Pángu Mutiara Budaya Tionghoa
July 29, 2007 on 5:27 am | In Tradisi Tionghoa | No Comments* Diyakini Sudah Membantu Dunia
DALAM sejarah Tionghoa disebutkan seorang makhluk bernama Pángu. Ia dikisahkan sebagai leluhur pembuka langit dan bumi yang dengan sekuat kemampuannya dan mengorbankan nyawanya sendiri untuk menggantikan keberadaan dunia ini.
“Pángu umumnya dilukiskan sebagai raksasa primitif berbulu dengan tanduk di kepalanya dan memakai pakaian dari bulu binatang,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada Tribun belum lama ini.
Dengan kata lain, Pángu adalah wujud dari alam semesta, dalam legenda memisahkan langit dan bumi. Ia juga diyakni sudah menciptakan unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan dan filosofi yang sangat kaya dan menarik. “Semangat dan kerja keras Pángu yang sampai mengorbankan diri untuk membentuk dunia merupakan semangat manusiawi yang paling luhur dan tinggi,” papar Sunanto.
“Selama ribuan tahun, legenda Pángu di atas dunia yang ia ciptakan dengan mengorbankan jiwanya tetap dikenang dan disebarluaskan dari generasi ke generasi. Tak pelak Pángu menjadi satu di antara mutiara dalam kebudayaan Tionghoa,” tambahnya.
Ketika alam semesta baru mulai, tak ada apapun di alam ini, kecuali suatu kekacauan tanpa bentuk. Tetapi kemudian kekacauan ini mulai bersatu dalam suatu kosmis berbentuk telur untuk waktu 18.000 tahun. Di dalam kosmis itu, dengan sempurna terdapat prinsip Yin dan Yáng yang mulai menjadi seimbang sehingga Pángu muncul dan hidup (atau bangun) dalam telur tersebut. Pángu langsung memulai tugas menciptakan dunia, antara lain memisahkan Yin dan Yáng dengan ayunan dari kampak raksasanya, menciptakan bumi (Yin yang suram, kuning telur) dan langit (Yáng yang bersih, putih telur). Untuk menjaga bumi dan langit tetap terpisah, Pángu berdiri di antara bumi dan langit dan mendorong langit ke atas. Tugas ini menghabiskan waktu selama 18 ribu tahun, di mana setiap hari langit naik 10 kaki lebih tinggi, bumi 10 kaki lebih luas, dan Pángu tumbuh 10 kaki lebih tinggi. Dalam beberapa versi cerita ini, Pángu dalam tugas ini dibantu oleh empat binatang yang sangat terkenal dalam tradisi Tionghoa, yakni Xuánwu (Kura-kura), Qílín (Kirin), Fènghuáng (Phoenix), dan Lóng (Naga).
Setelah 18 ribu tahun berlalu, Pángu berbaring untuk istirahat. Hembusan nafasnya diyakini menjadi angin, suaranya menjadi guntur, mata kanannya menjadi matahari dan mata kirinya menjadi bulan. Badannya menjadi pegunungan, darahnya mengalir membentuk sungai, ototnya menjadi tanah yang subur, bulu mukanya menjadi gugusan bintang. Bulu badannya menjadi hutan dan semak, tulangnya menjadi air mineral yang berharga, sumsum tulangnya menjadi intan yang suci, keringatnya jatuh sebagai hujan, dan makhluk kecil pada badannya yang dibawa oleh angin menjadi manusia di seluruh penjuru dunia.
Penulis pertama untuk catatan mistik Pángu adalah Xú Zheng pada zaman Periode Tiga Kerajaan atau periode Zhan Guo. Gunung Pángushan, yang terletak 15 kilometer arah selatan Mìyángxiàn Provinsi Hénán, Cina diyakini sebagai tempat di mana Pángu memisahkan langit dan bumi, menciptakan manusia dan segala makluk di dunia ini.(ruri)
Tionghoa Perantauan Lebih Kental
July 29, 2007 on 5:26 am | In Tradisi Tionghoa | 1 Comment* Dari Segi Budaya Dibandingkan di Tiongkok
Batam, Tribun - Ditinjau dari segi budaya, ternyata para kaum Tionghoa perantauan memiliki kultur budaya yang lebih kental dibandingkan mereka yang masih tinggal di Tiongkok. Pada perayaan Imlek misalnya, di Tiongkok tak pernah ada aturan khusus mengenai tata cara doa dalam agama tertentu, melainkan hanya rasa syukur kepada leluhur atas rezeki yang diterima.
