Ladislao Kubala, Lo Mejor Barcelona

December 24, 2008 on 1:07 pm | In classic | No Comments

Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan saat Barcelona memasuki usia 100 tahun pada 1999 lalu, nama pemain pemenang yang muncul bisa dibilang agak mengejutkan. Dia menyingkirkan nama-nama seperti Johan Cruyff, Diego Maradona, Romario, maupun Ronaldo sekalipun. Pemain itu adalah Ladislao Kubala, yang dinobatkan sebagai pemain terbaik Barcelona sepanjang masa.

            Selama berkarier di Barcelona mulai 1951-61, Kubala berhasil mencetak 256 gol dari 329 pertandingan. Setelah pensiun sebagai pemain, ia memulai karier sebagai pelatih sepak bola. Ia sempat menjadi pelatih Barca selama dua musim sebelum menangani timnas Spanyol dan tim olimpiade Spanyol.

            Ladislao Kubala Stecz dilahirkan pada 10 Juni 1927 di Budapest, Hungaria. Ayahnya memiliki darah keturunan Slovakia, sementara ibunya, yang berprofesi sebagai pekerja pabrik, memiliki darah keturunan dari Hungaria. Saat awal memulai kariernya di dunia sepak bola, ia bergabung dengan klub Ferencvaros, Hungaria. Di klub tersebut, ia berhasil mencetak 19 gol di musim 1944-45. Padahal saat itu, ia baru berusia 18 tahun.

Setahun kemudian, bersama keluarganya ia pindah ke Cekoslovakia dan bergabung dengan klub Slovan Bratislava. Bakatnya sebagai striker semakin kentara di klub tersebut. Pasalnya, Kubala memiliki talenta yang sempurna sebagai striker. Selain bisa mengumpan, ia juga bisa menggabungkan kecepatan dan skill-nya sebagai striker.

Kemampuan yang dimilikinya itu dianggap sama dengan kemampuan yang dimiliki Diego Maradona di zaman sepak bola modern. Selain itu, ia juga diakui sebagai pemain salah satu spesialis tendangan bebas terbaik di dunia yang mampu melekukkan tendangan dengan cepat dan akurat.

            Kepindahannya ke Cekoslovakia ternyata diduga untuk menghindari wajib militer. Alasan itu pula yang digunakannya ketika ia memutuskan kembali ke Hungaria pada 1948 dan bergabung dengan klub Vasas SC.

            Kubala lari dari Hungaria yang menjelma menjadi negara komunis pada 1949. Ia terpaksa bersembunyi di sebuah truk sebelum akhirnya menuju ke Austria kemudian ke Italia. Di Italia ia sempat bermain bagi Torino. Namun karena anaknya sakit, Kubala mengundurkan diri dari pertandingan lawatan Torino ke Benfica. Karena anaknya, ia bisa terhindar dari maut. Pasalnya, pesawat yang membawa pemain Torino menabrak Pegunungan Superga dan menewaskan seluruh penumpangnya.

                       

CEMERLANG DI BARCELONA

            Bakatnya pertama kali diendus oleh Josep Samitier yang kemudian menjadi chief scout di Barcelona. Kabar yang beredar mengatakan, Samitier menggunakan koneksinya dengan rezim Francisco Franco di Spanyol guna mengatur proses transfer tersebut.

            Akhirnya kontrak bersama Barcelona pun dilakukan pada 15 Juni 1950. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Ferdinand Daucik pun didapuk sebagai pelatih Barcelona. Sayang, ia baru bisa bermain di musim 1951-52, karena FIFA memberikan hukuman larangan tampil padanya akibat melanggar kontrak di Hungaria.

            Di musim pertamanya di Divisi Primera, Kubala langsung mencetak 26 gol dari 19 pertandingan. Gol itu termasuk 7 golnya saat Barca menghancurkan Sporting Gijon dengan skor 9-0. Selain itu, dia juga mencetak 5 gol melawan Celta Vigo dan tiga gol ke gawang Sevilla dan Racing Santander.

            Musim itu merupakan salah satu musim terbaik Barcelona. Selain Daucik dan Kubala, peran pemain seperti Emilio Aldecoa, Velasco, Joan Segarra dan Ramallets juga tak bisa diremehkan. Mereka berhasil menggondol lima gelar sekaligus dalam semusim, termasuk juara La Liga, Copa del Generalisimo, Copa Latina dan Copa Eva Duarte.

            Sayang, Kubala itu tak bisa mengulang kesuksesannya di musim berikutnya. Dia terserang penyakit TBC yang saat itu diperkirakan akan mengancam kariernya. Beruntung, ia masih bisa pulih dan membawa Barca kembali merengkuh gelar La Liga dan Copa del Generalisimo.

            Setelah pensiun jadi pemain pada 1961, Kubala menjadi pelatih youth team di Barcelona. Semusim berikutnya, ia didapuk menjadi pelatih tim senior. Sebagai pelatih, prestasi Kubala tak secemerlang ketika masih menjadi pemain. Dia sempat menangani Espanyol, Zurich, Toronto Falcons, Cordoba, Timnas Spanyol, Al-Hilal, Real Murcia, Malaga, Elche, tim olimpiade Spanyol, dan Paraguay.

