Siksaan Waktu

October 19, 2007 on 2:30 am | In kisahku | No Comments

Dinginnya hembusan angin malam ini
Sedingin hatiku yang terbekap rindu di hati
Sebuah rindu yang tak kunjung bertepi
Kapankah akan berhenti menanti?

Siksaan waktu jadi ujian
Saat kerinduan jadi dambaan
Siksaan waktu tak kunjung berlalu
Mendera hati dan kalbuku

Masihkah asa itu ada di sini?
Masihkah harapan berpendar di hati?
Siksaan waktu terus menemaniku
Akankah cepat berlalu?

D

Belajar Menulis Lembaran Baru

October 10, 2007 on 7:35 am | In Inspiring Stories | 2 Comments

SEORANG teman mengatakan padaku hari ini bagaimana ia ingin membuka sebuah lembaran baru dalam kehidupannya dan melupakan masa lalu. Sebuah buku baru hendak ditulis dalam jejak kehidupannya. Saat ia mengatakan itu, aku langsung teringat pada Pak Sitepu. Dan tulisan itu begitu saja mengalir…

NAMANYA Pak Sitepu. Aku sendiri tak tahu siapa nama depannya. Ia hanya dipanggil dengan nama keluarga yang lazim dimiliki orang Batak. Selama aku bekerja di Tribun Batam, aku sama sekali tak mengenal sosok tangguh ini.
Momen perkenalan itu terjadi ketika aku ditugaskan mencari agen koran Tribun yang beda dari yang lain, saat Tribun memasuki usia dua tahun. Setelah bekerjasama dengan bagian sirkulasi, akhirnya aku bertemu dengan Pak Sitepu.
Terus terang, aku agak kaget ketika melihatnya untuk pertama kali. Di tangan kirinya bersandar sebuah kruk saat ia duduk di sebuah kursi. Kakinya tinggal satu alias buntung. Namun bagaimana ia bisa menjadi seorang agen koran yang sukses?
Obrolan kami pun mengalir. Pak Sitepu menceritakan kisah hidupnya. Ia pernah kuliah di sebuah sekolah theologi di daerah Salatiga. Ia berhasil menempuh pendidikan di sana berkat jasa seorang warga negara asing yang memberikan beasiswa padanya. Sayang, orang itu keburu meninggal, sehingga kuliahnya pun tak bisa dilanjutkan.
Lalu bagaimana ia bisa kehilangan kakinya? Matanya menerawang. Tak terlihat lagi sebuah duka di sana. “Karena saya nggak bisa lanjutin kuliah, saya jadi sopir truk. Suatu hari, saya terpaksa menggantikan shift teman saya, meski kondisi saya sedang tak fit. Akhirnya benar, saya harus mengalami kecelakaan malam itu dan membuat kaki saya harus diamputasi,” kenangnya.
Sedih memang. Pak Sitepu pun pasti merasakan hal yang sama. Saat mengetahui kakinya harus diamputasi, ia menjerit histeris. Protes kepada Tuhan betapa tidak adilnya Dia karena sudah membuat Pak Sitepu kehilangan kakinya.
Untungnya Pak Sitepu tak mau lama-lama berkubang dalam kedukaan. Ia bangkit dan menuju ke Batam karena ada saudaranya yang mau menolongnya. Menuju sebuah lembaran baru…
Momen-momen awal di Batam kembali membuatnya kesulitan. Ia harus melawan kota metropolis ini untuk bertahan hidup. Semua jenis pekerjaan dilakoninya, meski dengan kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan.
Mulai dari tukang sapu jalanan, pedagang asongan hingga loper koran sudah digelutinya. Dari semua profesinya itu, ia memilih menjadi loper koran karena menurutnya lebih cepat mendatangkan keuntungan baginya.
