Nguyen Bukan Pahlawan…

August 29, 2007 on 6:59 am | In Inspiring Stories | No Comments

*Nguyen Dimakamkan Rabu (7/12)

Melbourne, Tribun - Episode terakhir kisah tragis Nguyen sudah tiba. Ribuan pelayat memadati upacara pemakaman Nguyen Tuong Van (25), Rabu (7/12). Dalam upacara tersebut Pastur Peter Hansen juga membacakan surat permintaan maaf Nguyen.
Sekitar 2.000 pelayat memenuhi Gereja Katolik Katedral St Patrick di Melbourne timur untuk menghadiri misa requiem bagi Nguyen. Diantaranya hadir ibu Nguyen, Kim Nguyen, saudara kembar Nguyen, Nguyen Dang Khoa dan tim pengacaranya.
Di tengah upacara tersebut, buku harian Nguyen bagian terakhir dibacakan. Diduga tulisan itu dibuat sekitar dua jam sebelum dirinya dieksekusi di penjara Changi, Jumat (2/12) lalu.
Dalam surat itu ia menyebutkan surat permintaan maaf kepada semua orang dan dirinya juga mengatakan sudah menghadapi tiang gantungan dengan perasaan damai.
“Ada beberapa episode dalam hidup Van (Nguyen-red) di mana ia bukanlah seorang pria yang baik hati. Saya tak mencoba menyembunyikannya, dan juga keluarga dan temannya pun tak pernah menyembunyikannya. Bahkan Van sendiri juga tak pernah menyembunyikannya,” jelas Pastur Hansen dalam pidatonya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir kehidupannya, kehidupan Nguyen telah dipenuhi dengan keberanian dan kerendahan hati,” lanjutnya.
Pada halaman terakhir di buku harian Nguyen, ia mengungkapkan kepercayaannya yang penuh pada Tuhan.
“Wahai saudara-saudaraku, bagi semua yang sudah berjuang supaya saya tetap hidup, dan bagi semua yang sudah mendoakan atau bagi mereka yang sudah saya sakiti, saya mohon maafkan semua kesalahan saya dan terimalah permohonan maaf saya itu,” demikian tulis Nguyen dalam buku hariannya.
“Sekarang sudah jam 23.00, tugas saya berakhir di sini. Doakan agar saya tak mengecewakan Anda semua. Dan dengan berkat Tuhan semoga Anda semua menemukan kekuatan dan kehangatan dari kata-kata yang muncul dari lubuk hati saya yang paling dalam.”
“Sekarang saya sudah bisa tersenyum saat saya mempersiapkan diri menghadap Tuhan. Anda semua dalam untaian doa saya. Jangan pernah bersedih, tapi bergembiralah selalu dengan kehidupan yang sudah dianugerahkan Tuhan pada kalian semua,” lanjut Nguyen.
Seusai upacara berlangsung, peti jenazah Nguyen, yang dilaporkan membawa heroin dari Kamboja ke Australia untuk membayar hutang Khoa, dibawa Khoa dan anggota tim pembelanya ke luar gereja.
Nguyen dijatuhi hukuman gantung pada 20 Maret 2004 oleh Hakim Kan Ting Chiu di Singapura dan dieksekusi Jumat (2/12) lalu, setelah berbagai upaya permohonan dan pengampunan gagal.
Masih berhubungan dengan kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan warga negara Australia, kali ini Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajuda meminta pemerintah Australia agar tak menaikka emosinya apabila sembilan WN Australia yang menyelundupkan heroin di Denpasar juga dikenai hukuman mati.
“Saya berharap eksekusi Nguyen kemarin bisa mengurangi tingkat kemarahan publik Australia jika Bali Nine juga dikenai hukuman mati dengan ditembak mati,” jelasnya kepada The Australian seperti dilansir dari The Straits Times, Rabu (7/12).
“Karena ada kemungkinan mereka akan dihukum mati nantinya, maka kami mengantisipasi reaksi emosional dari publik Australia,” lanjutnya.
Wirajuda juga meminta publik Australia memahami sistem perundang-undangan negara-negara di Asia.
“Mungkin hukuman mati yang dijatuhkan bagi WN Australia adalah sesuatu yang bisa direfleksikan oleh publik Australia sendiri. Karena di Malaysia, Singapura dan Indonesia, hukuman mati adalah bagian dari hukum positif untuk melawan pelanggaran hukum serius seperti penyelundupan narkoba,” terangnya.
Wirajuda juga tak akan menuduh Australia telah memberlakukan standar ganda karena tak mengkritik hukuman mati bagi Amrozi, tapi terus melakukan protes untuk hukuman mati bagi Nguyen.
“Tentu saja karena Australia adalah korban bom Bali, tapi untuk kasus penyelundupan obat-obatan, kami, warga Indonesia dan Singapuralah yang menjadi korban,” jelasnya.(AFP/rur)

