Luis Oscar “Lucho” Gonzalez, (Bukan) Pengkhianat

August 14, 2009 on 12:28 am | In sepak bola | No Comments


Keinginan seorang pemain untuk meretas kariernya dengan melangkahkan kaki ke level yang lebih tinggi terkadang berbenturan dengan kecintaan fans kepada dirinya. Sama seperti yang dialami Luis Oscar “Lucho” Gonzalez. Keinginannya untuk mencicipi liga lain, harus menghadapi tantangan dari para pendukung Porto. Mereka menyebut dirinya sebagai pengkhianat.

Padahal, bukan sebuah hal yang mudah bagi Lucho untuk memutuskan pindah dari Porto. Keputusannya untuk pindah bukan karena dia merasa bosan terhadap Porto atau bosan berada di Portugal. Tapi semata-mata hanya ingin memenuhi keinginan untuk memaksimalkan usia produktifnya sebagai pemain sepak bola.

“Sungguh bukan sebuah keputusan mudah. Dari hari pertama, aku merasakan dukungan yang luar biasa dari penonton dan itu membuatku bahagia. Para pendukung tahu kalau aku akan memberikan apapun bagi klub selama aku mengenakan kostum Porto,” kata dia.

“Namun ketika aku memutuskan pindah, bukan berarti aku bosan terhadap dukungan fans atau terhadap Porto. Aku hanya ingin mencari tantangan baru. Inilah saatnya berubah. Yakinlah, kecintaan para pendukung Porto terhadapku tak akan pernah aku lupakan,” imbuh dia.

Keinginan Lucho untuk pindah sebenarnya sudah muncul sejak awal musim lalu. Akhirnya keinginan itu baru terwujud pada 7 Juli 2009 lalu. Dia diperkenalkan ke media sebagai pemain resmi Olympique Marseille. Perhatian media Prancis pun tersedot kepadanya. Pasalnya, sebuah banderol harga tinggi menempel di dahinya. 18 juta euro atau sekitar Rp257,6 miliar. Sebuah harga yang membuatnya menjadi pemain Marseille termahal dalam sejarah.

            Lalu alasan apa yang membuat Lucho akhirnya memilih Marseille usai angkat koper dari Porto? Didier Deschamps, pelatih Marseille, ternyata jadi penyebab. “Adalah janji Deschamps yang membuatku berlabuh ke sini. Aku yakin karierku akan meningkat ke level yang lebih tinggi karena Marseille adalah sebuah klub besar,” kata dia.

“Aku akan berusaha maksimal untuk mencapai tujuan klub. Secara fisik, kondisi sangat bagus. Sekarang semua tergantung kepada pelatih yang akan memutuskan kapan aku akan turun bermain,” imbuh dia.

            “Kondisinya tak perlu dikhawatirkan. Tapi dia tak akan ikut serta di pertandingan persahabatan melawan Dinamo Bucharest dan AC Ajaccio. Kendati begitu, saya yakin kekuatan Lucho akan meningkat,” timpal Deschamps, pelatih Marseille.

           

MAESTRO BARU

            Deschamps benar. Kekuatan Lucho yang paling kentara terdapat pada jiwa kepemimpinannya di lapangan. Dia berhasil muncul sebagai maestro baru di Porto usai kepergian Jose Mourinho pada 2004. Saat itu kepergian Mourinho diikuti eksodus pemain-pemain andalan Porto, seperti Deco, Paulo Ferreira, Ricardo Carvalho, Maniche, Costinha, Benny McCarthy, Jose Bosingwa, dan Ricardo Quaresma.

            Kepergian mereka membuat langkah Porto terseok-seok di Liga Champions setelah menjadi jawara di musim 2003-04. 16 besar di musim 2004-05, babak penyisihan di musim 2005-06, 16 besar di musim 2006-07 dan 2007-08. Langkah Porto bersama Lucho baru mengilap kembali di musim 2008-09, ketika berhasil mencapai babak perempatfinal.

            Keberhasilan Lucho menapaki level tertinggi sepak bola berakar dari keputusannya untuk bergabung di klub Atletico Huracan di usia 14 tahun. Setelah empat musim berada di sana, Lucho kemudian digaet Club Atletico River Plate pada 2002. Di sana, dia berhasil mengantar River Plate meraih gelar Clausura di 2004.

