Liverpool, contoh Alexander Agung
February 27, 2009 on 4:06 am | In sepak bola | No CommentsDalam usaha menaklukkan India pada 326 sebelum Masehi, Alexander Agung pernah memenggal kepala beberapa pasukan setianya. Semua dilakukan untuk menangkap seorang pengkhianat di antara mereka. Dia meyakini kalau pengkhianatan itu akan mengancam seluruh pasukannya sekaligus mencederai usahanya untuk menguasai dunia.
Ribuan tahun kemudian, ketika era globalisasi sudah melanda dunia, tampaknya ada seseorang yang menganut prinsip itu. Dia bukan seorang raja atau pemimpin dunia. Dia hanyalah seorang manajer sebuah klub legendaris dunia. Dialah Rafael Benitez.
Dia tak akan ragu mencabut hak istimewa pemainnya yang berada di skuad utama apabila pemain itu tak menunaikan kewajibannya. Kewajiban itu adalah menjaga mental jawara dan terus tampil bagus. Siapa saja yang tak memenuhi kewajiban itu, jaminan tempat utama akan tercerabut dari tangannya. Siapapun dia.
Benitez tak pernah memedulikan adanya pemain tenar, populer, atau pemain kesayangan publik sekalipun dalam skuadnya. Dia tak akan pernah memasukkan mereka ke skuad utama, apabila tak memiliki mental jawara. Begitu pula pemain yang punya teknik sempurna sekalipun. Sepanjang mentalnya tak “berbicara”, maka dia pun akan tersingkir. Vonis hakim pun dijatuhkan pada sang “pengkhianat”.
Mental bentukan Benitez ini berbicara apabila Liverpool menghadapi tim-tim besar di Eropa. Real Madrid yang akan menjadi lawan The Reds patut mewaspadainya. Mereka harus memikirkan taktik khusus untuk menghadapi tim yang selalu bisa tampil menawan melawan tim-tim jawara ini.
Siapapun akan sulit melupakan malam final Liga Champions musim 2004-05. Saat Liverpool sudah tertinggal 0-3 dari AC Milan, mereka berhasil menyamakan kedudukan dalam kurun waktu tiga menit. Tak hanya itu, kemenangan pun mereka bawa pulang ke Inggris setelah menang melalui drama adu penalti.
Kegentaran juga tak sedikitpun mendera Liverpool ketika menghadapi Inter Milan di San Siro pada 11 Maret tahun lalu. Hasilnya, gol tunggal Torres merobek gawang Julio Cesar di menit ke-63. Sepanjang pertandingan pun Liverpool terlihat mendominasi permainan.
Tim raksasa yang mereka hancurkan tak berhenti sampai di situ. Arsenal, Barcelona, dan Juventus juga tersungkur di hadapan mereka. Perkecualian tentu saja ditujukan pada Chelsea yang menyingkirkan mereka di semifinal Liga Champions musim lalu. Gol bunuh diri John-Arne Riise di Anfield membuyarkan seluruh impian Liverpool.
Tapi Chelsea juga pernah mereka jungkalkan di musim 2006-07 melalui gol Luis Garcia di menit ke-4. Sementara Arsenal mereka kalahkan musim lalu dengan agregat 3-5. Sementara Barcelona bisa mereka kalahkan dengan skor 1-2 di babak 16 besar Liga Champions musim 2006-07.
RESEP BENITEZ
Sederet kemenangan melawan tim besar itu pastinya harus diwaspadai Real Madrid, kalau mereka ingin jadi jawara Liga Champions musim ini. Melawan sebuah tim besar, Benitez juga mempunyai resepnya tersendiri. Dia memiliki keengganan untuk kalah, dan selalu ingin menang.
“Saya sudah lama berada di dunia ini. Mungkin itu sebabnya saya punya mental untuk selalu juara. Saya tak khawatir menghadapi tekanan untuk menang karena itu adalah bagian dari pekerjaan saya. Dan saya pikir, kualitas mental itu juga sudah menular ke pemain. Mereka sudah memiliki kualitas tersebut,” kata Benitez.
Kualitas itu sesungguhnya terletak pada cara tim menikmati permainan itu sendiri. Dengan bermain sepenuh hati dan menikmati permainan, maka lawan seberat apapun akan mudah mereka lewati.
“Tim-tim yang berlaga di Liga Champions adalah tim-tim terbaik dunia. Kalau kami ingin melawan mereka, kami harus lebih dulu menikmati permainan yang kami lakoni. Sekarang kondisi timku sudah semakin baik dan kami bermain semakin bagus setiap pekan. Saya sangat menyukai cara kami menyerang dan bertahan,” kata Benitez.
“Jadi, lawan seberat apapun bukan lagi sebuah masalah bagi kami sekarang. Kami bisa bermain bagus dan penuh percaya diri. Selain itu, dukungan penuh dari fans juga penting bagi kami untuk menghadapi lawan seberat apapun,” imbuh dia.
