Kim Nguyen: Biarkan Saya Memeluknya

March 26, 2008 on 1:02 am | In ceritaku | No Comments

NGUYEN Tuong Van. Nama itu tak pernah lepas dari pikiranku hingga saat ini. Nama seorang anak muda yang harus kehilangan nyawanya karena rasa tanggung jawab menolong saudara kembarnya tanpa tahu akan resikonya. Begitu pula dengan raut wajah duka yang ditunjukkan sang ibu, Kim Nguyen, ketika keluar dari Penjara Changi Singapura sehari sebelum Nguyen dieksekusi pada akhir 2005 lalu.

Saat itu saya berkesempatan melihat ibu dan adiknya, Kim Nguyen dan Nguyen Dang Khoa yang bak pinang dibelah dua dengan Nguyen Tuong Van di Penjara Changi. Sampai sekarang, sulit rasanya melupakan wajah Kim Nguyen yang terus menutupi wajahnya dengan kain menangisi kepergian anaknya. Wajah seorang ibu yang harus merelakan anaknya mati di tiang gantungan untuk menolong saudara kembarnya.

Perjuangannya ketika menjadi pengungsi dari Vietnam menuju Thailand dan melahirkan kedua anak kembarnya di sana seakan sia-sia kendati mereka sudah mampu mencapai Australia sebagai negara ketiga yang menampung mereka. Perjuangan membesarkan kedua anak kembarnya sendirian pun ikut sia-sia setelah Van tak bisa lagi meneruskan kehidupannya.

Semua penderitaan keluarga itu bermula ketika Nguyen Tuong Van nekad membawa 400 gram heroin dari Vietnam ke Australia melalui Singapura hanya untuk menolong saudara kembarnya, Nguyen Dang Khoa yang terjerat hutang. Padahal Tuong Van tak pernah tahu mengapa saudaranya bisa terjerat hutang tersebut. Kenekadan berdasar tanggungjawab terhadap adiknya ini pula yang membuat hidupnya berakhir di sebuah tiang gantungan, meski ia tak pernah menggunakan obat-obatan terlarang itu sepanjang hidupnya.

Kisah mereka pastinya memberikan inspirasi bagi banyak orang, terutama mengingat pengorbanan Nguyen Tuong Van terhadap saudara kembarnya, Nguyen Dang Khoa. Bagaimana sebuah rasa cinta yang tak mengenal batas resiko dipersembahkan Van untuk Khoa. Dan bagaimana tegarnya Van saat menghadapi tiang gantungan untuk menebus rasa cintanya.

Bagaimana kisah dan berita mengenai Nguyen Tuong Van, Nguyen Dang Khoa dan Kim Nguyen. Berikut kisahnya dimuat di Tribun Batam di bulan Desember 2005.

Penebusan Cinta Nguyen Tuong Van di Penjara Changi, Singapura

KASIH ibu memang sepanjang jalan. Seribu jalan akan ditempuhnya untuk menyelamatkan buah hatinya dengan segala daya upayanya. Begitu pula yang dilakoni Kim Nguyen, ibunda Nguyen Tuong Van, narapidana kasus penyelundupan heroin yang terancam hukuman mati di Singapura. Kim meminta Pemerintah Singapura mengizinkan dirinya memeluk anaknya untuk terakhir kalinya sebelum ia dihukum gantung pada 2 Desember 2005 lalu.

Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, mendukung permintaan Kim Nguyen, dan meminta Pemerintah Singapura untuk melonggarkan peraturan penjara hingga Kim bisa memeluk anaknya sebelum Nguyen digantung.

Kim, yang saat ini berada di Singapura, hanya diizinkan untuk mengunjungi anaknya selama satu jam setiap harinya, namun selama tiga hari terakhir, ia diizinkan untuk mengunjunginya dari jam 09.00 sampai 17.00 setiap harinya. Namun, ia hanya bisa menemui anaknya melalui kaca tebal karena peraturan di Penjara Changi melarang adanya kontak fisik antara terdakwa hukuman mati dan keluarga mereka.

