Gonzalo Higuain, Super Higuain

November 24, 2008 on 3:18 am | In modern | No Comments

8 November 2008. Tanggal itu pasti tak akan pernah dilupakan Gonzalo Higuain. Real Madrid menjamu Malaga di Santiago Bernabeu. Di pertandingan itu Higuain mencetak sejarah terbaik sepanjang kariernya, mencatat empat gol sekaligus dalam satu pertandingan. Tak pelak, julukan Super Higuain pun langsung melekat padanya.

Empat gol tersebut juga sekaligus berhasil menaklukkan Malaga karena kubu lawan mampu mencetak tiga gol dan selalu memimpin lebih dulu. Golnya di menit ke-8, 37, 71, dan 78 itu berhasil melegakan suporter Madrid. Maklum saja, saat itu Los Galacticos harus rela bermain dengan 10 pemain karena Sergio Ramos diusir wasit di menit ke-44.

Torehan empat golnya itu menambah jumlah 9 gol miliknya musim ini dan membuat dirinya masuk di daftar top skorer sementara Liga BBVA. Namun meski sudah mencetak empat gol, Higuain sendiri mengaku terkejut atas prestasinya itu.

“Aku belum pernah mencetak empat gol sekaligus dalam satu pertandingan. Aku bangga bisa mencetak begitu banyak gol di Bernabeu. Rasanya sangat menyenangkan buatku dan buat timku, karena kami berjuang begitu keras melawan Malaga,” kata dia. “Ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku. Aku sudah memimpikannya sejak aku masuk ke Madrid. Tak lupa, aku ingin mendedikasikan gol ini bagi keluargaku dan Ruud (Van Nistelrooy). Aku harap ia cepat pulih,” imbuh dia.

Golnya itu tentu saja melegakan Bernd Schuster, sebagai pelatih Los Blancos. Ia dipastikan tak akan menangisi kepergian Robinho ke Manchester City, Van Nistelrooy yang dibekap cedera, dan performa Raul Gonzalez yang tak kunjung membaik. “Meski mereka tak bermain, tapi yang terpenting buatku adalah gol dan gaya permainanku bisa membuat timku menang,” bilang Higuain.

Semua usaha kerasnya memang membuahkan hasil. Kini pemain berjuluk El Pipita sudah menjelma menjadi pemimpin sekaligus motor serangan tim. Setiap habis mencetak gol ia selalu berlari dengan penuh antusiasme dan meneriakkan kata “Vamos!” di depan penonton.

Disiplin dan determinasi yang ditanamkan Fabio Capello semasa masih menukangi Madrid dulu benar-benar tertanam di benaknya. Semangat juang dan kerjasamanya di lapangan membuat dirinya menjadi pemain penting dalam tubuh Los Galacticos.

KELAHIRAN PERANCIS

Gonzalo Gerardo Higuain dilahirkan pada 10 Desember 1987 di Brest, Finistere, Perancis. Ia adalah pesepak bola asal Perancis keturunan Argentina. Ayahnya, Jorge “El Pipa” Higuain pernah bermain bagi klub Brest, Perancis, yang kala itu berlaga di Ligue 1.

Namun, El Pipita hanya hidup selama 10 bulan di negeri mode itu dan kembali ke negara ayahnya, Argentina. Ia baru kembali ke Perancis di saat Piala Dunia 1998 digelar. Kendati tak mampu berbahasa Perancis, ia memiliki paspor Perancis, karena ayahnya merupakan warga negara Perancis hasil naturalisasi.

Sebelum memutuskan bergabung dengan Madrid, Higuain sudah berhasil menarik perhatian klub-klub besar Eropa. Klub seperti AC Milan, Lazio, Man. United, Chelsea, PSG, dan Marseille sudah mengirimkan talent scout mereka guna memantau Higuain. Manajer River Plate, Daniel Passarella bahkan menyebut Higuain memiliki masa dengan yang cerah dan ia memang ditakdirkan untuk menjadi pemain bintang.

Real Madrid akhirnya menjadi klub paling beruntung setelah River Plate menerima tawaran harga sebesar 13 juta euro atau sekitar Rp188 miliar. Sebelumnya River Plate sudah menolak harga tawaran 10 juta euro atau Rp145 miliar bagi pemain berusia 20 tahun itu dari klub yang sama. “Senang rasanya bisa memiliki kesempatan untuk bermain bagi klub sebesar Madrid. Aku bangga Madrid sudah memperhatikan sepak-terjangku selama ini,” kata dia.

Setelah resmi berbaju Madrid, sebuah tugas penting menanti. Ia harus segera memutuskan timnas mana yang akan dibelanya. Pasalnya, dua bulan sebelum masuk hijrah ke Spanyol, tepatnya pada 15 November 2006, Higuain sudah menolak panggilan timnas Perancis dan Argentina U-20.

Awalnya, banyak yang mengira kalau ia akan mengikuti jejak David Trezeguet yang juga memiliki darah Argentina tapi sukses membela tim Ayam Jantan. Manajemen Les Bleus sudah ingin memberikan kostum timnas nomor 20 yang biasa dikenakan Trezeguet. Bahkan media Perancis sudah menyebutnya sebagai The New David Trezeguet, dengan harapan kalau akan ada striker menjanjikan di timnas di masa mendatang.

Tapi mereka semua terpaksa gigit jari. Higuain lebih membela negara tanah leluhur ayahnya. Sebuah alasan sederhana diusung. Ia tak bisa berbahasa Perancis. Dan pada awal 2007, ia mengungkapkan keinginannya membela Argentina. Keinginannya baru terpenuhi pada Februari 2008 lalu ketika ia dipanggil ke timnas untuk menghadapi Guatemala dalam sebuah pertandingan persahabatan.

Higuain mencetak dua gol dalam pertandingan tersebut dan tim Tango berhasil menghempaskan lawan dengan skor telak 5-0. Sayang, FIFA tak mengakui pertandingan itu sebagai pertandingan internasional level A. Hasilnya, gol dan penampilan Higuain tak akan tercatat dalam caps internasionalnya.

Sekarang ia berharap penampilan supernya di Real Madrid bakal membuat pelatih anyar Argentina, Diego Maradona, meliriknya. “Setiap pemain pasti ingin membela tim nasionalnya. Begitu pula denganku. Dipanggil ke timnas Argentina adalah keinginan terbesarku saat ini,” kata dia.

“Dan aku berusaha keras untuk itu. Aku berharap performa bagusku akhir-akhir ini bisa banyak membantu. Tapi aku akan tetap membumi dan fokus pada tugasku membela tim,” imbuh dia sambil merendah.

Higuain tentu sadar kalau masuk ke timnas Argentina bukanlah perkara yang mudah. Banyak pemain kelas dunia bercokol di sana. Namun, ia dipastikan akan mendapat tempat di timnas apabila ia tetap menjaga performanya di Madrid. Go Super Higuain!(Ruri)

 

 

Gol-gol penting Higuain

Tanda-tanda vitalnya peran Higuain di partai-partai Madrid sudah bisa tercium sejak partai pertamanya bagi klub tersebut. Saat itu, ia berhasil memberikan assist bagi gol tunggal Ruud Van Nistelrooy di menit ke-41 ketika Madrid menang 1-0 melawan Real Zaragoza. Sejak itu, ia banyak menciptakan gol penting bagi Los Galacticos di berbagai ajang. Berikut penjelasannya.

· 12 Mei 2007, Real Madrid 4-3 Espanyol (Liga BBVA)

Madrid benar-benar bekerja keras dalam partai ini. Walter Pandiani tiga kali menceploskan gol ke gawang Iker Casillas di menit 14, 26, dan 33. Tiga kali pula Madrid membalas melalui Van Nistelrooy, Raul, dan Jose Antonio Reyes. Higuain muncul sebagai pahlawan ketika mencetak gol di menit ke-89. Gol tersebut membuat Madrid memenangkan pertandingan sekaligus menguasai gelar juara liga ke-30.