Mengintip Kisah Tragis Nguyen (3-Habis)

August 29, 2007 on 6:56 am | In Inspiring Stories | No Comments

Sebuah Akhir yang Pahit bagi Kim

NGUYEN memang sudah menebus rasa cintanya pada sang adik yang membuatnya harus digantung di Singapura, Jumat (2/12) lalu. Tapi pengorbanannya tak cukup sampai di situ. Ternyata sang adik, Nguyen Dang Khoa terjerat kasus lain yang membuatnya harus dipenjara karena telah melakukan penganiayaan.
Entah apa yang dirasakan Kim Nguyen saat ini. Anaknya yang satu sudah meninggal di tiang gantungan, sekarang giliran anaknya yang lain yang akan menghadapi penjara karena kasus penganiayaan yang dilakukannya.
Cita-citanya masuk ke Australia supaya kedua anaknya bisa hidup dengan layak dan juga memperoleh pekerjaan yang layak, sepertinya sudah kandas. Keduanya berakhir di penjara, dan yang lebih parah, satu anaknya bahkan sudah mati di sana.
Sebuah keluarga di Melbourne sudah mengajukan tuntutan terhadap Nguyen Dang Khoa karena pernah menganiaya Glen Kohu (23) dengan menggunakan pedang samurai. “Semuanya tak adil, ia seharusnya dipenjara,” ujar Glen Kohu Sr, ayah Glen.
Khoa (25) memang mendapatkan penundaan hukuman penjara selama tiga tahun karena situasi keluarganya yang dianggap hakim sangat traumatik, setelah saudara kembarnya dieksekusi.
Khoa memang mengaku bersalah telah menganiaya Kohu pada Desember 1998 lalu. Kemungkinan besar penundaan hukuman ini akan dicabut setelah Nguyen dieksekusi.
Sampai sekarang, Kohu masih menderita tekanan psikologis dan fisik karena penganiayaan itu. Kohu pun harus menjalani operasi plastik untuk memulihkan luka-lukanya.
“Saya memang bersimpati pada Kim Nguyen pada apa yang harus dialaminya, tapi saya sama sekali tak bersimpati pada Khoa. Ia memang terlihat tenang dan kalem menghadapi semuanya, tapi itu bukan Khoa yang sesungguhnya,” ujar Bonnie, ibu Glen Kohu.
Sementara itu, sebuah pesan dikirimkan seorang laki-laki bernama Jason yang mengaku pernah satu sekolah dengan Nguyen. Nama orang itu disamarkan untuk melindungi identitasnya.
Jason mengaku dirinya sangat sedih mendengar apa yang terjadi pada Nguyen. Ia tak pernah terlibat dengan obat-obatan, saudaranyalah yang membuatnya seperti itu. Nguyen sama sekali tak pernah mengeluh dan selalu mendukung teman dan keluarganya.
Nguyen juga seorang atlit dan pelajar yang handal dan siapapun yang berada di sekitarnya, pasti merasa beruntung telah mengenal dirinya. Nguyen juga tak pernah bermaksud mengedarkan heroin di Singapura, ia juga sudah bekerja sama dengan baik dengan Pemerintah Singapura dan Australia.
“Apa yang terjadi pada Nguyen bisa terjadi pada siapa saja. Apakah yang akan Anda lakukan untuk menolong saudara yang terlibat hutang?” tukas Jason.
Sedangkan Stacy, juga disamarkan, dari Melbourne, mengaku sudah mengenal Nguyen selama beberapa tahun. “Ia orang baik, dan selalu sabar pada anak laki-laki saya yang baru berusia empat tahun,” jelasnya. “Van selalu mengajak anak saya bermain, ketika saya dan Tyrone, anak saya, bermain ke rumahnya. Van juga akan mengatakan pada semua orang jika Tyrone adalah tamu penting baginya dan tak akan membiarkan barang-barang berbahaya seperti rokok atau asbak di sekitar Tyrone,” lanjutnya.
Dalam upacara pemakaman Nguyen yang akan dilakukan Rabu (7/12) hari ini, surat-surat Nguyen yang terakhir akan dibacakan di Gereja St Patrick, Melbourne, Australia.
Nguyen juga telah meminta lagu Ave Maria, Amazing Grace dan The Lord is My Shepherd sebagai lagu pemakamannya. Ia juga meminta semua tamu yang menghadiri pemakamannya agar saling memeluk satu sama lain, sebagai tanda cinta sebagai sesama manusia.
Tapi, sebaik apapun Nguyen, hidupnya sudah berakhir di tiang gantungan untuk membayar rasa tanggung jawab dan cintanya pada sang adik. Hanya Tuhan yang tahu berapa perih hati Kim Nguyen saat ini.(hanonsari paramita)