            Berkat keberhasilannya itu, ranah Eropa pun meliriknya. Porto memberikan tawaran kontrak selama lima tahun dengan nilai 3,6 juta euro pada 2005. Di sana, Lucho tak membutuhkan waktu lama, hingga akhirnya dia didapuk sebagai kapten tim.

            “Seperti sebuah mimpi bisa bermain di Eropa dan tampil di Liga Champions. Ini adalah impian masa kecilku untuk bermain di Eropa. Anda tak bisa membayangkan bagaimana perasaanku sekarang,” kata Lucho saat baru bergabung ke Porto. Sebuah perasaan yang kini harus ditebus dengan kepindahaan dirinya ke Porto. Paling tidak fans Porto harus mencoba memahami hal ini. Demi masa depan sang pemain. Dan bukan sebagai pengkhianat.(Ruri)

 

(BOKS1)

Didukung keluarga

            Sampai usia lima tahun, Lucho memang belum mengenal sepak bola. Dia baru mengenalnya ketika diajak keluarganya bermain ke kawasan Plaza de Espanha di Buenos Aires. Di sanalah, keluarganya mengenalkan sepak bola dan membuat Lucho pertama kali menendang bola.

            “Aku banyak memiliki kenangan indah di kawasan itu. Bersama adikku, aku berlatih bagaimana bermain menyerang dan bertahan. Tak jarang, kami bermain di tengah hujan. Dan keluargaku pun tak pernah memarahiku, terutama ibuku. Dengan telaten, dia selalu rajin merendam kaosku yang basah karena kehujanan akibat bermain bola,” kata Lucho.

            Latar belakang keluarga Lucho bisa dibilang sederhana. Ayahnya, Oscar, adalah seorang juru masak, sementara ibunya, Mary berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Mereka dikaruniai tiga anak, yakni Lucho, Maximiliano, dan Romina. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Park Gonzalez Patricios, Buenos Aires.

            Rumahnya yang terletak dekat dengan stadion membuat Lucho akrab dengan sepak bola. Sayangnya, latihan bagi pemain-pemain muda tak dipusatkan di stadion itu, melainkan di sebuah tempat yang jauh dari rumah. Mau tak mau Lucho harus mengeluarkan uang guna membayar ongkos bis. Untuk menutupi biaya itu, Oscar, sang ayah, sering mengalah dengan berjalan kaki menuju tempat kerjanya, supaya jatah uangnya bisa dipakai Lucho untuk membayar ongkos bis.

            “Sekarang setiap pertandingan yang kulakoni aku dedikasikan bagi keluargaku. Tanpa mereka aku tak akan jadi seperti sekarang. Rasa terima kasihku bagi mereka tak akan pernah habis aku ucapkan,” pungkas dia.(*)

 

(BOKS2)

What they say

            Penampilan Lucho Gonzalez di lapangan memang tak terbantahkan. Banyak pelaku sepak bola dunia mengakui kepiawaiannya di lapangan. Tak jarang, justru pujian malah berasal dari tim lawan. Seperti dari Arsene Wenger ketika Porto berhadapan dengan Arsenal di Liga Champions musim lalu. Apa sajakah komentar mereka? Berikut penjelasannya.

Gabriel Heinze

            “Keberadaan Lucho di lini tengah sebuah tim, membuat tim itu menjelma menjadi tim super. Lucho sudah terbukti memiliki kecepatan dan kemampuan yang luar biasa.”

Louis Van Gaal.

            “Penampilan Lucho Gonzalez selalu membuatku terpesona. Dia adalah pemain yang pintar. Dia akan berlari ke segala penjuru lapangan dengan atau tanpa bola.”

Jesualdo Ferreira

            “Lucho sudah bersama kami selama empat musim. Ketidakhadirannya di lapangan berpengaruh banyak buat kami.”

Jorge Valdano

            “Lucho adalah seorang pemain yang berpengalaman. Semangat kemenangan yang terus membara di tubuh Porto membuat dia terpilih masuk ke timnas Argentina.”