· 4 Mei 2008, Osasuna 1-2 Real Madrid (Liga BBVA)

Higuain masuk menggantikan Saviola di menit ke-67. Sampai menit ke-86, Madrid masih tertinggal 0-1 melalui gol yang dicetak Francisco Punal di menit ke-83. Kebuntuan baru pecah saat Arjen Robben mencetak gol di menit ke-87. Dan Higuain kembali jadi pahlawan saat mencetak gol di menit ke-89.

· 7 Mei 2008, Real Madrid 4-1 Barcelona (Liga BBVA)

Meski menjadi pahlawan kemenangan di pertandingan sebelumnya, namun Higuain tetap dipasang sebagai pemain cadangan ketika Madrid menjamu musuh bebuyutan. Tapi toh ia tetap mampu menjadi pahlawan dengan menceploskan gol ke gawang lawan di menit ke-63. Padahal ia baru masuk menggantikan Robben di menit ke-61.

· 24 Agustus 2008 Real Madrid 4-2 Valencia (Piala Super Spanyol)

Golnya di menit ke-89 menambah keunggulan Madrid menjadi 4-2 melawan Valencia. Higuain menambah tiga gol Madrid yang sebelumnya dicetak oleh Van Nistelrooy, Ramos, dan De La Red.

· 18 Oktober 2008, Atletico Madrid 1-2 Real Madrid (Liga BBVA)

Kali ini ia mencetak gol di menit akhir melalui titik putih. Van Nistelrooy membuat Madrid unggul 1-0 lebih dulu dari rival sekotanya, Atletico. Kubu tuan rumah membalas melalui Simao di menit ke-90 melalui tendangan bebas. Dan Higuain bisa mengatasi semua tekanan yang diberikan padanya ketika dengan tenang mengeksekusi tendangan penalti di masa injury time babak kedua.

· 8 November 2008, Real Madrid 4-3 Malaga (Liga BBVA)

Eliseu, Nabil Baha, dan Apono masing-masing sudah membuat Malaga tiga kali unggul dari tuan rumah melalui gol mereka di menit ke-6, 18, dan 70. Beruntung Madrid memiliki sosok seperti Higuain. Ia mampu membalas ketiga pemain itu dengan empat golnya sekaligus di menit ke-8, 37, 71, dan 78.

(BOKS)

Idola baru kaum hawa

Sosok Higuain yang tampan khas Amerika Latin tampaknya menjadi perhatian tersendiri bagi kaum hawa. Usai Raul Gonzales dan Iker Casilllas menikah dan setia terhadap pasangan masing-masing, kini kaum hawa di Madrid seakan menemukan oase casanova baru dalam sosok Higuain.

Baru-baru ini, koran Marca, memasukkan Higuain sebagai pria terseksi di Spanyol dalam sebuah jajak pendapat yang digelar harian tersebut. “Dia memiliki karakter macho khas pria asal Amerika Latin. Ia akan menjadi bintang karena ia memiliki sifat simpatik yang akan membuat semua kaum hawa bertekuk lutut,” demikian tulis Marca.

Sikap simpatik itu didukung oleh karakter Higuain yang cenderung merupakan pria rumahan dan tak menyukai dunia gemerlap yang jamak dicintai pelaku sepak bola. “Aku jarang bepergian dari rumah. Aku lebih menikmati aktivitas di dalam rumah,” kata dia dalam sebuah wawancara di situs Real Madrid.

Karenanya, ia pun mengaku sebagai pecandu televisi dan film. Minimal, satu judul film dilahapnya setiap hari. Ia juga lebih menikmati berada di depan komputer dan bermain internet guna berkomunikasi dengan keluarganya yang masih tinggal di Argentina.

Kalau ia memilih pergi ke luar rumah, pantai menjadi pilihan pertamanya. “Aku hanya ingin menikmati keindahan laut. Aku tak terlalu pandai bermain surfing dan berenang, jadi hanya menikmati gelombang laut di pantai,” kata dia.(*)

(BOKS)

Dari keluarga sepak bola

Sama seperti kebanyakan pemain asal Amerika Latin. Higuain juga tumbuh di tengah keluarga sepak bola. Kultur sepak bola yang sudah begitu mengakar di kawasan Amerika Latin membuat banyak anak muda yang bermimpi bisa meretas karier di dunia sepak bola profesional.

Sama seperti Higuain. Keluarganya tak lepas dari sepak bola. Sebutan El Pipita pun diperoleh Gonzalo Higuain karena ayahnya, Jorge Higuain mendapatkan julukan El Pipa semasa masih aktif bermain. Ia lahir ketika El Pipa membela klub Stade Brest yang kala itu berlaga di Ligue 1 Perancis. Namun berbeda dengan sang ayah yang berposisi sebagai bek tengah, Higuain berposisi sebagai striker. Bahkan kakaknya, Federico Higuain juga berprofesi sebagai pemain bola dan kini membela klub Independientie.

“Argentina adalah segalanya untukku, karena di sana keluarga dan teman-temanku berasal. Keluarga dan teman adalah hal yang paling penting yang pernah kumiliki. Ketika aku bersama mereka, dunia serasa jadi milikku. Aku harap mereka selalu mendukungku, karena sepak bola adalah mimpiku,” bilang dia.(*)

 

Unbeatable team, MU terdepan

November 24, 2008 on 3:16 am | In modern | No Comments

Berlaga di ajang sekelas Liga Champions memang bukan perkara mudah. Banyak jalan terjal harus dilalui karena tim-tim besar bercokol di sana. Dan tanpa modal pengalaman, pemain, dan mental yang kuat, tak banyak tim yang bisa mengakhiri turnamen itu tanpa sekalipun mengalami kekalahan.

Musim ini, sampai matchday ke-4, sebanyak 10 dari 32 tim peserta sama sekali belum mengalami kekalahan. Mereka adalah Inter Milan, Barcelona, Atletico, Liverpool, MU, Villarreal, Lyon, Bayern, Arsenal, dan Juventus. Meski belum terkalahkan, namun baru Barcelona dan Juventus yang memastikan diri lolos ke babak 16 besar.

Dari ke-10 tim yang belum terkalahkan ini, MU merupakan tim terlama yang belum terkalahkan. Inter kalah dari Liverpool di babak 16 besar Liga Champions musim lalu. Barcelona kalah dari MU di babak semifinal. Atletico, Juventus, Bayern, dan Villarreal tak ikut jadi peserta Liga Champions musim lalu.

Sementara, di musim 2007-08, Liverpool kalah dari Chelsea dengan agregat 3-4 di babak semifinal. Lyon kalah dari MU di babak 16 besar, dan Arsenal bertekuk lutut di tangan Liverpool di babak perempatfinal musim lalu.

MU terakhir kali menderita kekalahan ketika melawan Milan di musim 2006-07, tepatnya pada 2 Mei 2007. Sampai sekarang, MU sudah menjalani 17 pertandingan di Liga Champions tanpa sekalipun mengalami kekalahan. Catatan terbaik mereka sebelumnya di Liga Champions adalah tak terkalahkan di 18 pertandingan. Dimulai pada 10 Desember 1997 ketika kalah dari Juventus sampai 19 Oktober 1999 saat kalah di tangan Marseille.

Ketika menjadi juara Liga Champions musim lalu, MU sama sekali tak mengalami kekalahan sepanjang musim. Berada di grup 6 bersama AS Roma, Sporting Lisbon, Dinamo Kyiv, MU berhasil menggasak semua lawannya. Mereka melangkah ke babak 16 besar dengan raihan 16 poin. Capaian nilai tertinggi di antara tim lainnya.