Mengintip Kisah Tragis Nguyen (2)

August 29, 2007 on 6:55 am | In Inspiring Stories | No Comments

Tunggu Hantaran Heroin di Hotel

DAN pada saat itulah, seorang petugas bandara di terminal keberangkatan Bandara Changi Singapura, di mana Nguyen transit sebelum menaiki pesawat Qantas nomor penerbangan 10 yang akan membawanya kembali ke Melbourne, melihat kegelisahan Nguyen dan menduga ada heroin dalam tas Nguyen.
Menurut dokumen pengadilan, setelah Nguyen bertemu Tan, ia terbang ke Sydney dan bertemu dengan seorang pria Vietnam bernama Sun, yang memberinya tiket PP ke Phnom Penh via Singapura. Selain itu ia juga diberi uang sebesar 1.000 dolar Australia dan daftar instruksi yang harus dilakukan untuk menyelundupkan heroin.
Sesampainya di Phnom Penh, Nguyen menginap di Hotel Pacific, untuk menunggu hantaran heroin dari kenalan Sun di Lucky Burger Restaurant, Phnom Penh.
Kenalan Sun, seorang pria Kamboja dan pria lain yang berbicara Vietnam memaksa Nguyen menghisap heroin menggunakan uang kertas di sebuah bengkel di Phnom Penh.
Ketika Nguyen menolaknya, pria yang berbicara bahasa Vietnam itu memukulkan sebuah balok ke atas meja dan menggertaknya. “Persetan dengan ibumu, hisap atau kau mati!” gertak pria yang tak diketahui namanya itu.
“Saya tahu saya akan dibunuh kalau tak melakukan apa yang mereka katakan,” ujar Nguyen kepada para penyidik.
Nguyen akhirnya memutuskan pergi ke Vietnam, karena ia terlalu stres di Phnom Penh. Ia menghabiskan sembilan harinya di sana dengan berbelanja jam tangan dan ikat pinggang yang akan diberikannya pada keluarganya saat ia kembali ke rumahnya.
Sindikat heroin itu akhirnya memberinya dua paket heroin yang masih utuh. Nguyen disuruh menumbuknya dan memisahkannya dalam dua tas berbeda. Nguyen kembali ke hotel dan menumbuk heroin dengan palu dan memasukkannya ke tas. Kemudian ia menggunakan selotip untuk mengikat bungkusan heroin itu ke tubuhnya.
Dalam penerbangan dari Phnom Penh ke Singapura pada 12 Desember 2002, Nguyen kesulitan bernafas karena ikatan heroin di tubuhnya. Selama transit di Singapura, Nguyen pun akhirnya memutuskan melepaskan ikatan tersebut.
“Beberapa orang di Phnom Penh sudah memperingatkanku jika sindikat itu sudah mengetahui rumahku di Australia, dan mengingatkanku untuk tak menghancurkan proses pengiriman ini. Saya tak memiliki pilihan lain selain mengirimkan dua paket heroin ke seseorang di Australia,” jelasnya.
Tak lama setelah ia memutuskan untuk tetap meneruskan rencananya, polisi pun langsung menangkapnya saat tubuhnya melewati detektor metal di bandara Changi.
Ia pun akhirnya menjalani proses pengadilan dan dijatuhi hukuman mati oleh Hakim Kan Ting Chiu pada 20 Maret 2004. (hanonsariparamita/dariberbagaisumber)