Biarkan saya memeluknya. Saya ingin memeluknya untuk yang terakhir kali, saya mohon,” ujarnya singkat usai meninggalkan penjara Changi.

Perwakilan Komisi Pengadilan Tinggi Australia untuk Singapura telah meminta pemerintah untuk mengizinkan kontak fisik antara ibu dan anak itu. Sayang, permintaan itu ditolak Pemerintah Singapura, sehingga Tuong Van harus mati di tiang gantungan.

Siapa sebenarnya Nguyen bersaudara ini? Mereka dilahirkan 17 Agustus 1980 dalam sebuah kamp penampungan di Songkhla, Thailand. Kim harus melahirkan keduanya melalui operasi caesar, bahkan saat melahirkan, Kim tak tahu apakah Nguyen atau Khoa yang lahir lebih dulu. “Tapi Van lebih berat dibandingkan adiknya, sehingga saya memutuskan Van sebagai anak yang lebih tua karena badannya lebih berat,” kata Kim.

Dan statusnya sebagai anak sulung itulah yang membuat Van terbeban untuk merawat ibu dan adiknya, meski mereka lahir pada hari yang sama. Dan selama 25 tahun masa hidupnya di dunia, hidup Nguyen hanyalah dipenuhi tanggung jawab dan beban sebagai anak sulung.

Sama seperti warga Vietnam lainnya, kehidupan Kim Nguyen hancur ketika tentara Vietnam Utara masuk ke Saigon setelah AS melarikan diri pada tahun 1975. Ayah dan saudara Kim pun masuk ke penjara karena bekerja untuk sebuah perusahaan Prancis dan AS. Akhirnya, semua keadaan itu memaksa Kim melarikan diri dengan kedua anak dalam rahimnya setelah ia bercerai dengan suaminya tahun 1980. Kim menantang hidup dan mengarungi samudra dengan sebuah kapal nelayan sebelum akhirnya sampai ke Thailand. Dan disanalah ia memulai hidup baru.

Saat kedua anaknya masih berusia beberapa bulan, Kim memutuskan pindah ke Australia. Kim memilih Australia karena ia tahu negara itu dari peta dan di sana ia juga berharap anak-anaknya bisa tumbuh dan memperoleh pekerjaan yang layak. “Sampai perjalanannya ke Singapura kemarin untuk menjenguk anaknya, saya tak pernah meninggalkan Australia sedetikpun, karena di sana juga menjadi tempat untuk menghidupi kedua anak saya,” paparnya.

Nguyen Tuong Van dikenal keluarga dan sahabatnya sebagai remaja suburban biasa yang suka main tenis. Baik Nguyen maupun Khoa tumbuh sebagai remaja yang tak pernah mengenal sosok ayah, meski ada kabar mereka berdua sempat bertemu dengan sang ayah yang kini tinggal di AS, empat tahun lalu.

Seorang perempuan bernama Stacy, dari Melbourne, mengaku sudah mengenal Nguyen Tuong Van selama beberapa tahun. “Ia orang baik, dan selalu sabar pada anak laki-laki saya yang baru berusia empat tahun,” jelasnya. “Van selalu mengajak anak saya bermain ketika saya dan Tyrone, anak saya, bermain ke rumahnya. Van juga akan mengatakan pada semua orang jika Tyrone adalah tamu penting baginya dan tak akan membiarkan barang-barang berbahaya seperti rokok atau asbak di sekitar Tyrone,” lanjutnya.

Semuanya indah untuk Kim dan kedua anaknya, si bungsu, Khoa, terjerat heroin sampai memiliki hutang sebesar 25 ribu dolar Australia. Dan kehidupan yang indah itu harus berakhir pada awal November 2002, saat seorang teman Nguyen, yang hanya dikenal dengan nama Tan menawarkan sebuah solusi untuk membayar hutang Khoa. Karena sudah terbiasa merawat dan menjaga adiknya, tanpa berpikir panjang, Nguyen pun mengiyakan permintaan Tan. Tapi ia tak pernah berpikir kalau rencana Tan akan melibatkannya untuk membawa 400 gram heroin melalui sebuah negara yang paling tegas menerapkan UU narkoba, Singapura.

