Film Garuda di Dadaku, cita-cita, persahabatan, dan sepak bola
June 10, 2009 on 6:42 am | In modern | No CommentsGantungkanlah cita-citamu hingga setinggi langit! Begitulah kira-kira ungkapan yang pas menggambarkan jalan cerita film Garuda di Dadaku. Tokoh Bayu sebagai pemeran utama film ini tak pernah mengenal kata lelah untuk mengejar impiannya menjadi seorang pemain sepak bola. Apapun halangannya.
Bayu terpaksa mencuri-curi waktu supaya bisa bermain sepak bola dengan bantuan sahabatnya yang menderita cacat kaki, Heri. Pasalnya, sang kakek, Usman, tak menyetujui cita-cita Bayu. Menurut dia, menjadi pemain sepak bola itu identik dengan hidup miskin dan tak memiliki masa depan.
Namun Bayu tak menyerah. Dia terus mengiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya. Setiap kali tiba di rumah, dia selalu menyembunyikan bolanya agar sang kakek tak memarahinya.
Heri dan Bang Duloh, supirnya, akhirnya menemukan jalan keluar. Mereka mengajak Bayu berlatih di kuburan, karena kesulitan mencari lapangan sepak bola di Jakarta. Di kuburan itu, mereka bersua dengan Zahra, anak perempuan misterius yang tinggal di kuburan tersebut.
Ketiganya tak membutuhkan waktu lama untuk bersahabat. Zahra bahkan membantu Bayu melukis, karena Kakek Usman menginginkan Bayu menjadi pelukis. Namun lama-kelamaan, kebohongan Bayu pun terbongkar. Keberhasilannya masuk menjadi murid beasiswa di Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal pun jadi sia-sia. Kakek Usman terkena serangan jantung saat melihat Bayu bermain bola.
Alhasil, persahabatan Bayu dan Heri pun retak. Bayu menyesal telah membohongi sang kakek. Semua hal yang berhubungan dengan dunia sepak bola pun ditinggalkannya. Dia enggan bersentuhan dengan sepak bola lagi. Satu-satunya keinginan Bayu hanyalah melihat sang kakek sehat kembali.
Lalu, apakah Kakek Bayu bisa kembali sehat? Apakah dia akan merestui keinginan Bayu menjadi pemain sepak bola? Dan akankah Bayu berhasil mewujudkan impian dengan menjadi pemain sepak bola yang sesungguhnya? Semua jawaban bisa dilihat di film Garuda di Dadaku yang akan resmi beredar pada 18 Juni 2009 nanti.(adv)
FILM GARUDA DI DADAKU
Produser : Shanty Harmayn
Sutradara : Ifa Isfansyah
Penulis skenario : Salman Aristo
Bayu : Emir Mahira
Heri : Aldo Tansani
Zahra : Marsha Aruan
Kakek Usman : Ikranagara
Wahyuni : Maudy Koesnaedi
Pak Johan : Ari Sihasale
Bang Duloh : Ramzi
(SOSOK BINTANG)
Emir Mahira
Memang siswa sepak bola
Kebolehan Bayu menggocek bola dalam film Garuda di Dadaku ini tak terjun dari langit begitu saja. Ternyata, sang pemeran Bayu, Emir Mahira, merupakan anak didik Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal. Bahkan, bocah laki-laki berusia 12 tahun ini bercita-cita menjadi pemain sepak bola.
Kenangan Emir pun dimulai ketika awal mula dirinya mulai menyukai olahraga si kulit bundar tersebut. Dia mengungkapkan, kalau kesukaannya terhadap sepak bola dimulai ketika ikut menonton pertandingan bersama sang ayah melalui layar televisi.
“Waktu itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Pertama kali suka sepak bola karena setelah melihat ayah sedang menonton pertandingan Arsenal di televisi. Sejak saat itu aku langsung suka dengan sepak bola,” tutur putra pasangan dari Herry Budi Azhari Salim dan Trien B. Salim ini.
Tak cukup sekedar menjadi penggemar saja, Emir lalu meminta ayahnya untuk mendaftarkan dirinya dalam tim sepak bola Madania. Ketika Arsenal membuka klub di Indonesia, Emir lalu ikut mendaftar di sana. Saat itu ia sedang berada di bangku kelas 5 SD.
Ada dua tim yang menjadi idola Emir, yaitu Barcelona dan Liverpool. “Aku suka Barcelona karena tim ini kalau bermain enak dilihat. Sedangkan aku suka Liverpool karena ada Steven Gerrard,” ungkap bocah penyuka makanan Fettucini ini.
Karenanya, tak heran kalau Emir bahkan bercita-cita menjadi pemain bola terkenal seperti idolanya, antara lain Samuel Etoo, Bojan Krkic, dan Ronaldinho. Akan tetapi, penyuka grup musik ABBA ini memiliki cita-cita lain andai impiannya menjadi pemain bola gagal di tengah jalan.
“Kalau aku gagal menjadi pemain bola, aku ingin menjadi seorang animator. Aku suka sekali menggambar dan tergila-gila pada komik Jepang,” tukas anak kedua dari tiga bersaudara ini. (*)
Paolo Maldini, sebuah antiklimaks
June 10, 2009 on 6:41 am | In modern | No CommentsAntiklimaks. Itulah yang terjadi dalam pertandingan perpisahan Paolo Maldini di San Siro pada Minggu (24/5) lalu. Menjamu AS Roma di kandang sendiri, Maldini malah harus mendapati timnya kalah dengan skor 2-3 dari tamunya. Sebuah akhir yang pahit bagi perjalanan karier Maldini di Milan yang sudah berlangsung 24 tahun.
Tak hanya itu, dia juga menerima cacian dan hinaan dari kelompok ultras Milan, Curva Sud. Mereka menganggap kalau Franco Baresi lebih baik dari Maldini. Maldini memang sudah lama dikenal sebagai kapten yang enggan tunduk terhadap kemauan kelompok ultras tersebut.
Maldini tak mau menghadiri berbagai acara yang dilaksanakan Ultras. Dia memiliki sikap sendiri bagaimana menghadapi kelompok suporter fanatik AC Milan itu. Hubungan buruk mereka semakin memuncak saat Milan kalah secara menyakitkan di babak final Liga Champions musim 2004-05 dari Liverpool.
Usai pertandingan itu, sekelompok anggota ultras melakukan demonstrasi di bandara guna menyambut kedatangan tim AC Milan. Dan entah apa sebabnya, Maldini dikabarkan langsung marah dan mengucapkan kalimat-kalimat yang tak pantas didengar.