Mengintip Kisah Tragis Nguyen (1)

August 29, 2007 on 6:53 am | In Inspiring Stories | No Comments

Belikan Sepatu untuk Khoa

MEREKA adalah anak kembar seorang pengungsi. Satunya agak bermasalah dengan proses pendewasaannya, dan satunya lagi sudah melakukan kejahatan yang ekstrim untuk menolong satu-satunya saudara kembar yang sangat dicintainya. Dan kemarin, Jumat (2/12), Nguyen Tuong Van sudah menebus rasa cintanya terhadap saudaranya dengan digantung di Singapura.
Biasanya Nguyen Tuong Van, hidup dengan berkeliling dari toko ke toko di sekitar rumahnya, meminta pekerjaan pada para pemilik toko. Akhirnya ia berhasil menemukan pekerjaan baru yakni di toko roti Glenn Waverley, di mana ia harus membersihkan oven dan menyapu serpihan roti.
Uang yang dihasilkannya memang tak banyak, tapi cukup untuk dirinya. Ketika ia kembali ke rumahnya pada minggu pertamanya di Australia tahun 1996, Nguyen yang saat itu berusia 15 tahun, sudah banyak menghasilkan uang. Dan dengan bangganya, sembari menaiki sepeda ke rumah, ia membawa dua kotak yang mirip satu sama lain.
Ketika sampai di rumah, ia membuka kotak pertama dan dengan bangga menunjukkan pada ibunya sepatu baru yang berhasil dibelinya dengan uangnya sendiri. Dan tak lama kemudian, ia memberikan kotak kedua pada saudara kembarnya, Khoa, sepatu sekolah yang mirip dengan miliknya.
Mereka sangat gembira waktu itu, tapi tak terlalu terkejut karena Nguyen memang terbiasa memberikan segala sesuatunya pada sang adik.
Mereka dilahirkan 17 Agustus 1980 dalam sebuah kamp penampungan di Songkhla, Thailand. Kim harus melahirkan keduanya melalui operasi caesar, bahkan saat melahirkan, Kim tak tahu apakah Nguyen atau Khoa yang lahir lebih dulu. Tapi akhirnya, ia memutuskan Van adalah anak yang lebih tua karena lebih berat daripada adiknya.
Dan statusnya sebagai anak sulung itulah yang membuatnya terbeban untuk merawat ibu dan adiknya, meski mereka lahir pada hari yang sama. Dan selama 25 tahun masa hidupnya di dunia, hidup Nguyen hanyalah dipenuhi tanggung jawab dan beban sebagai anak sulung.
Sama seperti warga Vietnam lainnya, kehidupan Kim Nguyen hancur ketika tentara Vietnam utara masuk ke Saigon setelah AS melarikan diri pada tahun 1975.
Ayah dan saudara Kim pun masuk ke penjara karena bekerja untuk sebuah perusahaan Prancis dan AS. Akhirnya, semua keadaan itu memaksa Kim melarikan diri dengan kedua anak dalam rahimnya setelah ia bercerai dengan suaminya tahun 1980. Kim mengarungi samudra dengan sebuah kapal nelayan sebelum akhirnya sampai ke Thailand. Dan disanalah ia memulai hidup baru.
Saat masih berusia beberapa bulan, Kim memutuskan pindah ke Australia. Kim memilih Australia karena ia tahu negara itu dari peta dan di sana ia juga berharap anak-anaknya bisa tumbuh dan memperoleh pekerjaan yang layak. Sampai perjalanannya ke Singapura kemarin untuk menjenguk anaknya, Kim tak pernah meninggalkan Australia.
Nguyen dikenal keluarga dan sahabatnya sebagai remaja suburban biasa yang suka main tenis. Baik Nguyen maupun Khoa tumbuh sebagai remaja yang tak pernah mengenal sosok ayah, meski ada kabar mereka berdua sempat bertemu dengan sang ayah yang kini tinggal di AS, empat tahun lalu.
Semuanya indah untuk Kim dan kedua anaknya, si bungsu, Khoa, terjerat heroin sampai memiliki hutang sebesar 25 ribu dolar Australia. Dan kehidupan yang indah itu harus berakhir pada awal November 2002, saat seorang teman Nguyen, yang hanya dikenal dengan nama Tan menawarinya solusi untuk membayar hutang Khoa.
Karena sudah terbiasa merawat dan menjaga adiknya, tanpa berpikir panjang, Nguyen pun mengiyakan permintaan Tan. Tapi ia tak pernah berpikir kalau rencana Tan akan melibatkannya untuk membawa 400 gram heroin melalui sebuah negara yang paling tegas menerapkan UU narkoba, Singapura. (hanonsariparamita/dariberbagaisumber)

