Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (28)
July 29, 2007 on 9:19 am | In Marga Tionghoa | No CommentsFan Zhong Yan Pria yang Tekun Belajar
ADA dua sumber yang mengatakan asal-usul nama marga Fan. Sebuah sumber menyebutkan jika nama ini berasal dari marga Qi pada zaman dinasti Chun Qiu. Sumber kedua berasal dari suku-suku kecil pada zaman dinasti Qin.
“Tokoh-tokoh sejarah dari marga Fan adalah Fan li, yakni seorang politikus terkenal dari negara Yue pada zaman dinasti Chun Qiu,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa di Batam yang membacakan buku Bai Jia Xing terbitan Tiongkok kepada Tribun.
“Tokoh kedua adalah Fan Hua, ia adalah seorang sastrawan pada zaman dinasti Nan. Sedangkan tokoh ketiga adalah Fan Zhong Yan, yakni seorang politikus dan sastrawan terkenal pada zaman dinasti Song Utara,” tambahnya.
Fan Zhong Yan dikisahkan sebagai seorang anak yang berasal dari sebuah keluarga sederhana di Tiongkok. Meski hidup dalam keadaan sederhana, ia tetap giat belajar dan selalu ingin menuntut ilmu. Sewaktu ia berusia 21 tahun, ia pergi ke daerah Chang Shan untuk menambah pengetahuannya.
“Ia selalu giat belajar dan sering belajar hingga tengah malam. Tak lama setelah itu, ia pergi ke daerah Nan Jing untuk kembali melanjutkan studinya,” jelas John.
Dalam perjalanannya, ia banyak mendapatkan pengetahuan baru dari buku-buku yang dibacanya. Kalau rasa kantuk menerpanya, ia cepat-cepat membasuh wajahnya dengan air dingin sampai rasa kantuk itu hilang.
“Meski harus makanan berbagai suguhan makanan sederhana di Kota Nan Jing, Fan Zhong Yan tak pernah menyerah. Ia yakin, kalau ia rajin belajar maka ia akan berjaya di masa mendatang,” kata John.
Sekitar 5 tahun kemudian, Fan Zhong Yan pun menjadi seorang yang sangat pintar. Ia sudah hapal kitab-kitab ajaran Kong Hu Cu. “Pada saat yang bersamaan, ada ujian negara guna menyaring orang-orang pintar untuk menjadi pejabat kerajaan. Karena kepintarannya, Fan Zhong Yan pun akhirnya berhasil menjadi Perdana Menteri pada zaman Pai Song,” tutur John.
“Fan Zhong Yan berhasil membuktikan jika ketekunan dan keinginan untuk belajar akan membuat masa depan cerah,” tambahnya.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (27)
July 29, 2007 on 9:14 am | In Marga Tionghoa | No CommentsPan Yue Pejabat Bijaksana
TERDAPAT tiga sumber mengenai asal-usul nama marga Pan. Sumber pertama dari marga Ji, yakni keturunan dari Zhou Wen Wang. Sumber kedua dari marga Mi, karena leluhur mereka bernama Pan Zong yang berasal dari negara Chu.
“Sementara sumber ketiga mengatakan, nama marga ini berasal dari suku Xian Bai, yakni sebuah suku kecil di Tiongkok,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing kepada Tribun.
Tokoh-tokoh dalam marga Pan antara lain adalah Pan Zhang yang merupakan jenderal negara Dong Qu pada zaman Zhan Guo. Tokoh kedua yakni Pan Yue yang menjadi seorang sastrawan di dinasti Jin Barat. Tokoh ketiga adalah Pan Mei, ia adalah seorang Perdana Menteri pada zaman dinasti Song Utara.
Alkisah di zaman dinasti Jin Barat, ada seseorang bernama Pan Yue. Ia adalah seorang yang sangat pintar, bahkan banyak orang menganggapnya sebagai anak jenius karena kepintarannya. Setelah besar, ia menjadi kepala pemerintahan di desa He Yang.
“Ia dikenal sebagai pejabat bersih tak pernah melakukan korupsi dan memerintah dengan bijaksana, karena itu rakyat sangat mencintainya,” papar John.
“Ia menggalakkan program tanam pohon buah, karena itu daerah He Yang dikenal sebagai daerah yang hijau karena banyak tanaman buah di mana-mana,” tambahnya.
