Sepucuk Surat dari Seorang Ayah
May 27, 2007 on 7:38 am | In kisahku | 1 Comment| Sepucuk Surat Dari Seorang Ayah | for everyone |
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya
hanya Allah yang tahu.
Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat
seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan
miliknya, melainkan milik Tuhannya.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum
hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia
didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah
terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun
kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah
betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog
seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu
berat dan sulit.
Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di
sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna
keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa
terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun.
Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan
berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk
engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai
bukti,bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh
apapun jua.
Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah
mampu berkata:
“TIDAK”, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.
Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu.
Engkau adalah milik Tuhan.
Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena
pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari
siapa sebenarnya aku dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,
kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata
dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu
mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah
mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan
pemilikmu.
Melakukan segala sesuatu karena Nya,bukan karena kau
dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain,
tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya
aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat
dengan Tuhan.
Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan
Tuhan.
Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu
sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua,
tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan
lumpur hitam.
Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita
satu sama lain.
Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang
sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan,
kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh
berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan
berhenti, Nak.
Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali
memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir
putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia
dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku
amat jauh dari Nya,
aku akan ikhlas.
Karena seperti itulah aku di dunia.
Tapi, kalau boleh aku berharap,
aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua
titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.
Bukan Matahariku
May 27, 2007 on 7:24 am | In kisahku | No CommentsMatahari itu memang buat banyak orang
Tapi bukan matahariku
Dia memang memancar tapi buat orang lain
Dan bukan buatku
Meninggalkan aku dalam kegelapan hari
Seorang diri…
Catatan Perjalanan Setahun di Malaysia
May 27, 2007 on 7:05 am | In ceritaku | No CommentsCatatan Perjalanan Setahun di Malaysia
Pengantar Redaksi:
Malaysia memang sebuah negara yang eksotis untuk dunia pariwisata. Setiap tahun negeri itu terus bersolek dan mempromosikan diri ke seluruh dunia dengan ikon “Malaysia, Truly Asia”. Negara itu memang cukup berhasil menyedot devisa dari sektor pelancongan ini. Benarkah tanah melayu ini eksotis? Wartawan Tribun, Hanonsari Paramita, berkesempatan menikmati wajah Asia sebenarnya itu bersama rombongan dari Fantastik Tour and Travel, mulai dari 29 Desember 2004-1 Januari 2005. Meskipun tak ada pesta tahun baru karena Asia sedang berduka akibat dilanda tsunami yang menewaskan 150 ribu jiwa lebih, namun “setahun” di Malaysia memang sangat menarik. Ruri, reporter kami itu melaporkan dalam tiga edisi, dimulai hari ini. Selamat menikmati.
SEBENARNYA saya mendatangi International Ferry Terminal Batam Centre, Rabu (29/12) pagi dengan sedikit harap-harap cemas. Karena saya sama sekali belum mengenal orang yang akan mengajak saya mengikuti tur ke Malaysia ini, berlibur ke negeri orang.
Tapi saya meyakinkan diri untuk tetap memasuki ferry hall pelabuhan ini, meski awalnya celingak-celinguk karena harus mencari Ade, wanita yang mengajak saya berlibur. Kami berhubungan dengan short message service (SMS). Ade akhirnya menemukan saya di dekat eskalator pelabuhan ini.
Ia pun langsung menyapa saya dengan ramah dan meminta paspor agar ia bisa mengurus tiketnya. Tak lama saya pun langsung menyerahkan tas yang saya bawa untuk diperiksa dan kemudian masuk ke ruang tunggu.
Saya diundang mengikuti rombongan tur “Setahun di Malaysia” yang diadakan Fantastik Tur and Travel, Tiban, Batam. Menurut Ade Syarifah, koordinator tur ini, ini tur perdana yang digelar perusahaannya. “Jadi kami belum ingin mengambil profit. Yang penting nama Fantastik dikenal masyarakat,” ujarnya kepada Tribun, Rabu (29/12).