“Kalau di Indonesia, Imlek juga digunakan sebagai momen untuk sembahyang leluhur menurut agama mereka masing-masing. Berterimakasih atas rezeki yang diterima sepanjang tahun dan berharap ada rezeki yang lebih baik di tahun mendatang,” ujar Budianto, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kepri kepada Tribun belum lama ini.
“Pada intinya, Imlek digunakan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga,” tambahnya.
Tak hanya itu, dari segi sajian makanan yang tersedia sepanjang Imlek di Tiongkok juga lebih sederhana dibandingkan di Indonesia. Kalau di Tiongkok, makanan yang tersedia hanyalah manisan dan kue keranjang. “Yang paling pokok adalah manisan, supaya orang yang datang merasa senang karena sudah makan manisan,” tutur Budi.
“Sementara kalau di Indonesia, makanannya sudah sangat beragam, termasuk parsel-parsel yang kerap menghiasi perayaan Imlek,” sambungnya.
Menurut pria yang masih memiliki keturunan langsung dari Tiongkok ini, kekentalan budaya kaum Tionghoa perantauan juga bisa dilihat dari tata cara perkawinan. Di Tiongkok sudah tak ada lagi penghitungan hari dan tanggal yang baik sebagai momen untuk upacara perkawinan. Bahkan, ada tradisi Li Kia atau kawin jalan, di mana pasangan pengantin akan memakai baju tradisional dan berkeliling ke vihara atau tempat beribadah lainnya.
“Begitu pula dengan tradisi buka pintu bagi pengantin pria yang dilakukan oleh adik pengantin wanita. Di Indonesia, adat seperti itu masih ada, sementara di Tiongkok sudah tak ada lagi,” papar pria yang sudah berulangkali mengunjungi tanah leluhurnya itu.
Biasanya, sebelum upacara perkawinan, anak laki-laki dibebaskan untuk bermain di ranjang pengantin. Mereka bebas untuk mengacak-acak semua sudut kamar pengantin. Dengan harapan, anak yang dilahirkan pasangan pengantin itu kelak akan berjenis kelamin laki-laki. Mereka yang boleh merapikan ranjang pengantin juga haruslah orang yang masih memiliki pasangan atau yang masih memiliki keluarga yang utuh.
“Sekarang, dua tradisi itu sudah tak ada lagi di Tiongkok dan masih ada sebagian masyarakat Tionghoa di Indonesia yang masih mempraktikannya,” terangnya.
Dalam tradisi kematian, kekentalan budaya juga tak lagi ada di Tiongkok. Di Indonesia, para anggota keluarga yang berduka diwajibkan untuk memakai tanda “pangkat” guna menandakan hubungan kekeluargaan dengan yang meninggal.
“Ada beberapa tanda tertentu bagi anggota keluarga yang meninggal. Ada yang untuk cucu dalam, anak dalam atau cucu luar dan sebagainya,” tutur Budi.
“Di sana juga tak ada lagi keharusan untuk menggunakan pakaian putih setap kali berduka. Tapi kalau untuk membuang abu ke laut atau menyimpannya, itu sama dengan di sini,” lanjutnya.
Jadi kesimpulannya, masih banyak masyarakat Tionghoa perantauan yang lebih kental kultur budayanya dibandingkan mereka yang masih tinggal di Tiongkok atau di Cina daratan. “Mungkin untuk lebih mempererat hubungan dengan leluhurnya, sehingga para kaum Tionghoa perantauan lebih kental kultur budayanya dibandingkan kaum Cina daratan sendiri,” pungkasnya.(rur)
Tersebar di Zaman Dinasti Shang
July 29, 2007 on 5:24 am | In Tradisi Tionghoa | No Comments* Asal-Mula Sumpit
Batam, Tribun - Sumpit (kuàizi) yang dalam bahasa Tionghoa kuno disebut sebagai Zhu, aslinya berasal dari Cina. Sumpit baru tersebar ke negara-negara sekitarnya pada zaman Dinasti Shang. Dan sekarang sumpit menjadi alat makan paling umum selain sendok.