            Bagaimanapun prestasi Kubala sebagai pelatih, suporter Barcelona tetap mencintainya dan memilihnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa.(Ruri)

 

(BOKS)

Bela tiga negara

            Selama menjadi pemain, Kubala sudah bermain untuk tiga negara yang berbeda. Dan itu membuat dirinya sebagai satu-satunya pemain di seluruh dunia yang pernah membela tiga negara yang berbeda, yakni Cekoslovakia, Hungaria, dan Spanyol.

            Ketika masih membela Slovan Bratislava, ia bermain sebanyak enam kali dan mencetak empat gol bagi Cekoslovakia yang dibelanya antara 1946-47. Setelah kembali ke Budapest pada 1948, ia sempat bermain di tiga pertandingan bagi Hungaria, namun gagal mencetak satu gol pun.          

            Setelah mendapatkan status kewarganegaraan Spanyol, ia bermain sebanyak 19 kali bagi tim matador tersebut. Dalam kurun waktu antara 1953-1961, ia mencetak 11 gol bagi Spanyol. Puncak kariernya di level timnas adalah hat-trick-nya bagi Spanyol saat melawan Turki yang berakhir dengan skor 3-0 pada November 1957.

            “Aku adalah warga negara dunia, bukan milik satu negarapun,” katanya ketika ditanya mengapa ia sampai membela tiga negara sebagai pemain sepak bola. Namun, meski sudah membela tiga negara, Kubala tak pernah mencicipi turnamen internasional. Ia sempat masuk ke skuad timnas Spanyol di Piala Dunia 1962 bersama Alfredo Di Stefano. Sayang, ia tak bisa diturunkan akibat cedera.

            Namun, pemain sekelas Di Stefano tak lupa memberikan pujiannya pada pemain yang akrab dipanggil Kuksi itu. “Kubala adalah salah satu pemain terbaik yang pernah ada. Permainannya sangat murni, memukau, dan selalu bisa menghibur penonton. Yang paling kuingat adalah solidaritasnya yang tinggi pada teman. Ia selalu setia pada teman-temannya,” kata dia.(*)

Kolombia 1994, Layu sebelum berkembang

December 24, 2008 on 5:42 am | In classic | No Comments

Bak bunga yang layu sebelum berkembang. Begitulah kira-kira penggambaran yang tepat bagi langkah timnas Kolombia di ajang Piala Dunia 1994. Betapa tidak, di tengah ekspektasi, modal, dan kepercayaan diri yang begitu tinggi, mereka malah terjungkal di babak penyisihan grup.

Kepahitan yang mereka rasakan pun tak hanya berhenti di situ. Bek andalan mereka, Andres Escobar ditembak akibat melakukan gol bunuh diri saat menghadapi Amerika Serikat (AS) pada 22 Juni 1994. Humberto Munoz Castro yang terbukti bersalah sudah menembak Escobar dijatuhi hukuman penjara selama 43 tahun pada Juni 1995.

Sebelum kepahitan itu dialami, Kolombia memiliki modal kuat saat masuk ke putaran final Piala Dunia 1994. Tim Los Cafeteros menduduki peringkat pertama klasemen akhir grup A Zona CONMEBOL dengan perolehan 10 poin. Catatan itu semakin hebat, karena di babak kualifikasi, Kolombia sempat menghempaskan runner-up Piala Dunia 1990, Argentina di Buenos Aires dengan skor telak 5-0.

Tak heran, banyak yang memperkirakan kalau Kolombia akan bisa berbuat banyak di babak putaran final. Bahkan beberapa di antaranya menjagokan tim biru-kuning itu akan mampu memenangkan turnamen empat tahunan tersebut. Semua seakan semakin menjadi mudah bagi mereka, karena tergabung bersama Rumania, Swiss, dan AS di grup A. Tim-tim yang di atas kertas bisa mereka kalahkan.

Apalagi saat itu skuad Kolombia diisi oleh pemain-pemain populer dunia. Nama-nama seperti Carlos Valderrama, Faustino Asprilla, Oscar Cordoba, Luis Carlos Perea, dan Adolfo Valencia masuk ke dalam skuad asuhan Francisco Maturana.

Namun perkiraan dan harapan itu mulai sirna di pertandingan pertama. Kolombia berhadapan melawan Rumania. Kolombia memang tampak mendominasi pertandingan, namun Rumanialah yang berhasil memimpin pertandingan terlebih dulu. Adalah Florin Raducioiu yang berhasil mengecoh kiper Oscar Cordoba dan melesakkan gol di menit ke-15.

Pemain legendaris Rumania, Gheorghe Hagi, menggandakan keunggulan tersebut dengan mencetak gol di menit ke-34. Striker Adolfo Valencia sempat memberikan harapan dengan mencetak gol sebelum turun minum. Namun, setelah itu, Kolombia tak juga mampu mencetak gol hingga Raducioiu menyegel kemenangan Rumania dengan golnya di menit ke-89.

Dengan kekalahan ini, pasukan Maturana tersebut sadar kalau kemenangan melawan AS menjadi hal mutlak apabila mereka ingin lolos. Petaka baru datang bagi Kolombia ketika Escobar mencetak gol di menit ke-35. Earnie Stewart menambah keunggulan bagi AS melalui golnya di menit ke-52. Gol Valencia di menit ke-90 seakan tak berarti karena AS-lah yang berhak merengkuh kemenangan.

Dengan dua kekalahan di dua partai perdana, satu-satunya harapan Kolombia adalah menundukkan Swiss dan berharap Rumania akan kalah melawan AS. Kolombia memang berhasil menundukkan Swiss dengan skor 2-0 melalui gol Herman Gaviria dan Harold Lozano. Namun, kabar kemenangan 1-0 Rumania atas AS membuat harapan Kolombia musnah. Mereka harus angkat koper dari ranah Amerika.