Sesampainya di Singapura, petugas imigrasi meminta saya untuk melepas topi yang saya kenakan supaya wajah saya terlihat jelas. Saya pun sedikit mencandainya dengan menanyakan, apakah saya perlu melepas kacamata yang saya kenakan. Petugas itu tersenyum ramah mendengar gurauan saya.
Setelah melalui proses pemeriksaan, akhirnya saya pun langsung menuju ke bus yang sudah menjemput rombongan. Setelah melintasi kawasan Singapura selama 20 menit, kami pun menuju ke imigrasi Malaysia untuk mendapatkan stempel kunjungan di Kuala Lumpur selama empat hari.
Tak seperti petugas di Singapura yang selalu sibuk menanyakan apa saja tujuan orang yang mendatangi negeri ini, petugas imigrasi Malaysia tak mengatakan sesuatu pun ketika saya menyodorkan paspor saya untuk distempel. Apa mungkin mereka sudah terlalu terbiasa melihat wajah orang Indonesia yang banyak bekerja sebagai tenaga kerja wanita di sana, atau mungkin ia hanya sedang malas bertanya saja? Entahlah.
Untung saja tak semua orang Malaysia diam melihat kedatangan rombongan kami. Tiba-tiba kami melihat wanita yang sibuk menginformasikan bus mana yang harus kami tumpangi. Ternyata wanita itu adalah Yuriatie Johari, atau Yani, tour guide yang akan memandu kami selama di Malaysia.
Selama perjalanan melintasi Johor untuk menuju ke Kuala Lumpur, bus yang saya tumpangi melewati tol sepanjang 868 kilometer yang di pinggirnya dipenuhi hamparan pohon kelapa sawit. Jalan tol ini terbentang dari perbatasan Malaysia-Singapura sampai Malaysia-Thailand.
Sepanjang perjalanan, saya ditemani Rosna (23) tour guide Fantastik Tour and Travel yang dengan senang hati menjelaskan dari mana saja anggota rombongan tur ini berasal.
Waktu makan siang pun tiba, kami langsung menuju ke restoran Lucky Garden, Johor, Malaysia.
Ada yang unik di restoran ini, seekor ikan sepanjang satu meter terlihat di kolam yang berada di luar restoran. Ikan itu bernama Alapaima dari Afrika Selatan.
Kami pun langsung mendapat penjelasan dari Yani mengenai ikan unik yang makanannya leher ayam tersebut. Menurut Yani, di Giant Supermarket, Johor bahru, panjangnya justru lima meter. Menariknya, konon, ikan itu akan mengabulkan permohonan kita jika kita melempar koin ke dalam kolam tersebut.
Benar saja, setelah mendapat penjelasan dari Yani, banyak anggota rombongan yang menjatuhkan koin ke dalam kolam agar permohonannya terkabul. “Asal jangan minta nikah sama anak raja, mungkin itu agak sulit,” ujar Yani sambil tertawa. Saya juga ikut melemparkan koin, siapa tahu ketemu anak raja di Malaysia ini…
Memasuki kawasan Kuala Lumpur, kami langsung mendatangi daerah Putra Jaya, yang merupakan daerah pemerintahan pusat Malaysia. Menurut Yani, tour guide yang memandu kami, kawasan ini belum sepenuhnya selesai sejak dibangun pada tahun 1997. “Baru sekitar 80 persen,” ujarnya.
Ide pembangunan kawasan ini berasal dari mantan perdana menteri keempat Malaysia, Mahathir Mohamad. Mahathir tak menginginkan Kuala Lumpur sebagai pusat pemerintahan. Ia hanya menginginkan kawasan ini sebagai pusat ekonomi dan hiburan sehingga membangun Putra Jaya, yang letaknya tak jauh dari ibukota Malaysia.
