Arti Sebuah Ketulusan
December 20, 2007 on 8:22 am | In kisahku | No CommentsKETULUSAN mungkin sudah jarang ditemukan di tengah dunia yang penuh keegosian saat ini. Ketika sebuah ketulusan tak lagi dihargai oleh manusia-manusia di dunia yang lebih memilih untuk menguntungkan diri mereka sendiri dan tanpa mempedulikan keberadaan orang lain.
Namun semua itu tak kutemukan dalam diri Lao Sh-ku (guru, Bahasa Mandarin, red). Sebuah nilai ketulusan masih ada dalam dirinya yang sudah mulai digerogoti usia. Semua berawal ketika aku meminta dirinya untuk memberiku les Mandarin sekitar tiga bulan lalu. Ia langsung mengiyakan, bahkan memberiku les cuma-cuma alias gratis kalau aku bisa menyelesaikan paket 3 bulan dengan 24 kali pertemuan tanpa putus.
Aku langsung mengiyakan tantangan itu. Ketika aku bertanya pada Lao Sh mengapa dia memberikanku les gratisan, dia hanya mengungkapkan sebuah alasan sederhana. Menurutnya, semangat anak pribumi untuk belajar Mandarin harusnya dihargai dan sebagai seorang pensiunan, ia hanya ingin memiliki teman ngobrol selain ingin memiliki murid seorang jurnalis seperti aku.
Dalam hati aku hanya tersenyum. Sungguh, sebuah ketulusan yang berasal dari orang Tionghoa yang selama ini terpinggirkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pribumi. Aku sebenarnya tak pernah suka dengan penggolongan ras dan suku seperti itu. Kenapa rezim Soeharto dengan teganya merusak tatanan kehidupan kaum Tionghoa sehingga mereka terpinggirkan? Sungguh sebuah pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya hingga saat ini.
Ketulusan Lao Sh pun kubayar dengan belajar sungguh-sungguh di tengah kesibukanku yang padat, meski yang lebih sering terjadi aku kesulitan menghapal kosakata Mandarin, namun Lao Sh tetap sabar menghadapiku. Tak jarang, aku harus buru-buru berangkat les, meski harus melakukan liputan kilat sebelumnya. Rumah Lao Sh yang berada di kawasan banjir pun tak pernah menyurutkan niatku untuk belajar Mandarin.
Dan benar, aku berhasil menyelesaikan 24 pertemuan itu. Lao Sh pun menepati janjinya. Mengembalikan seluruh uang yang sebelumnya kubayar setiap bulan. Namun, baik aku dan temanku langsung menggelengkan kepala. Kami ingin uang itu sebagai bayaran tenaga Lao Sh yang sudah menularkan ilmunya pada kami.
Tapi Lao Sh terus mendesak. Akhirnya setelah melalui proses tawar-menawar, dua amplop itu dibagi rata. Satu untuk Lao Sh, dan satu untuk kami berdua. Sungguh, sebuah ketulusan yang luar biasa, dari seorang etnis Tionghoa yang dulunya terpinggirkan.
Selain bisa belajar Bahasa Mandarin, aku juga bisa belajar sebuah nilai ketulusan dari diri Lao Sh. Sebuah ketulusan yang tak pernah memandang suku, agama, ras dan golongan. Terutama ketulusan untuk berbagi….Xie Xie Lao Sh. Wo pu yau wang ci Lao Sh…(*)
Saat Latah Dilatahkan…
December 13, 2007 on 8:31 am | In kisahku | 1 CommentPENYAKIT ini punya dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, latah dianggap sebagai penyakit dan di sisi lain sebagai alat pengantar untuk bisa lebih bergaul, terutama di kalangan anak muda.
Di Indonesia, gangguan latah berkembang pada suku-suku di Pulau Jawa, Sumatera, dan pedalaman Kalimantan. Sementara itu, di wilayah Asia lainnya, penyakit latah ditemukan antara lain di tengah masyarakat suku Ainu di Jepang dan masyarakat gurun pasir di Gobi. Di Eropa, latah juga ada pada suatu suku di Prancis.
Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Teori kuno menyatakan, penderita latah biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah, dan berasal kelas ekonomi bawah. Namun, teori itu tak sepenuhnya tepat. Buktinya, kini banyak remaja yang mengidap latah. Penderita latah pria pun ada meski jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan perempuan.
Nah ini dia. Penyakit yang di zaman dulu mungkin dihindari, kini malah dicari-cari. Latah menjadi penyakit yang dilatahkan. Banyak orang memilih untuk (pura-pura) latah, terutama kaum remaja, supaya mereka bisa dianggap lebih gaul. Tak jarang, latah ini juga menjadi alat supaya remaja itu bisa masuk ke komunitas tertentu di kalangan remaja seusianya.
Lalu mengapa latah harus dilatahkan? Tak bisakah remaja berlaku secara sewajarnya saja supaya lebih bisa dianggap gaul? Tak bisakah mereka tak perlu menggunakan latah supaya bisa diterima teman-temannya? Entahlah. Mungkin, akibat tingkat kepercayaan diri yang rendah, mereka memilih “jalan pintas” ini supaya bisa diterima publik.
