ini versi lengkap utak-atik statistik itu…
May 27, 2009 on 2:43 pm | In Uncategorized | No CommentsWarna kostum jawara
Dominasi merah dan polos
Apa pun julukan bagi mereka, yang pasti kostum warna merah lebih sering keluar sebagai juara.
Majunya tiga klub Inggris ke semifinal Liga Champions musim ini membuat pertemuan antara dua warna yang jamak dimiliki klub pun terjadi. Merah versus biru. Perang itu akan terjadi di babak final karena pertemuan di babak semifinal mempertemukan tim merah dan biru.
Manchester United yang identik dengan seragam merah akan berjumpa dengan Arsenal yang juga mengusung warna seragam yang sama. Di pertandingan lain, The Blues akan melawan tim yang dominasi warna seragamnya biru, yakni Barcelona.
Siapa pun yang melangkah ke babak final, duel dua warna sudah pasti terjadi. Duel antara tim merah dan biru. Duel seperti ini sudah pernah terjadi musim lalu saat MU bersua dengan Chelsea di babak final Liga Champions musim 2007-08.
Jauh sebelumnya, pertemuan antara dua warna bebuyutan ini sudah terjadi di musim 1960-61. Saat itu Benfica, klub asal Portugal yang identik dengan warna merah menyala berhadapan dengan Barcelona di babak final. Benfica merupakan tim merah pertama yang berhasil menjadi jawara di kompetisi tertinggi antarklub Eropa ini.
Pasalnya, sejak digelar untuk pertama kalinya di musim 1955-56, warna putihlah yang cenderung mendominasi. Karena Real Madrid menjadi jawara lima kali berturut-turut.
Dominasi merah baru terhenti di musim 1963-64 saat Internazionale Milan merengkuh gelar juara usai mengalahkan Madrid 3-1. Tim merah kembali muncul di musim 1967-68 ketika MU menduduki takhta juara setelah mengalahkan sesama tim merah lainnya, Benfica, dengan skor 4-1 di Stadion Wembley, Inggris.
Sejak itu, MU seakan memulai start dominasi merah di Liga Champions. Setelah MU, giliran Milan, Feyenoord, Ajax, Bayern Muenchen, dan Liverpool. Tim merah berkuasa selama 14 musim yakni mulai musim 1967-68 sampai musim 1980-81, karena Ajax dan Liverpool berkuasa sebanyak tiga kali. Sementara, Muenchen juara empat kali, dan Nottingham Forest menjadi juara di musim 1978-79 dan 1979-80.
Kekuasaan warna merah dihentikan oleh Aston Villa yang berhasil mengalahkan Bayern Muenchen dengan skor 1-0 lewat gol Peter Withe di menit ke-67. Meski sebenarnya kostum Aston Villa juga memiliki unsur warna merah, meski tak terlalu dominan.
Setelah merah kembali berkuasa selama dua musim melalui Hamburg dan Liverpool, tim hitam-putih Juventus akhirnya mematahkan dominasi tersebut. Mereka menjadi jawara Liga Champions musim 1984-85 setelah mengalahkan Liverpool dengan skor 1-0 lewat gol Michel Platini di menit ke-56.
TAK LAGI MENDOMINASI
Usai kemenangan Porto atas Bayern Muenchen di musim 1986-87, tim merah tak lagi bisa mendominasi selama bermusim-musim. Paling lama, mereka hanya berkuasa selama empat musim. Yakni melalui PSV Eindhoven, Milan, dan Red Star Belgrade. Barcelona menghentikan dominasi itu di musim 1991-92 saat mengalahkan Sampdoria.
Sampai sekarang, tim merah, biru, dan hitam-putih secara bergiliran menjadi juara Liga Champions. Warna kuning sempat muncul selama semusim yakni di musim 1996-97 saat Borussia Dortmund mengalahkan Juventus di pentas Liga Champions musim 1996-97.
Kalau melihat catatan sejarah, sebenarnya warna biru tak pernah lama mendominasi perolehan gelar juara Liga Champions. Mereka hanya mampu mendominasi paling lama selama dua musim, yakni lewat Internazionale Milan yang menjadi jawara dua musim berturut-turut. Yakni di musim 1963-64 dan musim 1964-65.
Warna putih justru lebih lama mendominasi. Mereka unjuk gigi di masa-masa awal permulaan Liga Champions. Real Madrid yang identik dengan warna putih terus bertakhta di pentas Champions mulai musim 1955-56 sampai 1959-60.