Di babak 16 besar, MU mengalahkan Lyon dengan agregrat 2-1. Berikutnya AS Roma mereka kalahkan dengan agregat 3-0. Korban berikutnya adalah Barcelona yang mereka kandaskan 1-0. Dan terakhir, Chelsea mereka hancurkan di babak final melalui drama adu penalti. Dengan begitu, tim asuhan Alex Ferguson ini sama sekali tak mengalami kekalahan sebanyak 13 pertandingan.

Di musim ini, mereka sudah menjalani empat pertandingan. Dua kali melawan Celtic, berakhir dengan skor 3-0 dan 1-1. Kemudian melawan Villarreal yang berakhir seri 0-0 dan Aab Aalborg yang mereka hancurkan dengan skor 3-0. Jadi, sampai sekarang MU belum terkalahkan sepanjang 17 pertandingan.

Sebelum mencatat hasil seri 0-0 melawan Villarreal di Old Trafford pada 17 September lalu, MU berhasil menorehkan 12 kemenangan kandang berturut-turut. Uniknya, Villarreal jugalah yang menahan MU dengan skor 0-0 di Old Trafford pada 22 November 2005. Villarreal yang memulai, Villarreal pula yang mengakhiri rekor kemenangan MU. Setelah seri melawan klub asal Spanyol itu, MU terus merengkuh kemenangan.

Rekor 17 kali tak mengalami kekalahan tampaknya masih akan diperpanjang MU sehingga mereka bisa melebihi rekor sebelumnya. Pada 26 November dan 9 Desember nanti, MU akan melawan Villarreal di Spanyol dan menjamu Aalborg di kandang.

RENTANG 1997-99

Ketika pertama kali mencatat rekor tak terkalahkan sebanyak 18 pertandingan, MU memulainya dengan menahan seri Monaco di kandang mereka pada 4 Maret 1998. Sebelumnya, mereka tersungkur dari Juventus pada 10 Desember 1997. Sejak hasil seri itu, MU terus tak terkalahkan, kecuali saat mereka kalah adu penalti melawan Monaco di babak 16 besar Liga Champions 1997-98.

Skuad MU saat itu diisi oleh Peter Schmeichel, Andy Cole, Teddy Sheringham, Ryan Giggs, Ronny Johnsen, Jaap Stam, Denis Irwin, Dwight Yorke, Gary Neville, Paul Scholes, David Beckham, Nicky Butt, Phil Neville, Roy Keane, dan Ole Gunnar Solskjaer.

“Di setiap pertandingan, saya selalu bersiap untuk kalah. Saya selalu mengingatkan pada diri saya sendiri kalau kekalahan takkan pernah menjatuhkan harga diri saya sebagai seorang manusia. Tapi kalau kami terus menang seperti ini, terus terang, saya sendiri terkejut,” kata Ferguson saat itu.

Dengan data statistik ini, MU memang berpeluang paling depan menjadi kandidat juara, sekaligus memperbaiki rekor kemenangan berturut-turut di Liga Champions. Dua misi harus diselesaikan di Liga Champions musim ini. Selain misi mempertahankan rekor, MU juga pastinya ingin mempertahankan gelar juara di level tertinggi Eropa ini. Bisakah? (Ruri)

Indikator juara

Kalau MU berhasil mengalahkan Villarreal dan Aalborg, dan mengalahkan lawan mereka di babak 16 besar, bukan tak mungkin MU akan menyaingi prestasi Ajax. Sampai sekarang Ajax memimpin daftar tim tak terkalahkan di ajang Liga Champions. Tim asal ibu kota Belanda itu mencatat 20 kemenangan berturut-turut mulai musim 1985-86 sampai 3 April 1996.

Kecuali klub Koeln asal Jerman, semua catatan kemenangan berturut-turut milik Ajax, Bayern, Crvena Zvezda Beograd, dan Liverpool berhasil mengantar mereka jadi jawara Liga Champions.

Sebanyak 20 kemenangan itu berhasil mengantar Ajax sebagai jawara Liga Champions musim 1994-95. Bayern Muenchen menyusul di tempat kedua. Mereka mencatat 19 pertandingan tak terkalahkan mulai 14 Maret 2001 sampai 10 April 2002. Bayern pun berhasil merengkuh gelar Liga Champions di antara jeda waktu tersebut, tepatnya pada 23 Mei 2001 dengan mengalahkan Valencia melalui adu penalti.

MU berada di tempat ketiga dengan 18 kemenangan. Di posisi keempat klub Crvena Zvezda Beograd menyusul dengan mencatat 17 kemenangan sejak musim 1988-89 sampai 1991-92. Dan sekali lagi, di antara rentang waktu itu, klub asal Yugoslavia itu menjadi jawara Liga Champions musim 1990-91.

Klub guram FC Koeln dari Jerman berada di posisi kelima dengan meraih 15 kali kemenangan berturut-turut di musim 1962-63 sampai 1978-79. Namun kali ini Koeln tak menjadi juara maupun runner-up Liga Champions. Di posisi keenam dan ketujuh, diisi oleh Ajax dan Liverpool yang mencatat 14 kemenangan berturut-turut. Kemenangan Ajax dimulai di musim 1970-71 sampai 1972-73, sedangkan Liverpool dimulai di musim 1980-81 sampai 1981-82.

Dengan kemenangan itu, baik Ajax maupun Liverpool bisa menorehkan kemenangan di ajang Liga Champions. Ajax menjadi jawara tiga kali berturut-turut yakni pada 1971-1973. Sedangkan Liverpool juga menjadi jawara di musim 1980-81.(*)

Stefan Kovacs, Setara dengan Ferguson

November 20, 2008 on 1:06 am | In classic | No Comments

Dua trofi Liga Champions, Piala Interkontinental, dan dua Piala Super Eropa sudah berhasil diraihnya bersama Ajax Amsterdam di awal 1970-an. Namun, nama Stefan Kovacs jauh dari popularitas yang kini dimiliki Sir Alex Ferguson, yang notabene memiliki torehan prestasi yang sama dengan Kovacs.

Bahkan ketika Anda mengetikkan nama Kovacs di situs pencari ternama google.com, namanya hanya tercatat di 638.000 situs. Sementara, kalau Anda memasukkan nama Alex Ferguson ke situs yang sama, hasilnya adalah 4.150.000. Sungguh sebuah kontradiktif dibandingkan prestasinya yang sama dengan Fergie.

Ketika Kovacs meninggal dunia 13 tahun lalu, tepatnya pada 12 Mei 1995, ia hanya tinggal di sebuah rumah sederhana di Kota Cluj, Rumania. Dunia sepak bola ternyata bukan hanya tak memberikan popularitas padanya, namun juga tak memberikan materi berlebih untuknya.

Padahal ketika ia dimakamkan, lebih dari 1.000 orang berkumpul guna melepas kepergiannya. Namun, di sebuah jajak pendapat, namanya berada di posisi keempat sebagai manajer asal Rumania paling populer sepanjang sejarah. Namanya ada di bawah Mircea Lucescu, Anghel Iordanescu, dan Laszlo Boloni.

Ketika pertama kali terpilih menjadi manajer Ajax pada 1971, Kovacs sebenarnya hanya memiliki pengalaman sebagai pelatih di klub guram sekelas Steaua Bucuresti. Jadi kehadirannya di Ajax menggantikan Rinus Michels yang pindah ke Barcelona bisa dibilang mengejutkan. Rumor menyebutkan kalau ia terpilih dari 15 kandidat karena ia merupakan pelatih dengan bayaran termurah.