Setelah mengunjungi menara Petronas, yang sempat mencatat rekor sebagai menara tertinggi di dunia dan memiliki 88 lantai, kami langsung menuju ke Hotel The Legend, tempat kami menginap. Saya berbagi kamar dengan seorang ibu anggota rombongan tur yang bepergian sendirian ke Malaysia. Kalau tak ada tugas liputan, ingin rasanya saya terus menemaninya selama tur. Tapi apa daya, tugas menunggu…
Pagi sekali –karena menurut jam tangan saya waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, padahal di Malaysia sudah pukul 07.00– setiap orang sudah berada di jalan untuk menuju ke tempat kerja masing-masing. Saya memaksakan diri untuk bangun meskipun tersasa lelah. Tak lama kami pun langsung menuju ke kawasan Genting Highlands, setelah sebelumnya berpotret dulu di Istana Negara tempat Yang Dipertuan Agong Malaysia tinggal.
Di Genting kami menaiki cable car sepanjang 3,4 kilometer. Di sepanjang jalan, Ade, tour coordinator rombongan tur Setahun di Malaysia bersama Fantastik Tour and Travel, terus mengajak saya mengobrol karena ia tahu saya takut ketinggian.
Wah, untung saja ada koordinator tur yang ramah dan tanggap seperti ini. Padahal saya tak akan berani naik cable car jika tak diajak mengobrol. Dalam hati saya selalu mengucapkan terima kasih karena sudah membantu saya.
Di kawasan milik Datuk Lim Goh Tung ini, saya berkeliling untuk mengamati apa saja yang ada di sana. Mulai dari permainan anak-anak, hotel, sampai, kasino! Saya pun memasuki kasino karena penasaran, meski sebelumnya penjaga sempat bertanya darimana asal saya. Di dalam kasino, karena saya tak diperkenankan membawa kamera, akhirnya saya hanya bisa mengamati saja.
Banyak orang-orang –mulai yang muda sampai yang tua– asik melihat kartu yang dibagikan sang bandar yang berseragam putih hitam dan dasi berwarna. Mereka juga sibuk membagikan koin warna-warni pun bersebaran di sekitar meja. Bunyi mesin jackpot terdengar di seluruh penjuru ruangan, bercampur dengan teriakan-teriakan kegembiraan dan kekecewaan karena dia “hampir” saja menang.
Selain kasino, obyek wisata yang tak kalah menariknya adalah snow world. Namun sayangnya kamera kembali tak bisa digunakan di sini. Kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 75 ribu untuk mengabadikan foto kami selama berada di dalam ruangan sekitar 20 kali 40 meter ini.
Tapi awas bagi yang tak berhati-hati, bisa tersesat di kawasan Genting ini. Karena jika tak mengingat di mana lokasi cable car, maka Amda dijamin akan tersesat. Tapi jangan khawatir anda tinggal melihat papan petunjuk supaya tak tersesat.
Hari ketiga, rasanya begitu cepat berlalu karena jadwal kami yang begitu padat. Hari ini kami menuju ke Sunway Lagoon, kawasan wisata yang terletak di Kuala Lumpur, Malaysia.
Di Sunway Lagoon, saya langsung disambut kepala singa besar yang menghiasi pintu masuk mal utama. Mal ini agak unik karena lantai-lantainya berada di bawah tanah. Jadi, begitu kita masuk ke mal, kita akan langsung berada di lantai 6.
Di dalam mal, terhampar berbagai toko busana dan juga lapangan ski. Banyak remaja yang sedang berski di sana, baik yang sedang belajar maupun yang sudah mahir, lengkap dengan kostum mereka. Di Sunway Lagoon, kami harus membayar Rp 97 ribu untuk bisa masuk ke semua arena yang tersedia di taman wisata ini.
Arena permainan tersebut meliputi buffalo bill coaster, the vulture, yang mengajak kita terbang, butch cassidy trail, yang mengajak kita berputar dengan sepatu besar. The Lost City of Gold, coaster yang mengajak kita berputar mengelilingi gua yang didalamnya menceritakan pertambangan emas zaman dulu.