Kendati demikian, Liverpool tetap harus mewaspadai adanya pengkhianat di antara mereka. Kalau ada pemain yang tak bermain bagus dan menunjukkan mental jawara, maka dia pantas disingkirkan dari skuad utama. Dan Benitez pun mengikuti prinsip Alexander Agung.(Ruri)
(INFOGRAFIS)
Tak kenal lelah
Liga Champions yang dipandang banyak klub sebagai ajang paling kompetitif dan penuh tekanan, ternyata bisa dijawab Liverpool. Berulangkali mereka menjungkalkan tim raksasa Eropa atau tak kenal lelah mampu mengejar ketertinggalan skor dengan mencetak gol di menit-menit akhir sekaligus merengkuh kemenangan. Pertandingan mana sajakah itu? Berikut penjelasannya.
1. Inter Milan 0-1 Liverpool (16 besar), 11 Maret 2008
Menghadapi klub sebesar Inter, Liverpool tak takut. Mereka berhasil menorehkan skor 2-0 melawan tim yang sama di Anfield. Kekhawatiran sempat melanda pecinta The Kop ketika harus menghadapi Inter di San Siro. Namun gol Torres di menit ke-63 menjawab kekhawatiran itu. Mereka melangkah ke babak 8 besar.
2. Liverpool 4-2 Arsenal (perempatfinal), 8 April 2008
Arsenal unggul lebih dulu di pertandingan ini. Membuat harapan mereka berkobar untuk lolos ke babak berikutnya. Tapi 15 menit sebelum peluit babak pertama ditiup, Sami Hyypia melesakkan gol untuk menyamakan kedudukan. The Reds kemudian tak tertahankan. Mereka mencetak gol melalui Torres, Gerrard, dan Babel.
3. Barcelona 1-2 Liverpool (16 besar), 21 Februari 2007
Tertinggal 1-0 lebih dulu melalui gol Deco di menit ke-14, Liverpool mampu membalasnya dengan dua gol sekaligus. Gol-gol tersebut lahir melalui Craig Bellamy di menit ke-43 dan Riise di menit ke-74. Kualitas mental The Reds berbicara meski mereka bermain di kandang lawan, dan lawan memiliki skuad nan mumpuni.
menit ke-88.
4. Liverpool 3-3 AC Milan (final), 25 Mei 2005
Pertandingan yang sulit dilupakan pecinta Liverpool. Tertinggal 3-0 lebih dulu lewat tendangan Paolo Maldini dan Hernan Crespo, The Kop malah membalikkan keadaan dengan memenangkan pertandingan. Mereka mencetak gol melalui Gerrard di menit ke-54, Vladimir Smicer menit ke-56, dan Xabi Alonso di menit ke-59. Dalam drama adu penalti, The Reds menang 3-2 karena kepahlawanan Jerzy Dudek di bawah mistar.
5. Liverpool 2-1 Juventus (perempatfinal) 5 April 2005
Sami Hyypia dan Gerrard langsung menghentak dengan dua gol sekaligus melawan tim tangguh asal Italia. Mereka melesakkan gol di menit ke 10 dan 25. Sementara kubu lawan hanya mampu membalas melalui gol Fabio Cannavaro di menit ke-63.
(BOKS)
Faktor pemain Spanyol
Satu faktor lagi harus diwaspadai Real Madrid saat melawan Liverpool nanti. Selain keberadaan Rafael Benitez, Liverpool juga memiliki banyak stok pemain asal Spanyol. Tentu saja mereka mengetahui iklim sepak bola Spanyol, lengkap dengan kekuatan Madrid.
Mulai dari Xabi Alonso, Fernando Torres, Albert Riera, Alvaro Arbeloa, sampai Pepe Reina merupakan pemain-pemain kunci di Liverpool. Torres apalagi. Sebagai anak asli Madrid, dia sangat mengenal peta kekuatan Madrid. Dan bukan tak mungkin Benitez akan menggunakan pengetahuan anak buahnya itu untuk menganalisa kekuatan Madrid.
Tak hanya itu, Torres juga mengaku akan bertanding seperti seorang fans Atletico Madrid sejati. Baginya, pertandingan nanti akan sangat berarti baginya. Dan kegagalannya merengkuh kemenangan di Santiago Bernabeu semasa membela Atletico akan menjadi suntikan tersendiri bagi dia.
“Aku akan menghadapi mereka sebagai fans Atletico. Aku juga belum pernah menang di Bernabeu, meski aku sangat pantas mendapatkan kemenangan. Karenanya, aku ingin tampil maksimal di pertandingan ini dan mengalahkan Real Madrid,” kata dia.
“Ketika aku bermain di Spanyol, aku selalu bisa dengan mudah mencetak gol ke gawang lawan. Tetapi aku selalu sulit melakukannya ketika menghadapi Real Madrid. Meski pertandingan nanti akan berjalan berat, tapi aku yakin kami akan lolos ke babak berikutnya,” imbuh dia. Sebuah tantangan yang harus diwaspadai Madrid.(*)
Real Madrid, coba hapus aib
February 27, 2009 on 4:05 am | In sepak bola | No CommentsBagi klub sebesar Real Madrid, mengakhiri musim tanpa sebuah trofi di tangan adalah sebuah hal yang memalukan kalau tak bisa dianggap tabu. Dan musim ini, ancaman yang sama mulai menunjukkan gejalanya. Madrid sudah tersingkir dari ajang Copa del Rey dan mereka terengah-engah mengejar keperkasaan Barcelona di Liga BBVA.