Tak pelak, pesimisme pemain terhadap kemampuannya pun mencuat. Ketika pertama kali melatih pemain Ajax, ia ditanya seorang pemain mengenai bagaimana sebaiknya bentuk rambut pemain-pemain Ajax. Dengan tegas ia menjawab kalau dirinya diperkerjakan sebagai pelatih dan bukan sebagai penata rambut.

Tak lama kemudian, dalam sesi latihan tersebut, seorang pemain mengumpankan bola setinggi lutut padanya. Ia langsung menangkap dengan kaki dan mengembalikannya hanya dalam satu gerakan. Ujian pertama sebagai pelatih sukses terlewati. Kemampuan teknisnya sebagai pelatih tak diragukan lagi.

DIBANTU CRUYFF?

Meski sudah sukses, tetap saja Kovacs dapat cibiran. Velibor Vasovic, defender asal Yugoslavia yang pernah diasuh Kovacs pun berbagi rahasia. Menurutnya, ketika Kovacs mengambilalih posisi manajer, dia sudah mewarisi sebuah tim yang sangat bagus, yang berstatus sebagai juara Eropa. “Jadi, dia hanya membiarkan para pemainnya bermain seperti sebelumnya. Kalaupun Kovacs membuat perubahan, hanya sedikit yang dilakukannya,” kata Vasovic.

Banyak juga yang menganggap kalau faktor keberadaan Johan Cruyff di Ajax berpengaruh besar pada dominasi Ajax di awal 19070-an itu. Setidaknya hal itu dikatakan Bobby Haarms, asisten pelatih Ajax kala itu. “Cruyff berpengaruh besar, terutama ketika usianya semakin bertambah dan mulai mendiskusikan taktik dengan pemain lainnya,” kata dia.

Cruyff semakin berpengaruh ketika Kovacs memasuki musim keduanya di Ajax. Bahkan menurut Rep, Kovacs kalah suara meski dirinya ingin mempromosikan Rep guna menggantikan Sjaak Swart di lini depan. Sedangkan Cruyff ingin agar Swart tetap menjadi andalan pencetak gol tim asal Belanda itu.

Dan benar. Suara-suara sumbang muncul akibat ketidakpuasan terhadap dominasi Cruyff di Ajax. Padahal sebenarnya Kovacs tak selemah itu. Sebagai contoh ketika Cruyff mengaku sedang sakit lutut jelang sebuah pertandingan, Kovacs tak mengizinkannya absen dari pertandingan begitu saja. Dia tahu pemainnya yang satu ini gemar uang. Dia pun lalu mengambil selembar uang dan menggosok-gosokkannya ke lutut Cruyff. Hasilnya, Cruyff langsung merasa lebih baik.

Ketika Kovacs meninggalkan Ajax, pengaruh Cruyff juga semakin luntur. Ia tak lagi terpilih menjadi kapten di masa kepelatihan George Knobel, pengganti Kovacs. Setelah meninggalkan Ajax, Kovacs menangani Timnas Perancis, Rumania, Panathinaikos, dan AS Monaco.

Dari keempat klub dan tim yang ditanganinya, Kovacs hampir mereguk kesuksesan ketika menangani Rumania. Mereka hampir masuk ke babak putaran final Piala Dunia 1982 kalau saja tak bermain seri melawan Hungaria dan kalah 1-2 melawan Swiss. Kalau saja ia sukses mengantar Rumania, bukan tak mungkin the invisible man, akan berganti rupa menjadi the visible man.(Ruri)

(BOKS)

Ironi sebuah kesuksesan

Sebuah ironi dibawa Stefan Kovacs ke Ajax Amsterdam. Prestasi boleh saja sudah berhasil ditorehkannya di sana, namun sebuah ironi juga dicatatkannya di Ajax. Ia memberikan kebebasan terhadap para pemainnya, termasuk minum alkohol dan bermain dengan wanita-wanita.

Hasilnya, sungguh sebuah ironi. Mereka berhasil menorehkan berbagai gelar juara. “Kovacs adalah seorang pelatih yang bagus. Sayang, ia terlalu baik kepada para pemainnya. Kami diberi kebebasan penuh, yang ironisnya malah membuat kami bisa bermain lebih baik. Namun ‘kedisiplinan’ ala Kovacs menghilang semua jadi berantakan. Kalau bisa dibandingkan, mungkin Michels malah lebih profesional. Ia menerapkan peraturan yang ketat, dan memperlakukan semua pemain di level yang sama,” kata Gerrie Muhren, gelandang Ajax di era Kovacs.

Dan benar. Ketika Kovacs pergi, pelatih penggantinya, George Knobel mengeluhkan kurangnya kedisiplinan pemainnya. Akibatnya, Knobel hanya melatih Ajax tak kurang dari semusim. Dalam sebuah wawancara, Knobel menuduh kalau kebebasan yang diberikan Kovacs pada pemainnya sudah terlalu jauh.

Ajax pun mengalami disintegrasi usai kepergian Kovacs yang disusul dengan kepergian Cruyff ke Barcelona. Dua belas pemain andalan yang sering disebut Twelve Apostles (12 Rasul) pun ikut menghilang. Mereka adalah Heinz Stuy, Wim Suurbier, Barry Hulshoff, Horst Blankenburg, Ruud Krol, Arie Haan, Johan Neeskens, Gerrie Muhren, Sjaak Swart, dan Piet Keizer.

“Harus diakui kalau kesuksesan Kovacs, apapun alasannya, adalah ketika dia bersama Ajax,” papar Florin Halagian, pelatih veteran asal Rumania. Ya, dengan memberikan kebebasan kepada timnya, Kovacs bisa meraih kesuksesan, sekaligus menghancurkan mereka. Ironis!(*)

Singing footballers, Belum Tentu Sukses

November 19, 2008 on 1:33 am | In sepak bola | No Comments

Nama besar ternyata belum tentu menjamin kesuksesan seorang pemain bola yang terjun di dunia musik.

Ketika 75.000 orang meneriakkan nama seorang pemain bola di setiap pertandingan, wajar rasanya kalau ia serasa memiliki talenta yang tak terbatas. Semua orang pun tahu kalau para pebola memiliki talenta luar biasa dalam bidang sepak bola. Tapi ketika mereka melebarkan sayap ke dunia musik, belum tentu sambutan meriah akan didapat. Sama seperti ketika mereka merumput di lapangan hijau.

            Musik dan sepak bola memang memiliki satu hubungan erat, sama-sama dicintai manusia di seluruh pelosok dunia. Kedua hal ini tak pernah mengenal perbedaan ras, suku, agama, maupun bahasa. Namun, bukan berarti hal itu bisa dijadikan alasan para pebola untuk menekuni dunia musik, kalau mereka hanya mengandalkan nama besar.           Sudah banyak rasanya contoh para pemain bola yang gagal menekuni dunia musik meski mereka memiliki nama besar di dunia sepak bola. Nama besar sama sekali tak bisa menjadi jaminan. Talenta sekali lagi berbicara. Bukan talenta untuk piawai menendang bola, tetapi talenta dalam dunia musik.

            Siapa yang tak mengenal sosok Kevin Keegan, Pele, Franz Beckenbauer, Glenn Hoddle, John Barnes, Johan Cruyff, Alexei Lalas, Paul Gascoigne, Ruud Gullit, Terry Venables, Andy Cole, atau Ian Wright. Mereka semua berhasil membuat album musik, meski gagal total di pasaran. Keegan bolehlah mendapat sedikit pujian karena lagunya berjudul Head Over Heels in Love berhasil menduduki posisi 33 tangga lagu di Jerman pada 1979.