Van memang sudah menebus rasa cintanya pada sang adik yang membuatnya harus digantung. Tapi pengorbanannya tak cukup sampai di situ. Ternyata sang adik, Nguyen Dang Khoa terjerat kasus lain yang membuatnya harus dipenjara karena telah melakukan penganiayaan. Entah apa yang dirasakan Kim Nguyen saat ini. Anaknya yang satu sudah meninggal di tiang gantungan, sekarang giliran anaknya yang lain yang akan menghadapi penjara karena kasus penganiayaan yang dilakukannya.

Cita-citanya masuk ke Australia supaya kedua anaknya bisa hidup dengan layak dan juga memperoleh pekerjaan yang layak, sepertinya sudah kandas. Keduanya berakhir di penjara, dan yang lebih parah, satu anaknya bahkan sudah mati di sana.

Nguyen Dang Khoa (25) memang mendapatkan penundaan hukuman penjara selama tiga tahun karena situasi keluarganya yang dianggap hakim sangat traumatik, setelah saudara kembarnya dieksekusi. Khoa memang mengaku bersalah telah menganiaya Glen Kohu pada Desember 1998 lalu. Kemungkinan besar penundaan hukuman ini akan dicabut setelah Nguyen dieksekusi dan Dang Khoa segera menjalani masa hukumannya. Sampai sekarang, Kohu masih menderita tekanan psikologis dan fisik karena penganiayaan itu. Kohu pun harus menjalani operasi plastik untuk memulihkan luka-lukanya.

Nguyen juga telah meminta lagu Ave Maria, Amazing Grace dan The Lord is My Shepherd sebagai lagu pemakamannya. Ia juga meminta semua tamu yang menghadiri pemakamannya agar saling memeluk satu sama lain, sebagai tanda cinta sebagai sesama manusia. Tapi, sebaik apapun Nguyen, sebesar apapun jasanya terhadap keluarganya, hidupnya sudah berakhir di tiang gantungan untuk membayar rasa tanggung jawab dan cintanya pada sang adik. Hanya Tuhan yang tahu berapa perih hati Kim Nguyen saat ini.(hanonsariparamita)

Mencintai Cinta di Ayat-Ayat Cinta

March 26, 2008 on 1:00 am | In ceritaku | 1 Comment

KETIKA Maria Girgis hendak menutup matanya untuk selama-lamanya dalam film Ayat-Ayat Cinta, ia sempat meminta Fahri dan Aisha supaya mereka bersedia memaafkannya. Maria mengatakan, “Maafkan aku, baru sekarang aku mengerti antara rasa cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda.”

Ya. Kalimat itu menjadi sangat berarti karena banyak orang, khususnya perempuan tak bisa membedakan apa rasa cinta dan keinginan untuk memiliki. Maria yang selalu berusaha menunjukkan perasaannya terhadap Fahri yang notabene merupakan tetangganya ternyata menyadari jika perasaan itu bukanlah cinta, melainkan hanya keinginan untuk memiliki. Padahal nama Fahri sudah selalu menghiasi halaman buku hariannya yang ditulisnya setiap hari. Rasa kehilangan itu pasti muncul ketika Fahri memutuskan menikah dengan Aisha saat Maria sedang pergi ke luar kota. Rasa kehilangan setelah selama ini Maria merasa Fahri merupakan satu-satunya orang yang mengerti dirinya, yang mampu diajak berdiskusi mengenai apa saja, bahkan sampai ke masalah agama sekalipun.

Kedekatan mereka semakin terasa ketika Maria dan Fahri melakoni adegan dialog di Sungai Nil. Masalah jodoh dan takdir menjadi topik pembicaraan mereka berdua. Menurut Maria, jodoh itu sama sekali tak pernah jauh dari seseorang, tetapi jodoh ada di dalam hati. Saat itu sebenarnya Maria hendak mengungkapkan perasaannya kepada Fahri, namun sebagai wanita Timur, ia malu mengungkapkan perasaannya terlebih dulu.