Klub guram Spanyol, Real Union sudah mengangkangi Madrid di Copa del Rey. Barcelona pun sudah memimpin klasemen dengan jarak 10 poin dari Madrid. Otomatis, satu-satunya kesempatan bagi Madrid untuk mendapatkan gelar musim ini adalah juara Liga Champions. Bukan jalan yang mudah. Tapi bisa menghapus aib.
Ujian pertama datang bagi Madrid ketika menjamu Liverpool di Santiago Bernabeu pada 25 Februari nanti. Liverpool sama sekali bukan lawan yang mudah. Mereka adalah jawara Liga Champions 2005. Sementara Madrid sendiri tak pernah lolos lebih dari babak 16 besar sejak 2004.
Tentu saja hal itu sangat memalukan bagi Los Merengues. Sebagai salah satu klub tersukses di Eropa, mereka harus maju selangkah di Liga Champions guna mensahihkan status mereka. Empat musim berturut-turut tak bisa “berbicara” di level tertinggi kompetisi antarklub Eropa itu bisa disebut sebuah aib bagi mereka.
Secara bergantian, Arsenal, Juventus, Bayern Muenchen, dan Roma memberikan tiket keluar dari Liga Champions musim demi musim. Jadi, wajar rasanya, kalau Madrid sendiri geregetan ingin sekali menjadi jawara Champions musim ini.
“Musim ini, Madrid ingin sekali menjadi jawara Liga Champions, karena itulah satu-satunya kesempatan mereka untuk juara. Sementara kami masih memiliki kesempatan di ajang Premier League,” papar Benitez.
Mungkin Benitez benar. Meski masih memiliki kesempatan untuk jadi jawara La Liga, tapi jujur kemungkinan itu sangat kecil. Kalau memang mereka ingin menjuarai Champions, banyak hal di tubuh Madrid yang seharusnya diubah. Banyak masalah yang mendera mereka.
Selain banyak pemain kunci yang cedera seperti Ruud Van Nistelrooy, Mahamadou Diarra, dan Arjen Robben, sebenarnya Madrid masih memiliki beberapa masalah pelik. Mereka dianggap tak memiliki persiapan dan perencanaan yang matang sebagai sebuah tim. Alhasil, mereka terseok-seok di tengah musim.
HIGUAIN – LASS
Kurangnya persiapan itu jugalah yang membuat Madrid teledor. Mereka membeli Klaas Jan-Huntelaar dan Lassana Diarra di bursa transfer musim dingin lalu. Padahal keduanya sudah tampil membela Ajax dan Portsmouth di ajang Piala UEFA. Otomatis, Madrid hanya bisa memilih salah satu dari mereka. Sebuah hasil yang tak sesuai dengan uang jutaan euro yang sudah dikeluarkan untuk mendatangkan keduanya.
Pilihan pun akhirnya jatuh ke Lassana Diarra. Dia dianggap mampu memberikan kontribusi lebih banyak dibandingkan Huntelaar. Apalagi Huntelaar bisa menampilkan performa terbaiknya bagi Los Merengues. Madrid masih bisa menumpukan harapan di lini depan kepada Gonzalo Higuain untuk mencetak gol. Dia akan banyak dibantu oleh Raul Gonzalez.
Lass akan kokoh menjaga lini pertahanan sepeninggal Mahamadou Diarra. Dengan bantuan Casillas, Ramos, Cannavaro, Pepe, dan Heinze, Madrid baru kebobolan satu gol dari enam pertandingan terakhir. Sementara, tanpa kehadiran Huntelaar di lini depan Madrid, tampaknya Higuain tak terganggu. Dia malah merasa optimis kalau akan tetap tampil bagus dan mengantar Madrid merengkuh titel Liga Champions mereka yang kesepuluh.
“Liverpool memang selalu menjadi favorit juara, jadi kami harus memfokuskan diri pada pertandingan ini supaya menang. Tapi seperti keyakinanku kalau Madrid akan jadi jawara La Liga, aku pun yakin Madrid akan jadi jawara Liga Champions tahun ini. Kami pasti akan berusaha,” kata dia.
Keyakinan Higuain boleh saja muncul. Tapi, rekor bagus Liverpool melawan tim-tim besar juga harus diwaspadai Madrid. Keinginan untuk merengkuh gelar Champions musim ini harus melewati ujian terberat pada akhir Februari ini. Kalau mereka sukses melewati adangan Liverpool, bukan tak mungkin gelar Liga Champions ke-10 memang benar-benar akan menghampiri mereka. Dan aib pun bisa terhapuskan.(Ruri)
(INFOGRAFIS)
Banyak perbaikan
Di bawah Juande Ramos, secara perlahan Madrid mengalami perbaikan. Mereka hanya kebobolan tiga gol dalam sembilan pertandingan. Catatan pertandingan pun semakin membaik, meski jarak dari Barcelona masih jauh. Lalu apa sajakah yang berubah di bawah asuhan mantan pelatih Tottenham Hotspur ini? Berikut analisanya.(*)
· Team style
Di bawah Ramos, Madrid tampak bermain lebih pragmatis dan penuh strategi. Lini pertahanan tampaknya menjadi fokus utama karena mereka hanya kebobolan tiga gol dari sembilan pertandingan.