            Ternyata kegagalan para pendahulunya yang punya nama besar di dunia tarik suara tak membuat para pebola zaman sekarang menyerah. Mulai dari Rio Ferdinand, Ryan Babel, Carlos Tevez, Djibril Cisse, Didier Drogba, sampai Michael Essien ternyata juga mengikuti jejak sebagai penyanyi. Berikut penjelasannya. (Ruri)

 

Jenis musik: Rap

Didier Drogba dan Michael Essien

Lagu anti-rasisme

            Tahun lalu, kedua pemain Chelsea ini menjadi backing vocal lagu single bertema anti-rasisme milik band Wills and Willing. Lagu beraliran rap dan berjudul Skin itu dirilis pada Oktober tahun lalu, bersamaan dengan munculnya kampanye Kick Racism Out of Football. Semua hasil penjualan itu akan masuk ke yayasan kemanusiaan yang bekerjasama dengan Chelsea.

            “Rasisme adalah sesuatu yang sulit untuk dihadapi, tapi kami memutuskan menghadapinya. Bagiku, tak ada perbedaan antara kulit hitam maupun putih. Aku ingin menyanyikannya karena aku suka liriknya. Sederhana tapi menyentuh hati,” kata Drogba. Selain Skin, Drogba juga menyanyi di lagu Gun Crime.

            Menurut Wills dan Willing, lagu tersebut memiliki pesan yang amat penting. Keberadaan dua pemain Chelsea yang mengisi suara di album ini membuat pesan dalam lagu itu lebih bermakna.

            “Kami ingin menunjukkan nilai-nilai positif kehidupan melalui lagu ini. Aku memutuskan untuk melakukannya karena sewaktu bermain di Lyon, masalah rasisme selalu muncul. Dan rasanya sangat menyakitkan. Rasisme harus dihapus bukan hanya di level sepak bola, tetapi juga di kehidupan,” kata Essien.(*)

             

Rio Ferdinand

Punya perusahaan rekaman

            Bek Man. United ini tak hanya bermodalkan nama besar untuk terjun di dunia musik. Ia membangun sebuah perusahaan label rekaman miliknya sendiri yang diberi nama, White Chalk. Penyanyi pertama yang beruntung diorbitkan oleh perusahaan Ferdinand adalah  Nia Jai.  

            Sebagai produser, ternyata Ferdinand tak ingin ketinggalan menyumbangkan suaranya. Di lagu Black Ice milik Nia Jai, ia mengisi suara dengan menyanyikan lagu rap di tengah-tengah lagu.

 

Ryan Babel

Ingin maksimalkan talenta

Talenta Ryan Babel ternyata tak hanya di muncul di bidang sepak bola. Baru-baru ini gelandang Liverpool tersebut menyanyikan sebuah lagu rap di stasiun radio 101 Barz, Belanda. Lagu tersebut dinyanyikannya bersama Royston Drenthe, pemain muda Real Madrid.

            “Aku bukan orang yang relijius, karena aku tak rajin ke gereja setiap minggu. Tapi aku yakin Tuhan sudah memberikanku talenta dan kesempatan untuk sukses. Kalau Anda menyalahgunakan kesempatan itu, maka Tuhan memiliki hak untuk menarik talenta yang sudah diberikan-Nya,” kata Babel.

            Sayang, suara Babel dianggap tak layak untuk masuk dapur rekaman. Kalau ia nekad merekam suaranya, bukan tak mungkin nasibnya akan berakhir sama seperti Ruud Gullit. Lagunya jeblok di pasaran.(*)

 

Benni McCarthy

Tak pede jadi penyanyi

            Striker Blackburn Rovers, Benni McCarthy berhasil mengeluarkan album rap berjudul Get Ready to Rumble pada 2002 lalu. Lagu tersebut ingin mengajak anak muda di Afrika Selatan supaya mereka lebih bisa percaya diri menghadapi segala situasi.

            Namun, masalah kepercayaan diri malah melanda sang penyanyi yang ragu untuk melangkahkan kakinya lebih jauh di dunia musik. Padahal lagu tersebut terjual hingga lebih dari satu juta kopi.

            “Pemain bola harus tetap setia menjadi pemain bola. Bermain musik merupakan pengalaman yang paling tak terlupakan dalam hidupku. Tapi bagiku, musik itu adalah hobi, yang tentu saja menyenangkan,” jelas dia.(*)

 

DJ dan Hip-Hop

Djibril Cisse

Musik memberi energi

            Pemain Sunderland nan flamboyan ini ternyata memiliki profesi ganda. Selain sebagai pemain bola, ia berhasil mengeluarkan album pop single berjudul Shake My Play Mo, Bitch. Tak hanya itu, tak lama kemudian, ia mengeluarkan album bertajuk Music and Me: The DJ Inside Me. Berbeda dengan album sebelumnya, Cisse lebih banyak berperan sebagai disc jockey (DJ) di album keduanya.

            “Musik adalah bagian tak terpisahkan dalam hidupku. Aku mendengarkan musik di rumah, mobil, atau pas menjelang pertandingan. Hanya pada sesi latihan aku tak mendengarkan musik. Musik memberikan energi tersendiri bagiku,” kata Cisse.

            Menurut dia, orang-orang di sekitarnya bereaksi positif terhadap lagu-lagunya. Karenanya, ia ingin terus berkarya di dunia musik, dan setia di aliran hip-hop serta rap. “Mungkin kalau aku tak jadi seorang pemain bola, aku akan jadi seorang DJ. Walau harus diakui kalau reputasi dan nama besar sangat membantuku menekuni dunia musik. Selain sepak bola, aku juga sangat mencintai dunia ini, dan suatu hari aku akan membantu penyanyi-penyanyi muda yang ingin merintis karier di musik,” jelas dia.(*)

 

Paolo Maldini

Jadi DJ sebelum menikah

            Di balik penampilannya yang kalem, ternyata Maldini juga menyimpan bakat yang luar biasa di bidang musik. Tapi bukan melantunkan suaranya, melainkan memutar-putar piringan hitam alias beraksi sebagai disc jockey (DJ). Sayang, sejak menikah, Maldini tak lagi meneruskan hobinya itu.

            Ketika awal menekuni dunia DJ, Maldini lebih memilih melakukannya di sebuah stasiun radio dan bukan di diskotik. Bek AC Milan itu jarang sekali tampil sebagai DJ di diskotik-diskotik di Kota Milan. Kalaupun ia berkunjung ke diskotik, ia hanya ingin melepas lelah, dan melampiaskan hobinya memainkan cakram di sana.

            Setelah menikah, Maldini memang makin jarang menjadi DJ. Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan Adriana Fossa, istrinya. Apalagi ketika kedua anaknya lahir. Christian Maldini lahir pada 14 Juni 1996. Sedangkan Daniel Maldini lahir pada 12 Oktober 2001.(*)

 

Jenis musik: Pop Latin

Carlos Tevez

Lagu dari pengalaman pribadi

            Striker Man. United ini merupakan vokalis band Piola Vago, Argentina. Band yang dibentuk bersama adiknya, Diego ini berasal dari kampung halaman Tevez di Villa de Los Andes, Buenos Aires. Lagu-lagu band ini sebagian besar bercerita mengenai pengalaman hidup Tevez, seperti lagu berjudul A Carlitos Tevez, Lose Your Control, dan My Love Affair.

Dari tiga lagu tersebut, ternyata lagu Lose Your Control berhasil menduduki tangga lagu di Argentina selama beberapa pekan. Sedangkan lagu My Love Affair mengisahkan kecintaan Tevez terhadap klubnya saat ini, Man. United.

