The Lord is My Shepherd sebagai lagu pemakamannya. Ia juga meminta semua tamu yang menghadiri pemakamannya agar saling memeluk satu sama lain, sebagai tanda cinta sebagai sesama manusia. Tapi, sebaik apapun Nguyen, sebesar apapun jasanya terhadap keluarganya, hidupnya sudah berakhir di tiang gantungan untuk membayar rasa tanggung jawab dan cintanya pada sang adik. Hanya Tuhan yang tahu berapa perih hati Kim Nguyen saat ini.(hanonsariparamita)
Mencintai Cinta di Ayat-Ayat Cinta
March 26, 2008 on 1:00 am | In ceritaku | 1 CommentKETIKA Maria Girgis hendak menutup matanya untuk selama-lamanya dalam film Ayat-Ayat Cinta, ia sempat meminta Fahri dan Aisha supaya mereka bersedia memaafkannya. Maria mengatakan, “Maafkan aku, baru sekarang aku mengerti antara rasa cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda.”
Ya. Kalimat itu menjadi sangat berarti karena banyak orang, khususnya perempuan tak bisa membedakan apa rasa cinta dan keinginan untuk memiliki. Maria yang selalu berusaha menunjukkan perasaannya terhadap Fahri yang notabene merupakan tetangganya ternyata menyadari jika perasaan itu bukanlah cinta, melainkan hanya keinginan untuk memiliki. Padahal nama Fahri sudah selalu menghiasi halaman buku hariannya yang ditulisnya setiap hari. Rasa kehilangan itu pasti muncul ketika Fahri memutuskan menikah dengan Aisha saat Maria sedang pergi ke luar kota. Rasa kehilangan setelah selama ini Maria merasa Fahri merupakan satu-satunya orang yang mengerti dirinya, yang mampu diajak berdiskusi mengenai apa saja, bahkan sampai ke masalah agama sekalipun.
Kedekatan mereka semakin terasa ketika Maria dan Fahri melakoni adegan dialog di Sungai Nil. Masalah jodoh dan takdir menjadi topik pembicaraan mereka berdua. Menurut Maria, jodoh itu sama sekali tak pernah jauh dari seseorang, tetapi jodoh ada di dalam hati. Saat itu sebenarnya Maria hendak mengungkapkan perasaannya kepada Fahri, namun sebagai wanita Timur, ia malu mengungkapkan perasaannya terlebih dulu.
Tradisi seperti inilah yang membuat wanita kadang bingung mengungkapkan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya keinginan untuk sekedar memiliki. Ketika seorang gadis tumbuh remaja, normal rasanya jika ia memiliki tipe pria yang menjadi idolanya.
Figur seperti Fahri, yang sangat soleh dan taat beragama sangat mungkin dijadikan idola bagi banyak perempuan. Dalam film besutan Hanung Bramantyo ini saja diceritakan terdapat empat perempuan yang jatuh dalam pesona Fahri. Selain Maria, ada juga Nurul, Noura dan Aisha yang akhirnya dinikahi Fahri.
Keinginan untuk mengungkapkan rasa cinta terlebih dulu terbukti tabu bagi para wanita yang dibesarkan dalam adat timur, kendati sudah ada juga yang melakukan sebaliknya. Lalu, jika tradisi ini terus ada sampai kapan wanita benar-benar mengerti dan mampu membedakan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya keinginan untuk memiliki?
Memang sampai sekarang tak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan apa itu cinta. Tapi boleh rasanya dikatakan jika satu diantara definisi cinta itu adalah kemampuan untuk menerima seseorang apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sementara keinginan untuk memiliki biasanya timbul hanya ketika seseorang mengetahui kelebihan orang lain, entah apakah ia memiliki wajah rupawan dan juga diidolakan banyak kaum lawan jenisnya.