· Jumlah gol
Los Galacticos mencetak 15 gol dalam sembilan pertandingan di semua kompetisi.
· Ball possession
Dari tujuh pertandingan terakhir, mereka memiliki rata-rata ball possession sebesar 52 persen. Angka ini menandakan kalau Madrid sebenarnya tak terlalu mendominasi pertandingan tapi mampu menang.
· Banyak perubahan
Saat melawan Racing Santander (7/2) lalu, Madrid tampak bermain lebih menyerang, cepat, dan berenergi. Namun setelah Higuain mencetak gol, mereka kemudian bermain lebih bertahan.
· Terkena kritik
Pemain legendaris Madrid, Alfredo di Stefano mengkritik permainan Madrid kini tak lagi menghibur, tak berwarna, dan tak elegan seperti sebelumnya.
· Robben-dependence
Iker Casillas sendiri mengakui kalau Madrid kini sangat tergantung pada sosok Arjen Robben. Dan bukan tak mungkin permainan tim akan berjalan tak seimbang saat Robben dibekap cedera. Namun hal itu langsung dibantah Ramos.
· Lini tengah
Namun harus diakui kalau lini tengah Madrid kini bergerak sangat dinamis. Kerjasama antara Lass dan Fernando Gago berjalan dengan baik.
(BOKS)
Lass-Gago
Selain bisa menumpukan harapan di pundak Gonzalo Higuain, Madrid bisa meletakkan harapan pada duet baru lini tengah, Lassana Diarra dan Fernando Gago. Duet ini bisa diandalkan Madrid apabila ingin merengkuh jawara Liga Champions musim ini.
Periode 2009 pun bisa mereka buka dengan sempurna. Mereka menjadi salah satu alasan mengapa juara bertahan La Liga itu tak terkalahkan sejak Januari. Karenanya, pemain asal Perancis itu bahkan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena duetnya bersama Gago berjalan lancar sejak dia pertama kali mengenakan kostum Madrid.
“Mudah rasanya bermain bersama Gago, karena dia adalah pemain yang sangat pintar,” kata Lass dalam sebuah wawancara bersama Real Madrid TV. Harus diakui kalau dua gelandang muda ini berhasil menjamin stabilitas lini pertahanan sampai ke tengah. Mereka pula yang berhasil membuat para bek Madrid merasa nyaman bermain sehingga hanya kebobolan tiga gol dari sembilan pertandingan.
Namun proses penggabungan duet ini tak berjalan begitu saja. Kesulitan yang menjadi hambatan utama adalah perbedaan bahasa antarkeduanya. Apalagi Lass baru saja menjejakkan kakinya di ranah Spanyol, sehingga dia belum terlalu lancar menggunakan bahasa negeri matador itu.
“Sulit rasanya berbicara padanya karena aku tak bisa berbahasa Spanyol. Namun karena posisinya yang sama denganku, sebagai defensive midfielder, kami bisa berlatih bersama. Semakin sering kami berlatih dan bermain bersama, kami pun jadi saling mengerti satu dengan yang lainnya,” papar Lass.
Keuntungan lain juga diperoleh Madrid dari mantan midfielder Portsmouth ini. Selain pernah membela Portsmouth, Lass juga pernah membela Chelsea dan Arsenal. Tentu saja sedikit banyak dia mengetahui peta kekuatan The Kop. Kalau Lass diturunkan sebagai starter, sudah pasti Liverpool harus mewaspadainya.(*)
Indonesia goes to World Cup 2022
February 13, 2009 on 3:27 am | In sepak bola | No CommentsBukan mimpi siang bolong
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) membuat kejutan. Mengusung keyakinan 100 persen, mereka mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebuah tema pun sudah diusung, yakni Worldwide Synergy for the Game and Our Planet Safety.
“Ini bukan ide liar, ini bukan dagelan, ini juga bukan mimpi siang bolong. Ini adalah perwujudan visi PSSI 2020 yang sudah saya gelar sejak saya terpilih pada penghujung 2003 lalu. Kita adalah sebuah bangsa besar karenanya kita harus berani lahirkan ide dan karya-karya besar,” kata Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI dalam pidatonya.
Nurdin pun mengajak semua elemen masyarakat bangsa untuk bersatu agar cita-cita dan keinginan ini bisa terwujud. Dia yakin kalau semua elemen masyarakat bisa bersatu maka, Indonesia akan mampu bersaing menjadi host country bidding untuk Piala Dunia 2022 nanti.
Selain Indonesia, negara-negara yang mencalonkan diri adalah Australia, Belanda-Belgia, Inggris, Jepang, Rusia, Meksiko, Amerika Serikat, Korea, Spanyol-Portugal, dan Qatar. Sungguh bukan saingan yang mudah bagi Indonesia.