Karena sabuk pengaman saya yang kurang kencang, saya sempat hampir terlempar dari jet coaster tersebut. Untung saya berpegangan erat meski saya harus mengorbankan kuping saya yang memar karena terbentur dinding gua. Yang parahnya memar itu masih saya rasakan sampai sekarang. Kata teman rombongan, memar ini adalah oleh-oleh dari Malaysia. Aduh…
Meski masih merasa sakit, tapi saya paksakan untuk tetap memasuki arena bermain yang lain, termasuk tomahawk. Kita duduk di dalam sebuah boks dan dilempar tujuh kali sekitar 360 derajat. Wah, alhasil setelah keluar dari boks tersebut, kepala “berbintang-bintang”. Tapi rasa sakit dan pusing itu memang sepertinya rugi bila dipedulikan saya masih banyak permainan yang menarik, unik dan menguji nyali.
Hanya saja, tahun baru di Malaysia sepi sekali karena tidak ada perayaan akibat bencana gempa dan tsunami yang melanda Asia, 26 Desember 2004 lalu. Saya berkeliling sendirian dengan sebuah taksi yang dikemudikan seorang sopir asal India. Kami mengobrol banyak hal, termasuk perbandingan malam tahun baru kali ini dan malam tahun baru tahun lalu. Menurutnya, malam tahun baru kali ini memang sangat sepi
Saya pun diajak berkeliling melihat lokasi-lokasi yang biasanya menjadi arena perayaan tahun baru di Kuala Lumpur, dan memang, sepi di mana-mana. Meski ada kemacetan, namun menurut sang sopir, mereka hanyalah orang-orang yang ingin tahu apakah tetap ada perayaan. meski Pak Lah–panggilan akrab Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi– memang melarang acara tahun baruan.
Hari pertama di tahun 2005, wah tak disangka saya bisa melewatkannya di Malaysia. Rombongan langsung menuju kembali ke menara kembar Petronas. Setelah berfoto ria, kami pun langsung menuju ke Malaka, untuk kemudian kembali ke Singapura.
Di Malaka, saya seakan menemukan suasana Belanda zaman dahulu, yang juga banyak di Yogyakarta, kota asal saya. Ada kapal, helikopter, dan perahu yang digunakan penjajah Belanda, saat mereka mulai mendarat di Malaka. Sayang, setibanya di Malaka, hujan pun menyambut kami. Jadi guide pun langsung memutuskan untuk kembali ke Singapura dan kemudian ke Batam.
Banyak kenangan yang bisa saya petik selama berada di Malaysia, tak disangka saya bisa melewatkan malam tahun baru di sana… Keramahan tour guide Fantastik Tour and Travel pun seakan menambah manis kenangan selama Setahun di Malaysia. Terimakasih Fantastik. (hanonsari paramita)
Dimuat di Tribun Batam
5-7 Januari 2005
India Oh India
May 27, 2007 on 6:40 am | In ceritaku | No CommentsKEBIASAAN dalam hidup kadang bisa terbawa saat kita pergi ke mana pun juga. Malah kadang kebiasaan itu bisa membuat kita merasa malu, karena hal itu tidak kita lakukan pada tempatnya.
Seperti yang saya alami sewaktu saya menginap di Singapura bersama kedua teman saya, satu laki-laki dan satu perempuan. Niat pergi ke sana mau menghabiskan malam Natal di Singapura, sekaligus meliput suasana malam Natal di sana, karena tugas saya sebagai jurnalis di Batam.
Meski sempat gugup sejak awal, karena kami bertiga baru pertama kali itu ke Singapura, dan harus segera menyesuaikan diri dengan berbagai fasilitas modern yang sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal saya di Batam, kami mencoba untuk terus berjuang agar tak terlalu kelihatan “udik” di negeri tetangga.
Baru memasuki perairan Singapura saja, kami bertiga sudah takjub melihat cable car yang bergelantungan di antara Singapura dan Pulau Sentosa. Kami terus sibuk mengatakan pada diri sendiri, kok bisa ya kami datang ke sini, mengingat selama ini kami hanya mendengar cerita tentang Singapura dari orang lain saja.