Bahkan, guna mendukung programnya, seorang pemimpin daerah memberikan sebuah pohon bonsai kepada Pan Yue. Tak lama kemudian, daerah He Yang semakin menghijau.
Sayang, Pan Yue harus dipindah ke daerah lain sehingga pejabat pemerintahan di He Yang harus diganti orang lain. “Namun pejabat itu sangat jahat, ia suka melakukan korupsi dan menyengsarakan rakyat, sehingga rakyat pun membencinya,” katanya.
Bonsai-bonsai yang ditanam Pan Yue juga seakan ikut marah menyaksikan kejahatan yang dilakukan pejabat itu. Hanya tertinggal sebuah pohon bonsai yang masih segar seakan menunggu kedatangan Pan Yue kembali ke He Yang.
“Tak lama kemudian, Pan Yue datang kembali ke daerah He Yang. Dan daerah He Yang pun kembali menjadi daerah yang damai dan hijau,” tuturnya.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (26)
July 29, 2007 on 9:12 am | In Marga Tionghoa | No CommentsSu Qin Si Anak Pandai
NAMA marga Su berasal dari dua sumber, yakni dari dinasti Zhou dan dinasti Nan Bei. Alkisah, seorang pejabat di dinasti Zhou yang bernama Si Kou Fen diberi sebuah daerah bernama Su. Akhirnya, ia mendirikan negara Su di daerah itu. Meski negara itu dihancurkan oleh musuh, namun keturunannya menggunakan nama Su sebagai nama marga.
“Sumber kedua mengatakan, sebagian kecil suku Xian yang bermarga Bei mengganti nama mereka menjadi Su pada zaman dinasti Nan Bei,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing terbitan Tiongkok, kepada Tribun.
Tokoh-tokoh sejarah dalam marga Su adalah Su Qin, yang merupakan seorang penasehat strategi militer pada zaman Zhan Guo. Selain itu ada Su Wu, yakni seorang pejabat terhormat pada zaman dinasti Han barat. Tokoh ketiga adalah Su Shi, yakni seorang sastrawan yang terkenal pada zaman dinasti Song utara.
Alkisah Su Qin, yang merupakan seorang penasehat strategi militer pada zaman Zhan Guo memang sudah pandai sejak ia masih kecil. Tak hanya pandai, ia juga rajin belajar.
“Karena keinginannya untuk terus belajar itu, ia sampai menjual segala harta miliknya untuk membiayai sekolahnya dan pelajarannya. Ia pun bertemu dengan seorang guru bernama Giu Gu Zhi yang memberikan pelajaran mengenai ilmu perang,” kata John.
“Ia ingin menambah pengetahuannya sembari mencari pekerjaan di kota itu. Tapi ia tak kunjung mendapatkan kedudukan terhormat, meski ia sudah merantau selama bertahun-tahun,” tambahnya.
Akhirnya, dengan tangan hampa ia pulang ke kampung halamannya. Karena tak berhasil dalam perantauan, ia mendapatkan berbagai penghinaan dari para tetangganya. Tak hanya itu, keluarganya pun menganggap Su sebagai orang yang tak mampu berbuat apa-apa dalam hidup.
“Tapi Su Qin tetap bersemangat. Semua hinaan dan cemoohan membuatnya semakin termotivasi supaya berhasil. Ia bersumpah jika ia akan berhasil suatu hari nanti,” papar John.
Karena itu, ia tak kenal lelah belajar siang dan malam. Tak jarang, ia belajar sampai pagi. Untuk mengatasi rasa kantuk yang kadang menyerangnya setiap kali belajar, ia sampai menusuk pahanya sendiri supaya tetap terjaga.
“Karena terus belajar, Su Qin berhasil menghapalkan buku Jiang Tai Gong yang berisi berbagai taktik perang. Tak hanya itu, ia juga hapal kondisi politik dan geografis semua negeri di Tiongkok saat itu,” jelas John.
Akhirnya, Su berkeliling ke beberapa negara yang kondisi politiknya saat itu sedang kacau. Dari situ pula, ia mengetahui rencana negara Qin untuk menguasai daerah-daerah sekitarnya.