“Aksi kami di pertandingan perpisahan Maldini kemarin bukanlah sebuah aksi demonstrasi. Kami hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi pikiran kami mengenai beberapa komentar dan perilaku Maldini dalam beberapa musim terakhir,” kata Giancarlo “Baron” Capelli, pemimpin Ultras.
Tindakan mereka tentu saja membuat Maldini mau tak mau harus menghela nafas. Dia sama sekali tak mengerti alasan kelompok ultras itu merusak pesta pertandingan terakhirnya. “Aku selalu menjaga sikapku dan menghormati semua orang. Aku memang tak pernah menghadiri acara-acara mereka, tapi itu bukan bentuk kesombonganku terhadap Ultras,” terang sang kapten.
Kekecewaan yang diterima Maldini tak berhenti di sini. Dia kembali kecewa saat dia merasa kalau klub yang sudah dibelanya selama hampir 25 tahun itu, sama sekali tak melindunginya saat harus menghadapi sikap para ultras.
“Klub sama sekali tak berkomentar terhadap reaksi ultras. Itu yang paling mengecewakanku. Keputusan mereka untuk diam inilah yang membuatku kecewa. Tak ada satupun perwakilan manajemen klub yang mengomentari insiden ini. Tidak dari pejabat level paling atas ataupun paling bawah,” kata Maldini.
Secara terus terang, Maldini merasa sakit hati, meski dia mengaku tak memiliki waktu untuk memikirkan insiden itu lagi. “Mungkin aku terlalu idealis, tapi itulah reaksiku terhadap insiden yang terjadi di sebuah pesta yang mungkin sudah kurencanakan selama berbulan-bulan ini. Namun aku yakin klub seperti Milan seharusnya tak terlibat dengan insiden-insiden seperti ini,” imbuh dia.
HUJAN PUJIAN
Setajam apapun kritikan yang diterimanya dari kelompok ultras, Maldini tetaplah Maldini. Namanya akan dikenang sebagai salah satu pemain legendaris dunia. Bahkan pelatih Barcelona, Pep Guardiola mendedikasikan kemenangan Barca di pentas Liga Champions lalu bagi Maldini. “Saya mendedikasikan kemenangan ini bagi dunia sepak bola Italia dan Paolo Maldini. Dia tak perlu khawatir, karena dunia sepak bola Eropa menghormatinya,” kata dia.
Pep benar. Maldini tak perlu khawatir. Semua rekam jejak prestasinya di AC Milan sudah membuktikan segalanya. Lebih dari 900 pertandingan level profesional sudah dicatatnya. Lebih dari 26 trofi sudah dipersembahkannya bagi Il Diavolo. Termasuk lima gelar Liga Champions bersama AC Milan.
Karenanya, tak sulit rasanya bagi para pelaku sepak bola di sekitar Maldini melontarkan pujian bagi sang legenda. Pujian pertama muncul dari Presiden Rossonerri, Silvio Berlusconi. “Saya akan menempatkan nama Maldini di posisi paling atas dari daftar pemain terbaik Milan dalam 20 tahun terakhir. Kami selalu mencintainya sampai kapanpun, karena dia pemain yang sangat profesional dan berdedikasi bagi tim,” kata dia.
Pujian juga datang dari pelatih AC Milan, Carlo Ancelotti. “Maldini memiliki karier yang bagus di Milan, dia bisa menjadi contoh yang bagi bagi pemain lain,” bilang Ancelotti. Pujian serupa juga datang dari Franco Baresi, yang juga sesama pemain legendaris AC Milan.
Dia bahkan menyebut Maldini tak pantas mendapatkan perlakuan serendah itu dari Curva Sud. “Paolo (Maldini, Red) tak pantas mendapat hinaan dari ultras seperti itu. Namun, saya enggan berkomentar lebih lanjut. Memalukan,” kata dia. Sungguh sebuah antiklimaks.(Rur
(BOKS1)
Sulit lupakan The Kop
25 Mei 2005 di Istanbul. Malam itu akan sulit dilupakan Maldini sampai sekarang. Maklum, malam itu, dia harus rela melihat timnya menelan kekalahan menyakitkan dari Liverpool di babak final Liga Champions musim 2004-05. Setelah unggul telak 3-0, mereka harus kalah 2-3 lewat adu penalti melawan The Kop.
“Aku sulit melupakan pertandingan itu, yang merupakan salah satu pertandingan final terbaik yang pernah kualami. Kami bermain lebih baik, lebih baik dari Liverpool dan kami lebih pantas menang dibandingkan mereka. Tapi itulah sepak bola. Kekalahan itu sudah kami balas di babak final dua musim kemudian,” kata Maldini.
“Harus kuakui kalau kami sebenarnya tak tampil bagus di musim 2006-07 itu. Namun setidaknya pertandingan itu menunjukkan determinasi kami yang tinggi sebagai tim. Aku sudah banyak merebut gelar sepanjang karierku sebagai pemain sepak bola. Tapi, aku juga bisa menerima kekalahan, sepanjang kami sudah berusaha maksimal,” bilang dia.(*)
(BOKS2)
10 rahasia Maldini
1.Ketika masih muda, Maldini adalah seorang fans Juventus.
2. Penggemar musik rap, terutama musisi seperti Will Smith, Articolo 31, dan 2 pac.
3. Ingin merasakan masa di mana The Beatles masih berjaya.
4. Dia hanya menjadi bintang iklan bagi Opel dan Adidas, dua sponsor utama AC Milan.
5. Dia menjamin tak akan meneruskan karier sebagai pelatih. Dia hanya ingin dikenang sebagai pemain sepak bola yang jujur dan sukses.
6. Dia tak mau membicarakan sepak bola saat makan bersama keluarga.
7. Maldini menyukai pizza atau makanan apapun yang dimasak ibunya. Dia mengakui kalau istrinya, Adriana, tak begitu suka masak.
8. Membeli mobil pertamanya di usia 18 tahun.
9. Pernah tinggal di sebuah rumah mungil bersama istrinya, adik perempuan dan suaminya.
10. Membagi tahap kehidupannya dalam dua bagian. Sebelum dan sesudah anaknya lahir. Dia sangat menyukai perannya sebagai ayah.
Yaya Toure, tak tergantikan
June 10, 2009 on 6:38 am | In modern | No CommentsBabak final Copa del Rey yang mempertemukan Barcelona dan Athletic Bilbao (Rabu (13/5) lalu seakan menjadi panggung bagi Yaya Toure. Dia berhasil menjadi pahlawan dengan mencetak gol penyama kedudukan setelah Bilbao unggul lebih dulu lewat gol Gaizka Toquero. Toure mencetak gol itu tepat di hari ulang tahunnya yang ke-26.