Tak Lakukan Kontak Fisik dengan Nguyen

August 29, 2007 on 6:51 am | In Inspiring Stories | No Comments

SOLIDARITAS untuk Nguyen tak hanya diberikan warga Australia. Beberapa warga Singapura pun tampak ingin menunjukkan kesedihan mereka melalui protes yang mereka lakukan.
Seperti M Ravi, pengacara kasus Shanmugam Murugesu, pria yang dieksekusi pada Mei lalu karena kasus yang sama. Ia menanyakan mengapa hak melakukan kontak fisik tak diberikan kepada Laksmi Murugesu, istri Shanmugam.
“Bahkan untuk mencium bau tubuhnya saja, Laksmi tak diizinkan. Lalu apa ada media Singapura yang mencoba mewawancarai Laksmi, Singapura memang benar-benar tak punya hati,” ujarnya kepada Tribun yang mewawancarainya.
Sembari membawa foto Nguyen lengkap dengan kalungan bunga, pengacara yang sudah dua kali menangani kasus hukuman mati itu, memuji media Australia yang sudah dengan gigih melawan hukuman mati melalui berbagai upaya yang mereka lakukan.
Pengacara yang juga merupakan anggota Singapore Anti-Death Penalty Committee itu tampak menangis setelah menyalakan lilin untuk mendoakan arwah Nguyen, setelah sebelumnya ia terus memprotes tindak pemerintah Singapura yang mengeksekusi Nguyen.
“Hanya satu yang bisa kita lakukan sekarang, yakni berdoa semoga arwah Nguyen bisa diterima di surga. Tapi kami akan terus melawan kebijakan hukuman mati sampai kapanpun,” jelasnya.(rur)