Su Qin menghimpun kekuatan dari enam negara kecil di sekitar Qin untuk menghadapi serbuan negara Qin. “Karena jasanya, ia menjadi penasehat militer negara Qin dan berhasil dalam hidupnya karena semangat belajarnya yang tak kenal henti,” pungkas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (25)
July 29, 2007 on 9:10 am | In Marga Tionghoa | No CommentsXie Xuan Sang Jendral Cerdik
NAMA marga Xie berasal dari tiga sumber. Sumber pertama menyebutkan, nama marga ini berasal dari marga Jiang yang merupakan keturunan dari Kaisar Yan Di.
“Sumber kedua menyebutkan berasal dari marga Ren dan sumber ketiga berasal dari suku-suku kecil di Tiongkok,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing kepada Tribun.
Tokoh-tokoh sejarah dari marga Xie antara lain adalah Xie An, yang merupakan seorang perdana menteri (PM) pada zaman dinasti Jin Timur. Tokoh kedua adalah Xie Xuan, ia adalah seorang jendral pada zaman dinasti Jin Timur. Sedangkan tokoh ketiga adalah Xie Ling Yun, yang merupakan seorang pelukis dan sastrawan yang terkenal pada zaman dinasti Nan Chao.
Alkisah, pada zaman dinasti Jin Timur, Kerajaan Jin terpaksa pindah ke daerah selatan, karena bagian utara Tiongkok sudah dikuasai suku-suku kecil. Suku-suku tersebut akhirnya membentuk sebuah negara yang bernama Qian Qin.
“Mereka menobatkan seorang pria bernama Fu Jian. Fu Jian ini tak puas hanya mampu menguasai daerah utara. Ia juga ingin menguasai Tiongkok selatan dan menambah daerah kekuasaannya,” paparnya.
Fu Jian pun membawa 900 ribu pasukan menuju ke arah selatan untuk memusnahkan Kerajaan Jin timur.
“Saat itu, PM Xie An yang memerintah di Kerajaan Jin tetap bersikap tenang meski ia menghadapi ancaman besar dari Fu Jian. Ia pun mengutus Xie Xuan, jendral hebat di Kerajaan Jin untuk menghadapi perang ini,” ujar John.
Pasukan Fu Jian hampir sampai ke Kerajaan Jin, namun sayang, langkah mereka terhalang Sungai Fei-Shui dan mereka tak mampu menyeberanginya. Tak lama kemudian, pasukan Xie Xuan yang hanya berjumlah 80 ribu orang juga sampai di tepi sungai yang berlawanan. Kedua kubu pun saling berhadapan di sungai itu tanpa berbuat apapun.
“Meski hanya berjumlah 80 ribu orang, pasukan Xie Xuan sama sekali tak takut menghadapi pasukan Fu Jian yang jumlahnya mencapai 900 ribu orang. Karena itu, Xie Xuan menggunakan taktik jitu guna mengalahkan lawannya,” kata John.
Xie menyarankan agar lawan mundur sedikit sehingga saat pasukannya menyeberang, mereka jadi punya tempat untuk berpijak dan langsung berperang. Fu Jian yang licik, memerintahkan pasukannya untuk pura-pura mundur, dan saat pasukan Xie baru setengah menyeberang, mereka akan menghabisi semuanya.
“Fu Jian pun memerintahkan pasukannya untuk pura-pura mundur. Sayang perintah itu tak didengar anggota pasukan yang berada di lini belakang. Mereka mengira benar-benar disuruh mundur oleh Fu Jian,” terang John.
“Karena jumlah pasukan yang terlalu banyak, akhirnya pasukan Fu Jian malah kocar-kacir. Banyak anggota yang menginjak anggota pasukan lain karena berebut mundur dari pasukan. Sehingga tanpa berperang pun, pasukan Xie Xuan akhirnya memenangkan peperangan,” sambungnya.
Sebagian besar anggota pasukan Fu Jian memang sudah lama tak menyukai gaya kepemimpinan Fu Jian, karena mereka dipaksa untuk masuk dalam skuad pasukan.
“Jadi mereka memilih untuk benar-benar mundur, ketika Fu Jian memerintahkan untuk pura-pura mundur. Karena itu, tentara Xie Xuan bisa mendarat dengan selamat di seberang,” tuturnya.