Momen itu pasti akan sulit dilupakan Toure. Pasalnya, pelatih Pep Guardiola sebenarnya tak terlalu memercayainya di awal musim. Pep lebih sering menurunkan pemain muda asli didikan akademi klub, Sergio Busquets dibandingkan Toure.
Saat itu Pep mungkin ingin “menghukum” Toure, yang sempat dikabarkan ingin pindah ke Arsenal dan berkumpul dengan saudaranya, Kolo Toure. Kabar itu malah semakin kencang berembus saat bursa transfer musim dingin dibuka, ketika Manchester City ikut terjun dalam perburuan. Berita tersebut baru tenggelam setelah muncul bantahan dari Toure sendiri.
“Aku tahu Arsenal tertarik padaku. Tapi aku tekankan, kalau aku tak berniat keluar dari Barca. Rumor ini tak akan memengaruhi performaku. Konsentrasiku sekarang adalah bersama Barcelona. Aku yakin itu,” kata Toure saat itu.
Toure memang pantas mengeluarkan pernyataan tersebut. Pasalnya, pada November lalu, Pep sudah mulai memercayainya. Pep tak pernah absen menurunkannya sebagai starter sejak bulan tersebut. Semua berkat performa bagusnya di pertandingan antara Barcelona dan Almeria yang berakhir dengan skor 5-0 pada 25 Oktober 2008.
Sejak itu, Pep tercatat sudah menurunkan Toure sebanyak 22 kali di ajang Liga BBVA. Posisinya tak tergantikan. Dia memang sempat absen selama dua pekan, akibat cedera paha yang dibekapnya dalam pertandingan melawan Malaga yang berakhir dengan skor 6-0 bagi Barcelona, awal Maret lalu. Setelah absen selama 15 hari, Pep kembali memasangnya di pertandingan melawan Almeria, 15 Maret 2009.
Kepercayaan itu pun berbalas. Toure selalu ingin tampil bagus bagi Pep dan bagi Barcelona. Dia tak pernah lupa menjaga lini pertahanan. Dan tugas itu dilakukannya dengan baik di pertandingan babak semifinal melawan Chelsea, Rabu (6/5) lalu.
Dalam pertandingan tersebut, dia berhasil menjaga Didier Drogba dengan baik. Padahal sebelum laga digelar, Toure memuji Drogba sebagai striker terbaik di Inggris. Tapi dia mengingatkan rekan setimnya di timnas Pantai Gading itu kalau dia akan menghadapi dirinya di pertandingan itu.
“Dia adalah rekan setimku di timnas. Dia juga sahabatku di luar lapangan. Dia selalu bersedia menjadi temanku di saat aku membutuhkannya. Namun, aku harus menghadapinya di pertandingan ini. Dan ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Pasti akan sulit karena dia adalah striker terbaik Inggris saat ini,” bilang Toure.
Toure benar. Sulit menghadapi pergerakan Drogba. Namun dia tak mau mengenal kata menyerah. Dia selalu muncul sebagai firewall di tembok pertahanan Blaugrana, ketika Drogba hendak menusuk lini pertahanan lawan. Keberhasilan Toure pun membuat dia sebagai pemain yang tertawa paling akhir setelah Barca lolos ke final Liga Champions.
SEBUAH JALAN BERLIKU
Bukan jalan yang mudah bagi Toure untuk meretas kesuksesannya bersama Barcelona, baik di level liga maupun di pentas Eropa. Sebagai pemain kelahiran Pantai Gading, tentu saja Toure mulai menjejaki kariernya di akademi sepak bola ASEC Mimosas di negara benua hitam itu. Atas rekomendasi mentornya, Patrick Van Reijendam, Toure pun mulai menapaki ranah Eropa.
Di benua putih itu, Toure mulai berkarier di klub KSK Beveren. Dia membela Beveren selama dua setengah musim. Setelah itu, dia menghabiskan waktu selama satu setengah musim bersama kub Metalurh Donetsk, Ukraina.
Toure baru naik kelas ke level kompetisi sepak bola yang lebih tinggi usai ditemukan oleh talent scout klub Olympiakos, Yunani, Matthew Taylor. Mulai musim 2005-06, dia mulai pindah ke negeri dewa-dewi itu. Di musim yang sama, sebenarnya dia sempat menjalani trial bersama Arsenal, namun gagal mendapatkan kontrak dari tangan Arsene Wenger.
Berkat penampilan bagusnya di Olympiakos, Toure terpilih sebagai pemain muda berbakat oleh Eurosport pada 2005. Dia meraih penghargaan itu bersama Javier Mascherano dan Sergio Agüero. Berkat gelar itu pula, klub raksasa Barcelona akhirnya tertarik dan merekrutnya, hingga posisinya tak tergantikan di posisi defensive midfielder hingga saat ini.
“Aku tak ingin meninggalkan klub besar seperti Barcelona. Aku bahagia berada di sini dan ingin merengkuh banyak gelar bersama Barca. Sebuah penghormatan besar bagiku kalau aku bisa menghabiskan karierku sebagai pemain sepak bola di Barcelona,” kata dia. Sebuah pesan jelas bagi pemburu Toure bukan? (Ruri)
(BOKS1)
Dari keluarga sepak bola
Keberhasilan Arsenal dan Barcelona melaju ke babak semifinal Liga Champions musim ini membuat Mory Toure harus memilih. Tim manakah yang hendak didukungnya? Anak sulungnya, Kolo Toure bersama Arsenal atau Yaya Toure yang membela Barcelona? Sungguh sebuah pilihan yang sulit.
Tapi di antara kebingungan itu, terselip sebuah kebanggaan yang luar biasa pada diri Mory saat melihat kedua anaknya muncul di pentas kompetisi tertinggi antarklub Eropa. “Momen ini sungguh istimewa. Melihat kedua anakku berlaga di sana. Tapi salah satu hasil pertandingan itu sudah mengecewakanku,” kata pria yang kini berusia 61 tahun itu.
Selain Yaya dan Kolo, kebanggaan pria yang berprofesi sebagai tentara itu masih tersisa dalam diri Ibrahim yang juga berkarier sebagai pemain sepak bola. Hanya saja, Ibrahim bermain di belahan benua lain, tepatnya di klub Al-Ittihad, Suriah.
Ketiga bersaudara ini tumbuh besar di Bouake, Abidjan, Pantai Gading. Ketika masih berusia remaja, kehidupan mereka tambah sulit akibat perang sipil yang melanda negeri itu. Saat itu, Mory sempat kebingungan bagaimana dia harus menghidupi ketiga anaknya di tengah masa sulit tersebut.