Kalau dibandingkan secara motif kostum, kostum polos juga tampaknya lebih mendominasi dibandingkan kostum bergaris-garis. Dari 54 kali pergelaran babak final Liga Champions, kostum polos menjadi jawara sebanyak 32 kali sedangkan kostum garis berhasil merebut gelar sebanyak 22 kali.
Tim bermotif garis yang terakhir kali merengkuh juara adalah AC Milan di musim 2006-07. Meski saat itu Milan mengenakan kostum putih polos di babak final. Untuk musim ini, hanya ada satu tim dengan kostum bergaris tampil di babak semifinal, yakni Barcelona. Mampukah mereka mengalahkan dominasi tim polos dari Inggris. Kita lihat saja nanti.(Ruri)
(INFOGRAFIS)
WARNA DOMINASI JUARA
Putih Biru Merah Kuning Hitam-Putih Hijau
7 11 32 1 2 1
12,96% 20,37% 59,27% 1,85% 3,7% 1,85%
MOTIF DOMINAN JUARA
Polos Garis
32 22
-59,27% 40,73
WARNA TIM JUARA 10 MUSIM TERAKHIR
Musim Klub
1998-99 Man. United: Merah
1999-00 Real Madrid : Putih
2000-01 Bayern Muenchen: Merah
2001-02 Real Madrid: Putih
2002-03 AC Milan: Merah
2003-04 Porto : Biru-putih
2004-05 Liverpool: Merah
2005-06 Barcelona: Merah biru
2006-07 Milan: Putih
2007-08 Man. United: Merah
Giliran Barcelona?
Setelah dominasi merah menghilang mulai musim 1986-87 usai kemenangan Porto, warna lain mulai bermunculan mencuri gelar juara. Warna kuning menjadi pengecualian saat Borussia Dortmund menjadi jawara musim 1996-97. Bahkan saat itu, warna merah sempat tidak berkuasa selama tiga musim ketika Juve juara musim 1995-96, Dortmund, dan Madrid juara musim 1997-98.
Kalau ditarik selama 10 musim terakhir, kostum merah mendominasi sebanyak enam musim. Sementara biru dan putih masing-masing merebut dua musim. Sementara, kalau dilihat bentuk motif kostumnya, terdapat suatu fenomena yang unik.
Apabila dirunut dalam enam musim terakhir, terdapat siklus antara motif bergaris dan polos. Siklusnya adalah dua kostum garis dan satu kostum polos. Milan dan Porto yang memiliki kostum bergaris menjadi juara Champions secara berurutan di musim 2002-03 dan 2003-04. Semusim kemudian giliran Liverpool yang berkostum merah polos menjadi juara.
Lalu, Barcelona dan Milan yang aslinya berkostum garis menjadi juara di musim 2005-06 dan 2006-07. Kemudian, terakhir Man. United yang berkostum merah polos menjadi juara di musim 2008-09.
So, kalau menurut siklus tersebut, musim ini giliran tim berkostum garis yang akan menjadi juara. Bisa jadi siklus sekarang merupakan kebalikan siklus musim 1995-96 sampai 1997-98. Saat itu, Madrid yang berkostum polos menjadi juara setelah dua musim sebelumnya dua tim bergaris, yakni Juventus dan Borussia Dortmund merengkuh gelar juara. Siapa tahu?(*)
ramalan mbah joko (bukan) bodo
May 27, 2009 on 2:33 pm | In Uncategorized | No Comments
(berikut tulisan saya di Tabloid Soccer yang dimuat di edisi 41/IX, terbti 18 April 2009) senangnya….
Giliran Barcelona?
Setelah dominasi merah menghilang mulai musim 1986-87 usai kemenangan Porto, warna lain mulai bermunculan mencuri gelar juara. Warna kuning menjadi perkecualian saat Borussia Dortmund menjadi jawara musim 1996-97. Bahkan saat itu, warna merah sempat tidak berkuasa selama tiga musim ketika Juve juara musim 1995-96, Dortmund, dan Madrid juara musim 1997-98.
Kalau ditarik selama 10 musim terakhir, kostum merah mendominasi sebanyak enam musim. Sementara biru dan putih masing-masing merebut dua musim. Sementara, kalau dilihat bentuk motif kostumnya, terdapat suatu fenomena yang unik.