ANDRES ESCOBAR

Publik pun menganggap kegagalan menyakitkan Kolombia di ajang ini salah satunya disebabkan oleh gol bunuh diri Andres Escobar di pertandingan melawan AS. Dia dianggap bertanggungjawab atas kerugian pertaruhan judi yang dilakukan beberapa mafia perdagangan obat bius yang marak di Kolombia.

Tak pelak, nyawanya pun melayang di bar El Indio yang terletak di pinggir kota Medellin pada 2 Juli 1994. Menurut kekasih Escobar, sang pembunuh meneriakkan kata “Gooollll!” sebelum menembakkan senjatanya ke arah Escobar. Dia meneriakkan kata itu sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah peluru yang ditemukan di tubuh bek tersebut.

Tapi teori lain menyebut kalau kematian Escobar murni disebabkan perkelahian yang terjadi di bar tersebut. Sampai sekarang, tak jelas apakah Munoz Castro memang menembak mati Escobar akibat gol bunuh diri tersebut. Kematian ini semakin kontroversial karena hukuman Munoz dikurangi 26 tahun pada 2001. Dan Munoz akhirnya dibebaskan dari penjara pada 2005 setelah menjalani hukuman selama 10 tahun.

Disadari atau tidak, Escobar bukanlah satu-satunya penyebab kegagalan Kolombia. Usia skuad yang sangat matang, terutama Valderrama yang sudah menginjak usia 36 tahun saat itu, bukanlah usia yang sesuai untuk menggalang kekuatan di lini tengah. Selain itu, kekuatan lini pertahanannya dianggap tak layak berlaga di level sekelas Piala Dunia. So, dengan atau tanpa kesalahan Escobar sekalipun mungkin sebenarnya Kolombia sudah layu sebelum berkembang di Piala Dunia.(Ruri)

(BOKS)

Francisco Maturana

Dokter gigi yang juga pelatih

Karier Maturana sebagai pemain boleh saja hanya terbentang selama 12 tahun, yakni dimulai pada 1970 dan berakhir pada 1982. Namun, Maturana adalah salah satu pemain sepak bola yang mampu meraih gelar kesarjanaan sembari menekuni karier profesionalnya sebagai pemain sepak bola. Dia mengantongi ijazah sarjana dokter gigi.

Tapi Maturana tak pernah menggunakan ijazah itu untuk membuka praktik sebagai dokter gigi. Dia malah menekuni karier sebagai pelatih sepak bola. Klub pertama yang ditanganinya adalah klub Once Caldas pada 1986. Dalam rentang waktu antara 1987-90, dia memiliki dua pekerjaan sekaligus, yakni menangani klub Atletico Nacional sekaligus menjadi pelatih timnas Kolombia.

Periode keemasannya sebagai pelatih terjadi pada 1989 ketika ia membawa Nacional memenangkan gelar Copa Libertadores untuk pertama kalinya. Gelar juara ini merupakan gelar juara pertama bagi sebuah klub asal Kolombia.

Dengan menggunakan materi pemain yang hampir sama, Maturana mengantar timnas Kolombia masuk ke babak putaran final Piala Dunia 1990 setelah absen selama 28 tahun. Di babak putaran final, dia membawa Kolombia meraih prestasi terbaiknya dengan lolos ke babak kedua sebelum kalah melawan Kamerun.

Setelah menghabiskan waktu menjadi pelatih Real Valladolid, Pacho, sebutan akrab Maturana kembali ke timnas dan membuat Kolombia lolos ke babak putaran final Piala Dunia sekali lagi. Sayang penampilan buruk tim asuhannya membuat dia harus hengkang dari kampung halamannya sekali lagi.

Atletico Madrid sempat menjadi tempat tujuan sebelum menangani Timnas Ekuador. Tapi, dia gagal mengantar tim tersebut masuk ke babak kualifikasi Piala Dunia 1998. Dan akhirnya dia memutuskan kembali ke Kolombia. Usai menangani timnas Kosta Rika dan Peru, Pacho kembali ke Kolombia.

Keputusannya tepat. Dia membawa Kolombia menjuarai Copa America untuk pertama kalinya pada 2001. Meski berulangkali mengalami kegagalan, namun publik Kolombia rasanya setuju kalau Pacho adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Kolombia sampai kapanpun.(*)

Selebrasi gol, memorable moments

December 24, 2008 on 5:41 am | In classic | No Comments

Berbagai cara dilakukan para pemain bola untuk menunjukkan kegembiraannya usai mencetak gol. Umumnya, para pemain itu berlari sampai ke sudut lapangan sambil berteriak atau menepuk dada mereka sebagai tanda kebanggaan. Namun ada pula berbagai keunikan yang dilakukan pemain saat merayakan gol. Bahkan tak jarang selebrasi itu penuh keunikan dan kontroversial, sehingga banyak orang sulit melupakannya. Berikut beberapa diantaranya.(Ruri)

· Selebrasi gol yang dilakukan Marco Tardelli setelah mencetak gol kedua Italia di perempat final Piala Dunia 1982 memang sulit dilupakan. Usai menaklukan Harald Schumacher, dia berlari ke sudut lapangan sembari menepuk dadanya. Tak lama kemudian, air mata ternyata menetes dari pipinya. Saking deras air matanya, wajahnya pun basah sembari ia meneriakkan namanya dan mengguncang-guncangkan kepalanya dengan kencang. Selebrasi ini dikenal dengan sebutan “Tangisan Tardelli.”