“Tapi aku pernah membaca artikel tentang Pele. Seseorang pernah mengatakan kepada orang tua Pele kalau suatu hari anaknya itu akan menjadi raja. Begitu pula yang terjadi padaku. Adalah mertua saya yang mengatakan kalau suatu saat nanti, giliran ketiga anak itu yang akan menyelamatkan kehidupan keluarga ini,” kenang Mory.
“Mertua saya mengatakan itu tepat ketika Kolo dan Yaya masih berusia empat dan dua tahun dan sedang bermain sepak bola di lapangan pasir dekat rumah kami. Kalau mengenang itu, saya selalu merasa bangga sampai sekarang. Apalagi kalau melihat keduanya sedang membela timnas,” imbuh dia.
Berkat ketenaran anak-anaknya, Mory pun mendapat penghormatan tersendiri dari lingkungan sekitarnya. Tapi gangguan pun berjalan seiring dengan penghormatan tersebut. Mereka menganggap Mory sebagai orang kaya karena memiliki anak-anak yang sukses seperti Kolo dan Yaya.
“Orang-orang sering datang mengetuk pintu rumahku dan meminta pertolongan. Mereka juga sering meminta uang. Sebenarnya hal ini menyulitkanku, tapi aku tak mampu berbuat apapun. Padahal sebagai keluarga pemain timnas, tak jarang saya mendapat teror kalau timnas tampil buruk. Mungkin ini sudah resiko,” pungkas dia.
(BOKS2)
Dukungan Kolo
Sosok Kolo Toure memang tak pernah bisa dilepaskan dari Yaya. Kolo-lah yang pertama kali membuka jalan sebagai pemain bola profesional bagi Yaya. Apalagi Kolo selalu menyebut kalau Yaya lebih berbakat dibandingkan dirinya.
“Permainan Yaya itu seperti Patrick Vieira. Dan di atas segalanya, dia memang memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan aku,” kata Kolo. “Yaya adalah seorang pemain bagus. Sekarang dia berada di sebuah klub besar. Aku pikir dia sangat menikmati kondisinya sekarang. Performa dia banyak menolongku saat kami harus bekerjasama di level timnas,” imbuh Kolo.
Yaya pun tak pernah lupa mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap Kolo. Hal pertama yang dilakukannya setiba di Barcelona adalah menelepon Kolo. Yaya selalu menghargai kebanggaan yang dirasakan Kolo terhadapnya. Sama seperti yang dirasakannya terhadap Kolo di Arsenal.
Pujian Kolo bukan tanpa alasan. Menurut Amani Yao, pelatih akademi sepak bola ASEC Mimosas, Yaya memang lebih berbakat dibandingkan dua saudaranya yang lain. “Teknik Kolo awalnya tak terlalu bagus, tapi dia seorang pembelajar yang hebat. Sementara Yaya menjalani latihan lebih mudah dengan bakat yang dimilikinya,” kenang dia.
Lalu bagaimana rasanya kalau Yaya harus menghadapi Kolo di sebuah pertandingan. Keinginan itu hampir terjadi di Liga Champions musim ini, sebelum akhirnya Arsenal kandas di tangan Manchester United di babak semifinal.
“Kalau aku menghadapi Kolo di sebuah pertandingan, pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagiku. Apalagi kalau kami berhasil masuk ke final,” kata Yaya saat itu. Sayang, keinginannya tak jadi nyata.
Kalaupun itu terjadi, tim manakah yang lebih dipilih Mory, sang ayah? “Saya akan mendukung tim Kolo, karena dia membawa Yaya mengenal dunia sepak bola. Setelah berdoa bagi Kolo, baru saya akan berdoa buat Yaya,” pungkas Mory.(*)
Michael Essien, The returning hero
June 10, 2009 on 6:37 am | In modern | No CommentsSelasa, 10 Maret 2009. Juventus menjamu Chelsea di Stadion Olimpico Turin. Babak 16 besar Liga Champions musim 2008-09 digelar. Kubu tuan rumah tentu berharap timnya bisa mengatasi The Blues dan melangkah ke babak 8 besar. Namun harapan itu tinggal harapan. Juventus tersingkir. Semua disebabkan penampilan pemain yang baru sembuh dari cedera selama 6 bulan. Michael Essien.
Di pertandingan itu, Essien tampil ciamik. Dia berhasil memberikan ruang bagi para pemain lain. Kembalinya Essien seakan memberikan nafas baru bagi Chelsea. Bahkan beberapa pemain menyebut kalau Chelsea seperti baru saja membeli pemain baru dengan kehadiran Essien.
Pemain asal Ghana ini tak hanya memberikan nafas baru bagi Chelsea. Dia juga mulai memberikan kemampuan serbagunanya di lapangan kepada Guus Hiddink, manajer Chelsea. “Aku selalu mendengarkan dan melakukan apa yang menjadi perintah manajer. Aku tak terlalu keberatan di posisi mana aku akan bermain, sepanjang aku melakukan hal itu bagi tim dan bagi manajer,” bilang Essien.
Sudah menjadi rahasia umum rasanya kalau Essien adalah pemain serbaguna di lapangan. Dia mampu bertahan di empat posisi lini belakang, sekaligus bisa bermain di semua sisi lini tengah. Dia benar-benar memperlihatkan kemampuan terbaiknya dengan menusuk dari lini belakang, tengah, dan ke lini depan, dan mencetak gol.
Setelah mencetak gol di ajang Liga Champions, Essien masih mencetak sebuah gol lagi usai kembali dari cedera. Dia mencetak gol ke gawang Manchester City pada 15 Maret 2009. Tak ada indikasi sama sekali dari midfielder ini, kalau dia baru saja sembuh dari cedera lutut ligamen yang membuat dia harus absen selama enam bulan. Tak pelak, saking gembiranya, dia langsung memeluk Thierry Laurent, ahli fisioterapi Chelsea.
“Aku ingin mendedikasikan gol-golku itu bagi Laurent,. Dia membantuku pulih dari cedera terburuk sepanjang karierku dan selalu ada di sisiku selama enam bulan terakhir. Jadi aku ingin memeluknya untuk mengucapkan terima kasih untuk apa yang sudah dilakukannya kepadaku,” kata Essien. “Sekarang kondisiku sudah sangat fit. Aku senang bisa masuk ke starting eleven lagi. Dan kupikir aku sudah melakukan yang terbaik,” imbuh dia.