            “Dia sangat mencintai Man. United, berikut semua pemainnya. Emosinya selalu muncul setiap kali membicarakan Man. United. Ia juga selalu tak percaya kalau ada fans MU yang meneriakkan kata “Argentina”, mengingat sejarah buram antara Inggris dan Argentina. Dan semua emosi itu ia tuangkan ke lagu tersebut,” kata seorang sumber dekat Tevez yang tak disebutkan namanya.(*)

 

 

Firman Utina, Hampir Jadi Polisi

November 19, 2008 on 1:28 am | In sepak bola | No Comments

Keluarga menentang pilihannya sebagai pemain bola. Mereka ingin anak bungsunya itu memilih karier jadi polisi.

            Sebuah perjuangan berat ternyata harus dilakoni Firman Utina ketika memutuskan pertama kali terjun sebagai pemain sepak bola. Keluarganya yang sama sekali tak memiliki latar belakang sepak bola tak mengizinkannya menjadi atlet sepak bola. Mereka ingin anak bungsu dari tiga bersaudara itu memilih karier menjadi polisi.

Guna mengatasi hal itu, berbagai cara pun ia lakukan. Mulai dari latihan secara sembunyi-sembunyi sampai tak bersikap jujur pada orang tuanya ketika mengikuti sebuah turnamen sepak bola di Makassar. “Saat itu aku hanya pamitan mau menginap selama dua minggu di rumah teman. Tapi ternyata aku pergi ke Makassar dan bermain bola di sana,” kata Firman.

Menurut pria kelahiran 15 Desember 1981 ini, keinginannya menapaki jalan sebagai pemain bola profesional muncul di usia 11 tahun. Saat itu, ia melihat teman-temannya begitu gembira saat bermain sepakbola. “Tak bisa dipungkiri kan, kalau sepak bola itu banyak peminatnya. Jadi membuatku ingin terjun ke dalamnya. Tapi selain itu, aku juga ingin menjadi atlet supaya terus bisa menjaga kesehatan,” ujar dia.

Izin dari orang tuanya akhirnya turun ketika melihat aksinya muncul di televisi. Mereka melihat aksi Firman ketika mencetak gol di turnamen tersebut. Padahal di tanggal yang sama dengan pertandingan itu, orang tua Firman hanya mengetahui kalau anaknya menginap di rumah teman. “Awalnya pasti marah, tapi lama-lama mereka mengerti betapa aku mencintai dunia ini dan mereka mendukungku sampai sekarang,” papar dia.

Setelah berhasil meyakinkan kedua orang tuanya, pria yang akrab disapa Maman ini pun mulai meretas jalan profesional. Ia bergabung dengan Persma Junior pada 1998 dan mulai “naik kelas” ke level senior setahun berikutnya. Dengan alasan ingin menambah ilmu, akhirnya Maman memutuskan merantau ke ranah Jawa dengan membela klub Persita Tangerang.

Empat musim membela Persita ternyata membuat Maman ingin mencari suasana baru. Klub Arema Malang menjadi pelabuhan berikutnya. Pilihannya tepat. Di sana ia berhasil mengukir prestasi menjuarai ajang Copa Indonesia sebanyak dua kali, yakni 2005 dan 2006. Tak hanya itu, ia juga merebut gelar Pemain terbaik Copa Indonesia 2005.

Atas semua prestasinya itu, sebuah resiko pun harus ia ditanggungnya. “Aku sampai malu keluar kamar ganti stadion, karena terus-menerus dikejar penggemar yang ingin minta tanda tangan,” kata pemain bertinggi berat 165 cm dan 60 kg ini.

Setelah puas mengantar Arema jadi juara Copa, Maman sempat kembali ke Persita sebelum akhirnya memutuskan berlabuh di Pelita Jaya. “Tapi sampai sekarang, kalau aku pergi ke Malang, warga di sana masih menyambutku dengan suka cita karena aku sudah dianggap sebagai orang Malang,” terang suami Marita Yustika ini.

 

AWALNYA JADI STRIKER

            Ketika awal menekuni karier sebagai pemain sepak bola, sebenarnya Maman berposisi sebagai striker di lini depan. Posisi striker sempat ditekuninya sewaktu masih membela Persma Junior. Namun lama-kelamaan ia merasa lebih nyaman sebagai gelandang serang yang mampu menjadi motor serangan tim.

            “Untuk meningkatkan pengetahuan di posisi ini, aku sering meniru gaya gelandang serang tim lain. Seperti Steven Gerrard, Paul Scholes, atau Francesco Totti. Dengan melihat penampilan mereka, aku bisa menyerap ilmunya,” kata ayah dari Raihan Utina dan Salsabilla Utina ini.

            Tak heran, pemain yang tak menyukai musik dangdut ini selalu bisa tampil memukau di lapangan. Ia berprinsip kalau penampilannya juga harus bisa menghibur penonton, meski tetap harus meraih kemenangan.

            Momen yang tak terlupakan bagi Maman adalah ketika Indonesia mengalahkan Bahrain dengan skor 2-1 di ajang Piala Asia pada 10 Juli 2007 lalu. Saat itu, umpan cantik Utina berhasil diselesaikan dengan sempurna oleh Budi Sudarsono yang akhirnya mencetak gol pertama di menit ke-14. Gol kedua sendiri dicetak Bambang di menit ke-64.

            Tapi, semua permainan cantiknya di lapangan dan prestasi         yang telah diukirnya tak datang begitu saja ke tangan pria penyuka bubur manado ini. Sebuah perjuangan berat harus dilalui, termasuk mengelabui orang tuanya yang tak mengizinkannya menjadi pemain bola.

            Karenanya, ia ingin membagi tips bagi anak-anak muda Indonesia yang ingin mengikuti jejaknya di dunia sepak bola. “Bangun mental disiplin pribadi secara benar, karena mental itu akan memengaruhi disiplin tim. Rajin latihan, istirahat cukup, jangan mengonsumsi makanan berlemak, dan pilihlah makanan yang bisa membangun energi,” kata dia.(*)

 

(BOKS)

Unik dan menyenangkan

            Karena kulitnya yang hitam, anak bungsu dari tiga bersaudara ini sering diragukan berasal dari Manado. Maklum saja, Manado identik dengan kulit warganya yang putih. Termasuk dua kakak Maman, yang juga berkulit putih. Menurut Maman sambil bergurau, mungkin warna kulitnya sudah merupakan sisa-sisa kulit putih yang dimiliki kedua kakaknya. Ternyata, sosok yang tampil trengginas di lapangan bisa jadi sosok yang menyenangkan sekaligus unik di luar lapangan. Apa saja keunikan-keunikan yang dimiliki Maman? Berikut penjelasannya.(*)

Pertama kali mengenal sepak bola pada usia?

11 tahun. Waktu itu, aku melihat teman-temanku sangat menikmati permainan sepak bola di kampung halaman.

Pertama kali pacaran umur berapa?

Wah, ini yang bikin bertengkar sama istri. Tapi nggak papa, aku pacaran pertama kali di umur 15 tahun.

Sepatu bola pertama yang dibeli? Berikut merek dan harganya?

Sepatu merk eagle, harganya Rp30 ribu. Waktu itu, harga segitu saja sudah sangat mahal buatku, karena belum punya uang.

Pertama kali naik pesawat terbang?

Kelas 3 SMP. Waktu itu aku naik Mandala Air jurusan Makassar untuk ikut turnamen sepak bola. Padahal pamit ke orang tua hanya menginap di rumah teman.

Kontrak pertama dengan klub apa?

Dengan Persma Manado pada 2000.

Mobil pertama yang dibeli? Merek apa, di kisaran harga berapa dan diproduksi tahun berapa?

Feroza, produksi 1995. Aku beli pada 2001 dengan harga Rp55 juta

Rumah pertama yang dibeli di daerah mana?

Tangerang.

