Christian Carrasco, Spiderman dari Chile
November 26, 2009 on 2:10 am | In modern | No CommentsPara suporter Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Persipura Jayapura pasti tak akan pernah melupakan sosok striker yang satu ini. Betapa tidak, setiap kali habis mencetak gol, sosok striker bernama Christian Carrasco ini pasti langsung mengenakan topeng Spiderman untuk merayakan golnya.
Apa sebenarnya alasan “Spiderman” asal Chile ini melakukannya? Sederhana ternyata. Dia mengaku sebagai penggemar sejati tokoh komik itu sejak kecil. Kegemarannya dimulai karena kakaknya, Raul Carrasco Jr, juga merupakan penggemar tokoh itu.
“Setiap kali ada tokoh Spiderman muncul di televisi, aku langsung ada di depan TV untuk menontonnya bersama kakakku. Saat aku dan Raul sedang tak berada di depan TV, ayahku, Raul Carrasco Sr, memanggil kami berdua untuk segera menontonnya,” kenang striker yang kini bermukim di PSM Makassar itu dalam wawancaranya dengan SOCCER.
Kegemaran itu semakin bertambah ketika dia sudah bisa mencari uang sendiri lewat sepak bola. Dia membeli berbagai pernik Spiderman, termasuk selimut bermotif pahlawan laba-laba itu, yang kini sampai dibawanya ke Indonesia.
Ditambah lagi ketika merumput di Persebaya Surabaya, Carrasco sering melihat banyak anak kecil yang mengenakan kaos bertema Spiderman. Fakta itu membuat kegemarannya terhadap Spiderman semakin kuat. “Aku sudah tak bisa dipisahkan lagi dengan Spiderman. Dia sudah jadi idolaku sejak kecil,” bilang dia.
Di sela sesi wawancara, Carrasco tak lupa menunjukkan topeng Spiderman yang selalu dibawanya di tas. Hanya saja, karena tasnya sering berganti, topeng itu tak selalu dibawanya saat pergi. “Yang pasti, topeng ini selalu aku bawa di pertandingan dan aku simpan di saku celana. Aku akan mengenakannya kalau aku berhasil mencetak gol,” kata dia. “Lagipula merayakan gol dengan mengenakan topeng Spiderman membuat selebrasi golku lain daripada yang lain.”
Meski selebrasinya unik, tapi peraturan dunia sepak bola bisa jadi melarangnya. Sudah jadi rahasia umum kalau selebrasi gol berlebihan akan berbuah ganjaran kartu kuning. Namun top skorer turnamen Piala Bang Yos 2006 ini tak pernah gentar. “Aku akan selalu merayakan golku dengan mengenakan topeng Spiderman, tak peduli kalau aku sampai terkena hukuman kartu kuning sekalipun,” tegas dia.
CINTA INDONESIA
Sampai sekarang, selebrasi gol Carrasco dengan mengenakan topeng ini sudah tak terhitung jumlahnya. Maklum, sebelum mendarat di Makassar Agustus lalu, dia sudah merumput selama empat musim di Indonesia. Yakni di klub Persim Maros, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Persipura Jayapura.
“Pengalaman di keempat klub itu tentu sangat banyak. Yang paling mengesankan adalah waktu aku bermain di Persebaya. Momen yang tak bisa aku lupakan adalah saat aku mencetak ke gawang Deltras yang membuat Persebaya menang 1-0 di 2004. Kenapa berkesan? Karena usai mencetak gol itu, aku mengenakan topeng Spiderman untuk pertama kalinya,” cetus bungsu dari dua bersaudara ini.
Bukan hanya gol itu yang membuat pengalaman Carrasco di Persebaya berkesan. Menurutnya, atmosfer dukungan suporter terhadap Persebaya juga membuatnya terkesan. “Mereka benar-benar mencurahkan energi untuk membela klubnya,” kata Carrasco.