Pemikiran itu bukan hanya sebatas pemikiran Essien semata. Tetapi juga rekan sesama anggota skuad Chelsea, Michael Ballack. Menurut Ballack, kembalinya Essien ke skuad utama memberikan kontribusi besar bagi The Blues.
“Essien adalah seorang pemain hebat dan kami sangat kehilangan saat dia harus absen selama enam bulan. Luar biasa rasanya melihat dia mencetak gol di pertandingan pertamanya usai cedera. Itu adalah sebuah kontribusi besar buat kami,” papar dia.
Tak hanya Ballack, Hiddink pun puas melihat penampilan Essien, baik di pertandingan Juventus maupun Manchester City. “Kontribusinya besar buat tim. Bukan hanya karena dia mencetak gol, tetapi juga karena performanya yang bagus di lapangan,” bilang Hiddink.
ESSIEN-ISM DI GHANA
Berkat penampilan bagusnya itulah, Michael Essien sudah lama ditahbiskan sebagai pemain terbesar Ghana sepanjang sejarah. Dia sudah membintangi berbagai iklan di negaranya, mulai dari produk minuman yoghurt sampai ke iklan perusahaan seluler. Essien-ism pun bermunculan di Ghana.
“Michael Essien adalah ikon dunia sekarang, sama seperti David Beckham. Senang rasanya memiliki seorang pahlawan berkulit hitam seperti dia. Sosok seperti dia bagus untuk negara kami, bagi Afrika, dan bagi anak-anak Afrika,” beber Tony Baffoe, mantan kapten Timnas Ghana.
Baffoe benar. Banyak anak-anak Ghana sekarang bermimpi untuk menjadi the next Essien di masa depan. Mereka juga ingin dikontrak sebagai pemain sepak bola di salah satu klub besar Eropa. Sama seperti Essien yang dikontrak dengan nilai 43 juta dolar saat pindah dari Lyon ke Chelsea.
Kostum-kostum Essien di Ghana juga lebih banyak dijual dibandingkan pemain terbaik Ghana, Stephen Appiah. Jumlah perbandingan kostum keduanya di Ghana adalah 1:2. Dari satu kostum Appiah, pasti terdapat dua kostum Essien. Baik kostumnya di Timnas Ghana maupun kostum Essien di Chelsea.
Kondisi itu ternyata tak membuat Essien takabur. Dia tetap membumi. Sikap rendah hatinya itu bahkan diakui oleh Junior Agogo, rekannya di timnas Ghana. “Mike (Essien, Red) adalah seorang pemain yang rendah hati. Setenar apapun namanya, dia selalu senang menjadi bagian dari sebuah tim,” kata dia.
Keinginan untuk menjadi bagian dari tim itulah yang mendorong Essien untuk mengakhiri kariernya sebagai pemain sepak bola di Chelsea. Padahal, banyak sekali tawaran dari klub-klub besar Eropa menghampirinya, terutama dari Inter Milan. Siapapun tahu kalau Jose Mourinho, mantan manajer Chelsea, kini menukangi Inter.
“Tapi aku tetap ingin ada di Chelsea. Di klub ini, kami selalu bersaing untuk meraih gelar juara Premier League, Liga Champions, dan Piala FA di setiap musimnya. Dan di setiap musim, kami punya kesempatan untuk menang. Dan aku membutuhkan kesempatan tersebut,” bilang pemain berusia 26 tahun itu.
Disadari atau tidak, Chelsea pun membutuhkannya. Sejak dia kembali dari cedera pada 10 Maret lalu, dia sudah tampil sebanyak 10 kali. Dan dari jumlah tersebut, Chelsea berhasil menang lima kali, seri empat kali, dan kalah sekali. Tiga dari empat hasil seri tersebut diukir di pertandingan Liga Champions yang menggunakan sistem kandang-tandang.
Catatan itu menjadi sebuah bukti kalau Chelsea benar-benar membutuhkan the returning hero ini. Essien merupakan pemain impian setiap manajer. Setiap manajer manapun di dunia ini akan dengan senang hati menggunakan jasanya. Mumpuni di setiap lini dan tak memiliki masalah di posisi bermain apapun. So, welcome back, Essien!(Ruri)
(BOKS)
Sang ayah hidup miskin
Sebuah rahasia kelam ternyata tersembunyi di balik kesuksesan Michael Essien sebagai pemain sepak bola. Di tengah kekayaan, popularitas, dan ketenaran yang dimilikinya, ternyata ayah Essien, James Essien, harus hidup di bawah garis kemiskinan di Desa Odoben, Ghana.
Pria berusia 76 tahun itu hanya memiliki pemasukan sebesar 15 poundsterling (sekitar Rp280 ribu) setiap bulannya. Hal itu membuat dia hanya bisa menghabiskan uang kurang dari Rp10 ribu setiap harinya. Dia pun tinggal di rumahnya yang hanya terbuat dari kayu. Sebuah poster Michael yang mengenakan seragam tim nasional Ghana terpampang di dalamnya.
Sayang, JK terakhir kali bertemu Michael sekitar 10 tahun lalu. Semua terjadi karena masalah keluarga. “Saya hanya ingin dia mengakui saya sebagai ayahnya. Saya ingin melihatnya bertanding. Dia sudah menjalani hidupnya dengan baik, saya bangga kepadanya. Dia sudah mengangkat nama Essien ke dunia. Apapun yang terjadi, saya selalu mendoakannya setiap kali bangun tidur, supaya dia terus sukses menjalani kariernya,” kata JK.
Masalah keluarga timbul ketika ibu Michael, Aba, menceraikan JK karena JK tak mau melepaskan tiga istrinya yang lain. Setelah perceraian itu, Aba mengatakan kalau JK tak lagi mau menafkahi Michael Essien dan saudara perempuannya, Dinah.
“Aba adalah istri keempatku dan kami sempat menikah selama delapan tahun. Saat Michael berusia dua tahun, Aba memintaku untuk menceraikan tiga istriku yang lain, dan aku menolaknya. Saya sadar kalau punya kewajiban untuk memelihara Michael dan Dinah sebagai ayah mereka, tapi saat itu saya tak mampu melakukannya karena gajiku yang sangat kecil, dan saya harus menafkahi anak dari istri lainnya,” kata JK.
Ketika Michael masih berada di Ghana, JK selalu menemuinya selagi ada kesempatan. JK pula yang membawa Michael untuk berlaga di tim U-12 klub Liberty Professionals, Ghana. Sejak itu pula, JK menyadari kalau anaknya ini memiliki talenta sepak bola yang luar biasa.