Arsene Wenger

            “Lucho Gonzalez adalah maestro. Dia piawai mengumpan bola dan memikirkan taktik pertandingan. Dialah harapan utama pendukung Porto.”

 

(INFOGRAFIS)

Tato Maradona

            Kendati tak jua dipanggil Diego Maradona ke tim nasional Argentina, tapi hal itu tak mengurangi kecintaan Lucho kepada idolanya. Dia menato gambar kartun Maradona lengkap dengan nomor kostumnya, 10, di atas lutut kirinya. Selain Maradona, tak kurang ada 10 gambar tato di badannya. Apa sajakah itu? Berikut beberapa di antaranya.

● Atas lutut kiri

Gambar kartun Maradona lengkap dengan tanda tangannya. Menunjukkan kecintaannya kepada sang legenda yang kini menjadi pelatih Tim Tango itu.

● Kaki kiri

Gambar Rosario, menunjukkan sisi relijius seorang Lucho Gonzalez.

● Kaki kanan

Gambar Yesus Kristus, melengkapi gambar Rosario di kaki kiri.

● Atas lutut kanan

Tulisan nama sang istri, Pamela Gonzalez dalam huruf Cina.

● Bagian tubuh lain

Inisial para anggota keluarganya, gambar jam, dan sebagainya.

Tomas Rosicky, Mozart kembali bersimfoni

August 14, 2009 on 12:26 am | In Uncategorized | 1 Comment


Simfoni itu akan segera kembali. Usai dibekap cedera selama 18 bulan, Tomas Rosicky akan segera kembali merumput musim gugur nanti. Sekitar periode September-Oktober, sang Little Mozart akan segera kembali bersimfoni. Bersimfoni di tengah ketatnya persaingan di pentas Premier League.

“Aku akan kembali pada musim gugur tahun ini. Sebenarnya pelatih kebugaran Tony Colbert mengatakan kalau aku sudah siap bermain akhir musim lalu. Namun klub memutuskan tidak menurunkanku. Bagiku itu tak jadi masalah, klub tak ingin berjudi dengan kondisiku,” kata pemain asal Republik Ceko tersebut.

Tapi, bukan sebuah hal mudah bagi Rosicky untuk segera bersimfoni. Sederet midfielder elegan berkumpul di lini tengah Arsenal. Mulai dari Cesc Fabregas, Theo Walcott, sampai Samir Nasri. Beruntung Rosicky menyadarinya. “Aku kehilangan banyak laga kompetitif. Tapi, bermain bersama Cesc Fabregas dan Theo Walcott akan membuatku merasa nyaman. Aku pasti akan segera lupa kalau sudah absen begitu lama,” kata Rosicky.

Dukungan pelatih pun dimilikinya. Wenger memberinya waktu sampai kontraknya di Arsenal berakhir pada akhir musim depan. Sampai waktu itu tiba, Rosicky harus membuktikan kalau dia bisa kembali menjadi pemain kunci The Gunners.          

“Kalau aku bisa kembali menemukan formula permainan idealku sebelum cedera, aku akan kembali bermain. Wenger sempat merasa frustasi ketika aku katakan kalau aku butuh operasi lagi. Tapi dia tak pernah mencoba menjualku, jadi pasti dia percaya kepada kemampuanku,” kata Rosicky.

“Tomas sudah menjalani semua proses pemulihan dengan baik. Dia juga kuat menjalani semuanya.  Sulit bagi seorang pemain untuk pulih kembali setelah dibekap cedera begitu lama.. Ketika mulai berlatih, kemudian tak berjalan lancar, Anda harus memulainya kembali. Tapi Tomas bisa mengatasi semuanya. Kami begitu merindukannya di skuad,” timpal Wenger.

            Kalau Rosicky kembali bermain,dia akan menambah kualitas skuad Arsenal. Tapi siapa kira-kira pemain yang akan dikorbankan seandainya dia diturunkan? Nasri bisa jadi salah satu kemungkinan. Dia harus rela bergantian menjadi sayap kiri bersama Rosicky. Atau bisa juga Andrei Arshavin lebih didorong ke depan dan membiarkan Rosicky berperan menjadi gelandang serang di belakang striker.