Rasa bangga pasti akan muncul ketika ia mampu menggaet idolanya sebagai kekasih. Namun saat sang idola sudah menjadi kekasih, belum tentu ia sesuai dengan harapan. Bisa jadi, ia merupakan seorang pria yang egois, kasar atau bahkan pemarah. Mungkin tak separah itu, tapi pasti ada sebuah unsur yang membuat sang idola tak lagi indah di mata seorang wanita yang dulu sangat mengidolakannya.
Sama saja seperti diakui Rahmi, tokoh rekaan Icha Rahmanti dalam novel Cintapuccino. Mengidolakan Nimo sejak masih duduk di bangku SMA, namun ia harus mengakui juga jika Nimo ternyata tak sesempurna seperti yang dibayangkan sebelumnya ketika sang idola sudah menjadi kekasih Rahmi. Nimo dengan semua predikat klisenya, ganteng, pintar dan kaya-raya ternyata tak sama seperti yang ada dalam benak Rahmi. Disebutkan, Nimo ternyata nggak pede-an, suka minder dan tak pernah tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Kesimpulannya, Nimo tak sesempurna seperti yang dibayangkan Rahmi. Beruntung, Rahmi bisa menerima semua kekurangan Nimo kendati jalan untuk menuju ke sana sangatlah berliku. Berarti, ia bisa menggabungkan apa itu cinta dan apa itu keinginan untuk memiliki.
Tapi itu tak terjadi pada Maria, ia merasa sosok Fahri tak sesempurna seperti yang dibayangkan sebelumnya. Fahri juga manusia biasa yang memiliki segala keterbatasan sehingga Maria kehilangan sosok Fahri yang dulu sangat diidolakannya. Sampai sesaat sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya, ia hanya mampu mengucapkan maaf kepada Aisha dan Fahri setelah ia tak berhasil membedakan mana itu cinta dan mana keinginan untuk memiliki.
Jadi, ketika Maria melihat penderitaan Fahri setelah Aisha pergi ke tempat pamannya, Maria hanya mampu memeluk Aisha ketika wanita itu memutuskan pulang ke rumah. Maria merasa sudah menjadi pengganggu dalam rumah tangga penuh cinta yang dibangun Fahri dan Aisha. Sebuah cinta yang besar yang dipersembahkan Aisha ketika ia mengizinkan Fahri berpoligami guna menyelamatkan hidup Maria sehingga ia mampu bersaksi melawan Noura di pengadilan. Cinta yang bukan hanya mampu menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun juga mampu berkorban apapun demi kebahagiaan orang lain. Jadi, apa yang Anda rasakan saat ini, cinta seperti dalam Ayat-Ayat Cinta atau hanya keinginan untuk memiliki saja? Pikirkan lagi ya.(hanonsariparamita)
Batuk 100 Hari, Duh!
January 31, 2008 on 8:32 am | In ceritaku | No CommentsSETAHUN yang lalu, saya sukses terkena batuk 100 hari. Sudah usaha ke dokter empat kali gagal, ke sinshe dua kali gagal, minum obat tradisional Cina gagal, obat tradisional Jawa juga gagal. Sampai akhirnya batuk itu sembuh sendiri setelah 100 hari berlalu. Tapi bisa dong dibayangkan betapa tersiksanya batuk selama 100 hari?
Nah, kali ini penyakit yang sama kembali datang. Sudah sejak Desember 2007, saya terkena batuk yang tak kunjung sembuh. Sebenarnya sih sudah pasrah karena mungkin saya terkena batuk 100 hari lagi. 100 + 100 = 200. Jadi saya kena batuk 200 hari dong?? Duh! Pasrah deh.
Kali ini malah ditambah pemeriksaan rontgen. Hasilnya? Tak ada kelainan. Dokter saya pun bingung karena tak ada kelainan apapun di paru-paru saya. Saya murni batuk karena alergi. Alergi asap rokok, asap kendaraan dan dingin. Lengkap kan? Susahnya, saya suka malas pakai masker penutup wajah setiap kali naik motor dan lingkungan kerja saya pun sebagian besar merupakan perokok aktif. Ya sudah, nggak akan sembuh-sembuh kan?