“Biasanya, sumpit sangat umum dipakai oleh suku bangsa di Asia Timur, seperti Cina, Jepang, Korea, Vietnam dan Thailand. Sumpit kebanyakan dibuat dari bambu atau kayu, ada juga yang terbuat dari metal, gading, plastik dan bahkan yang lebih mewah, dari batu giok, emas atau perak,” ujar Sunanto Eddy Tamrin kepada Tribun.
Dalam bahasa Mandarin Sumpit disebut sebagai kuàizi atau kuài’er. Kata kuài adalah fonetik semantik campuran dengan fonetik kata kuài, yang berarti cepat, dan bagian semantik yang berarti bambu.
Di Cina, kata kuno untuk sumpit adalah Zhù atau dalam bahasa Minnan disebut sebagai Ti. Tetapi kata zhù menjadi tabu untuk dipakai di atas kapal sebab bunyi katanya sama artinya dengan kata lain yang berarti “berhenti”.
“Sebagai konsekwensinya, kata zhù digantikan kata yang berarti kebalikannya, yakni kuai (cepat). Kata ini secara berangsur menyebar menjadi kata ’sumpit’ dalam berbagai variasi Cina modern,” tutur Sunanto.
“Karakter baru dari kata ’sumpit’ ini mempunyai unsur semantik bambu yang ditambahkan pada karakter berarti ‘cepat’,” tambahnya.
Di Jepang, Sumpit disebut Hashi. Juga dikenal dengan sebutan otemoto, yakni suatu ungkapan yang biasanya dicetak pada bungkus sumpit yang dijual. Di Korea, sumpit disebut Jeotgarak yang terdiri dari kata jeo (sumpit) dan garak (tongkat), karena kata jeo tidak bisa digunakan sendiri. Di Vietnam, sumpit disebut disebut dua juga dari kata Zhù. Di Thailand sumpit dikenal dengan sebutan takiap.
Sumpit biasanya dipegang di antara ibu jari dan salah satu jari lain, Sumpit digunakan sebagai penjepit untuk mengambil makanan, dan ternyata terdapat banyak aturan mengenai penggunaan sumpit. Misalnya, sumpit hanya dipakai di tangan kanan saja, bahkan oleh orang kidal sekalipun. Mungkin sekarang sudah ada pemakai sumpit dengan tangan kiri, penggunaan sumpit kidal masih dianggap sebagai etiket yang tidak pantas.
“Aturan lain menyebutkan makanan yang telah dijepit dengan sumpit tidak boleh ditaruh kembali ke tempat semula. Juga tidak boleh menggunakan sumpit untuk menjepit orang,” terang pria berkacamata ini.
“Sumpit juga tak boleh menancap horizontal di atas semangkok nasi atau beras, tidak boleh memakai sumpit untuk memukul dan membunyikan mangkok atau piring,” tambahnya.
Dalam praktik kultural, secara umum sumpit dapat dibagi berdasarkan definisi yakni sumpit yang sangat panjang, umumnya mencapai 30 centimeter atau 40 centimeter. Bahkan ada juga sumpit yang panjangnya satu meter yang digunakan untuk memasak, terutama untuk penggorengan. Di Jepang sumpit seperti ini disebut Saibashi.
“Sumpit yang lebih pendek biasanya digunakan sebagai perkakas makan tetapi kadang-kadang juga digunakan di dapur untuk memasak. Sumpit yang ujungnya meruncing tetapi tumpul adalah untuk mengambil makanan,” ujar Sunanto.
“Sumpit runcing tumpul selalu disediakan lebih banyak ketika makan karena untuk mengambil makanan. Sumpit yang runcing dipertimbangkan lebih mudah untuk memilih tulang dari ikan yang dimasak utuh,” pungkasnya.(ruri)
Berasal dari Pangeran Cina
July 29, 2007 on 5:23 am | In Tradisi Tionghoa | No Comments* Xuán Wu Binatang Keramat Tionghoa
Batam, Tribun - Binatang terakhir dalam empat binatang keramat Tionghoa adalah kura-kura (darat) hitam (Xuán Wu). Secara harfiah, Xuán Wu diartikan sebagai pahlawan hitam. Kadang-kadang binatang ini disebut sebagai pahlawan hitam dari utara, karena utara melambangkan musim dingin.