Pertanyaannya sekarang, siapkah Indonesia menggelar even terakbar di dunia itu? Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault punya jawabannya. Dia merasa optimis kalau gelaran Indonesia akan bisa menyiapkan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
“Orang yang paling miskin di dunia adalah orang yang tak lagi sanggup untuk bermimpi. Tak bisa dipungkiri ada yang suka maupun tak suka pada ide ini. Tapi ide seperti ini harus disambut baik, tentu saja disertai usaha yang betul-betul terintegrasi dengan baik. Kalau semua sudah baik, niscaya hasilnya pun akan bagus,” kata dia.
Adhyaksa pun langsung membanding-bandingkan Indonesia dengan kondisi Meksiko dan Brasil yang sudah lebih dulu berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia. Menurut dia, kondisi ekonomi kedua negara itu bahkan jauh lebih buruk dibandingkan kondisi ekonomi di Indonesia.
“Kalau mereka bisa, kenapa kita tak bisa. Kondisi mereka bahkan lebih buruk. Indonesia juga berada dalam kondisi serupa sewaktu Soekarno menggelar pesta olahraga GANEFO pada 1960-an, tapi waktu itu semua berjalan lancar. Kalau dulu bisa, kenapa sekarang, dengan kondisi yang lebih baik, kita malah tak bisa?” papar dia.
AKSI NEKAD?
Niat PSSI menjadi tuan rumah mungkin bisa dibilang sebagai aksi nekad. Rasanya sudah menjadi rahasia umum mengenai carut-marutnya sistem manajerial PSSI. Sebuah contoh kecil ketika BLI tak bisa mengatur even lokal yang masih amburadul di semua sisi. Kalau saja Piala Dunia benar-benar dihelat Indonesia, dan Indonesia mengacaukannya, sudah pasti nama negeri akan tercoreng.
Faktor lain adalah masalah infrastruktur, akomodasi, dan transportasi yang sampai sekarang juga masih menjadi kendala. Indonesia tak banyak memiliki stadion berkapasitas internasional. Berbeda dengan negara lain yang juga mengajukan diri menjadi kandidat. Mereka punya stok stadion berkapasitas internasional yang mungkin hanya membutuhkan sedikit renovasi.
Tapi semua tak menghalangi Adhyaksa maupun Nurdin Halid untuk mengungkapkan rasa optimisme keduanya. Bahkan ketika host acara, Effendi Gazali bertanya seberapa jauh optimisme keduanya dihitung dari skala 6-10, mereka langsung memilih angka 10 untuk menyatakan rasa optimisme mereka.
Optimis memang boleh. Bermimpi apalagi. Tapi realitas juga tak bisa dilewatkan begitu saja. Boleh rasanya kalau sedikit berandai-andai ketika Indonesia benar-benar menggelar Piala Dunia. Ketika timnas Jerman misalnya, hendak bermain di Stadion Bogor, haruskah mereka terkena macet atau mungkin banjir yang sering melanda ibukota?
Bukan itu saja, tidakkah lebih pantas kalau Pemerintah Indonesia lebih baik memfokuskan diri pada pemberantasan kemiskinan dan korupsi yang masih merajalela? Berkaca pada kondisi Meksiko dan Brasil mungkin memang ada benarnya. Tapi Meksiko menggelar Piala Dunia pada 1970 dan 1986. Saat krisis global belum menghantam dunia.
Sementara siapapun tahu kalau Brasil adalah dewa sepak bola dunia. Sulit rasanya bagi dunia untuk tak menolehkan kepala ke arah negeri benua latin itu kalau berbicara mengenai sepak bola. Sedangkan Indonesia? Mungkin Anda punya jawabannya sendiri.
Memang, tak ada salahnya mendukung kampanye ini. Mendukung usaha perbaikan negeri ini, sepanjang kampanye ini tak dicampuri masalah politik yang hanya menguntungkan kalangan tertentu. Lalu, siapkah Anda memberikan dukungan?(Ruri)
REALITA VS MIMPI
Mimpi
· PSSI membenahi sistem liga sepak bola Indonesia di semua divisi sejalan dengan persiapan sebagai host.
· Syarat sebagai tuan rumah: memiliki 12 stadion bertaraf internasional, hotel berbintang di setiap kota, dan fasilitas subway.
· Ada garansi dari pemerintah, seperti jaminan keamanan dan memberikan semua kemudahan fasilitas.
· Memberantas kemiskinan berjalan paralel dengan penyelenggaraan Piala Dunia, karena investasi kelas dunia bisa masuk sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
· Inovasi di bidang arsitektur, teknologi, infrastruktur dan produk ramah lingkungan. Antara lain membangun stadion yang ramah lingkungan.
· PSSI memiliki misi Piala Dunia 2022 untuk penyelamatan lingkungan, industri, dan organisasi sepak bola nasional.
· PSSI memiliki misi untuk memajukan kesejahteraan rakyat, menciptakan tata kehidupan dunia yang damai, tertib, adil, dan lestari melalui Piala Dunia.
· PSSI akan membentuk tujuh tim apabila terpilih menjadi host Piala Dunia 2022. Menurut Nurdin Halid, tim itu akan terdiri dari PSSI dan pemerintah. Mereka akan bekerja usai pengumuman bidding.