Apabila dirunut dalam enam musim terakhir, terdapat siklus antara motif bergaris dan polos. Siklusnya adalah dua kostum garis dan satu kostum polos. Milan dan Porto yang memiliki kostum bergaris menjadi juara Champions secara berurutan di musim 2002-03 dan 2003-04. Semusim kemudian giliran Liverpool yang berkostum merah polos menjadi juara.
Lalu, Barcelona dan Milan yang aslinya berkostum garis menjadi juara di musim 2005-06 dan 2006-07. Kemudian, terakhir Man. United yang berkostum merah polos menjadi juara di musim 2008-09.
So, kalau menurut siklus tersebut, musim ini giliran tim berkostum garis yang akan menjadi juara. Bisa jadi siklus sekarang merupakan kebalikan siklus musim 1995-96 sampai 1997-98. Saat itu, Madrid yang berkostum polos menjadi juara setelah dua musim sebelumnya dua tim bergaris, yakni Juventus dan Borussia Dortmund merengkuh gelar juara. Siapa tahu?(*)
Lassana Diarra, Kembalikan Equilibrium
May 6, 2009 on 4:05 am | In sepak bola | No Comments 1 Januari 2009. Bursa transfer musim dingin resmi dibuka. Sesosok pemain berkulit legam akhirnya resmi menghuni markas Real Madrid, Santiago Bernabeu. Seorang pemain yang diharapkan akan menjadi pusat equilibrium permainan tim Real Madrid pun tiba. Dialah Lassana Diarra, pemain yang dibeli seharga 20 juta pounds dari klub Inggris, Portsmouth.
Sebuah beban berat pun langsung dipikulnya. Dia harus mengembalikan keseimbangan permainan skuad Madrid yang hilang sepeninggal Mahamadou Diarra yang dihantam cedera. Tentu saja bukan tantangan yang mudah. Namun sepertinya pemain yang menggunakan nama Lass di kostumnya ini mampu menghadapinya.
“Aku sanggup melakukannya. Aku punya cukup kemampuan dan kupikir Real Madrid adalah klub yang kubutuhkan. Aku cuma harus beradaptasi dengan pola permainan sepak bola Spanyol dan aku harus melakukannya sesegera mungkin,” kata Lass. “Aku juga sudah pernah bermain di klub-klub besar, pengalamanku juga sudah cukup bersama timnas Prancis. Tapi aku masih ingin berkembang,” imbuh dia.
Bukan hanya dia yang membutuhkan Madrid, tetapi juga sebaliknya, Madrid pun membutuhkannya. Dengan sistem permainan yang menggunakan pemain jangkar seperti yang sering dilakukan Madrid, tentu saja alarm tanda bahaya langsung berbunyi saat Mahamadou Diarra dibekap cedera parah.
Kehilangan Diarra tentu saja menambah beban para defender di lini belakang. Pemain seperti Sergio Ramos terpaksa harus tetap bermain bertahan dan membuat Madrid kehilangan serangan di lini kanan. Cannavaro dan Pepe pun sering kehilangan bola, yang membuat kekalahan seakan beruntun menghampiri Madrid.
Sejak kedatangan Lass, kutukan kekalahan itu pun terhenti. Lass tak ingin membiarkan klub barunya itu terus menelan kekalahan demi kekalahan. Dia terus bekerja keras di lapangan, dan mampu menutup lubang-lubang yang ditinggalkan Ramos ketika dia menyerang. Lass juga mampu melakukan hal yang sama terhadap Pepe saat dia hendak mencoba peruntungan dengan melakukan serangan ke lini pertahanan lawan.
Lass selalu mampu berhasil merebut bola kembali saat pemain Madrid lainnya kehilangan bola. Dia pun langsung mendistribusikan bola itu secara tepat kepada rekan setimnya. Lass juga mampu berdiri kokoh di depan gawang sehingga lawan kesulitan untuk melakukan serangan. Keberadaannya di sana seakan memberikan jaminan keamanan di lini belakang yang otomatis meningkatkan rasa kepercayaan diri tim Madrid guna mendapatkan kemenangan.
Karenanya, secara perlahan namun pasti Lass mampu memenangkan hati para fans fanatik Madrid. Bukan hanya hati fans yang dimenangkannya, namun juga hati manajemen klub yang akhirnya memilih Lass untuk tampil di Liga Champions daripada Klaas-Jan Huntelaar.