            Apapun peran Rosicky nanti di lapangan, tetap saja pecinta Arsenal menunggu-nunggu penampilannya kembali. Rosicky pun menyambutnya dengan gembira dan mengatakan kalau kondisinya jauh lebih baik dibandingkan ketika pertama kali tiba di Stadion Emirates. So, Mozart tampaknya sudah siap untuk kembali bersimfoni.(Ruri)

 

Riwayat cedera Rosicky

16 Oktober 2007 – Mengalami cedera struktur otot.

26 Januari 2008 – Ditarik di menit ke-9 saat melawan Newcastle di Piala FA akibat cedera hamstring.

27 Februari 2008 – Wenger yakin Rosicky akan kembali setelah menjalani masa pemulihan.

9 Mei 2008 – Rosicky menyatakan jika dirinya tak bisa membela Ceko di Euro 2008.

21 Juli 2008 – Rosicky sadar dirinya tak akan bisa tampil di awal musim 2008-09.

27 September 2008 – Wenger tak dapat memastikan kapan Rosicky akan kembali bermain.

5 Oktober 2008 – Wenger berharap Rosicky akan kembali di awal 2009.

19 Januari 2009 – Rosicky ingin kembali turun sesegera mungkin.

2 April 2009 – Wenger mengatakan jika Rosicky akan kembali dalam kurun waktu empat pekan.

24 April 2009 – Media menyebut kalau Rosicky tak akan pernah bermain bagi Arsenal lagi.

7 Juli 2009 – Rosicky menjalani latihan perdana bersama Arsenal di awal musim 2009-10.

 

Arsene Wenger, The transfer king

August 14, 2009 on 12:22 am | In sepak bola | No Comments


            Julukan sebagai transfer king tampaknya pantas disematkan kepada manajer Arsenal, Arsene Wenger. Sejak menukangi Arsenal pada 1 Oktober 1996, dia sudah mendatangkan keuntungan puluhan juta pounds bagi The Gunners. Uang tersebut didapatnya dari keuntungan penjualan dan pembelian pemain setiap tahunnya.

            Mulai dari era pembelian Patrick Vieira di musim 1996-97 sampai penjualan Emmanuel Adebayor di bursa transfer musim 2009-10 sekarang. Vieira dibelinya dari AC Milan pada Agustus 1996 dengan harga 3,5 juta pounds. Dan Wenger berhasil mendapat keuntungan 10,2 juta pounds ketika menjual Vieira ke Juventus sebesar 13,7 juta pounds pada Juli 2005.

            Keuntungan berikutnya didapat dari pembelian Nicolas Anelka dari PSG dengan hanya 500 ribu pounds pada Februari 1997. Hanya dalam tempo dua musim, keuntungan itu berlipat ganda ketika Anelka dijual ke Real Madrid dengan banderol 23 juta pounds. Keuntungan itu merupakan keuntungan terbesar yang didapat Wenger selama menjadi manajer Arsenal.

            Begitu pula dengan transfer deal Wenger yang teranyar. Dia berhasil mendapatkan keuntungan sebesar 18 juta euro dengan menjual Adebayor ke Manchester City. Tiga musim lalu, Wenger membeli striker asal Togo itu dengan banderol harga sebesar tujuh juta pounds saja.

            Tapi toh catatan itu tak juga diakui oleh rival terberat Wenger, Sir Alex Ferguson, manajer Manchester United. Menurut dia, Wenger tak mampu menggunakan keuntungan uang yang didapatnya dari bursa transfer. “Saya tahu dia tak punya banyak uang, penjualan Adebayor ke City pun tampaknya tak banyak membantu, karena dia tak akan mampu menggunakan uang itu dengan baik,” kata dia.

            Benarkah tuduhan Ferguson itu? “Saya akan mampu menggunakan uang itu dengan baik. Kalau kami menemukan pemain yang tepat, dan kami membutuhkannya, kami akan membelinya. Tapi saya tak akan terburu-buru menggunakannya,” balas Wenger.