“Meski namanya dalam bahasa Cina adalah Xuán Wu, tetapi sering diterjemahkan sebagai kura-kura hitam dalam bahasa Inggris, dan pada umumnya dilukiskan sebagai kura-kura darat dan ular. Secara rinci digambarkan dengan ular yang melilit kura-kura darat,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada Tribun.
“Di Jepang, Xuánwu disebut sebagai Genbu, dan telah dilukiskan dalam banyak animasi dan buku Jepang yang lucu-lucu. Sementara, di Korea disebut sebagai Hyeon-Mu,” tuturnya lagi.
Pada zaman Cina kuno, kura-kura darat dan ular dianggap sebagai makhluk rohani yang selalu panjang umur. Sepanjang masa pemerintahan Dinasti Han, orang sering mengenakan anting-anting permata batu giok dalam bentuk kura-kura darat.
“Karena pengaruh Cina terhadap Jepang, lencana dan sebutan kehormatan di Jepang sering terdapat gambar kura-kura darat,” ujar Sunanto.
Sekarang juga muncul legenda kura-kura darat betina yang tidak mampu kawin dengan kura-kura darat jantan, dan hanya bisa dengan ular jantan. Hal ini tentu saja membuat kura-kura darat jantan marah, tetapi kura-kura darat betina mampu menjaga jarak dengan kura-kura darat jantan dengan buang air kecil di sekitarnya.
“Dan sejak itu, pria yang memiliki istri yang suka selingkuh sering disebut sebagai ‘kura-kura darat’,” jelas Sunanto. Lukisan Xuánwu dengan kura-kura dan ular mungkin berasal dari legenda perkawinan kura-kura darat betina dan ular jantan ini. “Tetapi penjelasan ini tetap tidak dapat dipastikan, sebab lukisan dalam bentuk ini muncul lebih awal dibandingkan zaman Dinasti Zhou,” paparnya.
Dalam roman klasik, perjalanan menuju ke barat (Xi You Ji), Xuánwu dikisahkan sebagai raja utara yang mempunyai dua jenderal, yakni Jenderal Kura-Kura Darat dan Jenderal Ular. Raja ini mempunyai sebuah kuil di Pegunungan Wudang di Provinsi Hubei. Selain itu juga ada Gunung Kura-Kura Darat dan Gunung Ular yang terletak pada sisi yang saling berlawanan di sungai Wuhan, ibukota Hubei.
“Dalam legenda Taoisme diceritakan jika Xuánwu adalah seorang pangeran Kaisar Cina yang tidak berminat naik tahta dan memutuskan untuk belajar ajaran Tao,” papar Sunanto.
“Pada usia 15 tahun, ia meninggalkan orang tuanya untuk mencari kebenaran dengan cara Tao. Dan dikisahkan jika ia mencapai status dewa dengan cepat dan dipuja sebagai dewa dari langit utara,” tambahnya.
Legenda Tionghoa lainnya juga menceritakan tentang asal mula dari Jenderal Kura-Kura Darat dan Jenderal Ular. Selama Xuánwu sedang melatih diri untuk mencapai kebenaran dan status sebagai dewa, ia harus membersihkan semua kemanusiaan dari dirinya. Sejak ia dilahirkan, ia memakan makanan dari dunia, karena itu isi perutnya masih manusia.
Legenda menceritakan ada seorang dewa yang datang dan mengubah isi perutnya dengan mengisi suatu badan yang saleh ke dalam perutnya sehingga ia bisa mencapai status dewa secara penuh. “Legenda juga mengatakan bahwa isi perut yang dikeluarkan menjadi Gunung Kura-Kura Darat dan Gunung Ular,” katanya.