JALAN BERLIKU
Namun bukan hal yang mudah bagi Lass untuk mewujudkan keberhasilan ini. Banyak rintangan harus dilaluinya. Lass bukan seperti pemain kebanyakan, yang rela duduk di bangku cadangan namun tetap berstatus sebagai pemain klub besar. Ambisinya menuntut dia untuk terus turun bermain, meski di klub guram sekalipun.
Dan itu pula yang dilakukannya. Sadar tak akan pernah mendapat tempat di skuad The Blues yang sudah dibelanya selama dua musim, dia akhirnya memutuskan pindah ke Arsenal pada Agustus 2007. Sayang, dia malah menemukan dirinya berada di Portsmouth lima bulan kemudian. Dia sadar kalau Portsmouth akan menjadi satu-satunya klub yang mengizinkannya bermain setiap pekan.
Dengan bermain di setiap pekan, Lass akan mampu menunjukkan kemampuan diri yang sesungguhnya kepada dunia. Hingga akhirnya, dunia pun meliriknya. Termasuk saat Madrid akhirnya memilihnya sebagai pemain.
Sebelum masuk ke Chelsea, Lass berulangkali ditolak masuk beberapa klub di Prancis sebelum akhirnya menandatangani kontrak bersama klub Le Havre. Kemampuannya mengontrol bola dan mengumpan dengan jarak sempurna ditambah dengan kemampuannya berlari cepat, membuat dia banyak menarik perhatian para talent scouts.
Tak lama kemudian, namanya dipanggil ke Timnas Prancis U-21. Karenanya, perhatian Jose Mourinho pun langsung tertuju kepadanya guna menarik Lass ke Chelsea. Di Stamford Bridge, Lass sungguh beruntung bisa bermain bersama Claude Makelele, John Terry, dan Frank Lampard.
Sayang, skuad Mourinho saat itu diisi pemain-pemain bertalenta luar biasa. Akibatnya, Lass pun jarang tampil. Dia lebih sering muncul sebagai pemain cadangan atau pemain pengganti yang masuk di menit-menit akhir. Potensinya yang luar biasa tak pernah bisa ditunjukkan karena tak ada kesempatan untuk melakukannya.
Potensinya juga tak bisa diperlihatkan saat dia memutuskan pindah ke Arsenal di bursa transfer musim 2007-08. Arsene Wenger lebih memilih menggunakan jasa Cesc Fabregas bersama Gilberto Silva atau Mathieu Flamini di tengah. Padahal saat dia tampil, para fans Arsenal senang melihat gaya permainannya. Tapi itu hanya terjadi kalau salah satu pemain tengah reguler Arsenal cedera atau terkena skorsing.
Melihat kondisi ini, tepat rasanya kalau Lass memutuskan pergi. Kepergian Lass dari Arsenal di awal musim 2007-08 diperkirakan membuat Arsene Wenger menyesal. Apalagi hampir di saat yang sama dia juga kehilangan Eduardo da Silva yang terkena cedera parah. Tentu saja hal itu membuat Arsenal mengakhiri musim tersebut tanpa merebut satu gelar pun. Sedangkan Lass malah mengakhiri musim itu dengan meraih gelar juara Piala FA bersama Portsmouth.
Karenanya, Lass pun merasa kecewa sempat bergabung dengan Arsenal. Saking kecewanya, ia malah mengaku lupa pernah bergabung dengan The Gunners. “Kalau orang tak mengingatkanku kalau aku pernah di Arsenal, aku lupa tentang mereka. Kenangan itu seperti terkikis dari ingatanku,” kata Lass. “Wenger tak pernah memandangku sampai aku mengatakan aku ingin pergi. Dia bicara kepada pemain lain, tetapi tidak kepadaku. Aku merasa seakan tak pernah bermain untuk Arsenal,” terangnya.
Lass boleh jadi ingin melupakan Arsenal sebagai mimpi buruknya di Inggris. Tetapi dia tak bisa memungkiri kalau pengalamannya di kancah sepak bola Inggris membuat dia banyak belajar. Belajar menjadi defensive midfielder sekaligus pemain jangkar terbaik. Di usia yang baru 24 tahun rasanya dia masih punya masa depan cerah menunggu, apabila dia terus melakukan tugas dengan baik. Menjadi equilibrium tim manapun yang dibelanya nanti.(Ruri)
(BOKS)
Disamakan dengan Claude Makelele
Selama enam tahun, akhirnya Real Madrid bisa menghapus kesalahan mereka saat menjual Claude Makelele ke Chelsea pada 2003 lalu. Setelah menghabiskan dana sebesar 78 juta euro untuk mencari pemain-pemain baru guna menutupi kesalahan itu, akhirnya mereka menemukan sosok pengganti dalam diri Lassana Diarra.