Setelah dari Persebaya, striker kelahiran Santiago tersebut memutuskan pindah ke PSMS Medan dan Persipura Jayapura. Banyak prestasi sudah diraihnya. Namun setelah empat tahun berkarier di Indonesia, Carrasco mau tak mau harus pulang ke negaranya, Chile.
“Menurut peraturan
Mengapa memutuskan kembali ke Indonesia? “Aku sudah mencintai negara ini. Banyak orang baik di Indonesia. Mereka sering membantuku, sehingga aku betah di sini,” kata dia.
Well, apapun itu, yang pasti kini Carrasco sudah kembali ke Indonesia. Pasti dia ingin kembali menancapkan kukunya di ranah sepak bola negeri ini. “Paling tidak, sepak bola Indonesia sekarang sudah lebih baik. Yang paling ingin aku soroti adalah perbaikan kinerja wasit dan kondisi lapangan. Kalau kedua unsur itu sudah lebih baik, pasti sepak bola Indonesia akan lebih maju,” pungkas dia.=Ruri
(BOKS)
Ingin main di luar negeri
“Setiap pemain sepak bola di Chile pasti ingin bermain di luar negeri.” Begitu kata Carrasco ketika ditanya mengapa dia tak memilih bermain di negaranya, yang notabene merupakan negara berakar sepak bola kuat. “Begitu pula aku. Ketika ada tawaran datang untuk datang ke Indonesia, aku langsung mengiyakannya.”
Secara terus terang, Carrasco mengaku sama sekali tak memiliki gambaran seperti apa wajah Indonesia yang terletak sangat jauh dengan Chile. “Tapi orang tuaku langsung memberikan izin begitu aku bilang kalau aku akan pergi ke Indonesia,” bilang dia.
Ingatannya pun kembali ke masa lalu saat dia mendarat di klub Persim Maros. Awalnya Carrasco mengaku kesulitan karena tak ada satupun pemain maupun pengurus di klub itu bisa berbahasa Spanyol. Akhirnya, secara perlahan, dia mempelajari Bahasa Indonesia secara mandiri. Dan kini, kemampuannya berbicara Bahasa Indonesia bisa diacungi jempol.
“Aku sudah banyak tahu Bahasa Indonesia. Yang paling membuatku sulit untuk mengerti adalah ketika orang-orang di sekitarku mulai berbahasa Jawa, seperti ketika di Persebaya,” katanya sambil tergelak.
Kini, jarak jauh yang membentang antara Chile dan Indonesia bukan lagi sebuah masalah bagi Carrasco. “Dalam seminggu, aku selalu menelepon keluargaku sebanyak dua atau tiga kali. Selain itu juga ada fasilitas internet untuk mengetahui kabar keluarga di sana,” cetus dia.
Banyaknya kabar insiden pengeboman dan gempa pun tak pernah membuatnya gentar. “Pas gempa di Padang, keluargaku langsung menelepon. Bertanya apa aku baik-baik saja. Pasti mereka tak tahu kalau jarak Padang dan Makassar itu sangat jauh,” katanya sambil tertawa.
Di sela kesibukannya sebagai pemain sepak bola, Carrasco selalu menyempatkan diri untuk berlibur. Tempat wisata di Indonesia yang jadi favoritnya adalah Bali. “Pantai di Bali sangat indah. Di kampung halamanku juga ada pantai, tapi tak seindah di Bali. Senang rasanya berada di sana,” kata dia. So, welcome back to Indonesia, Spiderman!(*)
Hantu cedera di Arsenal, Menumpuk di November
November 26, 2009 on 2:07 am | In modern | No CommentsUdara dingin nan menusuk di November, ternyata tak pernah membuat Arsene Wenger merasa khawatir. Dia lebih mengkhawatirkan bahaya cedera yang selalu menghantuinya setiap November tiba. Dan kalau hantu cedera ini tak diwaspadai, bukan tak mungkin gelar juara akan jadi taruhannya.