Isi perut yang dikeluarkan oleh dewa dari Xuánwu dikatakan berubah bentuk menjadi Kura-Kura Darat dan Ular. Seperti kebanyakan legenda Tionghoa yang menceritakan mengenai binatang tertentu yang menjadi setan dari waktu ke waktu setelah mereka memperoleh ilmu, sama halnya dengan ular dan kura-kura darat. Setelah mendapatkan ilmu, mereka mulai meneror manusia. Xuánwu yang telah mendapat status dewa, mendengar tentang hal ini dan ia datang menghukum mereka. Tetapi ia tidak membunuh mereka, karena kura-kura darat dan ular menunjukkan penyesalan. Ia membiarkan mereka belajar di bawah bimbingannya dan menebus serta membayar dosa yang mereka perbuat, kemudian menjadi Jenderal Kura-Kura Darat dan Jenderal Ular sekaligus menjadi pembantu Xuánwu.(ruri)
Dianggap Bisa Berikan Keturunan
July 29, 2007 on 5:21 am | In Tradisi Tionghoa | No Comments* Qílín Makhluk Mistik Tionghoa
Batam, Tribun - Makhluk ketiga dari empat makhluk mistik Tionghoa adalah Qílín. Banyak sebutan untuk Qílín dalam bahasa lain yaitu Kylin, Ch’ilin (wade-gelis), Kirin dalam bahasa Jepang, Girin (Korea) Keilun (Kantonis), Sabitun (Manchu), K’lân (Vietnam) atau Kilen (Thailand).
“Selain Qílín, binatang lainnya adalah fenghuang phoenix, naga dan kura-kura. Semua binatang tersebut bermakna sebagai lambang dan pertanda baik yang membawa ruì yakni ketenangan atau kemakmuran. Mereka juga bisa hidup selama 2.000 tahun,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa di Batam kepada Tribun.
“Yang jantan disebut Qí dan betina disebut Lín. Binatang ini merupakan binatang yang sangat ramah dan tidak pernah melukai manusia, bahkan mereka juga tidak pernah merusak rumput dan tanaman,” tambahnya.
Qílín sering dilukiskan dengan bentuk mirip rusa dan ekor mirip sapi. Qílín jantan memiliki tanduk, sedangkan Qílín betina tidak. Mulut Qílín bisa menyemburkan api, dan memiliki suara keras bagai petir.
“Seluruh badannya seperti selalu dibalut dengan kobaran api. Qílín diceritakan hanya muncul pada saat suasana damai dan tenteram, atau dunia kedatangan orang penting,” tuturnya.
“Dalam legenda masyarakat Tionghoa juga diyakini jika Qílín bisa membawakan keturunan bagi manusia, atau menghadiahkan anak kepada manusia. Menurut legenda, ibu Kongzi (Konghucu) sebelum melahirkan pernah ada Qílín yang muncul,” sambungnya.
Acuan paling awal mengenai Qílín adalah pada abad ke-5 sebelum Masehi dalam buku Zuo Zhuan. Dari penelitian waktu ke waktu, bentuk awal Qílín dikenali berasal dari bentuk jerapah. Menurut cerita, ketika Zheng He yang hidup pada masa Dinasti Ming membawa dua ekor jerapah kembali ke Beijing dari perjalanannya ke Afrika Timur (sekarang Kenya).
Pada waktu itu, dalam bahasa Arab, jerapah disebut sebagai Giri, dan Qílín merupakan panggilan Giri dalam bahasa Cina pada waktu itu. Kaisar memproklamirkan jerapah sebagai makhluk gaib, sebagai lambang kebesaran dari kekuasaannya.
“Identifikasi antara Qílín dan jerapah didukung oleh beberapa atribut karena keduanya sama-sama vegetarian dan memiliki sifat tenang. Keduanya juga mampu berjalan di atas rumput tanpa merusaknya, mungkin adalah karena kaki jerapah yang panjang,” papar Sunanto.
Pada zaman Dinasti Míng sekitar tahun 1368-1644, Qílín berbentuk mirip banteng dengan kepala seperti naga dengan sepasang tanduk dan bernyala seperti perhiasan di kepala. Dalam beberapa penyajian, nyala api dari mulut Qílín berisi sutra Budha.
Qílín pada masa Dinasti Qing yang dikuasai oleh orang Manchuria (1644-1912) menjadi binatang yang lebih keramat dan fantastis. Orang Manchuria melukiskan Qílín sebagai suatu makluk dengan kepala dari naga, badan dari rusa, kulit dan badan dengan sisik ikan, kuku dari lembu dan ekor dari singa.