Lalu seperti apakah kebijakan, keuntungan, maupun kerugian yang dialami Wenger sejak dia menukangi Arsenal? Berikut penjelasannya.(Ruri)

 


REKAM JEJAK TRANSFER PROFESOR WENGER

Usia rata-rata pemain (dibikin grafik)

1996-97           22 tahun (11 pemain)

1997-98           20 tahun (2 pemain)

1998-99           21,4 tahun (7 pemain)

1999-00           23,8 tahun (6 pemain)

2000-01           21,2 tahun (10 pemain)

2001-02           23,4 tahun (5 pemain)

2002-03           28,5 tahun (4 pemain)

2003-04           20,28 tahun (7 pemain)

2004-05           22,66 tahun (3 pemain)

2005-06           20,88 tahun (9 pemain)

2006-07           20,5 tahun (8 pemain)

2007-08           19,75 tahun (4 pemain)

2008-09           24,75 tahun (4 pemain)

 

Total transfer (dibikin grafik)

1996-97           20,25 juta pounds

1997-98           800 ribu pounds

1998-99           13,8 juta pounds

1999-00           22,85 juta pounds

2000-01           35 juta pounds

2001-02           15,25 juta pounds

2002-03           6,6 juta pounds

2003-04           16 juta pounds

2004-05           1 juta pounds

2005-06           32,35 juta pounds

2006-07           11,9 juta pounds

2007-08           13,2 juta pounds

2008-09           30,8 juta pounds

 

 


Keberhasilan Transfer Wenger

Nama pemain                         Beli                    Jual                 Untung (*)

Emmanuel Adebayor                7 juta                   25 juta              18 juta

Nicolas Anelka                         500 ribu              23 juta              22,5 juta

Marc Overmars                        7 juta                   25 juta              18 juta

Patrick Vieira                           3,5 juta                13,7 juta           10,2 juta

Thierry Henry                           10,5 juta              16,1 juta           5,6 juta

Jermaine Pennant                      2 juta                   4,6 juta             2,6 juta

Emmanuel Petit                         2,5 juta                5 juta                2,5 juta

Freddie Ljungberg                    3 juta                   3 juta                0

Sol Campbell                            0                         0                      0

Total keuntungan                                                                      79,4 juta

(*) dalam pounds

 

Kegagalan transfer Wenger

Nama pemain                         Beli                    Jual                 Rugi (*)

Francis Jeffers                          8 juta                   2,6 juta             5,4 juta

Sylvain Wiltord                         13 juta                 Free                 13 juta

Jose Antonio Reyes                  10,5 juta              2 juta                8,5 juta

Total kerugian                                                                           26,9 juta

(*) dalam pounds

 

 


Arsene Wenger

Manajer terlama

            Tanggal 1 Oktober 2009 nanti akan menjadi tanggal yang spesial bagi Arsene Wenger. Pasalnya, tepat di tanggal itu, dia akan menahbiskan diri menjadi manajer terlama yang pernah menukangi Arsenal. Catatan sebelumnya dipegang oleh George Allison yang melatih Arsenal sejak Juni 1934 – Juni 1947.

            Sejak menukangi Arsenal secara resmi pada 1 Oktober 1996 lalu, Wenger sudah mempersembahkan tiga trofi Premier League, empat gelar Piala FA, dan empat Piala Community Shield. Sementara Allison memberikan dua gelar Liga Inggris dan satu gelar Piala FA.

            “Wenger adalah manajer yang mampu bertahan lama di Arsenal. Dan itulah yang membuat persaingan antara MU dan Arsenal berjalan menarik. Chelsea memiliki tiga manajer dalam tiga tahun terakhir, dan Liverpool memiliki tujuh manajer selama saya menukangi MU. Tak ada yang bertahan lama seperti Wenger. Jadi, dialah rival utama saya,” kata Sir Alex Ferguson, manajer MU.(*)

 

 

Penjualan pemain Afrika, Sudah Direncanakan?

August 14, 2009 on 12:20 am | In sepak bola | No Comments


            Emmanuel Adebayor meninggalkan Stadion Emirates. Kolo Toure pun menyusulnya. Keduanya menuju ke Manchester City. Dan tak lama lagi, bisa jadi giliran Emmanuel Eboue angkat kaki menyusul dua seniornya pergi dari markas The Gunners. Pergi ke Fiorentina.