“Di Inggris, banyak pemain yang dibekap cedera setiap November tiba. Fakta itu sungguh membuat saya frustasi. Lihatlah data statistik, cedera pemain selalu menghantui di bulan November. Dengan melihat pemain yang cedera di November, Anda baru tahu apakah Anda akan menang atau tidak ketika Desember tiba,” bilang Wenger.
“Yang jadi penyebab utama adalah banyaknya laga yang harus kami jalani di jenis lapangan yang berbeda-beda. Belum lagi para pemain yang masuk ke timnas. Sampai akhir babak putaran pertama Liga Champions saja, seorang pemain bisa bertanding sebanyak 20 kali,” imbuh dia.
Pemain Arsenal terakhir yang jadi korban adalah bek kiri andalan mereka, Gael Clichy. Kondisi itu mau tak mau membuat dia harus memilih Kieran Gibbs, bek kiri The Gunners, yang baru berusia 20 tahun, sebagai pengganti. “Bagi kami, kehilangan Clichy adalah sebuah pukulan tersendiri. Dia akan absen selama 1-2 bulan. Itu terlalu lama,” cetus Wenger.
Sebelum Clichy, pemain Arsenal lain yang bertumbangan adalah Johan Djourou, Lukasz Fabianski, Samir Nasri, Nicklas Bendtner, Theo Walcott, Jack Wilshere, Denilson, dan Tomas Rosicky. Khusus bagi Rosicky dan Nasri, jangka waktu mereka untuk pulih kembali cukup lama. Sementara, Bendtner hanya membutuhkan waktu sebulan untuk pulih.
Sederet pemain yang dibekap cedera memang membuat Wenger pusing tujuh keliling. Padahal dia sangat membutuhkan mereka guna mengejar ketertinggalan dari Chelsea dan MU yang berada di peringkat satu dan dua di klasemen sementara.
“Seperti tim lain, kami hanya ingin kondisi fisik para pemain selalu prima dan siap turun kapanpun dibutuhkan. Tapi kami tak seperti itu. Tim lain yang mungkin hampir semua pemainnya bebas cedera saat ini hanyalah Chelsea,” bilang Wenger.
BUKAN ALASAN
Keinginan Wenger untuk memiliki pemain bebas cedera seperti Chelsea mungkin belum terwujud bulan ini. Sampai pekan ke-11, Arsenal sudah kehilangan tujuh pemain akibat cedera. Jumlah itu sama dengan jumlah pemain cedera di MU, hanya saja lima dari tujuh pemain mereka bisa kembali dalam akhir pekan lalu.
Sedangkan di Arsenal, diperkirakan hanya Wilshere yang bisa kembali pekan ini. Enam pemain lainnya setidaknya menunggu sampai akhir bulan ini untuk bisa tampil kembali. Kabar bagusnya, Carlos Vela dan Armand Traore segera menjalani sesi latihan sebagai bagian dari upaya pemulihan cedera.
Dua kabar baik itu setidaknya terselip di antara banyaknya hantaman cedera bagi Arsenal di November. Di periode yang sama tahun lalu, sebanyak sembilan penggawa The Gunners harus absen akibat cedera. Mulai dari Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Bacary Sagna, Walcott, Diaby, dan lainnya.
Jumlah itu sedikit menurun di dua musim lalu, ketika “hanya” delapan pemain yang dibekap cedera. Namun tetap saja jumlah itu masih terlalu banyak bagi Wenger. Uniknya, dengan jumlah pemain cedera yang sama di November, The Gunners mampu menjadi juara Premier League di musim 2003-04. Saat itu, tercatat Ray Parlour, Gilberto Silva, Dennis Bergkamp, Bisan Lauren, sampai Sylvain Wiltord harus absen dari lapangan akibat cedera di November.