“Mungkin kalau saya tak berteriak kencang-kencang dan menangis waktu itu, mungkin saya malah akan meledak karena terlalu gembira,” kata Tardelli.

· Manajer klub peserta Liga Champions, Anorthosis Famagusta, Temuri Ketsbaia sempat menuai kontroversi usai mencetak gol. Ketika masih membela Newcastle United, midfielder asal Georgia itu menendang sebuah papan iklan setelah melesakkan gol ke gawang lawan.

· Para penonton babak perempat final Piala Dunia pasti tak sulit melupakan gaya selebrasi gol yang dilakukan pemain Brasil Falcao. Usai melesakkan gol ke gawang Italia, ia berlari ke sudut lapangan sembari berteriak-teriak dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

· Pemain kontroversial Inggris, Paul Gascoigne, pernah membuat selebrasi gol yang tak terlupakan di ajang Euro 1996. Ketika mencetak gol kedua bagi Inggris saat melawan Skotlandia, ia langsung berposisi tidur telentang dan membuka tangannya lebar-lebar. Rekan-rekan setimnya mengambil botol air dari staf tim, dan mengucurkan air dari botol langsung ke mulut Gazza yang terbuka.

Sebelumnya, Gascoigne menerima bola dari Darren Anderton di sisi kiri area penalti Skotlandia. Tak lama, ia bisa melewati adangan Colin Hendry dengan menggunakan kaki kirinya dan mengubah arah. Ia pun melakukan voli dengan kaki kanannya dan melewati Andy Goram sampai terciptalah gol.

Selebrasi ini seakan menggambarkan gambar pemain-pemain Inggris yang menghabiskan malam di sebuah klub malam jelang turnamen Euro 1996. Gascoigne dan Teddy Sheringham tertangkap kamera sedang minum minuman beralkohol. Mereka berdua minum minuman itu di atas kursi yang biasa digunakan para dokter gigi.

· Salah satu perayaan gol yang tak bisa dilupakan di jagat sepak bola wanita adalah aksi pemain Amerika Serikat (AS), Brandi Chastain. Setelah mencetak gol penalti kemenangan AS atas Cina di Piala Dunia Wanita 1999, ia langsung melepas baju atasnya. Tak pelak, perutnya terlihat terlanjang dan bra mode sport yang dikenakannya terlihat. Tak lama kemudian, aksinya pun langsung dimuat di majalah Time, Newsweek, People, dan Sports Illustrated.

· Saat Inggris menghancurkan Jerman dengan skor 5-1 di babak kualifikasi Piala Dunia 2002, Emile Heskey membuat selebrasi gol yang cukup unik. Ia berlari ke sudut lapangan sembari meniru gerakan seorang pemain golf yang sedang memukul bola. Selebrasi ini menunjukkan betapa mudahnya menghancurkan Jerman saat itu.

· Di turnamen Piala Dunia 2002, striker Korea Selatan, Ahn Jung-Hwan meniru gerakan seorang skater setelah mencetak gol melawan AS. Gerakan itu menyindir keputusan kontroversial juri Olimpiade musim dingin 2002 terhadap pemain skater Korea, Kim Dong-Sung. Mereka mendiskualifikasi Kim secara kontroversial dan membuat skater AS, Apolo Anton Ohno memperoleh gelar juara sekaligus medali emas.

· Ketika masih bermain di Liverpool, Craig Bellamy merayakan golnya ke gawang Barcelona dengan meniru gerakan seorang pemain golf yang sedang mengayunkan stiknya. Media kemudian berspekulasi kalau gerakan itu merupakan tumpahan kekesalan Bellamy kepada John Arne-Riise. Keduanya bertengkar di sebuah klub karaoke dan Bellamy dikabarkan mencoba memukul Riise dengan menggunakan stik golf.

· Pemain timnas Italia, Fabio Grosso mengulangi selebrasi gol yang dilakukan Marco Tardelli. Usai mencetak gol di menit ke-119 ke gawang Jerman di babak semifinal Piala Dunia 2006, dia berlari menuju ke rekan-rekan setimnya dengan penuh kegembiraan. Tak hanya itu, dia pun terlihat menangis. Dengan wajah penuh air mata ia mengayun-ayunkan jarinya sambil berteriak, “Aku tak percaya bisa mencetak gol itu!”

· Terbaru, midfielder Ipswich Town, David Norris meniru gerakan tangan yang diborgol usai mencetak gol ke gawang Blackpool pertengahan November lalu. Gerakan itu merujuk pada Luke McCormick, mantan rekannya di klub Plymouth, yang dihukum 7 tahun penjara akibat menabrak Aaron Peak dan Ben Peak. Akibat insiden tersebut, kedua bocah itu meninggal. McCormick diduga kuat sedang mabuk saat menyetir. Norris pun dituding tak peka terhadap perasaan keluarga Peak yang kehilangan dua anaknya.(*)

Ezequiel Lavezzi, El nuevo pibe d’oro

December 15, 2008 on 12:11 am | In modern | No Comments

5 Juli 1984. Tepat di hari itu, sesosok pemain penting dalam sejarah sepak bola diperkenalkan untuk pertama kalinya ke publik Napoli. Diego Armando Maradona, nama pemain itu akhirnya memang benar-benar mencatatkan diri sebagai pahlawan dengan mengantar Napoli menjadi scudetto musim 1986-87.