Realita
· Sistem persepak bolaan di Indonesia masih amburadul. Wasit sering menjadi korban pengeroyokan pemain. Jadwal kompetisi sering berubah, dan suporter kerap berlaku ganas di lapangan.
· Indonesia baru memiliki satu stadion bertaraf internasional. Negeri ini juga belum memiliki fasilitas subway maupun sarana transportasi umum yang memadai.
· Pemerintah belum bisa memberikan jaminan keamanan. Ancaman teroris bisa terjadi sewaktu-waktu di Indonesia. Keamanan di stadion pun tak bisa terjamin.
· Rumah-rumah kumuh masih bertebaran di ibukota. Anak-anak jalanan dan pengemis masih menghiasi jalan-jalan utama ibukota dan daerah.
· Banjir masih terus melanda kawasan ibukota dan daerah-daerah. Meski diselenggarakan Juni-Juli, namun ancaman banjir harus tetap diwaspadai.
· Seorang pengurus PSSI yang ditemui SOCCER malah mengaku tak tahu mengenai keberadaan tim tersebut. Dia malah tampak gugup ketika ditanya.
Bangun 12 stadion
Untuk bisa lolos mengajukan permohonan menjadi tuan rumah, Indonesia harus memiliki 12 stadion. Sebanyak 10 stadion harus memiliki kapasitas lebih dari 40.000 penonton. Dan dua stadion lain harus berkapasitas lebih dari 80.000 penonton sebagai ajang pembukaan dan penutupan Piala Dunia. Lalu stadion mana saja yang akan disiapkan PSSI sebagai alat untuk kampanye tuan rumah. Berikut penjelasannya.(*)
Stadion Eksisting:
1. Stadion Gelora Bung Karno
Kapasitas : 80.083 kursi
Sejarah singkat : Pembangunannya diprakarsai oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Saat itu, Indonesia mendapatkan pinjaman dari Uni Sovyet sebesar 12,5 juta dolar AS untuk proses pembangunannya.
2. Stadion Sriwijaya Palembang
Kapasitas : 40.000 kursi
Sejarah singkat : Dibangun sebagai persiapan Sumatera Selatan sebagai tuan rumah PON XVI 2004 lalu. Sekarang digunakan sebagai kandang klub Sriwijaya FC.
3. Stadion Palaran Samarinda
Kapasitas : 50.000 kursi
Sejarah singkat : Dibangun sebagai arena pembukaan dan penutupan PON XVII 2008 lalu. Stadion ini merupakan salah satu stadion terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Stadion yang akan dibangun:
1. Stadion Rumbai Pekanbaru
Kapasitas : 20.000 kursi
Sejarah singkat : Stadion ini merupakan kandang klub PSPS Pekanbaru. Akan dibenahi pada 2010 guna menyongsong PON XVIII 2012 di Riau.
2. Stadion Gedebage, Bandung
Kapasitas : 40.000 kursi
Sejarah singkat : Merupakan stadion masa depan Persib Bandung. Sudah dalam proses pembangunan dan rencananya selesai pada 2011 atau 2012.
3. Stadion BMW, Jakarta
Kapasitas : 50.000 kursi
Sejarah singkat : Stadion Bersih, Manusiawi, dan Berwibawa (BMW) di Sunter, Jakarta Utara ini sudah bisa digunakan 2011 mendatang. Untuk pembangunan stadion yang dimulai 2009 itu, pihak Dinas Olahraga Jakarta mengalokasikan Rp 24,5 miliar di tahun anggaran 2009.
4. Stadion Bogor
Kapasitas : 40.000 kursi
Sejarah singkat : Sedang dalam proses renovasi.
Stadion yang diusulkan dibangun:
1. Stadion Surabaya
2. Stadion Makassar
3. Stadion Medan
4. Stadion Jogjakarta
5. Stadion Tangerang
6. Stadion Gianyar Bali
(BOKS)
Bentuk 7 tim
Sebanyak tujuh tim dipersiapkan PSSI kalau saja mereka terpilih menjadi host Piala Dunia 2022. Tujuh tim itu nantinya akan mengurusi berbagai bidang sehubungan dengan persiapan Indonesia sebagai tuan rumah.
“Kami akan membentuk tujuh tim khusus guna persiapan Piala Dunia. Tim itu merupakan gabungan antara PSSI dan pemerintah. Mereka akan segera bekerja begitu pengumuman host Piala Dunia ini keluar pada Desember 2010 nanti,” kata Nurdin Halid usai acara.
Saat ini PSSI sudah membentuk tim khusus guna mengegolkan rencana tersebut. PSSI akan mengirimkan proposal ke 56 negara guna mencari dukungan sekaligus mengenalkan Indonesia pada dunia. “Selain itu melalui Menegpora, kami akan mengatur langkah lobi guna mengegolkan rencana ini,” papar dia lagi.
Uniknya, tak semua pengurus PSSI ngeh dengan adanya rencana pembentukan tim ini. Salah satu pengurus yang ditemui SOCCER seperti kebingungan ketika ditanya mengenai tim ini. “Tim? Tim apa mas? Saya nggak tahu tuh,” kata dia.