Sudah cari-cari literatur di internet soal batuk 100 hari, tetep nggak sembuh juga. Akhirnya, cuma bisa pasrah dan malah menemukan artikel soal seni batuk yang benar!!! Paling enggak “seni” ini bisa membantuku “menikmati” batuk yang tak kunjung sembuh ini. Artikel itu ada di http://www.indomedia.com/intisari/2001/Juli/briket_admed.htm.
Mengutip lagunya istri muda Bambang Trihatmodjo, Mayangsari, “Yang bisa kulakukan, hanyalah menunggu…” Dan itulah yang saya jalani sekarang, menunggu sampai 100 hari berlalu, sampai batuk ini bisa benar-benar sembuh. Duh!(*)
For My Beloved Mother…
November 28, 2007 on 4:43 am | In ceritaku | No CommentsFamily First - Whitney Houston
Oohh Yeah
Nothing’s better than family,
For the ones who love you so
Be a shoulder to cry on when you are in need
They will never leave you alone
when your friends bring you down
And they drag you through the dirt
And nobody is around
They will carry you through the hurt
Just remember that family comes first
where you gonna run to? when no one is around
Do you think how dare they will love you.
When your face is on the ground? (face is on the ground),
When you feel your strength is almost gone
And When your heart is getting weak (getting weak)
And you don’t think you can keep holding on
And they stand for your feet (just remember)
Family comes first
I can see you crying - someone broke your heart,
Instead of being with those who love you,
you spend time apart, It’s because you think
they won’t understand
The pain you’re going through, So you don’t reach out your
hand for them, ’til they’ll pull and reach for you.
Just remember that family comes first
where you gonna run to? when no one is around
Do you think how dare they will love you.
When your face is on the ground? (face is on the ground),
When you feel your strength is almost gone
And When your heart is getting weak (getting weak)
And you don’t think you can keep holding on
And they stand for your feet (just remember)
Family comes first
Don’t you be ashamed of your family, put you into this earth,
and thats what its worth unconditionally, sometimes you may
disagree and wont see eye to eye
Don’t you run away they will be right by your side
ooooh ohhh
Where you gonna run to? when no one is around
Do you think how dare they will love you.
When your face is on the ground? (face is on the ground),
When you feel your strength is almost gone
And When your heart is getting weak (getting weak)
And you don’t think you can keep holding on
And they stand for your feet (just remember)
Family comes first
yeahyeah (yeah yeah yeah)
Comes first…
Family Comes First
November 27, 2007 on 5:15 am | In ceritaku | No CommentsSAAT mendengar lantunan suara Whitney Houston dalam lagu yang entah berduet dengan siapa ini, aku langsung teringat pada ibuku. Bagaimana, selama bertahun-tahun kami sama sekali tak melakukan kontak dan kini Tuhan mengembalikan ibuku kepadaku, kepada kami bertiga, mencoba melupakan kesalahan di masa lalu. Kini ibuku seakan menjadi prioritas pertamaku dalam hidup, akan kulakukan apapun untuk beliau. Membahagiakannya, karena Tuhan sudah sekali lagi mengembalikannya padaku. So, family now comes first in my life…
Kanibal Brownies
July 13, 2007 on 4:13 am | In ceritaku | 1 CommentKanibal Brownies
SERBU!!! Kata ini sepertinya kuat sekali tertanam di benak kami. Di kantor, kata tersebut bagaikan kata keramat yang membuat kami harus tetap bersikap waspada. Betapa tidak, kata itu terbukti ampuh untuk membuat perut kami kenyang.
Lalu bagaimana ceritanya? Usut punya usut, ternyata kata tersebut adalah kata perintah yang diteriakkan setiap kali ada makanan yang mampir di kantor. Begitu tampak ada seseorang yang membawa makanan masuk ke kantor redaksi, tanpa hitungan 1-2-3, semua penghuni redaksi akan rela naik kursi atau berdesak-desakan dengan penyerbu lainnya begitu mendengar kata serbu diteriakkan. Mulai dari gorengan sampai pizza atau makanan zaman baheula sekalipun, dijamin akan ludes diserbu orang-orang yang seakan berasal dari zaman pra sejarah itu.