5 Juli 2007. Sebuah kontrak untuk bermain di Napoli disodorkan bagi Ezequiel Lavezzi. Dia tak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri di tim Azzurri tersebut. Dia langsung memainkan peran besar dalam kemenangan besar 5-0 melawan Udinese di Stadion Friuli pada 2 September 2007. Predikat el nuevo pibe d’oro atau the new golden boy pun langsung melekat padanya.

Kemenangan itu jelas sangat berarti. Napoli belum pernah mencetak lima gol tandang di kancah Serie-A sejak 1929. Mereka pun tak pernah menang melawan Udinese sejak 1987. Uniknya, saat itu Maradonalah yang membuat Napoli menang 3-0 atas Udinese dengan mencetak dua gol. Dan sekarang, giliran Lavezzi yang membuat kubu Naples memenangkan pertandingan penuh makna tersebut. Dia membuat sebuah gol dan dua assist dalam pertandingan itu.

Tak pelak, pujian-pujian pun langsung bermunculan. “Anda lebih baik daripada Diego,” begitu tulisan seorang suporter Napoli usai pertandingan itu. “Anda semua tak perlu meminta lebih lagi dari Lavezzi,” demikian tulisan Rino Cesarano, jurnalis Corriere dello Sport. “Dia membuat mulut semua orang ternganga,” papar Sebastiano Vernazza, jurnalis Gazzetta dello Sport. “Dia memainkan sepak bola modern, terorganisir dan menekan,” imbuh dia.

Mungkin pembandingan dirinya dengan Maradona terlalu berlebihan, karena Lavezzi lebih sering berperan sebagai second striker. Sedangkan Maradona lebih sering memainkan peran sebagai striker murni. Mungkin gayanya, baik di dalam maupun di luar lapangan, lebih bisa dimiripkan dengan Giuseppe Signori, mantan pemain Lazio.

Namun, dengan siapapun Lavezzi disama-samakan, perlahan tapi pasti, dia sudah mulai mencuri hari suporter Napoli. Termasuk para orang tua di Naples yang rela menamai anak-anak mereka dengan nama pahlawan asal Argentina itu. Para suporter Napoli seakan melihat Diego mereka kembali datang ke kota itu untuk kedua kalinya.

Tentu saja Lavezzi paham terhadap harapan publik Naples yang disematkan padanya. Karena sejak berusia 10 tahun, ketika ia pertama kali bergabung dengan Boca Juniors, ia sudah mendengar kehebatan Maradona di Napoli.

“Jangan pernah samakan aku dengan Maradona. Aku hanyalah salah satu pemain sepak bola yang memiliki kehormatan mengenakan kostum Napoli sesudah dirinya. Kalau Anda berbicara mengenai teknik, mungkin aku lebih mirip dengan Carlos Tevez, meski aku masih jauh berada di bawah levelnya,” kata Lavezzi merendah.

Mungkin dia benar. Ketika dia menguasai bola, dia selalu bisa mendapatkan ruang gerak sembari mengalahkan kekuatan pemain lawan. Kalau sudah begitu, hanya tiga hal yang akan terjadi. Pertama, sebuah hadiah tendangan bebas akan diberikan padanya. Kedua, dia akan bisa menembus lini pertahanan lawan. Dan ketiga, dia akan dengan cerdik mengumpan bola tersebut kepada rekan setimnya yang tak dijaga lawan.

MATANG DI ARGENTINA

Semua keahlian menggocek bola itu dirintis Lavezzi saat bermain bagi tim yunior Boca Juniors yang dibelanya sejak berusia 10 hingga 17 tahun. Kemudian ia pindah ke tim yunior Estudiantes pada 2003. Selama semusim di sana, ia mencetak 17 gol dari 39 pertandingan.

Semusim berikutnya, Genoa memberikan kontrak sebesar 1 juta euro kepadanya. Namun ia langsung dipinjamkan ke klub San Lorenzo, Argentina. Di usia 19 tahun, ia berhasil mencetak enam gol di ajang Apertura 2004. Jumlah tersebut membuat dirinya duduk di posisi keempat daftar top skorer.

Usai dipinjamkan, sebenarnya striker tangguh ini ingin kembali ke Genoa. Tapi, Genoa terlibat dalam skandal suap yang membuat mereka terdegradasi ke Serie C1. Bahkan akibat krisis finansial yang melanda klub, Lavezzi pun dijual ke San Lorenzo dengan nilai transfer 1,2 juta euro.

Di San Lorenzo, dia membantu klub tersebut untuk meraih titel Clausura 2007 dengan keunggulan enam poin atas klub Boca Juniors. Tak lama kemudian, dia memutuskan hijrah ke Napoli. Uang senilai enam juta euro pun disiapkan bagi pemilik kostum nomor 7 di Napoli ini.

Selain mengantar Napoli mengalahkan Udinese sejak 1987, Lavezzi juga berhasil menjadi pencetak hat-trick pertama di Napoli sejak 14 tahun terakhir. Tiga gol itu dia persembahkan ketika Napoli menjamu Pisa di ajang Coppa Italia. Pemain Napoli terakhir yang melakukannya adalah Daniel Fonseca ketika melawan Reggiana pada 1993.