Meski tak semua pengurus PSSI tahu mengenai pembentukan tim ini, tapi Adhyaksa tetap yakin kalau Presiden dan Wakil Presiden akan menyetujui rencana PSSI ini. “Ini adalah sebuah mimpi besar. Saat FIFA menyatakan Indonesia sebagai salah satu kandidat tuan rumah, itu sudah menjadi catatan sejarah tersendiri bagi kita. Kalau Presiden dan Wapres saja tak pernah ragu, mengapa kita harus ragu?” kata dia. Patut ditunggu realisasinya.(*)
Milan, ompong lawan tim guram
February 13, 2009 on 3:24 am | In sepak bola | 1 CommentDari 14 kali pertemuan melawan tim guram di Serie-A, Milan hanya mencatat hasil enam kemenangan, lima seri, dan tiga kali kalah.
Dunia pasti mengakui kebesaran nama tim AC Milan. Namun ternyata di balik semua itu, tim asal Italia ini bak macan ompong saat melawan tim-tim guram Serie-A. Setidaknya untuk musim ini. Hasil seri 1-1 melawan Reggina pekan lalu seakan membuktikan kalau Milan hampir selalu kesulitan mengalahkan tim-tim guram. Sebelumnya, di dua pekan pertama Serie-A musim 2008-09, Milan harus mengakui keunggulan dua tim guram Serie-A secara berturut-turut. Mereka kalah 1-2 melawan Bologna di pekan pertama. Dan sepekan kemudian, mereka harus tunduk di tangan Genoa dengan skor 0-2.
Di pekan ke-4, giliran Reggina yang hendak mencaplok AC Milan. Reggina mampu menyamakan kedudukan, meski akhirnya Alexandre Pato mencetak gol kemenangan di menit ke-73. Cagliari pun merepotkan barisan AC Milan di pekan ke-6. Mereka berhasil menahan Milan di Sant’Elia dengan skor kacamata, 0-0.
Sebaliknya, mereka bisa tampil gagah perkasa saat melawan klub-klub besar. Mereka menenggelamkan Lazio dengan skor 4-1 langsung pada 21 September 2008. Rival sekota mereka pun jadi korban, ketika Inter dikalahkan dengan skor tipis di pekan ke-5 Serie-A, melalui gol Ronaldinho.
Namun mereka sekali lagi tersungkur di pekan ke-14. Sekali lagi melawan tim guram, Palermo. Melawan Palermo, Milan tak mampu berbuat banyak. Mereka dihajar dengan skor 1-3. Sebelumnya, Milan pun dibuat puas usai ditahan seri Lecce dan Torino di pekan ke-11 dan 13.
Ada apa dengan Milan? Banyak sebabnya. Salah satunya, tim-tim guram itu bukan tim yang pantas diremehkan. Banyaknya pemain muda yang bercokol di tim-tim kecil itu tentu saja merepotkan barisan pertahanan yang diisi banyak pemain gaek.
Mulai dari sang kapten, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Giuseppe Favalli, Gianluca Zambrotta, dan Marek Jankulovski sudah berusia di atas 30 tahun. Sulit rasanya bagi mereka untuk menandingi kecepatan para pemain muda yang banyak membela klub-klub guram Italia.
Bukan itu saja. Kalau lawan menerapkan pola permainan tertutup dengan bertahan begitu jeli, otomatis para gelandang Milan tak akan memiliki ruang untuk bergerak. Mereka juga tak akan mampu berbuat apapun, ketika gelandang lawan berhasil mematikan pergerakan gelandang dengan baik.
BUKTI REGGINA
Dan itu pula yang terjadi dalam pertandingan melawan Reggina akhir pekan lalu. Milan harus membutuhkan tendangan penalti Kaka di menit ke-67 untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Klub berjuluk Amaranto itu berhasil menggalang pertahanan dengan baik. Berulangkali mereka mementahkan peluang emas Milan. Apalagi kiper Andrea Campagnolo tampak piawai menjaga gawangnya dari serangan lawan.
“Kami sudah berusaha maksimal di pertandingan ini. Kami tak punya banyak ruang, kami mencoba mengurung lawan, tapi kami tetap tak bisa mencetak gol di babak pertama. Namun melawan tim yang terus bertahan seperti itu, sulit rasanya untuk menyamakan kedudukan setelah tertinggal lebih dulu. Hasil 1-1 tampaknya wajar bagi kami,” kata Ancelotti.
Perbaikan mental untuk pulih setelah tertinggal lebih dulu, tampaknya diperlukan AC Milan. Selain itu, Milan juga dilanda masalah lain. Banyak pemain Milan yang dibekap cedera. Kaka menjadi korban terakhir terkena cedera. Dia bahkan diragukan bisa ikut tampil melawan Inter dalam derby della madonnina akhir pekan ini.
“Dia akan absen selama kurang lebih dua minggu. Dia harus menjalani serangkaian tes guna memastikan kondisinya, karena kami khawatir cederanya akan lebih parah lagi. Tapi sebagai diagnosis awal, dia dipastikan absen selama 15 hari,” demikian pernyataan resmi di situs AC Milan.