Tradisi seperti inilah yang membuat wanita kadang bingung mengungkapkan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya keinginan untuk sekedar memiliki. Ketika seorang gadis tumbuh remaja, normal rasanya jika ia memiliki tipe pria yang menjadi idolanya.

Figur seperti Fahri, yang sangat soleh dan taat beragama sangat mungkin dijadikan idola bagi banyak perempuan. Dalam film besutan Hanung Bramantyo ini saja diceritakan terdapat empat perempuan yang jatuh dalam pesona Fahri. Selain Maria, ada juga Nurul, Noura dan Aisha yang akhirnya dinikahi Fahri.

Keinginan untuk mengungkapkan rasa cinta terlebih dulu terbukti tabu bagi para wanita yang dibesarkan dalam adat timur, kendati sudah ada juga yang melakukan sebaliknya. Lalu, jika tradisi ini terus ada sampai kapan wanita benar-benar mengerti dan mampu membedakan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya keinginan untuk memiliki?

Memang sampai sekarang tak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan apa itu cinta. Tapi boleh rasanya dikatakan jika satu diantara definisi cinta itu adalah kemampuan untuk menerima seseorang apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sementara keinginan untuk memiliki biasanya timbul hanya ketika seseorang mengetahui kelebihan orang lain, entah apakah ia memiliki wajah rupawan dan juga diidolakan banyak kaum lawan jenisnya.

Rasa bangga pasti akan muncul ketika ia mampu menggaet idolanya sebagai kekasih. Namun saat sang idola sudah menjadi kekasih, belum tentu ia sesuai dengan harapan. Bisa jadi, ia merupakan seorang pria yang egois, kasar atau bahkan pemarah. Mungkin tak separah itu, tapi pasti ada sebuah unsur yang membuat sang idola tak lagi indah di mata seorang wanita yang dulu sangat mengidolakannya.

Sama saja seperti diakui Rahmi, tokoh rekaan Icha Rahmanti dalam novel Cintapuccino. Mengidolakan Nimo sejak masih duduk di bangku SMA, namun ia harus mengakui juga jika Nimo ternyata tak sesempurna seperti yang dibayangkan sebelumnya ketika sang idola sudah menjadi kekasih Rahmi. Nimo dengan semua predikat klisenya, ganteng, pintar dan kaya-raya ternyata tak sama seperti yang ada dalam benak Rahmi. Disebutkan, Nimo ternyata nggak pede-an, suka minder dan tak pernah tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Kesimpulannya, Nimo tak sesempurna seperti yang dibayangkan Rahmi. Beruntung, Rahmi bisa menerima semua kekurangan Nimo kendati jalan untuk menuju ke sana sangatlah berliku. Berarti, ia bisa menggabungkan apa itu cinta dan apa itu keinginan untuk memiliki.

Tapi itu tak terjadi pada Maria, ia merasa sosok Fahri tak sesempurna seperti yang dibayangkan sebelumnya. Fahri juga manusia biasa yang memiliki segala keterbatasan sehingga Maria kehilangan sosok Fahri yang dulu sangat diidolakannya. Sampai sesaat sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya, ia hanya mampu mengucapkan maaf kepada Aisha dan Fahri setelah ia tak berhasil membedakan mana itu cinta dan mana keinginan untuk memiliki.

Jadi, ketika Maria melihat penderitaan Fahri setelah Aisha pergi ke tempat pamannya, Maria hanya mampu memeluk Aisha ketika wanita itu memutuskan pulang ke rumah. Maria merasa sudah menjadi pengganggu dalam rumah tangga penuh cinta yang dibangun Fahri dan Aisha. Sebuah cinta yang besar yang dipersembahkan Aisha ketika ia mengizinkan Fahri berpoligami guna menyelamatkan hidup Maria sehingga ia mampu bersaksi melawan Noura di pengadilan. Cinta yang bukan hanya mampu menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun juga mampu berkorban apapun demi kebahagiaan orang lain. Jadi, apa yang Anda rasakan saat ini, cinta seperti dalam Ayat-Ayat Cinta atau hanya keinginan untuk memiliki saja? Pikirkan lagi ya.(hanonsariparamita)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^