La bandiera della squadra nerazzurri

November 14, 2008 on 2:06 am | In sepak bola | No Comments

Saat Javier Zanetti menjejakkan kakinya di San Siro pada 1995 lalu, tak seorang pun menyangka kalau pemain ini akan banyak berarti bagi Inter di masa mendatang. Tak seorang pun juga mengira pemain yang saat itu berusia 22 tahun tersebut akan menjadi simbol pasukan Nerazzurri. La bandiera della squadra nerazzurri

Pasalnya, sebelum kedatangan Zanetti, tak banyak pemain asing yang bisa bercokol lama di Il Nerazzurri, apalagi sampai mencapai rekor 600 pertandingan. Rekor tersebut dicatatnya di pertandingan melawan Lecce, (24/9) lalu. Bukan tak mungkin, di usianya yang baru mencapai 35 tahun, jumlah rekor itu akan terus bertambah.

“Di Inter, aku selalu merasa berada di rumah. Karena itu, aku tak pernah berpikir untuk pergi,” kata dia. “Inter banyak berarti untukku. Aku masih sangat muda saat datang ke sini, dan kupikir tak banyak tim yang bisa memercayai seorang pemain muda seperti Inter,” imbuh dia.

Sejak awal ia menjejakkan kakinya ke Inter, Zanetti memang sudah langsung menjadi starter di klub biru-hitam tersebut. Ia menjadi saksi yang melihat banyaknya pemain yang datang dan pergi dari Inter Milan. “Bermain bagi klub yang sangat prestisius dan terkenal di seluruh dunia adalah sebuah kebanggaan bagiku,” bilang Zanetti. Lalu apa memori terbesarnya di Inter? “Menjadi juara Piala UEFA 1998 di Paris. Saat itu aku juga mencetak gol. Jadi, aku tak mungkin melupakan malam itu.”

Sosok Zanetti memang tak tergantikan oleh siapapun. Keberadaannya di Inter sangat kokoh, meski klub tersebut beberapa kali mengganti pelatihnya. Mulai dari Roy Hodgson, Luciano Castellini, Luigi Simoni, Mircea Lucescu, Marcello Lippi, Marco Tardelli, Hector Cuper, Alberto Zaccheroni, Roberto Mancini, sampai Jose Mourinho. Mereka terus mengandalkan keberadaan Zanetti di lini sayap maupun pertahanan.

“Aku selalu selalu berusaha memberikan yang terbaik supaya bisa berguna dalam tim. Aku berlatih serius setiap hari untuk membalas kepercayaan manajemen klub terhadapku dan dengan situasi seperti itu, semuanya jadi terasa lebih mudah,” bilang pemain berjuluk Il Trattore tersebut.

Dengan kepercayaan yang diberikan semua pelatihnya sejak 1995, bukan tak mungkin Zanetti akan menyamai rekor legenda Inter, Giacinto Facchetti. Facchetti mencatat rekor 629 pertandingan bagi Inter dan bahkan kostum Inter nomor 3 dipensiunkan untuk menghormati dirinya.

“Bangga rasanya kalau bisa mencapai rekornya suatu hari nanti. Apalagi aku punya hubungan baik dengannya sebelum ia meninggal pada September 2006 lalu. Ia adalah contoh bagi semua pemain. Meski ia sudah tak ada, tapi ia tak akan pernah bisa dilupakan para fans Inter,” jelas Zanetti.

PEMAIN PALING KONSISTEN

Sejak merumput di Inter Milan, Javier Zanetti dianggap sebagai pemain paling konsisten sepanjang sejarah sepak bola. Paling tidak, ia bisa dianggap paling konsisten untuk generasinya. Bahkan di saat Inter tampil buruk sekalipun, ia tetap bisa tampil konsisten.

Selama 13 tahun membela Inter dan tampil di 600 pertandingan, rasanya publik akan kesulitan mengingat kapan Zanetti pernah tampil buruk membela klubnya. Ketika Inter menang, seri maupun kalah, performa Zanetti tetap akan mendapatkan minimal nilai 6 dari skala 10.

Contoh yang bagus adalah ketika Inter kalah dari Liverpool di Liga Champions musim lalu. Ketika rekan-rekannya tampil buruk, Zanetti seakan bermetamorfosis menjadi mesin tunggal bagi klubnya. Ia terus sibuk bekerja mencari bola dan menyerang sendirian, mencoba membangkitkan semangat menyerang 10 rekannya di lapangan hijau. Meski akhirnya sebuah kekalahanlah yang harus dia terima.

Semangat dan kerja kerasnya itulah yang membuatnya bisa berada di level tertinggi sepak bola selama lebih dari satu dekade. Pemain lain biasanya hanya berada di level tersebut selama lima-enam tahun. Tapi tidak bagi Zanetti, bahkan di usianya saat ini, ia belum berencana untuk pensiun.

“Tak mudah bisa bermain di klub sebesar Inter untuk jangka waktu yang lama. Tapi, aku masih punya ambisi untuk menang sama seperti ketika aku pertama kali berada di sini. Aku punya determinasi tinggi untuk terus melanjutkan karierku di klub yang sangat aku cintai ini,” kata dia.

Kecintaan dan kesetiaan pada klub itupun berbalas rasa sayang para fans terhadapnya. Kalau ia berhasil menyamai rekor Facchetti, simbol Inter akan semakin melekat pada sosoknya. Dan kostum nomor empat yang selama ini dikenakannya bukan tak mungkin juga akan dipensiunkan di masa mendatang. Sebuah penghormatan yang pantas untuk ikon dan legenda Inter Milan.(Ruri)

Jadi bayang-bayang

November 12, 2008 on 4:18 am | In sepak bola | No Comments

Menjadi bayang-bayang ketenaran saudara tentu saja tak enak. Tapi itulah yang dialami para saudara pemain-pemain top dunia, seperti Hugo Maradona, Paul Terry, Carl Gascoigne, Joel Cantona, dan Max Vieri. Mereka harus rela melihat kesuksesan saudara mereka yang tentu saja diganjar dengan uang yang berlimpah dari klub masing-masing.

Nama-nama tersebut bisa jadi hanya akan terasa akrab di telinga ketika melihat nama belakang mereka. Ya, mereka adalah saudara-saudara Diego Maradona, John Terry, Paul Gascoigne, Eric Cantona dan Christian Vieri. Saudara yang namanya tenggelam seiring dengan waktu.

Kata nepotisme tak berlaku di sini. Semua pemain itu memang merupakan para saudara pemain-pemain tenar. Tapi, kemampuan dan teknik yang dimiliki tiap individulah yang bicara. Kalau dia memang tak memiliki kemampuan, maka namanya akan tenggelam di bawah ketenaran saudara mereka. Hanya semata menjadi bayangan mereka.

Selain tak memiliki teknik bermain setingkat saudaranya, mereka juga dikalahkan oleh nasib. Nasib membuat mereka lebih sering dibekap cedera dan menghabiskan waktu di meja operasi, sehingga mau tak mau segera gantung sepatu. Pada akhirnya, mereka dianggap gagal di dunia sepak bola, meski ada di antaranya yang sempat mencicipi level profesional. Berikut nama-nama loser players itu.(Ruri)

Hugo Maradona – Diego Maradona

Sempat disama-samakan

Namanya dikenal publik ketika masuk ke timnas Argentina U-16 pada 1985. Prestasi saudaranya membuat namanya semakin populer. Pada 1987, striker Hugo Maradona yang ketika itu berusia 18 tahun, dikontrak klub Ascoli. Di Ascoli, yang saat itu berlaga di Serie-A, Hugo hanya bermain sebanyak 13 kali dan akhirnya memutuskan keluar dari klub. Setelah itu, ia hanya menghabiskan waktu untuk pindah ke klub-klub guram. Mulai dari Rayo Vallecano, Rapid Vienna sampai Deportivo Italia di Venezuela.