Di level timnas, Lavezzi memulai debut internasionalnya bagi Argentina ketika melawan Cile pada 18 April 2007. Dia pun terpilih masuk ke skuad Olimpiade Beijing 2008 lalu. Lavezzi tak lupa menyumbang dua golnya di ajang ini, yakni melawan Australia pada 10 Agustus 2008 dan sebuah penalti melawan Serbia tiga hari kemudian.

Imbasnya, klub-klub besar Eropa, termasuk Chelsea, secara terang-terangan mengaku meminati dirinya. Kubu Stamford Bridge sudah memberikan penawaran sebesar 10 juta pounds kepadanya. Namun, pemain berusia 23 tahun itu enggan pindah ke ranah Inggris.

“Aku bahagia di sini dan hanya ingin tinggal di sini. Aku tahu Chelsea berminat padaku, tapi yang berurusan dengan mereka adalah agen dan klubku sekarang. Dan kupikir pihak klub tak bermaksud mengizinkanku pergi dan aku senang mendengarnya. Aku sangat bahagia di Napoli,” kata dia.

Kebahagiaan Lavezzi tentu saja berbalas dengan kecintaan suporter Napoli terhadapnya. Predikat el nuevo pibe d’oro yang sudah melekat padanya, menunjukkan kecintaan publik padanya. Tak lama lagi, kalau kariernya bersinar di Napoli, mungkin akan banyak orang tua di Naples yang akan menamai anak mereka Ezequiel. El nuevo pibe d’oro.(Ruri)

(BOKS)

Hampir jadi tukang listrik

Ketika berusia 17 tahun, sebenarnya Lavezzi sudah tak ingin lagi meneruskan kariernya sebagai pemain sepak bola. Dia merasa cita-citanya untuk membela klub kampung halamannya, Rosario Central, tak juga terpenuhi. Dia pun memutuskan untuk magang menjadi tukang listrik. Dia ingin mengikuti jejak karier saudaranya yang juga menjadi tukang listrik.

Namun, sebuah tawaran dari Estudiantes pun mengakhiri keinginannya itu. Dan kini ia bersinar sebagai pemain Napoli. Namun, kehidupannya di kota itu juga tak mulus. Beberapa bulan setelah menginjakkan kakinya di sana, El Loco dan kekasihnya diketahui menabrak mobil di sebuah jalan kota Napoli.

Ketika pemilik mobil itu meminta ganti rugi atas kerusakan tersebut, Lavezzi dan kekasihnya yang tak disebutkan namanya itu malah marah-marah. Mereka meninju dan memecahkan kaca jendela mobil tersebut. Bahkan kekasih El Loco pun melepaskan ikat pinggangnya dan mencambuk salah satu pria di mobil tersebut. Alhasil pria itu langsung dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka yang dideritanya.

Namun kasus itu tak berlanjut. Entah kenapa. Tindakannya itu rasanya membuat Lavezzi semakin mirip dengan Maradona. Di tengah kariernya yang menawan, Maradona juga tak berhenti membuat sensasi. Akankah Lavezzi mengikuti jejaknya? Hanya waktu yang bisa menjawab.(*)

Konspirasi dunia sepak bola, kekuasaan yang berbicara

December 15, 2008 on 12:05 am | In classic | No Comments

Konspirasi dan intrik sudah muncul di dunia sepak bola sejak pertama diciptakan. Bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

Sejak awal diciptakan, sepak bola sudah banyak dilingkupi intrik. Mulai dari penyuapan wasit, mafia, sampai ancaman kematian. Siapapun pasti belum bisa melupakan kematian Andres Escobar yang ditembak akibat melakukan gol bunuh diri di ajang Piala Dunia 1994. Pemain timnas Kolombia itu tewas dengan 12 peluru yang ditembakkan oleh Humberto Munoz Castro.

Campur tangan pemerintah juga berbicara dalam sepak bola. Seperti yang terjadi pada klub asal Spanyol. Rayo Vallecano. Menurut Vice President Alvaro Mateos, Pemerintah Spanyol sudah melakukan konspirasi supaya klubnya terdegradasi ke Segunda Division di musim 2002-03.

“Pemerintah memiliki masalah dengan bisnis anggur milik ayah saya. Mereka lalu membuat sebuah video yang menyudutkan klub. Mereka juga memengaruhi keputusan wasit di lapangan. Pemerintah bisa memutuskan mana klub yang bisa menang dan mana yang akan terdegradasi. Mereka pun bisa memengaruhi hasil pertandingan,” kata dia.

“Saya yakin ada keputusan politik yang memengaruhi hasil pertandingan setiap pekannya. Tapi saya tak bisa membuktikannya. Saya hanya menyayangkan hal ini terjadi di La Liga yang memiliki reputasi bagus, baik dari segi pemain maupun klubnya,” imbuh dia.

Setelah konspirasi di Spanyol, konspirasi teranyar yang diendus media adalah skandal calciopoli di ranah Italia yang membuat Juventus terpaksa mencicipi aroma Serie-B di musim 2006-07. Sebuah hal yang sangat memalukan bagi klub sekelas Juve. Lalu konspirasi apa saja yang pernah terjadi di dunia sepak bola? Berikut penjelasannya.(Ruri)

· Revolusi Napoli era Diego Maradona

Ketika Maradona dikontrak Napoli di musim 1984-85 dengan harga 13 juta dolar AS, kelompok mafia asal Napoli, Camorra, diduga sudah ikut andil dalam proses transfer Maradona. Pun mereka menyediakan sebagian dari dana transfer guna mengambil pemain yang saat itu berusia 24 tahun dari Barcelona.