So, sepertinya tujuh pemain cedera yang melanda Arsenal bulan ini tak akan memengaruhi pasukan Wenger, meski sang bos mengeluh. Apalagi menurut Wenger, persaingan Premier League musim ini lebih terbuka. Ditambah Arsenal masih memiliki tabungan satu laga dibandingkan dua tim di atasnya. So, don’t worry Prof!=Ruri
JUMLAH PEMAIN ARSENAL CEDERA DI NOVEMBER
Musim Jumlah pemain Hasil akhir
2009-10 7 3*
2008-09 9 4
2007-08 7 3
2006-07 5 4
2005-06 6 4
2004-05 8 2
2003-04 8 Juara
2002-03 9 2
*Sampai pekan ke-11
PERBANDINGAN JUMLAH PEMAIN CEDERA TIM BIG FOUR DI NOVEMBER
Musim Arsenal MU Chelsea Liverpool Hasil akhir
2009-10 7 7 3 8 -
2008-09 9 7 7 5 MU Juara
2007-08 7 4 4 1 MU Juara
2006-07 5 6 5 8 MU Juara
2005-06 6 1 4 5 Chelsea Juara
2004-05 8 9 3 4 Chelsea Juara
2003-04 8 2 4 5 Arsenal Juara
2002-03 9 3 8 4 MU Juara
Alexandre Song, Gugup lihat Bergkamp
November 26, 2009 on 2:05 am | In modern | No Comments“Jantungku seperti berdetak 200 kali per menit.” Begitu pengakuan Alexandre Song ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Arsenal. “Saat itu aku datang ke Arsenal bersama chairman Bastia, klubku sebelumnya. Betapa kagetnya aku ketika melihat Robert Pires, Thierry Henry, dan Dennis Bergkamp ada di ruang ganti pemain.”
“Aku lupa tanggal berapa, tapi masih di Juli 2005. Aku bisa langsung melihat mereka, pemain-pemain yang biasanya Anda lihat di televisi. Aku sungguh gembira bisa berjumpa dengan pemain-pemain besar seperti mereka. Aku tak bisa melupakan kenangan itu sampai sekarang,” bilang Song.
Bersua dengan pemain-pemain besar tentu membuat Song gugup setengah mati. Bahkan ketika Henry menyapa dan mengucapkan selamat datang kepadanya, Song hanya mampu membalasnya dengan senyuman. Hingga akhirnya Dennis Bergkamp bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”
“Karena aku tak bisa berbicara bahasa Inggris, aku bertanya kepada Henry apa yang dikatakan Bergkamp kepadaku. Dia berkata kalau Bergkamp juga ikut mengucapkan selamat datang ke Arsenal dan dia terkesan pada kehadiranku di sana,” kata Song. “Saat itu juga aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Apa yang kau lakukan di sini Alex?”
Sebuah pertanyaan yang kini sudah berujung pada sebuah jawaban. From zero to hero. Mungkin itulah ungkapan yang tepat bagi pemain asal Kamerun ini. Sejak Juli 2005 sampai akhir musim lalu, dia sudah berulangkali dihujani kritikan. Kritikan yang menganggapnya tak cukup bagus untuk berada di klub sebesar Arsenal.
Namun pemain berusia 22 tahun itu kini sanggup menjawab semua kritikan itu. Perannya sebagai gelandang jangkar di barisan tengah Arsene Wenger sekarang sama sekali tak terbantahkan. Bukti terbaru terjadi dalam laga versus Wolverhampton Wanderers di Stadion Molineux, Sabtu (7/11) lalu.
Menggantikan Abou Diaby di menit ke-24, Song membawa perubahan bagi skuad Arsenal yang tadinya terus diteror tim tuan rumah. Song mampu memberikan perlindungan bagi barisan defender dan sempurna memposisikan diri menahan berbagai serangan lawan. Kemampuannya membaca pertandingan membuatnya bisa membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk mendobrak pertahanan lawan.