Hujan deras, terik panas matahari tak pernah membuatnya menyerah. Dengan bantuan kruk-nya, ia terus berjuang menjajakan korannya. Tuhan semakin membukakan pintu rezeki bagi Pak Sitepu, ketika Tribun Batam terbit tahun 2004 lalu. Berbekal pengalaman menjadi loper, ia mencoba-coba melamar menjadi agen Tribun dan alhasil, diterima.
Ia pun mulai mengkoordinir para loper di daerah Sungai Panas, Batam. Setiap harinya, ia bisa membeli hingga 500 eksemplar yang dibagi-bagikannya bagi pelanggan bulanan maupun eceran.
Sebelum fajar menyingsing, Pak Sitepu sudah dipastikan berada di gubuk kecil yang sengaja dibangunnya di perempatan Sungai Panas. Dalam gubuk yang tingginya tak sampai satu meter itu disimpan koran-koran yang sudah diperolehnya dari penerbit.
“Sekarang, setiap bulannya saya mampu menggaji loper koran saya lebih dari gaji upah minimum regional (UMR) Kota Batam. Bahkan kalau ada rezeki lebih, saya sering memberikan bonus untuk mereka,” paparnya.
Sebuah manajemen sederhana bersifat kekeluargaan pun diterapkan untuk mengatur tukang loper korannya. Jika ada satu tukang loper korannya tak datang, ia tak lantas memotong honor mereka. “Saya juga pernah di posisi mereka, jadi kalau mereka tak datang, saya yang menggantikannya,” papar pria berambut putih itu. Kini, dengan menjadi agen Tribun, ia mampu menghidupi dua anaknya yang kini sudah di bangku SMA. “Semoga saya masih kuat dan mampu membiayai mereka hingga lulus kuliah nanti,” harapnya.
Dari obrolan ini, saya pun jadi akrab dengan Pak Sitepu. Setiap kali saya melewati perempatan Sungai Panas setelah liputan, tak lupa sekedar sapaan kecil saya ucapkan untuknya. Pak Sitepu pun tak akan segan menoleh dari gubuk kecilnya dan melambaikan tangan.
Suatu hari hujan deras menerpa Batam. Saya benar-benar kebingungan karena tak membawa jas hujan, apalagi saya sedang berpakaian rapi karena meliput sebuah tugas penting. Bayangan Pak Sitepu pun melintas karena saya kebetulan sedang berada di Perempatan Sungai Panas.
Saya pun berlari menghampirinya. “Ayo masuk mbak, hujan deras sekali,” pintanya menyuruhku masuk ke gubuk kecilnya. Langsung aku masuk ke sana. Sebuah obrolan lagi tersambung antara aku dan Pak Sitepu. Tak terasa, 30 menit sudah berlalu, aku sudah gelisah melihat jam tangan. Waktu liputan sudah tiba, namun hujan masih agak deras di luar.
Pak Sitepu mengetahui kegelisahanku. Dia langsung mengambil tas ranselku dan memasukkannya ke plastik. Hal yang sama dilakukannya pada sepatuku. “Udah mbak, dengan dibungkus plastik begini, barang-barang mbak aman. Tapi mbak terpaksa harus hujan-hujan sebentar. Toh Batam Centre tak jauh dari sini kan?” katanya. Aku bengong melihatnya. Plastik-plastik itu pasti masih dibutuhkannya untuk menutup koran supaya tak basah karena hujan. Beribu ucapan terima kasih kusampaikan. Ia sungguh membantuku melanjutkan tugas liputanku. Sederhana memang, tapi itu sungguh berarti buatku. Pasalnya, dengan semua bantuannya, tugasku terselesaikan dan kamera serta ponselku aman dari terjangan hujan.
Terimakasih Pak Sitepu. Namamu takkan hilang dari ingatanku. Perjuanganmulah yang harus kuteladani. Tak pernah menyerah dalam menghadapi segala sesuatu dan tetap tegar menulis sebuah lembaran hidup baru meski hanya dengan satu kaki. Terimakasih Pak…(ruri)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^