Tak lama setelah bergabung dengan Napoli, pemain asal Argentina pun dekat dengan klan terkuat di Camorra, yakni keluarga Guilianos. Bisa ditebak, keluarga itu pula yang menyediakan suplai kokain kepada Maradona selama berada di Napoli.

Ketika Napoli menjuarai Serie-A pada musim 1986-87, keluarga Guilianos membiayai seluruh pesta perayaan yang digelar di jalan-jalan kota Napoli. Mereka membagikan makanan dan minuman kepada para fans Napoli. Tak pelak, kondisi itu segera menimbulkan dugaan-dugaan miring mengenai hubungan Napoli dengan Camorra.

“Tak lama sesudah menghadiahkan Napoli sebuah penalti kontroversial, seorang wasit langsung mengganti mobil Fiat-nya dengan sebuah mobil Mercedez,” kata seorang pemain sepak bola yang tak disebutkan namanya melalui Gazzetta Dello Sport yang terbit tak lama kemudian.

Suara sumbang juga muncul dari seorang pakar statistik sepak bola di Italia yang memilih untuk tak disebut namanya di media. Menurutnya, selama musim 1986-87, para klub rival Napoli setidaknya tak diberikan 10 penalti yang seharusnya diberikan para wasit.

Sebuah kabar lain menyebutkan kalau Maradona diduga sudah memberikan berbagai hadiah kepada seorang wasit yang sudah memenangkan pertandingan Napoli. Dia mengunjunginya di ruangan wasit dan memberikan rokok asli Kuba dan menandatangani kostum sepak bola sebagai hadiah bagi anak-anak wasit tersebut.

Sang bintang bukannya tak tahu dengan kabar-kabar miring ini. Namun, ia memilih untuk tak memedulikannya. Ketika ditanya seorang jurnalis Argentina di awal 1990-an apakah semua kabar miring itu benar, sang bintang hanya menjawab pendek. “Pergi kau, atau aku akan menembakmu. Dasar kamu orang bodoh!” Sebuah pernyataan yang menjawab semua dugaan.(*)

· Pengaturan skor pertandingan Argentina-Perancis di Piala Dunia 1978

Mungkin Anda menduga kalau tindak pengaturan skor sudah terjadi ketika Argentina menghempaskan Peru dengan skor 6-0. Maklum, kubu tuan rumah membutuhkan kemenangan dengan selisih gol lebih dari empat supaya tampil di babak final dan menyingkirkan Brasil. Namun, ternyata pengaturan skor tak terjadi di pertandingan itu, namun di pertandingan babak penyisihan Grup 1 antara Argentina melawan Perancis.

Ketika Didier Six dilanggar Leopoldo Luque di kotak penalti, wasit Jean Dubach dari Swiss tertangkap kamera sedang mengedipkan mata kepada Luque dan tak memberikan hukuman penalti. Hadiah penalti malah diberikan kepada Argentina ketika bek Perancis, Marius Tresor dianggap sudah menyentuh bola di area terlarang. Dan kapten tim, Daniel Passarella sukses mengeksekusi tendangan itu di menit ke-45.

Seperempat abad kemudian, tepatnya pada 2003, sebuah kontroversi lain muncul ke permukaan. Dalam sebuah siaran radio Perancis, seorang penelepon yang mengaku sebagai mantan pemain timnas Perancis, melihat Mario Kempes sudah menelan beberapa pil berwarna biru sebelum pertandingan.

Penelepon yang kemudian diketahui adalah Tresor itu menuduh para pemain Argentina sudah menelan zat amphetamines dalam kadar tinggi. “Bahkan mereka membutuhkan waktu pendinginan selama dua jam setelah pertandingan,: kata dia. Sebelum pertandingan, beberapa anggota FIFA setuju untuk tak melakukan tes doping. Tentu saja kabar ini langsung disanggah Kempes dan asosiasi sepak bola Argentina.

Di ajang yang sama, Piala Dunia 1978, tepatnya di babak final, Passarella sempat melakukan protes terhadap perban yang dikenakan Rene van der Kerkhof. Padahal perban pemain Belanda itu dikenakan dengan seizin FIFA. Perban berwarna merah jambu itu dianggap sudah mengganggu konsentrasi pemain Argentina.

Aksi protes itupun sempat membuat pertandingan tertunda selama beberapa saat. Sebuah protes yang dianggap mengada-ada karena nyatanya confetti yang dilemparkan para suporter dari pinggir lapangan pun tak mengganggu konsentrasi Kempes untuk melesakkan dua gol. Argentina pun menjadi juara di kandang sendiri dengan mengalahkan Belanda dengan skor 3-1. Entah diatur atau tidak.(*)

· Iran diminta bermain santai di babak kualifikasi Piala Dunia 2002

Di babak kualifikasi Piala Dunia 2002, sebenarnya Iran hanya membutuhkan satu kemenangan lagi melawan tim medioker Bahrain untuk bisa masuk otomatis ke putaran final. Namun yang terjadi adalah Bahrain berhasil mengalahkan Iran dengan skor 3-1. Begitu pula di babak play-off, Iran kalah dari Republik Irlandia dengan skor 1-2.