Begitu pula yang terjadi ketika aku membawa roti brownies pulang dari Bandung. Setelah aku memunculkan wajahku di ruang redaksi, tanpa ba-bi-bu lagi, aku meneriakkan kata sakti itu sekencang mungkin dan para manusia pra sejarah itu segera mengerubungi makanan seperti semut kelaparan.
Karena brownies berwarna coklat pekat, seorang teman saya Ucu jadi korban. Apa pasal? Maklum, teman saya yang satu ini rela hanya kelihatan giginya setiap kali ia tersenyum. Alias kulitnya coklat pekat bak brownies.
“Woi, ini tanganku, woi… Jangan ditarik-tarik,” teriaknya di tengah kerumunan penyerbu coklat brownies. Tapi apa daya, godaan brownies lebih kuat dibandingkan suara teriakan Ucu. Alhasil, tangan Ucu pun tertarik dan berhasil membuyarkan kerumunan itu karena wajah Ucu sukses mendarat di kue khas Bandung itu.
“Aku dah bilang, itu tanganku, Walaupun coklat pekat, tapi tanganku jangan dimakan. Yang dimakan browniesnya aja, please…,” pinta Ucu sambil menahan senyum. Ternyata tersangkanya adalah teman saya yang biasanya memakai kacamata. Ia yang sedang tak memakai kacamata ketika menarik “kue brownies” berbentuk tangan itu pun langsung meminta maaf. “Duh Cu, tadi aku gak bisa lihat jelas, habis warna tanganmu sama kayak brownies,” katanya.
Ucu pun hanya mesam-mesem dan menjawab, “Iya, tapi kalau kamu makan tanganku, sama saja kamu dengan kanibal brownies,” ujarnya sambil terkekeh.
Siapapun yang sedang serius mengetik berita pasti langsung bermata hijau ketika melihat anak-anak lain menyerbu makanan. Bahkan sempat ada kabel komputer yang copot setelah terkena “serangan” bertubi-tubi dari para penyerbu. Tak ketinggalan, mas Febby, pemimpin redaksi kami, juga ikutan menyerbu, meski dengan gaya yang lebih elegan. Dia pasti datang terakhir dibandingkan anak buahnya ke lokasi penyerbuan. Meski demikian, ia selalu kebagian jatah serbuan. Ternyata anak buahnya selalu membagi hasil serbuannya kepada sang bos yang selalu datang terlambat. Atau mungkin karena segan aja ya?? Heheh…entahlah.
Yang pasti, “gaya hidup” serbu kini sudah sangat melekat di benak kami. Jangan pernah liat mata para penghuni redaksi jika mereka sudah melihat tas plastik dibawa ke ruangan besar itu. Lirikan mata maut!!! Tapi gaya hidup ini pastinya sudah membuat keakraban di antara kami semakin terasa. Hidup serbuannn!!!(*)
Catatan Perjalanan Setahun di Malaysia
May 27, 2007 on 7:05 am | In ceritaku | No CommentsCatatan Perjalanan Setahun di Malaysia
Pengantar Redaksi:
Malaysia memang sebuah negara yang eksotis untuk dunia pariwisata. Setiap tahun negeri itu terus bersolek dan mempromosikan diri ke seluruh dunia dengan ikon “Malaysia, Truly Asia”. Negara itu memang cukup berhasil menyedot devisa dari sektor pelancongan ini. Benarkah tanah melayu ini eksotis? Wartawan Tribun, Hanonsari Paramita, berkesempatan menikmati wajah Asia sebenarnya itu bersama rombongan dari Fantastik Tour and Travel, mulai dari 29 Desember 2004-1 Januari 2005. Meskipun tak ada pesta tahun baru karena Asia sedang berduka akibat dilanda tsunami yang menewaskan 150 ribu jiwa lebih, namun “setahun” di Malaysia memang sangat menarik. Ruri, reporter kami itu melaporkan dalam tiga edisi, dimulai hari ini. Selamat menikmati.