Meski demikian, pelatih Carlo Ancelotti tetap merasa optimis timnya bisa merebut gelar scudetto, kendati pasukannya banyak yang terkena cedera. Bahkan menurutnya, kondisi tahun lalu lebih buruk dibandingkan saat ini.
“Kondisi kami lebih baik dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, kondisinya tak sebagus ini, jauh lebih buruk. Dan kami harap bisa mempertahankan kondisi ini sampai akhir musim nanti. Dan berita bagusnya adalah akan banyak pemain kunci yang pulih dari cedera, salah satunya, tentu saja Nesta. Dia hampir siap diturunkan,” bilang Carletto.
Keberadaan Nesta di lini belakang tampaknya belum bisa menjawab kebutuhan bek muda yang bisa menyaingi kecepatan pemain-pemain muda lawan. Dengan atau tanpa kehadirannya, Milan akan sulit mendulang hasil positif. Tentu saja kalau Milan tetap tak bisa memperbaiki mental dengan tak terlalu bersikap jemawa di hadapan tim-tim guram. Dengan begitu, bukan tak mungkin kans merebut scudetto jadi terganggu.(Ruri)
Milan vs tim guram
Melawan tim-tim guram Italia di ajang Serie-A, Milan memang bak macan ompong. Kalau tak menderita kekalahan, mereka hanya mampu menang tipis melawan tim-tim tersebut. Bisa jadi, sikap jemawa dan optimisme yang terlalu besar melingkupi Milan saat melawan mereka. Apa saja 14 pertandingan itu? Berikut penjelasannya.
Milan 1-2 Bologna
Genoa 2-0 Milan
Reggina 1-2 Milan
Cagliari 0-0 Milan
Atalanta 0-1 Milan
Milan 2-1 Siena
Milan 1-0 Napoli
Lecce 1-1 Milan
Milan 1-0 Chievo
Torino 2-2 Milan
Palermo 3-1 Milan
Milan 1-0 Catania
Milan 1-1 Genoa
Milan 1-1 Reggina
FAKTA:
· Head to head: 6 M, 5 S, 3 K
· Milan hanya mampu mencetak gol di babak pertama sebanyak enam pertandingan, yakni di menit ke-23, 31, 15, 29, 34, 42, dan 33.
· Milan hanya mampu mencetak dua gol di babak pertama saat melawan Torino.
· Milan tak bisa mencetak gol di babak pertama dalam enam pertandingan.
· Milan berhasil unggul lebih dulu di babak pertama sebanyak lima kali. Sisanya, Milan hanya mencatat seri di babak pertama dalam tujuh pertandingan. Di dua pertandingan sisa, Milan kalah dari lawan di babak pertama.
· Milan hampir selalu menang kalau berhasil mencetak gol lebih dulu. Mereka mencatat enam kemenangan dan dua hasil seri saat berhasil mencetak gol lebih dulu.
Tak kalah sejak di Dubai
Sejak melakukan pemusatan latihan di Dubai pada awal Januari lalu, Milan berhasil tampil perkasa. Mereka tak pernah menelan kekalahan sekalipun dan sekaligus bisa mencatat hasil tiga kali kemenangan dan tiga kali hasil seri.
Mereka menahan Roma di Olimpico dengan skor 2-2, lalu mengalahkan Fiorentina 1-0 di San Siro. Balas dendam pun mereka lakukan dengan mengalahkan Bologna di kandang lawan 4-1. Sayang, mereka tak mampu membalas dendam pada Genoa karena hanya bermain seri 1-1. Tiga gol sekaligus berhasil mereka lesakkan ke gawang Lazio dan terakhir saat seri 1-1 menjamu Reggina.
Apa rahasianya? Kepala pelatih fisik AC Milan, Daniele Tognaccini mencoba berbagi. Menurutnya, Milan berhasil melakukan latihan dalam keseimbangan kinerja tim selama di Dubai. Keberhasilan menciptakan keseimbangan itu cenderung bersifat positif dan penting bagi kinerja AC Milan.
“Milan tetap perlu bermain fisik dan penciptaan kerjasama tim. Lagipula, kami menemukan iklim yang sangat mendukung di Dubai. Pemain yang paling bisa memaksimalkan latihan ini adalah Kaka dan Clarence Seedorf. Mereka berdua juga berlatih di pagi hari, sementara yang lain hanya berlatih pada siang hari,” kata Tognaccini.
Meski Kaka dan Seedorf hanya melakukan latihan fisik ringan di pagi hari, paling tidak menurut Tognaccini, mereka melakoni sesi latihan lebih banyak dari pemain lain. “Selain mereka berdua, Beckham juga mencoba beradaptasi dengan metode-metode baru yang belum diketahuinya di Milan selama di Dubai. Saya pikir itu akan berguna bagi masa depannya,” kata dia lagi.
Beckham sendiri mengakui kalau masa training Milan di Dubai membuat kondisi fisiknya lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Ketika aku tiba di Dubai, indeks lemak dalam tubuhku mencapai 13,7 persen, namun setelah latihan fisik di Dubai dan Milan, indeksnya turun menjadi 8,5 persen. Semua yang aku lakukan waktu itu sangat bermanfaat bagiku,” bilang dia.(*)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^