Di Jepang, Qílín disebut Kirin. Dari kesenian Jepang menunjukkan gambaran Qílín lebih mirip rusa dibandingkan di Cina. Perusahaan pembuatan bir Kirin di Jeoang dinamai menurut binatang ini, dan kata Kirin juga telah digunakan dalam bahasa Jepang modern untuk menyebut jerapah.
“Dalam hirarki Tionghoa ada binatang yang berhubungan dengan mitologi, Qílín berada di posisi kedua sebagai makhluk paling kuat di bawah naga, sedangkan di Jepang, Kirin menduduki posisi puncak,” pungkas Sunanto.(rur)
Fènghuáng Lambangkan Maharani
July 29, 2007 on 5:20 am | In Tradisi Tionghoa | No CommentsBatam, Tribun - Dalam tradisi Tionghoa disebutkan empat binatang keramat tradisional orang Tionghoa. Selain naga, tiga binatang lain adalah Fènghuáng, Kirin dan kura-kura.
“Kata Fènghuáng atau dalam bahasa Jepang disebut Ho-O, bahasa Korea disebut Bonghwang, bahasa Vietnam disebut Phuong Hoàng adalah raja burung dalam mitologi Tionghoa,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada Tribun.
Yang jantan disebut Fèng dan betina disebut Huáng. Pada zaman modern sekarang, pembedaan jenis kelamin Fèng dan Huáng sudah jarang dilakukan sehingga Fèng dan Huáng sudah disatukan menjadi tunggal dalam karakter feminin sehingga dapat dipasangkan dengan naga Tionghua, yang berarti jantan.
“Di negara-negara barat, Fènghuáng biasanya dikenal sebagai phoenix Tionghua dan juga sering disebut burung Ho-Oh yang berasal dari sebutan bahasa Jepang ho-o,” terang Sunanto.
Secara umum, Fènghuáng dilukiskan dengan bentuk mirip ayam jantan, memiliki muka burung walet, dahi unggas, leher ular, dada angsa, punggung kura-kura darat, kaki belakang dan pinggang rusa jantan dan ekor ikan. Badannya menandakan enam badan surgawi. Kepala menandakan langit, mata menandakan matahari, punggung menandakan bulan, sayap-sayap menandakan angin, kaki menandakan bumi, dan ekor menandakan planet. Bulunya terdiri dari lima warna pokok, yakni hitam, putih, merah, biru dan kuning.
Fènghuáng atau phoenix Tionghoa, tidak punya hubungan apapun dengan phoenix dalam dunia barat. Gambaran Fènghuáng sudah muncul di Cina lebih dari 7.000 tahun yang lalu dan sering ditemui di permata hijau batu giok dan dikenal sebagai lambang keberuntungan.
Pada masa Dinasti Han yang berkuasa sekitar 2.200 tahun yang lalu Fènghuáng telah digunakan sebagai lambang arah selatan, menyatakan dalam bentuk jantan (feng) dan betina (huang) saling berhadapan satu sama lainnya. Selain itu juga digunakan untuk melambangkan Maharani sebagai pasangan naga yang melambangkan Kaisar. Sedangkan keluarga kerajaan pada zaman Dinasti Song paling sering menggunakan bendera dengan gambar naga dan Fènghuáng.
Fènghuáng mempunyai arti tambahan yang sangat positif, berupa lambang dari kebajikan tinggi dan rasa hormat. Fènghuáng juga menandakan persatuan yin dan yang. Dalam masyarakat Tionghoa, Fènghuáng sering ditemukan dalam dekorasi untuk perkawinan atau perayaan penting, sama dengan naga. Fènghuáng dan naga dianggap sebagai simbol dari hubungan kebahagiaan antara suami dan istri, kiasan lain dari yin dan yang.(rur)
Naga dalam Kehidupan Warga Tionghoa
July 29, 2007 on 5:20 am | In Tradisi Tionghoa | No CommentsKaisar Sebagai Putra Langit Naga
BERBICARA mengenai suku Tionghoa pasti tak pernah bisa dilepaskan dari simbolisme naga dalam barongsai yang kerap menghiasi berbagai acara dalam tradisi Tionghoa. Long (naga) dalam mitos dan legenda orang Tionghoa merupakan binatang yang sangat keramat, biasa diilustrasikan dengan bentuk badan ular, kaki biawak, cakar elang, ekor ular, tanduk rusa, badan bersisik ikan, kumis di ujung mulut, dan mutiara di kening.