Diiringi Gerimis Hujan

August 29, 2007 on 6:50 am | In Inspiring Stories | No Comments

* Nguyen Diterbangkan ke Australia Hari Ini

SUASANA pagi itu terasa sedikit mencekam. Matahari masih belum terbit, dan lilin-lilin pun masih menyala. Gerimis hujan yang turun pun seakan mengiringi kepergian Nguyen Tuong Van yang digantung di Penjara Changi Singapura, Jumat (2/12) tepat pukul 06.00 pagi waktu setempat atau pukul 05.00 WIB. Ajaibnya, beberapa menit kemudian, gerimis itu hilang, seakan menandakan Nguyen yang telah pergi meninggalkan dunia.
Lonceng yang berdentang sebanyak 25 kali sekitar satu jam sebelum Nguyen digantung pun semakin membuat pagi itu semakin mencekam. Tepat pukul 05.15 waktu setempat, saudara kembar Nguyen, Nguyen Dang Khoa, dengan berpakaian putih-putih datang bersama teman-teman dan staf kedutaan besar Australia di Singapura.
Wajah Khoa tampak tegar menghadapi kematian saudara satu-satunya itu. Ia terus berjalan masuk ke penjara Changi tanpa menoleh ke kanan dan kiri lagi.
Nguyen digantung, di hadapan para sahabat dan keluarganya. Dengan menggunakan pakaian serba hitam Nguyen menantikan proses eksekusi dirinya di tengah pengawalan dan penjagaan ketat di penjara.
Dia digantung setelah keluarga dan saudaranya mengunjunginya di dalam penjara yang diwarnai dengan kesedihan.
“Perhatian saat ini tertuju kepada penjara di Changi,” kata pejabat Kementrian Dalam Negeri Singapura, Jumat (2/12).
Beberapa warga Australia di Singapura pun tampak bersedih di depan lilin-lilin yang mereka nyalakan untuk mendoakan kepergian Nguyen. Semua tampak tertunduk dan beberapa diantaranya terlihat menangis sembari memeluk rekan mereka di sebelahnya. Semuanya terdiam dan tak ada satu pun yang membuka mulutnya, mendoakan kepergian Nguyen.
Tepat pukul 07.00 waktu setempat, tiga taksi tampak masuk ke Penjara Changi untuk menjemput Khoa dan sahabat-sahabatnya. Lima menit kemudian, Khoa tampak keluar dari gedung penjara dan masuk ke taksi setelah sebelumnya memeluk penjaga penjara untuk mengucapkan terima kasih. Khoa tidak menyaksikan proses eksekusi saudaranya, hanya ingin berada di dekat Nguyen.
Sementara itu, Kim Nguyen, ibunda Nguyen Tuong Van tak tampak datang dalam proses eksekusi anaknya. Ia dilaporkan berada di sebuah gereja untuk mendoakan anaknya yang digantung kemarin.
Di Australia, yang sudah menghapuskan hukuman mati sejak tahun 1967, isu ini sudah menimbulkan berbagai aksi demonstrasi di Canberra dan Attroney General Philip Ruddock menganggap eksekusi Nguyen sebagai tindakan yang biadab.
Bel juga dibunyikan sebanyak 25 kali, setiap bunyi bel menandakan tahun-tahun dalam kehidupan Nguyen yang berusia 25 tahun.
“Saya sudah mengatakan kepada Perdana Menteri Singapura, BG Lee, jika peristiwa ini akan mempengaruhi hubungan manusia ke manusia secara mendasar,” ujarnya kepada stasiun radio Melbourne 3AW sebelum Singapura melaksanakan eksekusi Nguyen.
Sekitar empat jam setelah dieksekusi, jenazah Nguyen dibawa ke luar dari penjara Changi dengan menggunakan van putih. Mobil itu membawa Nguyen ke kapel Good Shepherd Convert Marymount di 790 Thomson Road yang terletak di atas bukit dan diadakan misa untuk menghormati jenazah Nguyen.
Wartawan yang meliput tidak diperkenankan masuk ke dalam kapel dan hanya menunggu di pintu gerbang. Sementara, mobil-mobil yang masuk ke dalam kapel pun diperiksa, karena selain kenalan, tamu lain tak dipersilakan masuk.
Jenazah Nguyen akan diterbangkan dengan pesawat komersial pada Sabtu (3/12) malam langsung ke Melbourne, bersama dengan ibu, saudara dan pengacaranya.
Ribuan orang diperkirakan akan menghadiri pemakaman Nguyen di Katedral St Patrick, Melbourne, Australia, Rabu (7/12) mendatang dan akan dipimpin seorang pastur yang merupakan teman dekat keluarga Nguyen, Pastur Peter Hansen.
“Merupakan sebuah kehormatan untuk saya karena sudah diberi kesempatan untuk menitipkan Nguyen pada Tuhan,” jelasnya.
Nguyen menjadi pemeluk Katolik yang taat setelah ia dijatuhi hukuman mati oleh Hakim Kan Ting Chiu pada 20 Maret 2004.
Nguyen pernah mengatakan pada kedua temannya, Kelly Ng dan Bronwyn Lew daftar lagu yang akan dia ingin dimainkan pada pemakamannya.
“Menuruti permintaan Nguyen, misa pun juga akan dilaksanakan dalam bahasa Vietnam, bahasa ibunya, dan sebagian dalam bahasa Inggris,” jelas Pastur Hansen.
Kematian Nguyen menimbulkan pertentangan melawan hukuman mati di Singapura, dengan adanya beberapa anggota Singapore Anti-Death Penalty Committee yang menyalakan beberapa lilin sebelum Nguyen meninggal.
“Hukuman mati yang dijatuhkan terhadap Nguyen memang terlalu berlebihan, karena itu kami akan terus menentang hukuman mati, terutama bagi dua pria muda asal Nigeria dan Afrika selatan yang juga akan dieksekusi di Singapura tahun depan dengan kasus yang sama,” jelas Sinapan Samydorai, President Think Centre Singapore, sebuah lembaga perlindungan hak azasi manusia di Singapura.
Lasry juga optimis kasus Nguyen akan membawa perubahan di Singapura, tapi ia tak akan meminta warga Australia untuk memboikot Singapura, karena Nguyen sendiri mengatakan kehidupan harus terus berjalan.
Nguyen adalah warga Australia pertama yang dieksekusi di luar Australia sejak Michael McAuliffe dieksekusi di Malaysia tahun 1993.
Darshan Singh, eksekutor senior di Singapura juga dilaporkan tak mengeksekusi Nguyen. “Hanya Tuhan yang tahu siapa yang mengeksekusinya,” jelasnya.(hanonsariparamita)