Nasib membawanya merumput di J-League dengan membela klub Shizuoko Future, Fukuoka Blux, dan Toshiba Sapporo. Pada 2004, Hugo Maradona pindah ke Puerto Rico dan menjadi anggota federasi sepak bola setempat. Ia juga sempat mencatatkan diri sebagai pelatih klub Puerto Rico Islanders, yang berlaga di Divisi I USL Amerika Utara.

Joel Cantona – Eric Cantona

Gaji hasil konspirasi

Setelah ditolak masuk ke klub Peterborough pada 1993, Joel ini sempat dikontrak klub Stockport County, Inggris. Karena tak kunjung tampil bagus, pelatih Stockport pun mengeluhkannya. Usut punya usut, ternyata kontrak tersebut merupakan hasil konspirasi antara Eric Cantona dan Stockport. Selama merumput di Stockport, gajinya dibayar oleh Eric supaya Joel bisa menemaninya tinggal di Inggris.

Bersama Eric, Joel terlibat dalam FIFA Beach Soccer, FIFA Futsal yang digelar di Marseille pada Juli lalu. Di kompetisi tersebut, Joel terlibat aktif sebagai manajer timnas Perancis.

Paul Terry – John Terry

Loser midfielder

Nasib Paul sama sekali tak seberuntung saudaranya John. Ketika John Terry didapuk sebagai kapten Timnas Inggris, nasibnya malah berakhir sebagai midfielder di klub guram Inggris, Leyton Orient. Paul harus rela melihat saudaranya bergelimang harta karena merumput di klub sekelas Chelsea.

Sebelum membela Leyton Orient, ia menghabiskan waktu di klub-klub guram Inggris. Mulai dari Charlton Athletic, Milwall, Dagenham & Redbridge sampai Yeovil Town. Setiap musimnya, Paul dan John terlibat dalam kompetisi Terry-Terry Cup yang diselenggarakan program televisi Soccer AM di Sky Sports 1.

Dalam acara ini akan dicatat siapa di antara Paul dan John yang menjadi pencetak gol terbanyak dalam semusim. Dan meski John berposisi sebagai bek, ia selalu mencetak gol lebih banyak dari Paul yang berposisi sebagai midfielder.

Max Vieri – Christian Vieri

Impikan Piala Dunia

Adik Christian Vieri ini memang sempat berada di Juventus meski akhirnya ia dipinjamkan ke klub-klub guram Italia mulai 1997-2003. Klub-klub kecil seperti Prato, Fano, Brescelo, Ancona dan Verona pernah dibelanya. Ia juga sempat merumput di Napoli, Ternana, Triestina, Arezzo, Novara, Calcio Lecco dan AC Prato yang berlaga di Serie-C2.

Pemain yang pernah membela timnas Australia ini juga bercita-cita ingin menghadapi Christian di ajang Piala Dunia. “Rasanya sampai kapanpun aku tak mungkin bisa menggapai impian itu,” kata Max, yang sempat diberitakan akan merumput di Persik Kediri.

Justin Robson – Bryan Robson

Karena cedera

Cedera membuatnya tersingkir dari dunia sepak bola profesional. Meski sejak kecil terbiasa berlatih dengan kedua saudaranya, yakni Gary dan Bryan Robson, Justin bukanlah nama yang patut diperhitungkan di dunia sepak bola Inggris.

Akibat cedera tersebut, ia harus rela melihat kedua saudaranya menjadi pemain reguler West Brom. “Padahal ketika kami bertiga bermain sepak bola, rasanya Justin adalah yang terbaik dari antara kami,” kata Bryan Robson, kapten legendaris MU.

Carl Gascoigne – Paul Gascoigne

Lebih mencintai bir

Pernah dianggap sebagai pemain full back yang berprospek cerah. Sayang, karena ia tak memiliki kecepatan, namanya pun tenggelam seiring dengan waktu. Menurut Paul, Carl lebih suka minum bir dan makanan daripada bermain di lapangan.

“Dibandingkan saudara-saudaraku yang lain, kurasa aku yang lebih disiplin,” kata Paul. Sungguh sebuah pernyataan yang ironis mengingat Paul juga lebih banyak terlibat dengan alkohol dibandingkan tampil bagus di lapangan.

Rhodri Jones – Ryan Giggs

Loser Giggs

Pemain ini memilih memakai nama Rhodri Jones supaya tak dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang merupakan bintang MU, Ryan Giggs. Tak banyak catatan mengenai pemain berusia 26 tahun ini. Ia hanya bermain di klub-klub guram di Inggris bagian barat laut. Selain itu, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan terlibat masalah-masalah hukum.

Ia pernah memukul kepala seorang pria dengan sebuah botol di sebuah klub malam di kota Manchester pada 12 Oktober 2003. Rhodri juga dikabarkan pernah terlibat dengan obat-obatan terlarang yang membuatnya harus berurusan dengan pengadilan. “Semua itu adalah harga yang harus dibayarnya karena memiliki saudara setenar Ryan Giggs,” kata Hugh McKee, pengacara Rhodri Giggs.

Georgie Buchan – Martin Buchan

Pemain buangan MU

Georgie Buchan hanya sempat tampil membela MU sebanyak empat kali. Padahal ketika dibeli MU bersama saudaranya, Martin Buchan, ia menuai pujian dari manajemen MU. Namun nasib memisahkan mereka. Martin sukses menjadi kapten MU di era 1970-an, sementara Georgie dibuang ke klub Bury, Inggris.

“Kromosom sepak bola yang terbentuk di sel tubuhnya seakan sudah diberikan bagi saudaranya, karena Georgie tak pernah punya bakat bermain bola,” kata Richard Kurt, staf MU saat itu.

Alex Shankly – Bill Shankly

Main di klub guram

Meski terlahir dari keluarga sepak bola, namun Alex hanya bisa bermain di klub setingkat Ayr United dan Clyde, Inggris. Ia harus rela melihat dua saudaranya, Bob dan Bill yang menggapai level tertinggi sebagai manajer di Dundee United dan Liverpool.

Bill bahkan menjadi manajer legendaris Liverpool setelah menukangi klub itu selama 15 tahun. Sementara dua saudaranya yang lain, Jimmy dan John bermain di Sheffield United dan Luton Town.

Digao – Kaka

Karena sebuah kesalahan

Kendati bermain buruk bagi Milan di ajang Coppa Italia melawan Catania pada 20 Desember tahun lalu, Digao meminta semua pihak untuk tak menyalahkannya. “Anda tak bisa menilai penampilan seorang pemain bola hanya karena sebuah kesalahan,” pinta bek berusia 22 tahun ini. “Aku masih cukup bagus untuk bermain di Serie-A,” imbuh dia.

Tapi, harapan adik Kaka ini tak menjadi kenyataan. Di bursa transfer lalu, Carlo Ancelotti akhirnya memilih untuk meminjamkannya ke Standard Liege. Jaminan nama besar Kaka ternyata tak mampu menahan keinginan Ancelotti.

Eddy Baggio – Roberto Baggio

Tak pernah tampil di Serie-A

Berposisi sebagai striker sama seperti sang kakak, namun nasib Eddy sangat jauh berbeda. Ia lebih banyak merumput di klub-klub divisi rendah dan tak pernah mampu tampil di Serie-A.

Memulai kariernya di Fiorentina, Eddy malah turun tahta setelah keluar dari klub tersebut. Mulai dari Palazzolo, Prato, Giorgione, Ancona, Ascoli, Catania, Salernitana, Vicenza, Spezia, Pisa, sampai Portosummaga pernah dibelanya. Terakhir, pemain berusia 34 tahun ini membela klub Sangiovannese yang berlaga di Serie-C2. Selama kariernya, ia tampil sebanyak 86 pertandingan di Serie-B dan mencetak 18 gol.

Next Page »

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^