“Sejak tahun 80an, orang Tionghoa mulai menyebut diri mereka sebagai Long De Chuan Ren atau Keturunan Naga yang berasal dari sebuah lagu dengan nama yang sama, yang dinyanyikan oleh penyanyi Taiwan pada waktu itu yang bernama Hou Dejian,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada Tribun.
Dalam sejarah Tionghoa, para kaisar menyebut diri sendiri sebagai Zhen Long Tian Zi atau putra langit naga asli. Hal ini membuktikan naga memilliki kekuatan dan kekuasaan yang sangat besar dan agung.
Angka 9 yang dianggap sebagai angka keberuntungan oleh orang Tionghoa juga sering dihubungkan dengan naga. Contoh nyata dapat dilihat di berbagai tempat seperti istana dan taman kerajaan terdapat Tembok Sembilan Naga yang mengambarkan berbagai karakter naga. Angka 9 juga dipertimbangkan sebagai angka kaisar, hanya pejabat tinggi yang boleh memakai jubah dengan sulaman 9 naga. Sementara pejabat lebih rendah hanya boleh memakai jubah dengan sulaman 8 atau 5 naga. Tak hanya itu, mereka juga harus mengenakan jubah tipis yang transparan ketika menghadap kaisar.
“Hanya kaisar yang boleh memakai jubah naga tunggal dengan sembilan naga tersembunyi di belakang naga tunggal. Sedangkan permaisuri kaisar sering diidentikkan dengan Fenghuang (phoenix),” papar Sunanto lagi.
Nama dari kesembilan naga tersebut secara berurutan adalah tianlong (naga langit), shenlong (naga dewa), fucanglong (naga harta tersembunyi), dilong (naga bumi), yinglong (naga elang), dan jiaolong (naga tanduk). Panlong (naga ulir), huanglong (naga kuning) dan longwang (raja naga). Ada versi lain yang menamakan sembilan anak naga tersebut yakni Bìxì, Chiwen, Puláo, Bì’àn, Taotiè, Baxià, Yázi, Suanní dan Jiaotú.
Dalam berbagai festival atau hari-hari penting seperti pembukaan usaha atau pindah rumah baru, sering diadakan pertunjukkan barongsai yang dimainkan sekelompok orang dengan diiringi dengan permainan musik drum dan sebagainya. Sedangkan pada Festival Duan Wu, perlombaan perahu naga merupakan salah satu even yang sangat penting.
Naga Azura (Qing Long) dipercayakan sebagai pemimpin dari empat dewa pelindung atau empat binatang keramat, disusul burung zhu que (Phoenix), harimau putih (Qilin) dan kura-kura (Xuan Wu). Naga juga diasosiasikan dengan arah timur dan elemen kayu. Naga dalam 12 Shio tradisional Tionghoa berada pada urutan kelima.
Meski dalam bahasa Inggris, naga disebut sebagai dragon, namun dragon dalam kebudayaan barat berbeda dengan naga tradisional Tionghoa. Berbeda dari latar belakang maupun makna keduanya. Sebutan “Dragon” dalam kebudayaan barat biasanya mengandung unsur kejahatan, tidak seperti naga dalam kebudayaan Tionghoa yang diagungkan dan dikeramatkan.
“Dalam pengartian ini, sepertinya kita memberikan nama yang sama untuk seseorang yang agung dan dimuliakan dan seorang penjahat. Tetapi sebenarnya diantara keduanya tidak ada hubungan langsung,” ujar Sunanto.
Dan dalam kenyataannya, walaupun orang barat yang tidak mengerti persis mengenai makna naga dalam kebudayaan Tionghoa, namun mereka juga tidak pernah menyatakan jika orang Tionghua yang mengagungkan naga adalah kelompok etnis yang mengagungkan kejahatan.
“Karenanya, untuk menghindari kesalahpahaman ini, ada orang yang mengajukan perubahan penulisan Naga Tionghoa dalam ejaan bahasa Inggris menjadi ‘Loong’, yang sampai sekarang masih belum mendapat pengakuan dan pemakaian oleh masyarakat umum,” pungkasnya.(rur)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^