            Apa yang terjadi? Satu-satunya kesamaan di antara ketiganya adalah sama-sama berasal dari benua hitam, Afrika. Bukan masalah rasisme rasanya kalau Wenger menjualnya. Sebuah alasan kuat mungkin berada di balik penjualan tersebut. Yakni perhelatan Piala Afrika 2010 yang akan dihelat pada 10-31 Januari 2010 nanti.

            Sudah menjadi rahasia umum rasanya kalau Arsene Wenger berada di barisan pertama pelatih yang selalu mengungkapkan rasa keberatannya setiap kali Piala Afrika digelar. Menurutnya, perhelatan di tengah kompetisi Eropa itu sangat memengaruhi performa pasukannya, belum lagi ancaman cedera yang harus dihadapi.

            Dan di sekitar Januari itu, Arsenal harus menghadapi beberapa partai berat, termasuk di antaranya melawan tiga anggota big four dalam jangka waktu 10 hari saja. Arsenal harus melawan Everton (H) di 9 Januari, Bolton (A) 16 Januari, Aston Villa (A), 27 Januari dan MU (H) 30 Januari. Sepekan kemudian mereka bertandang ke Chelsea, 6 Februari dan menjamu Liverpool pada 9 Februari.

            Partai berat yang pasti membutuhkan tenaga dan skuad yang prima. Dan semua partai itu akan sulit dihadapi kalau Adebayor, Toure, dan Eboue harus memenuhi panggilan tugas untuk membela timnas masing-masing. So, bukan tak mungkin kepergian Adebayor dan Toure memang direncanakan Wenger supaya kepergian mereka tak mengganggu skuad yang dibangunnya.

            Ketika Piala Afrika 2008 digelar pada 20 Januari hingga 10 Februari 2008, Wenger harus gigit jari. Dia melepas kepergian Toure dan Eboue dengan berat hati. Padahal di saat yang sama, mereka menghadapi beberapa partai penting. The Gunners menghadapi Birmingham, Fulham, Tottenham, Newcastle, Man. City, Blackburn, dan MU.

            Hasilnya, Arsenal harus kalah dan seri dua kali dari sembilan pertandingan. Kekalahan yang paling pahit tentu saja kekalahan telak 0-4 dari MU di ajang Piala FA. Pasukan Wenger harus rela menerima gelontoran empat gol dari Rooney, Fletcher, dan Nani.

            Hasil yang lebih pahit malah dipetik sepanjang perhelatan Piala Afrika 2006 yang digelar mulai 20 Januari-10 Februari 2006. Dari delapan pertandingan, Arsenal malah kalah hingga empat kali, seri sekali dan menang tiga kali. Bukan sebuah masa yang patut diingat Wenger.

 

ANCAMAN BAGI AFRIKA

            Dari hasil-hasil tersebut, wajar rasanya ketika Wenger selalu menyatakan keberatannya setiap Piala Afrika digelar. Dia merasa jadwal Piala Afrika di tengah musim kompetisi Eropa merupakan ancaman tersendiri bagi para pemain asal Afrika untuk berkarier di klub besar Eropa.

            “Panitia turnamen itu seharusnya sadar kalau semakin banyak pemain Afrika yang bermain di klub-klub besar Eropa, yang pasti tak mau kehilangan mereka di tengah kompetisi begini. Turnamen seperti ini juga pastinya membuat klub-klub besar Eropa enggan menggunakan jasa mereka lagi,” kata Wenger ketika Piala Afrika 2008 digelar.

            “Pihak klub pasti tak ingin kehilangan peluang menjadi juara hanya karena para pemain itu harus pergi membela timnas. Dan kalaupun mereka kembali dari Afrika, kondisinya sudah tak lagi sama karena faktor kelelahan. Jadi, kami kehilangan mereka untuk masa yang lebih lama dibandingkan masa turnamen itu sendiri,” imbuh Wenger.

            Karenanya, Wenger mengusulkan agar Piala Afrika dihelat setiap empat tahun sekali di bulan Juni. Usulan yang belum juga ditampung Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) sampai sekarang. Apapun yang disuarakan Wenger, tetap saja Piala Afrika 2010 akan digelar pada awal Januari mendatang. Keputusan yang membuat Wenger akhirnya memutuskan untuk menjual Adebayor, Toure, dan mungkin juga Eboue.(Ruri)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^