Madrid sudah membeli Thomas Gravesen seharga 3,5 juta euro dari Everton, Pablo Garcia dari Osasuna senilai 5,5 juta euro, Emerson dari Juventus seharga 16 juta euro. Mahamadou Diarra dari Olympique Lyonnais senilai 26 juta euro, Fernando Gago dibeli 18 juta euro dari Boca Juniors. Sedangkan, Ruben de la Red dan Javi Garcia dari akademi mereka, diperkirakan bisa dihargai senilai 9 juta euro.
“Aku bukan Makelele. Mungkin banyak persamaanku dengan Makelele, tapi Makelele adalah Makelele, dan aku adalah aku. Makelele punya kepribadian dan gaya tersendiri, dan begitu pula aku. Aku pergi ke Madrid untuk menjadi Lassana Diarra dan bukan menjadi Makelele baru,” kata dia.
Namun harus diakui kalau Diarra menjalin hubungan akrab dengan Makelele semasa mereka masih bersama di Chelsea. Semua pemain Chelsea bahkan menyebut Makelele sebagai ayah Lass, mengingat penampilan fisik dan gaya permainan keduanya yang serupa. “Dia bukan ayahku, tapi dia temanku,” kata Lass.
“Dia adalah pemain favoritku dan kami banyak menghabiskan waktu bersama. Dia mengajarkanku untuk tetap percaya diri dan percaya kalau segala sesuatu bisa terjadi. Sebagai seorang pemain muda, biasanya Anda ingin segalanya berubah cepat dalam waktu yang singkat. Tapi kadang Anda harus menunggu sampai waktunya tepat,” imbuh dia.
Makelele yang kini bermain bagi Paris St. Germain itu sendiri mengakui kekagumannya terhadap diri Lass yang kini mengikuti jejaknya membela Los Galacticos. “Lass adalah pekerja keras dan patut disegani. Aku senang melihat apa yang dilakukannya di Madrid. Ketika dia pertama kali datang, tak ada yang mengenalnya sama seperti aku dulu. Tapi pemain ini punya masa depan cerah,” kata pemain berusia 36 tahun tersebut.
“Karenanya, dia akan meraih level yang lebih tinggi daripada yang pernah kulakukan. Dia adalah pemain yang penuh ambisi dan menyukai kompetisi. Dia punya masa depan cerah di Madrid sebab dia masih muda. Aku hanya berharap Madrid tak melakukan kesalahan dengan menjualnya suatu hari nanti sama seperti yang mereka lakukan terhadapku,” pungkas dia.
(INFOGRAFIS)
9 rahasia Lass
1) Postur tubuh Lass dianggap terlalu kecil untuk ukuran seorang pemain sepak bola ketika dia pertama kali memulai kariernya sebagai pemain profesional. Dia hanya memiliki tinggi 170 cm dan berat 57 kg saat itu.
2) Karena itu, dia hampir kembali ke bangku sekolah di usia 16 tahun sebelum akhirnya menandatangani kontrak profesional bersama Le Havre di usia 18 tahun.
3) Lass memiliki julukan Hammerhead dan Di-arrow merujuk kepada bentuk fisiknya,
4) Lass “hanya” dibeli seharga satu juta pounds saat pindah ke Chelsea di 2005.
5) Pemain Prancis keturunan Mali itu sempat meraih gelar pemain muda terbaik Chelsea musim 2005-06.
6) Dalam tempo 29 bulan saja, Lass sudah membela tiga klub Premier League yang berbeda, yakni Chelsea, Arsenal, dan Portsmouth.
7) Mantan manajer Portsmouth, Harry Redknapp adalah salah satu pengagum Lass. Dia menyebutnya sebagai “Top, top, top player.”
Lass jarang mencetak gol. Selama 16 kali membela timnas Prancis, dia belum mencetak satu gol pun.
9) Tinggi badan Diarra yang mencapai 173 cm sama dengan tinggi badan Anna Kournikova dan Humphrey Bogart, aktor asal Amerika.
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^