SEBENARNYA saya mendatangi International Ferry Terminal Batam Centre, Rabu (29/12) pagi dengan sedikit harap-harap cemas. Karena saya sama sekali belum mengenal orang yang akan mengajak saya mengikuti tur ke Malaysia ini, berlibur ke negeri orang.
Tapi saya meyakinkan diri untuk tetap memasuki ferry hall pelabuhan ini, meski awalnya celingak-celinguk karena harus mencari Ade, wanita yang mengajak saya berlibur. Kami berhubungan dengan short message service (SMS). Ade akhirnya menemukan saya di dekat eskalator pelabuhan ini.
Ia pun langsung menyapa saya dengan ramah dan meminta paspor agar ia bisa mengurus tiketnya. Tak lama saya pun langsung menyerahkan tas yang saya bawa untuk diperiksa dan kemudian masuk ke ruang tunggu.
Saya diundang mengikuti rombongan tur “Setahun di Malaysia” yang diadakan Fantastik Tur and Travel, Tiban, Batam. Menurut Ade Syarifah, koordinator tur ini, ini tur perdana yang digelar perusahaannya. “Jadi kami belum ingin mengambil profit. Yang penting nama Fantastik dikenal masyarakat,” ujarnya kepada Tribun, Rabu (29/12).
Sesampainya di Singapura, petugas imigrasi meminta saya untuk melepas topi yang saya kenakan supaya wajah saya terlihat jelas. Saya pun sedikit mencandainya dengan menanyakan, apakah saya perlu melepas kacamata yang saya kenakan. Petugas itu tersenyum ramah mendengar gurauan saya.
Setelah melalui proses pemeriksaan, akhirnya saya pun langsung menuju ke bus yang sudah menjemput rombongan. Setelah melintasi kawasan Singapura selama 20 menit, kami pun menuju ke imigrasi Malaysia untuk mendapatkan stempel kunjungan di Kuala Lumpur selama empat hari.
Tak seperti petugas di Singapura yang selalu sibuk menanyakan apa saja tujuan orang yang mendatangi negeri ini, petugas imigrasi Malaysia tak mengatakan sesuatu pun ketika saya menyodorkan paspor saya untuk distempel. Apa mungkin mereka sudah terlalu terbiasa melihat wajah orang Indonesia yang banyak bekerja sebagai tenaga kerja wanita di sana, atau mungkin ia hanya sedang malas bertanya saja? Entahlah.
Untung saja tak semua orang Malaysia diam melihat kedatangan rombongan kami. Tiba-tiba kami melihat wanita yang sibuk menginformasikan bus mana yang harus kami tumpangi. Ternyata wanita itu adalah Yuriatie Johari, atau Yani, tour guide yang akan memandu kami selama di Malaysia.
Selama perjalanan melintasi Johor untuk menuju ke Kuala Lumpur, bus yang saya tumpangi melewati tol sepanjang 868 kilometer yang di pinggirnya dipenuhi hamparan pohon kelapa sawit. Jalan tol ini terbentang dari perbatasan Malaysia-Singapura sampai Malaysia-Thailand.
Sepanjang perjalanan, saya ditemani Rosna (23) tour guide Fantastik Tour and Travel yang dengan senang hati menjelaskan dari mana saja anggota rombongan tur ini berasal.
Waktu makan siang pun tiba, kami langsung menuju ke restoran Lucky Garden, Johor, Malaysia.
Ada yang unik di restoran ini, seekor ikan sepanjang satu meter terlihat di kolam yang berada di luar restoran. Ikan itu bernama Alapaima dari Afrika Selatan.
Kami pun langsung mendapat penjelasan dari Yani mengenai ikan unik yang makanannya leher ayam tersebut. Menurut Yani, di Giant Supermarket, Johor bahru, panjangnya justru lima meter. Menariknya, konon, ikan itu akan mengabulkan permohonan kita jika kita melempar koin ke dalam kolam tersebut.