“Dengan kecerdikan Xie Xuan, pasukannya yang hanya berjumlah 80 ribu orang mampu mengalahkan 900 ribu orang. Jumlah kecil belum tentu akan kalah, dan kecerdikanlah yang mengalahkan semuanya,” pungkas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (24)
July 29, 2007 on 9:09 am | In Marga Tionghoa | No CommentsJiang Zi Ya Bantu Dirikan Dinasti Zhou
NAMA marga Jiang berasal dari Kaisar Yan Di yang berkuasa di tanah Tiongkok pada 5.000 tahun lalu. Ia membangun kerajaannya di sekitar Sungai Jiang, sehingga keturunannya menggunakan nama itu sebagai nama marga.
“Tokoh terkenal dari marga Jiang adalah Jiang Shang atau lebih sering disebut Jiang Zi Ya. Ia membantu kaisar mendirikan dinasti Zhou,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing, terbitan Tiongkok kepada Tribun.
Selain Jiang Zi Ya, tokoh lainnya adalah Jiang Wei, yang merupakan seorang jendral di negara Shu pada zaman Sam Kok.
Alkisah, Jiang Zi Ya atau Jiang Shang atau Jiang Dai Gong tak suka melihat cara Kaisar bernama Zhou Wang memimpin negaranya. Ia memerintah dengan cara yang kejam dan terus menyengsarakan rakyat.
Sebagai penasehat kaisar, ia pun tak tahan lagi dan memutuskan untuk berhenti dari jabatannya. Jiang Zi Ya memutuskan pulang ke kampung halamannya di Sungai Wei.
Saat itu rakyat memang sangat membenci Kaisar Zhou Wang karena kekejiannya. Tapi ketika itu muncul seorang pejabat tinggi yang bernama Zhou Wen Wang yang sangat baik hati.
“Ia sangat disukai rakyatnya dan banyak orang mendukung dirinya untuk menjadi kaisar,” jelas John.
Karena itu, Zhou Wen Wang ingin mencari orang-orang pandai yang bisa membantu dirinya menjadi kaisar dan mendirikan dinasti baru. Kabar itu pun sampai ke telingan Jiang Zi Ya. Sebagai orang pandai, ia ingin membantu Zhou Wen Wang.
“Namun Jiang Zi Ya menunggu kesempatan untuk membuat Zhou Wen Wang memanggil dirinya. Setiap hari, Jiang Zi Ya memancing di sungai Wei, menggunakan kail berbentuk lurus dan sama sekali tak ada umpannya,” paparnya.
“Tak hanya itu, ia memasang pancingnya dengan jarak tiga kaki di atas air. Orang-orang tentu heran dengan perilakunya dan kabar ini menyebar sampai ke telinga Zhou Wen Wang,” sambungnya.
Dari cerita ini, Zhou Wen Wang akhirnya menyimpulkan kalau Jiang Zi Ya pastilah bukan orang biasa. Ia pun meminta bantuan Jiang. Namun Jiang mengajukan syarat kedua, yakni harus Zhou Wen Wang sendirilah yang menjemput dirinya menggunakan kereta dan Zhou harus menarik kereta itu.
“Zhou tetap memenuhi keinginan Jiang, sehingga akhirnya Jiang menjadi penasehat militer Zhou Wen Wang dan membantunya menggulingkan dinasti Zhou Wang dan mendirikan dinasti Zhou,” pungkas John.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (23)
July 29, 2007 on 9:08 am | In Marga Tionghoa | No CommentsWei Yuan, Tokoh Revolusi Pemikiran
HANYA ada satu sumber yang menjelaskan asal-usul nama marga Wei dalam sejarah Tiongkok, yakni bersumber dari marga Jin. Alkisah, dalam sejarah Tiongkok ada seseorang bernama Wei San Guo. Ia berhasil menang dalam sebuah peperangan.
“Kemenangan itulah yang membuat Kaisar Jin Xian Gong memberikan sebuah daerah bernama Wei. Dan nama daerah itu digunakan seluruh keturunannya hingga sekarang,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa di Batam yang membacakan buku Bai Jia Xing, terbitan Tiongkok kepada Tribun.