Setelah menginjakkan kaki di Singapura, kami bingung harus ke mana, karena target kepergian kami ke sana hanyalah untuk meliput suasana Natal, jadi mau tak mau kami harus menginap di sana.
Untuk mencari hotel saja kami sudah kebingungan, untungnya ada seorang anak laki-laki yang sudah remaja yang mau memberikan petunjuk mengenai penggunaan tiket di MRT Singapura.
Dia menanyakan tujuan kami, dan kami hanya asal jawab kalau kami ingin pergi ke kawasan Little India, meski dalam hati kami benar-benar tak tahu mengapa kami menyebut daerah tersebut, padahal dari kami bertiga tak ada yang doyan nonton film India.
Akhirnya, terdamparlah kami di Little India, sebuah kawasan yang dipenuhi orang India. Dalam hati saya dan teman saya berharap bisa bertemu Shah Rukh Khan di sana, tapi kayaknya nggak mungkin deh…
Sambil keliling cari hotel yang murah, mengingat uang saku kami yang pas-pasan, kami langsung menuju ke gereja yang akan kami lihat suasana Natalnya. Karena bingung mau naik apa untuk menuju ke alamat yang sudah diberikan calon narasumber kami, kami pun nekat naik taksi, meski ongkosnya mahal.
Karena terbiasa naik taksi di Batam, perlu diketahui semua taksi di Batam tak ada yang menggunakan argo dan menggunakan sistem tawar-menawar dengan mengatakan tujuan kami, akhirnya kami mengatakan ke mana tujuan kami.
“Mmm.. Zion Road please,” ujarku dengan penuh keyakinan sebelum kami memasuki taksi itu. Dan aku pun masih menunggu harga darinya untuk mengadakan tawar-menawar. Tapi karena wajahnya malah terlihat bingung, kami pun jadi ikut bingung. Untungnya salah satu teman kami segera menyadari kesalahan kami, dan segera menyuruh saya masuk.
Setelah masuk, saya pun segera menyadari kesalahan saya, dan agak malu dengan sopir taksi tersebut. Untungnya ia tidak lagi bertanya lebih jauh mengenai kejadian memalukan tadi.
Sampai di gereja, tiba-tiba perut kami keroncongan, sekali lagi karena uang saku kami pas-pasan, kami pun mengeluarkan “senjata” untuk menangkal keborosan. Yah, kami membawa nasi rames ke Singapura dan sebotol besar air putih. Hebat kan?
Tak hanya itu, karena kebingungan mencari hotel nan murah, kami pun sibuk berjalan mencari hotel tersebut. Sampai kami ke Hotel Concorde yang sebelumnya direkomendasikan pastur yang kami wawancarai.
Ternyata hotel tersebut sangat mewah, ya bukan salah pastur juga sih, karena ia tak tahu uang saku kami yang pas-pasan. Karena kami tahu diri kalau kami tak bakal mampu membayar hotel tersebut, kami pun sudah menyerah duluan dan pergi dari hotel tersebut.
Untung saja teman saya ingat jika di kawasan Little India tadi, dia melihat sebuah hotel yang harganya cukup murah. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk ke sana, padahal jarak antara Little India dan Zion Road sangat jauh, dan kami juga harus mengeluarkan uang lebih untuk ongkos taksi tersebut, meski kali ini tak lagi menawar taksi tersebut.
Tapi sekali lagi karena uang saku pas-pasan, kami memutuskan untuk menginap satu kamar, dengan catatan teman kami yang laki-laki harus disembunyikan di kamar mandi kalau kami berdua yang perempuan akan ganti baju.
Yah, demi sebuah liputan dan merasakan suasana Natal di negeri orang, akhirnya kami turut merasakan makan makanan India dan hidup dengan orang India selama sehari, meski tak juga bertemu dengan Shah Rukh Khan. India oh India…(hanonsari)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^