“Saat masih muda, saya juga pernah jadi pemain sepak bola dan bermain bagi tim lokal. Tapi saya harus meninggalkan profesi tersebut, karena saat itu, menjadi pemain sepak bola sama sekali tak menguntungkan,” bilang JK.(*)
Flu babi dan sepak bola, Ketika agama terpisah dari umat
June 10, 2009 on 6:35 am | In modern | No CommentsUntuk pertama kalinya dalam sejarah Meksiko, dunia sepak bola terpisah dari para pendukungnya. Masyarakat Meksiko yang sudah menjadikan sepak bola seakan menjadi agama dalam hidup, kini harus terpisah dari “agama” mereka. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah virus flu babi yang kini melanda negeri itu.
Sudah ribuan orang terinfeksi dan ratusan orang meninggal akibat virus mematikan ini. Karenanya wajar rasanya ketika FMF (PSSI-nya Meksiko, Red), memutuskan untuk melarang warga Meksiko menghadiri pertandingan. Semua pertandingan akan dilakukan secara puerta cerrada, atau tertutup.
Dua pekan lalu, tiga dari sembilan pertandingan di liga premier Meksiko harus diselenggarakan tanpa penonton. Sementara di pekan lalu, seluruh pertandingan liga diputuskan untuk digelar secara tertutup. Kesembilan pertandingan itu adalah Tecos-Pumas, Cruz Azul-Ciudad Juarez, Monterrey-America, Pachuca-Jaguares, Chivas-Puebla, Morelia-Atlas, Necaxa-Atlante, Toluca-Tigres, dan Santos-San Luis.
Khusus pertandingan babak final Liga Champions leg kedua zona CONCACAF yang mempertemukan Cruz Azul dan Atlante akan ditunda sampai 12 Mei mendatang. Di leg pertama, Atlante berhasil menang 2-0. Begitu pula dengan turnamen Beach Soccer CONCACAF yang seharusnya dibuka akhir April lalu di Puerto Vallarta. Terpaksa ditunda sampai batas waktu yang tak ditentukan.
Tak hanya itu, turnamen timnas U-17 zona CONCACAF yang sudah sampai babak semifinal pun harus terhenti di tengah jalan. Turnamen yang digelar di di Stadion Estadio Caliente, Tijuana itu tinggal menyisakan timnas Meksiko, AS, Honduras, dan Kosta Rika.
Di stadion yang sama juga akan digelar pertandingan terakhir divisi dua Liga Meksiko. Namun tetap digelar tanpa penonton. Setidaknya klub menawarkan penonton untuk melihat pertandingan melalui situs klub atau lewat siaran tunda.
“Wabah flu babi ini sungguh memengaruhi kami. Tapi yang paling penting adalah mencegah penyebaran wabah supaya tak lebih meluas. Kami tak mau para fans sepak bola berpikir kalau kami lebih mementingkan pemasukan klub dibandingkan kondisi kesehatan mereka. Karenanya, satu-satunya jalan keluar adalah menggelar pertandingan tanpa penonton,” kata Mario Trejo, Direktur Olahraga klub Pumas, Meksiko.
TIMNAS TERGANGGU
Tanpa kehadiran penonton, sepak bola terasa kurang lengkap. Bagai nasi tanpa garam. Namun FMF juga tak mampu berbuat apapun, karena mereka juga tak mungkin menghentikan kompetisi yang sudah berjalan.
Sebenarnya, menurut jadwal, kompetisi akan berakhir pada 10 Mei mendatang. Sementara jadwal playoff akan berlangsung sampai akhir bulan ini. Selain kompetisi yang tertunda, jadwal pertandingan Pra-Piala Dunia tim Meksiko pun jadi terganggu.
Mereka sedianya akan bertanding pada 6 Juni dan 10 Juni nanti, tapi belum diketahui apakah akan ada perubahan jadwal akibat wabah flu ini. Padahal masa-masa sekarang adalah masa-masa penting bagi timnas Meksiko, mengingat tongkat kepelatihan baru saja berpindah dari tangan Sven-Goran Eriksson ke tangan Javier Aguirre pada 3 April lalu.
Kalau memundurkan jadwal liga, pasti akan membuat Aguirre pusing kepala. Dia harus mengambil pemain dari klub di saat klub sedang membutuhkan mereka di liga. Dan penundaan jadwal juga berarti kerugian besar bagi jaringan televisi dan iklan yang mendukung penyelenggaraan pertandingan.
Tak hanya Aguirre yang panik. Salah satu klub Meksiko, Necaxa juga dilanda kepanikan. Salah satu pemain mereka, striker Alejandro Castillo diketahui menderita gejala flu babi. Tapi menurut juru bicara tim, Rosendo Duhart Gonzalez, Castillo memang dirawat di rumah sakit, namun hanya menderita flu biasa. “Dia sudah lebih baik sekarang. Dia tak mungkin terkena flu babi tersebut,” kata dia.
Flu babi juga diwaspadai di Chicago yang berdekatan dengan perbatasan Meksiko. Di sana, tepatnya di Stadion Toyota Park, digelar pertandingan antara klub America dan Chicago Fire. Beruntung, pertandingan ini bisa dihadiri penonton. Tapi mereka diharuskan mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer lebih dulu sebelum masuk ke stadion.
“Klub America sudah memenuhi semua prosedur standar kesehatan yang dilakukan Departemen Kesehatan Meksiko. Mereka ingin menjamin kondisi kesehatan sendiri saat melakukan perjalanan ke Chicago, terutama demi kesehatan fans Chicago Fire,” kata Dave Greeley, Presiden Fire. Benar-benar virus yang menakutkan.(Ruri)
(INFOGRAFIS)
Rugi besar
Penundaan jadwal maupun pembatalan turnamen-turnamen sepak bola di Meksiko tentu saja merupakan kabar buruk bagi dunia persepakbolaan di negeri sombrero tersebut. Pemasukan klub pun sangat berkurang, karena pertandingan harus dilakukan secara tertutup, tanpa kehadiran penonton. Padahal di setiap pekannya, tak kurang 300 ribu penonton hadir di stadion-stadion. Berapa sebenarnya jumlah perkiraan kerugian itu? Berikut penjelasannya.
Penjualan tiket : 1,7 juta dolar AS (Rp18,21 miliar)
Parkir : 500 ribu dolar AS (Rp 5,35 miliar)
Televisi : 1 juta dolar AS (Rp10,7 miliar)
Iklan : 700 ribu dolar (Rp7,5 miliar)
Lain-lain : 50 ribu dolar (Rp535 juta)
Total : 3,5 juta dolar AS (Rp42,26 miliar)
Worst Famous Football Fans
June 10, 2009 on 6:34 am | In modern | No Comments
David Beckham bisa jadi sudah mulai menancapkan kukunya di jagat hiburan kelas dunia dengan ketenaran yang diperolehnya di dunia sepak bola. Tetapi ketika terjadi sebaliknya, selebritis jagat hiburan dunia ingin berkecimpung di dunia sepak bola, kegagalanlah yang lebih sering terjadi.