Benar saja, setelah mendapat penjelasan dari Yani, banyak anggota rombongan yang menjatuhkan koin ke dalam kolam agar permohonannya terkabul. “Asal jangan minta nikah sama anak raja, mungkin itu agak sulit,” ujar Yani sambil tertawa. Saya juga ikut melemparkan koin, siapa tahu ketemu anak raja di Malaysia ini…
Memasuki kawasan Kuala Lumpur, kami langsung mendatangi daerah Putra Jaya, yang merupakan daerah pemerintahan pusat Malaysia. Menurut Yani, tour guide yang memandu kami, kawasan ini belum sepenuhnya selesai sejak dibangun pada tahun 1997. “Baru sekitar 80 persen,” ujarnya.
Ide pembangunan kawasan ini berasal dari mantan perdana menteri keempat Malaysia, Mahathir Mohamad. Mahathir tak menginginkan Kuala Lumpur sebagai pusat pemerintahan. Ia hanya menginginkan kawasan ini sebagai pusat ekonomi dan hiburan sehingga membangun Putra Jaya, yang letaknya tak jauh dari ibukota Malaysia.
Setelah mengunjungi menara Petronas, yang sempat mencatat rekor sebagai menara tertinggi di dunia dan memiliki 88 lantai, kami langsung menuju ke Hotel The Legend, tempat kami menginap. Saya berbagi kamar dengan seorang ibu anggota rombongan tur yang bepergian sendirian ke Malaysia. Kalau tak ada tugas liputan, ingin rasanya saya terus menemaninya selama tur. Tapi apa daya, tugas menunggu…
Pagi sekali –karena menurut jam tangan saya waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, padahal di Malaysia sudah pukul 07.00– setiap orang sudah berada di jalan untuk menuju ke tempat kerja masing-masing. Saya memaksakan diri untuk bangun meskipun tersasa lelah. Tak lama kami pun langsung menuju ke kawasan Genting Highlands, setelah sebelumnya berpotret dulu di Istana Negara tempat Yang Dipertuan Agong Malaysia tinggal.
Di Genting kami menaiki cable car sepanjang 3,4 kilometer. Di sepanjang jalan, Ade, tour coordinator rombongan tur Setahun di Malaysia bersama Fantastik Tour and Travel, terus mengajak saya mengobrol karena ia tahu saya takut ketinggian.
Wah, untung saja ada koordinator tur yang ramah dan tanggap seperti ini. Padahal saya tak akan berani naik cable car jika tak diajak mengobrol. Dalam hati saya selalu mengucapkan terima kasih karena sudah membantu saya.
Di kawasan milik Datuk Lim Goh Tung ini, saya berkeliling untuk mengamati apa saja yang ada di sana. Mulai dari permainan anak-anak, hotel, sampai, kasino! Saya pun memasuki kasino karena penasaran, meski sebelumnya penjaga sempat bertanya darimana asal saya. Di dalam kasino, karena saya tak diperkenankan membawa kamera, akhirnya saya hanya bisa mengamati saja.
Banyak orang-orang –mulai yang muda sampai yang tua– asik melihat kartu yang dibagikan sang bandar yang berseragam putih hitam dan dasi berwarna. Mereka juga sibuk membagikan koin warna-warni pun bersebaran di sekitar meja. Bunyi mesin jackpot terdengar di seluruh penjuru ruangan, bercampur dengan teriakan-teriakan kegembiraan dan kekecewaan karena dia “hampir” saja menang.
Selain kasino, obyek wisata yang tak kalah menariknya adalah snow world. Namun sayangnya kamera kembali tak bisa digunakan di sini. Kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 75 ribu untuk mengabadikan foto kami selama berada di dalam ruangan sekitar 20 kali 40 meter ini.
Tapi awas bagi yang tak berhati-hati, bisa tersesat di kawasan Genting ini. Karena jika tak mengingat di mana lokasi cable car, maka Amda dijamin akan tersesat. Tapi jangan khawatir anda tinggal melihat papan petunjuk supaya tak tersesat.