Sebenarnya tak ada yang menduga kalau tindak konspirasi sudah terjadi. Namun sekelompok jurnalis Iran menduga kalau Pemerintah Iran sudah meminta timnya untuk bermain tak terlalu serius melawan Bahrain. Sebuah alasan berbau agamis pun mengemuka.

Pemerintah Iran khawatir para suporter sepak bola setempat akan mengulang perayaan di jalan-jalan Kota Teheran setelah Iran mengalahkan Amerika di Piala Dunia 1998. Para suporter Iran merayakan kemenangan itu dengan minum-minuman keras. Dan bisa ditebak, perayaan itu berakhir dengan kerusuhan.

Tapi mungkinkah Pemerintah Iran sampai hati mengorbankan timnasnya hanya untuk menghindari hal itu? Paling tidak, sebuah kemenangan melawan AS, meski di ajang sepak bola, merupakan sebuah alat propaganda yang luar biasa bagi mereka. Namun, Pemerintah Iran langsung menyangkal tuduhan itu.

Sebagai imbalannya, Pemerintah berkoar-koar di media meminta timnas Iran untuk lolos ke Olimpiade 2004. Sayang, mereka kalah melawan Korea Selatan dan gagal menuju ke Athena. Pelatih Iran, Hossein Faraki pun memilih mengundurkan diri. Dengan kondisi ini, dugaan kalau timnas Iran diminta untuk tak bermain serius di setiap pertandingan sepak bola semakin terbukti.(*)

· Don Revie, Manajer Leeds United, menyuap pemain dan manajer

Pada 1977, Harian Daily Mirror, Inggris menduga kalau mantan pelatih Timnas Inggris, Don Revie, sudah menyuap Dave Wagstaffe, sayap kiri Wolverhampton Wanderers. Ketika masih menukangi Leeds pada 1961-1974, dia meminta Wagstaffe untuk bermain santai di pertandingan melawan Leeds.

Tak hanya itu, manager Sunderland, Bob Stokoe mengaku kalau Revie sudah menawarkan uang sejumlah 500 pounds pada 1963. Ia meminta pasukan Stokoe bermain santai supaya Leeds bisa mengalahkan Bury. Bury adalah klub yang sempat dilatih Stokoe sebelum bergabung dengan Sunderland.

Revie menyuap Wagstaffe supaya Leeds bisa menjadi juara Liga Inggris musim 1972. Sementara Revie memberikan uang pada Stokoe guna menghindarkan Leeds dari ancaman degradasi ke divisi dua pada 1963. Namun, Harian The Sunday Times meragukan kabar tersebut karena saat itu Revie hanya dibayar 38 pounds per pekan. Jadi bagaimana dia bisa menawarkan uang sebesar 500 pounds kepada Stokoe?

Namun berita di The Sunday Times tak menghentikan munculnya rumor penyuapan yang dilakukan Revie. Dalam buku autobiografi berjudul Playing Extra Time milik almarhum Alan Ball, Ball mengaku menerima beberapa amplop berisi lembaran 50 pounds dari seseorang yang menyebut dirinya sebagai perwakilan Leeds.

Lembaran uang itu diterimanya setelah Ball mengantar Inggris merengkuh gelar juara Piala Dunia 1966. Tak lama kemudian, Revie meminta bertemu langsung dengan Ball dan mengajak pemain Blackpool itu bergabung dengan Leeds United. Ball langsung menolaknya dan memilih bergabung dengan Everton.

Tuduhan yang sama juga datang dari mantan bek Wolves, Frank Munro. Ia juga mengaku sudah mendapatkan tawaran uang dari Revie. Munro mengungkapkannya dalam buku Running with Wolves karangan Peter Lansley yang diterbitkan pada 2004. Sampai menutup mata pada 26 Mei 1989 di usia 61 tahun, Revie tak pernah menyangkal pun membenarkan semua tuduhan itu.(*)

· Arsenal membuat Tottenham Hotspur terdegradasi di musim 1927-28

Persaingan antara Arsenal dan Tottenham ternyata sudah dimulai pada 1920-an. Saat itu Chairman Arsenal, Sir Henry Norris yang diduga sudah menyuap Chairman Football League, John McKenna guna mempromosikan Arsenal ke divisi utama. Padahal saat itu, Arsenal hanya finis di posisi kelima divisi dua. Dan di saat yang sama Spurs malah terdegradasi ke divisi dua.

Norris sepertinya belum puas menjungkalkan rival sekotanya itu. Di musim 1927-28, ia melakukannya sekali lagi. Meski tak lagi berstatus sebagai chairman, namun ia meminta Arsenal untuk membiarkan Portsmouth memenangkan pertandingan. Dan benar, The Pompeys menang dengan skor 2-0 di kandang Arsenal. Sebuah hasil yang benar-benar di luar dugaan.

Dengan kemenangan itu, Tottenham yang bersaing dengan Portsmouth pun harus rela terdegradasi sekali lagi. Padahal kalau saja Arsenal berhasil menahan seri Portsmouth, maka Tottenham akan tetap berada di divisi utama. Dua pekan kemudian, semua anggota tim Arsenal menerima hadiah yang disebut-sebut berasal dari Norris.

Setahun kemudian, sebuah panel FA meminta penjelasan Norris terhadap dugaan pengaturan skor tersebut. Menurut juru bicaranya, Norris sangat tersinggung dengan tuduhan itu. Sebagai hasilnya, FA melarang Norris untuk terlibat di dunia sepak bola seumur hidupnya.(*)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^