Sebagai contoh, penyanyi top dunia, Robbie Williams. Dia pernah menanamkan modal sebesar 250 ribu pounds atau sekitar Rp3,9 miliar bagi klub asal Inggris, Port Vale pada Februari 2006 lalu. Dana sebesar itu membuat Williams menjadi pemegang saham terbesar di klub tersebut.
Sayang, klub itu tak kunjung menuai prestasi, mereka terus berkubang di Football League Two Inggris. Tak urung, fans Port Vale pun meminta agar Williams memberikan dana yang lebih besar lagi guna mengembalikan masa kejayaan Port Vale di kancah sepak bola Inggris.
Selain Williams, masih banyak selebriti dunia lain yang benar-benar tak cocok terjun di dunia sepak bola. Sebagian di antara mereka malah berakhir menjadi pecundang. Berikut beberapa di antaranya.(Ruri)
1. Sir Elton John
Penyanyi tenar dunia ini pernah menanamkan modal jutaan pounds ke klub Watford, Inggris sekaligus menduduki jabatan sebagai presiden klub. Namun, tak lama kemudian, dia mengundurkan diri sebagai presiden karena sudah kehilangan kepercayaan terhadap manajemen klub.
2. Wayne Rooney
Sebenarnya, selebritis yang satu ini bukan berasal dari jagat hiburan. Namun ketenaran yang didapatnya dari sepak bola, membuatnya didapuk menjadi salah satu selebritis dunia. Status itulah yang tampaknya ingin dikejar saat pertama kali bergabung dengan Man. United, begitu tawaran pertama menghampiri. Padahal sebelumnya, dia selalu mengaku sebagai suporter sejati Everton. “Sekali biru, aku akan tetap biru,” kata Rooney waktu itu. Ternyata oh ternyata…
3. Liam Gallagher dan Noel Gallagher
Rasanya sudah menjadi rahasia umum kalau personel Oasis merupakan fans berat klub Manchester City. Tapi bagaimana bisa disebut fans berat kalau mereka malah tinggal di sebuah kawasan di London Utara yang berjarak 320 kilometer dari Kota Manchester? Jarak itu otomatis membuat dia jarang menghadiri pertandingan-pertandingan Blues. Fans yang “sejati” tentunya.
4. Mel B
Mantan personel grup Spice Girls ini seakan sudah ditakdirkan untuk menjadi fans Leeds United. Dilahirkan di Leeds pada 29 Mei 1975, tentu saja Mel B tumbuh menjadi fans Leeds. Dan predikat fans Leeds sebagai fans yang brutal seakan cocok menggambarkan sosok Mel B yang akrab dengan kejadian penuh kontroversi.
5. Hugh Grant
Bintang film yang satu ini sempat menjadi asisten pengelola stadion Fulham di masa mudanya. Karenanya, dia pun tumbuh sebagai fans fanatik Fulham. Namun prestasi Fulham yang begitu-begitu saja di Premier League seakan menggambarkan sosok Grant yang juga selalu menerima peran yang begitu-begitu saja di film-filmnya.
6. Pete Doherty
Artis yang lebih dikenal sebagai pecandu narkoba ini mengaku sebagai fans fanatik klub Queens Park Rangers. Bahkan dia sempat membuat majalah amatir berjudul All Quiet on the Western Avenue yang didedikasikan bagi klub tersebut. Sayang, majalahnya gagal di pasaran. Namun bisa dibayangkan seperti apa jadinya kalau klub seperti QPR memiliki fans brutal seperti Pete Doherty.
7. Benito Mussolini
Diktator fasisme asal Italia ini dikenal sebagai fans fanatik klub Bologna. Bahkan dia sempat “membantu” klub tersebut memenangkan empat titel liga antara periode 1925 sampai 1937. Saat itu, federasi sepak bola Italia tak mampu berbuat apapun untuk mencegahnya.
8. Gordon Brown
Di sela kesibukannya sebagai Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown masih punya waktu untuk mengikuti perkembangan klub kesayangannya, Raith Rovers. Bahkan saat dia masih remaja, dia sempat menggalang dana bagi Raith di Stadion Stark Park.
9. Sylvester Stallone
Entah apakah bintang film yang satu ini hanya memanfaatkan sepak bola guna menambah ketenarannya atau tidak. Yang pasti, hanya dengan muncul di pertandingan antara Everton-Reading di Goodison Park yang berakhir seri 1-1, wajahnya langsung muncul di halaman muka media-media Inggris. Tak lama kemudian, film Rocky yang dibintanginya meledak di Inggris.
10. Tom Hanks
Bintang Hollywood ini mengaku mendukung Aston Villa hanya karena dia menyukai nama klub tersebut. Hanks mengetahui nama Villa ketika dia mempromosikan filmnya di London di 2007. Bahkan kehadirannya di stadion sangat diharapkan Martin O’Neill yang mengaku mengaguminya lewat film Saving Private Ryan.
11. Zeljko “Arkan” Raznatovic
Diktator Serbia yang membunuh jutaan orang ini dihukum mati pada 15 Januari 2000. Dia dikenal sebagai pendukung Red Star Belgrade dan FC Obilic, Belgrade.
12. Osama Bin Laden
Siapa yang menduga kalau the world most wanted terrorist ternyata merupakan fans berat klub Arsenal? Di musim 1993-94, dia terlihat menghadiri sebuah pertandingan The Gunners di ajang Piala Winners. Bahkan dia sempat mampir ke tempat penjualan merchandise klub dan membeli sebuah kaos replika Arsenal. Bayangkan apa jadinya Stadion Emirates sekarang kalau Bin Laden benar-benar ingin menonton pertandingan Arsenal?
13. Adolf Hitler
Hitler boleh jadi sudah pernah mengebom Old Trafford saat dia masih berkuasa. Namun itu dilakukannya bukan karena dia pendukung Manchester City. Tapi dia merupakan fans klub Schalke 04 karena klub ini paling banyak menjuarai liga saat dia masih berkuasa. Sayang, teori ini langsung dibantah oleh Gerd Voss, public relations Schalke 04.
