Batuk 100 Hari, Duh!

January 31, 2008 on 8:32 am | In ceritaku | No Comments

SETAHUN yang lalu, saya sukses terkena batuk 100 hari. Sudah usaha ke dokter empat kali gagal, ke sinshe dua kali gagal, minum obat tradisional Cina gagal, obat tradisional Jawa juga gagal. Sampai akhirnya batuk itu sembuh sendiri setelah 100 hari berlalu. Tapi bisa dong dibayangkan betapa tersiksanya batuk selama 100 hari?

Nah, kali ini penyakit yang sama kembali datang. Sudah sejak Desember 2007, saya terkena batuk yang tak kunjung sembuh. Sebenarnya sih sudah pasrah karena mungkin saya terkena batuk 100 hari lagi. 100 + 100 = 200. Jadi saya kena batuk 200 hari dong?? Duh! Pasrah deh.

Kali ini malah ditambah pemeriksaan rontgen. Hasilnya? Tak ada kelainan. Dokter saya pun bingung karena tak ada kelainan apapun di paru-paru saya. Saya murni batuk karena alergi. Alergi asap rokok, asap kendaraan dan dingin. Lengkap kan? Susahnya, saya suka malas pakai masker penutup wajah setiap kali naik motor dan lingkungan kerja saya pun sebagian besar merupakan perokok aktif. Ya sudah, nggak akan sembuh-sembuh kan?

Sudah cari-cari literatur di internet soal batuk 100 hari, tetep nggak sembuh juga. Akhirnya, cuma bisa pasrah dan malah menemukan artikel soal seni batuk yang benar!!! Paling enggak “seni” ini bisa membantuku “menikmati” batuk yang tak kunjung sembuh ini. Artikel itu ada di http://www.indomedia.com/intisari/2001/Juli/briket_admed.htm.

Mengutip lagunya istri muda Bambang Trihatmodjo, Mayangsari, “Yang bisa kulakukan, hanyalah menunggu…” Dan itulah yang saya jalani sekarang, menunggu sampai 100 hari berlalu, sampai batuk ini bisa benar-benar sembuh. Duh!(*)

Sebuah Pelajaran Sederhana

January 14, 2008 on 6:23 am | In kisahku | 1 Comment

JARUM jam dinding di kantorku baru menunjukkan pukul 17.54 WIB di hari Minggu (13/1) lalu ketika ponselku berdering. Dari Pak Suwarno, narasumber setiaku soal aktivitas orang Tionghoa di Batam. Aku sama sekali tak mengira bakal dapat kejutan spesial sore itu. Awalnya aku mengira itu dari Pak Suwarno, karena namanya tertera di ponselku. Ternyata suaranya lain, meski sama-sama medhok.

“Halo Mbak Ruri, ini Andrie Wongso, aku meh pamitan balik ndek Jakarta,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang kental. Sejenak aku terpana dan tak mampu menjawabnya. Si penelepon di ujung sana yang merupakan motivator nasional itu sampai berulangkali berkata,”Halo, halo, Mbak Ruri, halo?” Dia bingung karena aku tak kunjung menjawabnya.

“Eh iya pak, maturnuwun. Selamat jalan pak, ati-ati di jalan,” Itu aja yang keluar dari mulutku.

“Saya juga mau bilang terimakasih Mbak Ruri sudah banyak membantu saya selama di Batam,” katanya.

Iya pak, sami-sami. Maturnuwun juga atas semua motivasinya,” balasku.

“Yo wis nek ngono, aku pamitan sik yo. Dah!”

Inggih pak, maturnuwun.”

Dari sebuah percakapan sederhana itu aku membuktikan sendiri betapa seorang motivator nasional sekaliber Andrie Wongso ternyata tak hanya jago berbicara dan memotivasi orang, ia juga mau melakukan apa yang diucapkannya sendiri di depan ribuan orang. Menghargai orang lain.

Andrie Wongso datang ke Batam dalam acara Seminar One is One’s Own Lord yang diadakan di Planet Holiday Batam, Minggu (13/1). Ia datang atas undangan UKM Agama Buddha Universitas Internasional Batam.

Ia sempat mampir ke kantorku, yang menjadi satu di antara sponsor acara seminar tersebut. Dalam kunjungan itu, kami sempat diskusi banyak hal. “Punya tujuan, fokus, bersikap profesional, antusias, konsisten, punya skill, fleksibel, aksi dan selalu menikmati semua proses dari tujuan adalah kunci menuju kesuksesan,” katanya.

Semua harus dimulai dari diri kita sendiri. Anda harus tahu apa peranan Anda sekarang, memiliki kekuatan pikiran dan potensi diri. Mampu menilai orang lain, fokus pada target, siap membayar semua harga keletihan dan kegagalan selama proses menuju sukses dan tetap sadar serta tetap belajar.

“Terus hadapi tantangan maka sukses akan ada di tangan Anda. Sukses bukan milik orang-orang tertentu, tetapi milik saya dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan dan memperjuangkannya dengan sepenuh hati,” tambahnya.

Aku juga sempat mengatakan padanya jika dulu dia sempat masuk ke kelasku di mata kuliah Service Program Design di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma, saat aku masih menuntut ilmu di sana. “Lha, ternyata sampeyan mahasiswane Bu Lanny to? Aku yo kenal apiklah,” paparnya.

Aku pun menuliskan diskusi kami di malam minggu itu bersama Pemredku di Harian Tribun Batam edisi Minggu (14/1). Dan ketika aku bertemu dengan Andrie Wongso di siang harinya, ia sempat menggodaku. “Endi beritane mau bengi? Wis ditulis durung?”

Waduh, tentu saja aku gelagapan, karena kupastikan berita itu sudah dimuat di halaman satu. Tapi ternyata setelah kutanyakan langsung pada Suwarno, dia menjawab.

“Walah, dia cuma ngerjain kamu Rur, tadi pagi dia sudah baca beritanya dan bilang bagus kok,” kata Suwarno. Walah, sempat-sempatnya Andrie Wongso ngerjain aku sebelum seminar. Apa mungkin dia grogi ya? Entahlah.

Tapi nggak mungkin juga ya kali? hehehehe. Yang pasti, aku dapat sebuah pelajaran sederhana dari seorang Andrie Wongso, selain motivasinya tentu. Jangan pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada siapapun juga, tak peduli siapapun itu setiap kali Anda sudah dibantu orang lain dan menghargai mereka. Jadi, masih mengutip kata mutiara Andrie Wongso, tak ada kesuksesan sejati yang bisa diraih tanpa adanya keterlibatan orang lain. Betul?(*)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^