Hari ketiga, rasanya begitu cepat berlalu karena jadwal kami yang begitu padat. Hari ini kami menuju ke Sunway Lagoon, kawasan wisata yang terletak di Kuala Lumpur, Malaysia.
Di Sunway Lagoon, saya langsung disambut kepala singa besar yang menghiasi pintu masuk mal utama. Mal ini agak unik karena lantai-lantainya berada di bawah tanah. Jadi, begitu kita masuk ke mal, kita akan langsung berada di lantai 6.
Di dalam mal, terhampar berbagai toko busana dan juga lapangan ski. Banyak remaja yang sedang berski di sana, baik yang sedang belajar maupun yang sudah mahir, lengkap dengan kostum mereka. Di Sunway Lagoon, kami harus membayar Rp 97 ribu untuk bisa masuk ke semua arena yang tersedia di taman wisata ini.
Arena permainan tersebut meliputi buffalo bill coaster, the vulture, yang mengajak kita terbang, butch cassidy trail, yang mengajak kita berputar dengan sepatu besar. The Lost City of Gold, coaster yang mengajak kita berputar mengelilingi gua yang didalamnya menceritakan pertambangan emas zaman dulu.
Karena sabuk pengaman saya yang kurang kencang, saya sempat hampir terlempar dari jet coaster tersebut. Untung saya berpegangan erat meski saya harus mengorbankan kuping saya yang memar karena terbentur dinding gua. Yang parahnya memar itu masih saya rasakan sampai sekarang. Kata teman rombongan, memar ini adalah oleh-oleh dari Malaysia. Aduh…
Meski masih merasa sakit, tapi saya paksakan untuk tetap memasuki arena bermain yang lain, termasuk tomahawk. Kita duduk di dalam sebuah boks dan dilempar tujuh kali sekitar 360 derajat. Wah, alhasil setelah keluar dari boks tersebut, kepala “berbintang-bintang”. Tapi rasa sakit dan pusing itu memang sepertinya rugi bila dipedulikan saya masih banyak permainan yang menarik, unik dan menguji nyali.
Hanya saja, tahun baru di Malaysia sepi sekali karena tidak ada perayaan akibat bencana gempa dan tsunami yang melanda Asia, 26 Desember 2004 lalu. Saya berkeliling sendirian dengan sebuah taksi yang dikemudikan seorang sopir asal India. Kami mengobrol banyak hal, termasuk perbandingan malam tahun baru kali ini dan malam tahun baru tahun lalu. Menurutnya, malam tahun baru kali ini memang sangat sepi
Saya pun diajak berkeliling melihat lokasi-lokasi yang biasanya menjadi arena perayaan tahun baru di Kuala Lumpur, dan memang, sepi di mana-mana. Meski ada kemacetan, namun menurut sang sopir, mereka hanyalah orang-orang yang ingin tahu apakah tetap ada perayaan. meski Pak Lah–panggilan akrab Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi– memang melarang acara tahun baruan.
Hari pertama di tahun 2005, wah tak disangka saya bisa melewatkannya di Malaysia. Rombongan langsung menuju kembali ke menara kembar Petronas. Setelah berfoto ria, kami pun langsung menuju ke Malaka, untuk kemudian kembali ke Singapura.
Di Malaka, saya seakan menemukan suasana Belanda zaman dahulu, yang juga banyak di Yogyakarta, kota asal saya. Ada kapal, helikopter, dan perahu yang digunakan penjajah Belanda, saat mereka mulai mendarat di Malaka. Sayang, setibanya di Malaka, hujan pun menyambut kami. Jadi guide pun langsung memutuskan untuk kembali ke Singapura dan kemudian ke Batam.
Banyak kenangan yang bisa saya petik selama berada di Malaysia, tak disangka saya bisa melewatkan malam tahun baru di sana… Keramahan tour guide Fantastik Tour and Travel pun seakan menambah manis kenangan selama Setahun di Malaysia. Terimakasih Fantastik. (hanonsari paramita)
Dimuat di Tribun Batam
5-7 Januari 2005
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^