John “Jock” Stein, An Immortal Coach
June 10, 2009 on 6:33 am | In classic | No CommentsKesuksesan Sir Alex Ferguson di Manchester United tampaknya berakar dari sosok pelatih yang satu ini. Pasalnya, saat awal meniti karier sebagai pelatih, Ferguson sempat menjadi asisten pelatih Jock Stein, pelatih Glasgow Celtic yang dianggap sebagai pelatih tersukses sepanjang sejarah klub tersebut.
Selama 13 tahun menukangi Celtic, Jock sudah mempersembahkan sembilan gelar juara Liga Skotlandia berturut-turut mulai musim 1965-66 hingga 1973-74. Satu gelar lagi kembali dipersembahkannya di musim 1976-77. Selain itu dia juga mengantar Celtic meraih gelar Piala Skotlandia dan Piala Liga Skotlandia sebanyak 14 kali.
Di antara semua gelar yang sudah ditorehkannya, prestasi yang paling mencolok tentu saja adalah gelar juara Piala Champions musim 1966-67. Di musim itu juga, dia mencetak quadruple karena berhasil merebut gelar Piala Champions, Liga Skotlandia, Piala Skotlandia, dan Piala Liga Skotlandia sekaligus.
Namanya tentu saja langsung tercatat sebagai manajer pertama yang membawa tim asal negeri Britania Raya menduduki kasta tertinggi level Eropa. Jock juga dikenang sebagai pelatih yang mengantar klubnya memenangkan semua gelar di semua kompetisi yang mereka ikuti.
Yang lebih hebat, di babak final dia menempatkan 10 pemain asli Glasgow guna menghadapi Inter Milan. Materi pemain lokal itu saja sudah cukup untuk mengalahkan Inter dengan skor 2-1 di Stadion Nacional, Portugal. Padahal saat itu Inter sudah berstatus sebagai juara Eropa sebanyak dua kali.
Karenanya wajar rasanya kalau legenda Liverpool Bill Shankly langsung memberikan pujian bagi Jock yang masih dikenang hingga sekarang. “John, namamu tak akan pernah mati mulai saat ini,” kata Shankly.
Shankly benar. Dengan sederet prestasinya bersama The Bhoys, Jock memang pantas disebut sebagai pelatih terbaik Celtic sepanjang masa. Tak pelak, dalam sebuah jajak pendapat yang digelar pada 2003 oleh Harian Sunday Herald, namanya dikukuhkan sebagai pelatih terhebat Skotlandia sepanjang masa. Gelar yang hadir setelah 18 tahun dia meninggal dunia.
PEKERJA TAMBANG
Jock dilahirkan sebagai anak tunggal dari pasangan George dan Jane Stein di sebuah desa pertambangan kecil di Lanarkshire, Skotlandia pada 5 Oktober 1922. Jock sempat bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik karpet dan tambang, sebelum akhirnya dia masuk ke klub Burnbank Athletic pada 1940.
Dua tahun kemudian, tepatnya 14 November 1942, Jock memulai karier profesionalnya di klub Albion Rovers dan menempati posisi sebagai bek tengah. Sayang, di pertandingan debutnya melawan Glasgow Celtic, yang berakhir dengan skor 4-4, performanya tak terlalu bagus.
Jock menghabiskan masa selama delapan musim di Rovers. Di sana, dia tampil sebanyak 236 kali dan mencetak sembilan gol. Uniknya, di saat yang sama, dia masih berprofesi sebagai pekerja tambang batubara di kampung halamannya.
Pada 1950, dia pindah secara mengejutkan ke klub Llanelly Town, Wales.. Namun karena Town terus mendulang hasil buruk dan Jock juga homesick pada kampung halamannya, akhirnya dia memutuskan pulang. Tak lama kemudian, dia memutuskan hendak pensiun dari dunia sepak bola selamanya. Dia memilih menekuni profesinya sebagai pekerja tambang batubara.
Kalau saja Jimmy Gribben, pencari bakat Celtic tak menemukan bakatnya, mungkin Celtic tak akan pernah merasakan kesuksesan bersama Jock, baik sebagai pelatih maupun sebagai pemain. Gribbenlah yang menyodorkan nama Jock kepada chairman Celtic, Robert Kelly yang akhirnya membeli Jock dari Town senilai 1.200 pounds.
Di Celtic, kedatangannya tak disambut hangat. Publik Celtic menganggap Jock sudah terlalu tua. Apalagi ditambah dengan latar belakang keluarga Jock yang merupakan pendukung fanatik Glasgow Rangers, rival terberat Celtic di ranah Skotlandia. Tapi, secara perlahan namun pasti, Jock meretas kesuksesannya di Celtic. Hingga namanya abadi di sana hingga saat ini.(Ruri)
(BOKS)
Meninggal dalam pertandingan
Sepak bola tampaknya tak akan bisa dilepaskan dari diri Jock Stein. Sampai menjelang ajalnya pun dia tetap mengabdikan dirinya di dunia sepak bola. Tepatnya pada 10 September 1985. Saat itu, sebagai pelatih timnas Skotlandia, dia mendampingi timnya menghadapi Wales di Stadion Ninian Park, Wales di Pra Piala Dunia 1986.
Saat itu The Tartan Army tertinggal 0-1 dari Wales setelah Mark Hughes mencetak gol di menit ke-13. Hanya hasil seri atau menang akan mengantarkan Skotlandia tampil di Piala Dunia secara otomatis dari grup VII.
Sampai menit ke-80, Skotlandia masih tertinggal. Namun mereka tak menyerah. Sebuah umpan dari Stephen Nicol yang disundul oleh Graeme Sharp mengarah ke David Speedie di area penalti lawan. Kondisi ini membuat defender Wales, David Phillips melakukan pelanggaran karena menyentuh bola itu dengan tangan.
Situasi ini tentu saja membuat wasit Johannes Keizer asal Belanda tak ragu menunjuk titik putih. Dan hampir semua publik Skotlandia menanti apakah striker Davie Cooper berhasil mengeksekusi penalti itu atau tidak.
Di pinggir lapangan, pelatih Jock Stein pun tak kalah gugupnya. Dia terlihat pucat melihat momen-momen menentukan itu. Hingga akhirnya publik Skotlandia berpesta melihat Cooper secara dingin berhasil melesakkan gol ke kandang lawan.
Namun tak lama kemudian, publik pun bungkam. Di tempat duduk pemain, Stein terlihat terjatuh pingsan sembari memegang dadanya. Dia pun langsung digotong ke ruang kesehatan. Tak lama kemudian, dia mengembuskan nafas terakhirnya. Tepat di pertandingan tersebut. Sebuah duka yang mendalam bagi dunia sepak boal Skotlandia.(*)
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^