Sebenarnya apa sih penyebab latah? Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebab timbulnya gangguan ini. Pertama, teori pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang, tanpa merasa salah. Gejala ini merupakan se-macam gangguan tingkah laku. Lebih ke arah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu. Kedua, teori kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu, tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah, selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian, tokoh otoriter tak harus berasal dari lingkungan keluarga.Ketiga, teori pengondisian. Inilah yang sering disebut latah gara-gara ketularan.
Nah inilah yang saya alami, ketika saya berada di sebuah toko kamera di daerah Panbil, Kamis (13/12) lalu. Dari lima karyawan yang bekerja di sana, tiga di antaranya ternyata mengidap penyakit latah. Sampai saya bertanya apakah syarat latah itu dipakai untuk penerimaan pegawai di toko kamera itu? Sambil tersenyum, sang pemilik hanya menjawab kalau mereka sudah ketularan. Dari satu orang, menjadi dua orang dan menjadi tiga orang. Mungkin lama-kelamaan, semua pegawai toko itu menjadi latah.
Dan kebetulan, saya mungkin merupakan musuh nomor satu bagi orang latah. Bisa dibilang saya jahat karena paling suka mengganggu orang latah. Padahal, konon orang latah tak akan pernah sembuh jika ia terus dilatahi, tapi apa boleh buat.
Begitupun yang saya lakukan di toko kamera itu. Saya dan teman malah sibuk melatahi para pelayan. Ada yang sibuk memegangi lehernya karena mengaku tak bisa berenang pas saya teriak, banjir, banjir! Ada juga yang menggeleng-gelengkan kepalanya bak tripping ketika kami menggerakkan tangan bak tripping. Yang paling parah, satu karyawan membuang uang yang saya bayar ketika teman meneriakkan kata, buang! Beruntung sang pemilik tak marah melihat tingkah laku kami yang mengganggu anak buahnya. Tapi apa jadinya ya, kalau kami menyuruh mereka menendang ketika mereka berdiri dekat etalase. Pasti etalase itu dijamin hancur.
Meski menjadi orang jahil nomor satu yang suka melatahi orang, saya bisa sedikit berbagi tips supaya para penderita latah (yang sejati) bisa sembuh. Dan supaya orang-orang seperti saya ini tak seakan menemukan objek hiburan dengan mengganggu para penderita latah.Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, ia harus bisa menemukan ketenangan hidup. Misalnya, keluar dari rumah kalau orang tuanya kerap melakukan tekanan atau berganti bidang pekerjaan jika pekerjaannya itu membuatnya stres.
Untuk menyembuhkan si latah, lingkungan memang mesti berempati (nah ini dia!). Ada penderita latah yang sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya, penderita dianjurkan melakukan latihan relaksasi, meditasi, dan konsentrasi secara rutin. Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan, sering-seringlah melakukan aktivitas menyenangkan yang tidak membuat stres. Jadi, penyakit latah tak akan lagi dilatahkan…(*)
Mudik Pertamaku…
December 6, 2007 on 10:44 am | In kisahku | No CommentsMUDIK. Kata ini sepertinya merupakan sebuah kata sakti bagi seluruh penduduk Indonesia. Betapa tidak, kata ini mampu menggerakkan ratusan juta umat manusia di Indonesia untuk mengunjungi kampung halaman mereka saat hari raya tiba.
Hitung saja berapa orang yang bergerak dari rumah mereka menuju ke kampung halaman ketika Lebaran tiba. Jangan lupa hitung juga berapa putaran uang yang terjadi saat manusia-manusia itu bergerak. Puluhan juta atau puluhan miliar rupiah barangkali. Entahlah…
Yang pasti, kehangatan keluargalah yang mereka rindukan. Di tengah himpitan ekonomi dan perjuangan hidup yang mereka rasakan selama setahun, apa salah jika mereka merindukan kehangatan keluarga yang hanya dicicipi setahun sekali itu?
Tapi yang menjadi sebuah tanda tanya besar, tak bisakah momen pulang kampung itu tidak dilakukan secara bersama-sama? Apakah memang harus di Hari Idul Fitri? Atau Hari Natal? Tak bisakah di bulan-bulan lain yang ada dalam kalender setahun itu? Masih banyak pilihan lain kan?
Tapi, kehangatan keluarga plus keluarga besar mungkin menjadi incaran para pemudik ini setiap kali melakukan “aktivitas” tahunannya. Bisa jadi, ajang mudik tersebut digunakan untuk ajang mencari jodoh di kalangan keluarga besar, bisa juga jadi ajang pamer hasil kerja yang sudah dilakoni selama setahun.
Ya sudahlah, yang pasti mudik juga yang akan kulakoni di Hari Natal ini. Mudik Natal pertamaku setelah hampir empat tahun merantau di Batam. Gimana ya rasanya? Ketemu keluarga lagi, ketemu temen-temen lama dan yang pasti aku dapat “bonus” dari Tuhan di Natal tahun ini. “Bonus”-nya bahkan berlipat-lipat. This christmas will be the most wonderful christmas I’ve ever had in my life. Thanks Lord Jesus…
Ruri
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^