Nguyen Tuong Van, Sebuah Inspirasi

August 29, 2007 on 6:49 am | In Inspiring Stories | No Comments

NGUYEN Tuong Van. Nama itu tak pernah lepas dari pikiranku hingga saat ini. Nama seorang anak muda yang harus kehilangan nyawanya karena menolong saudara kembarnya tanpa takut akan resikonya.
Ia nekad membawa 400 gram heroin dari Vietnam ke Australia melalui Singapura hanya untuk menolong saudara kembarnya yang terjerat hutang. Padahal Nguyen Tuong Van tak pernah tahu mengapa saudaranya bisa terjerat hutang tersebut. Kerelaannya ini pula yang membuat hidupnya berakhir di sebuah tiang gantungan di Penjara Changi Singapura pada 2 Desember 2005 lalu.
Saat itu saya berkesempatan melihat ibu dan adiknya, Kim Nguyen dan Nguyen Dang Khoa yang bak pinang dibelah dua dengan Nguyen Tuong Van di Penjara Changi. Wajah Kim yang terus berduka tak pernah kulupakan hingga sekarang. Wajah seorang ibu yang harus merelakan anaknya mati di tiang gantungan untuk menolong saudara kembarnya.
Perjuangannya ketika menjadi pengungsi dari Vietnam menuju Thailand dan melahirkan kedua anak kembarnya di sana seakan sia-sia kendati mereka sudah mampu mencapai Australia sebagai negara yang menampung mereka. Perjuangan membesarkan kedua anak kembarnya sendirian pun ikut sia-sia setelah Van tak bisa meneruskan kehidupannya.
Kisah mereka pastinya memberikan inspirasi bagi banyak orang, terutama mengingat pengorbanan Nguyen Tuong Van terhadap saudara kembarnya, Nguyen Dang Khoa. Bagaimana sebuah rasa cinta yang tak mengenal batas resiko dipersembahkan Van untuk Khoa. Dan bagaimana tegarnya Van saat menghadapi tiang gantungan untuk menebus rasa cintanya.
Bagaimana kisah dan berita mengenai Nguyen Tuong Van, Nguyen Dang Khoa dan Kim Nguyen ibunya. Berikut kisahnya dimuat di
Tribun Batam di bulan Desember 2005. (ruri)