Tokoh dalam marga Wei adalah Wei Zheng. Ia merupakan seorang pejabat tinggi dalam dinasti Tang. Ia sangat tulus setiap kali memberikan nasehat kepada kaisar. Selain Wei Zheng, tokoh lainnya adalah Wei Yuan, yang merupakan seorang pemikir pada zaman dinasti Qing.
Dikisahkan, Wei Yuan adalah seorang pemikir yang paling patriotis pada zaman akhir dinasti Qing. Ia juga seorang sastrawan dan tokoh penting yang mendukung program belajar pada negara barat.
“Karena pada waktu itu sebagian besar warga Tionghoa enggan belajar pada dunia luar. Wei pun menyarankan agar mereka mau belajar guna membuka pikiran terhadap dunia luar,” jelas John.
“Wei memang dikenal sebagai orang yang suka belajar dan tak pernah kenal lelah belajar baik siang maupun malam,” tambahnya.
Kebiasaan belajar itu sudah dimulainya sejak masih kecil. Ketika ia berusia 9 tahun, atau saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Wei sudah bercita-cita ingin mengurus rakyat.
“Ia sama sekali tak ingin mementingkan diri sendiri. Sehingga, berkat perjuangannya, ia mampu menjadi pejabat penting dalam dinasti Qing,” papar John.
“Ia seorang tokoh penting yang mendukung revolusi pemikiran orang Tiongkok, yakni belajar dan menuntut ilmu dari negara barat,” pungkasnya.(ruri)
Asal-Usul Marga Tionghoa dalam Buku Bai Jia Xing (22)
July 29, 2007 on 9:07 am | In Marga Tionghoa | No CommentsJin Sheng Tan Sastrawan Legendaris
ADA tiga sumber yang mengatakan sumber nama marga Jin. Sumber pertama mengatakan jika marga Jin Tian berasal dari daerah Shao Hao dari marga Jin Tian. Jin juga berarti emas sehingga keturunannya menggunakan nama itu sebagai nama marga.
“Sumber kedua mengatakan, Jin adalah nama suku di Xing Nu atau di Mongolia kuno. Sumber ketiga berasal dari nama marga Liu,” ujar John, seorang pengamat budaya Tionghoa yang membacakan buku Bai Jia Xing, terbitan Tiongkok kepada Tribun.
Tokoh-tokoh dari nama marga Jin adalah Jin Sheng Tan, yang merupakan seorang sastrawan terkenal dalam sejarah Tiongkok. Tokoh berikutnya adalah Jin Nong yang berprofesi sebagai pelukis dan penyair di zaman dinasti Qing.
Alkisah, Jin Sheng Tan yang merupakan seorang sastrawan yang sangat terkenal di zaman dinasti Qing. Sewaktu ia masih muda, ia didukung semua warga kampung unuk ikut sebuah tes agar bisa menjadi pejabat kota.
“Jin Sheng Tan tak menganggap tes itu sebagai sesuatu yang serius, karena ia tak pernah mementingkan materi dalam hidup. Karena tak serius mengerjakannya, akhirnya ia pun gagal,” jelas John.
Pada waktu itu, dinasti Qing banyak menerapkan peraturan yang melarang pemakaian kata-kata tertentu dalam bidang sastra. “Ada kata-kata tertentu yang tak boleh diucapkan orang secara sembarangan,” kata John.
Akhirnya, Jin Sheng Tan berkeliling ke seluruh negeri untuk membebaskan larangan-larangan tersebut sampai ia melakukan unjuk rasa besar-besaran melawan kaisar.
“Karena melawan, ia dijatuhi hukuman mati. Namun hukuman itu sama sekali tak membuat dirinya gentar,” papar John.
Begitu pula ketika anaknya mengunjunginya di penjara. Jin Sheng Tan tak menunjukkan ketakutannya menghadapi kematian. Baginya, hidup dan mati itu tak penting.
“Sewaktu ia dieksekusi, dari tubuhnya keluar dua gumpalan kertas yang berisikan tulisan yang melambangkan kondisi politik saat itu,” jelas John.
“Kata-kata tersebut juga menunjukkan rasa sakit yang selama ini sudah ditanggungnya sendirian untuk membebaskan larangan-larangan pemerintah. Ia seorang sastrawan yang teguh pada pendiriannya,” tambahnya.(ruri)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^