Kim Nguyen: Biarkan Saya Memeluknya

Singapura, Tribun - Ibunda Nguyen Tuong Van, narapidana kasus penyelundupan narkoba yang terancam hukuman mati, meminta Pemerintah Singapura untuk mengizinkan dirinya memeluk anaknya untuk terakhir kalinya sebelum ia dihukum gantung pada 2 Desember mendatang.
Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, mendukung permintaan Kim Nguyen, dan meminta Pemerintah Singapura untuk melonggarkan peraturan penjara hingga Kim bisa memeluk anaknya sebelum Nguyen digantung Jumat (2/12) mendatang.
Kim, yang saat ini berada di Singapura, hanya diizinkan untuk mengunjungi anaknya selama satu jam setiap harinya, namun selama tiga hari terakhir, ia diizinkan untuk mengunjunginya dari jam 09.00 sampai 17.00 setiap harinya.
Namun, ia hanya bisa menemui anaknya melalui kaca tebal karena peraturan di penjara Changi melarang adanya kontak fisik antara terdakwa hukuman mati dan keluarga mereka.
Perwakilan Komisi Tinggi Australia untuk Singapura telah meminta pemerintah untuk mengizinkan kontak fisik antara ibu dan anak itu.
“Pemerintah Singapura sudah menjawab permintaan kami, dan mengatakan meski itu sedikit melanggar peraturan, tapi mereka akan segera memberikan keputusannya,” ujar seorang juru bicara Downer yang tak disebutkan namanya, seperti dikutip dari heraldsun, Senin (28/11).
“Jika eksekusi itu memang benar-benar dilaksanakan, Downer meminta pemerintah Singapura mengizinkan Kim untuk memeluk anaknya untuk terakhir kalinya,” lanjutnya.
Perdana Menteri (PM) Australia, John Howard, sebelumnya telah memperingatkan Singapura yang akan menghadapi sentimen publik Australia apabila mereka benar-benar melaksanakan hukuman gantung tersebut.
Tapi, semua harapan Nguyen yang sudah diajukan ke Mahkamah Internasional hilang setelah PM Singapura, Lee Hsien Loong, mengkonfirmasikan pemerintahnya tak akan mengakui legalitas pengadilan.
Lee menolak permintaan Howard untuk membatalkan hukuman Nguyen, meski ia sudah memintanya secara langsung.
“Saya mengatakan padanya mengenai pengaruh hukuman eksekusi tersebut di Australia, saya mengatakan padanya sentimen rakyat Australia juga akan semakin meninggi apabila eksekusi diteruskan,” jelasnya.
Keduanya berbicara secara informal di Malta, tempat pertemuan negara-negara commonwealth. Pembicaraan itu merupakan pendekatan kelima yang dilakukan Howard untuk memohon pembatalan hukuman bagi Nguyen. Howard mengaku sedih saat mendengar Nguyen tak dapat diselamatkan.
“Saya terus terang sangat terharu mendengar kesedihan ibu Nguyen dan saya sangat bersimpati padanya karena harus mengalami kesedihan yang mendalam seperti itu,” jelas Howard.
Ibunda Shanmugam Murugesu, orang Australia yang juga akan menerima hukuman mati di Singapura, juga meminta pemerintah untuk mengizinkan dirinya memeluk anaknya untuk terakhir kali sebelum ia digantung di sana, namun permintaannya sudah ditolak.
“Rasa sakit dirasakan ketka seorang ibu kehilangan anaknya, siapapun yang bukan menjadi ibu tak akan pernah mengerti,” jelas Letchumi Murugesu.
Kim akan menemui Nguyen bersama kembaran Nguyen, Khoa, untuk terakhir kalinya pada Kamis (1/12) mendatang dan Nguyen dijadwalkan akan segera dieksekusi pada Jumat (2/12) dini hari.(rur)

Next Page »

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^