Tak hanya itu, Song malah mendorong irama pertandingan ke daerah pertahanan Wolves yang akhirnya membuat Jody Craddock mencetak gol bunuh diri. Setelah itu, Arsenal tampil memukau dan membuat pertandingan berakhir dengan keunggulan telak 4-1 atas tuan rumah.
Prestasi inilah yang membuat Arsene Wenger pasti akan kesulitan mencari pengganti sepadan bagi Song. Pasalnya, Song harus meninggalkan Inggris guna membela negaranya di ajang Piala Afrika awal tahun depan. Mungkin ada seorang pemain Brasil di sana yang bisa menggantikannya, namun apakah kemampuannya akan menyamai level bintang Kamerun itu?
HUJAN PUJIAN
“Memang mungkin tak ada satupun orang yang mengira kalau dia akan berada di level seperti sekarang,” kata manajer Arsenal, Arsene Wenger. “Saya yakin dia pemain hebat, dan saya adalah salah satu dari sedikit orang yang meyakini itu. Saya bisa menunjukkan banyaknya artikel yang menuliskan kalau dia adalah pemain terburuk yang pernah saya beli. Tapi lihatlah nanti, dia akan menjadi salah satu pemain besar.”
“Percayalah, kalau saya menempatkan seorang pemain di lapangan, itu sudah berdasar pada karakteristik fisik, mental, dan gaya mereka. Saya menempatkan Song sebagai centre-back karena saya yakin dia akan menjadi centre-back hebat di Arsenal suatu hari nanti,” imbuh dia.
Pujian bukan hanya dari Wenger. Kapten Arsenal 1971, Frank McLintock, bahkan bisa melihat kesamaan gaya permainan Song dengan Peter Storey. Bersama Storey, McLintock berhasil meraih gelar ganda bagi Arsenal, Piala FA dan Liga Inggris musim 1970-71.
“Saya yakin Song akan bisa melakukan tugas yang sama seperti yang Storey lakukan dulu. Storey selalu bertugas sebagai gelandang jangkar dan begitu melindungi barisan pertahanan. Sama seperti Song,” papar McLintock.
Berbagai pujian yang diterimanya tak lantas membuat Song besar kepala. Dia yakin klub sebesar Arsenal tak akan kesulitan mencari penggantinya untuk sementara. Ada Denilson dan Abou Diaby di sana. Menurutnya, Arsenal yang hanya kehilangan dirinya dan Emmanuel Eboue akan tetap bisa meretas jejak juara di level Premier League.
“Kami tak akan kehilangan terlalu banyak pemain. Karena hanya ada dua pemain Afrika di Emirates. Aku yakin Arsenal punya skuad yang mumpuni untuk mengatasi kehilangan ini. Denilson akan mampu menggantikanku. Dia memang cedera sekarang, tapi aku harap dia bisa segera turun bermain dalam beberapa bulan ke depan,” imbuh Song rendah hati.
Keyakinan Song bukan keputusan Wenger. Sang pelatih kini seakan sudah menemukan pengganti Patrick Vieira dalam diri sosok keponakan Rigobert Song ini. Kerja keras, kecepatan, dan kemampuan tekel Song benar-benar memberikan kontribusi besar bagi The Gunners.=Ruri
(BOKS)
Menikah muda
Sebagai pemain muda yang berlimpah harta, Alexandre Song tak menjalani hidup seperti kebanyakan pemain muda sepertinya. Di saat pemain seusianya sibuk berganti pasangan dan hidup dari satu pesta ke pesta lainnya, Song memilih untuk menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.
Ya, di usia 22 tahun, Song sudah memiliki dua anak laki-laki, Nolan dan Kaylian. Dia menikah dengan teman masa kecilnya, Olivia, di usia 18 tahun. Kematian ayahnya di saat Song baru berusia tiga tahun mendorongnya untuk menikah di usia muda.
“Beberapa orang mengatakan, aku masih terlalu muda untuk memiliki dua anak. Tapi inilah hidupku dan aku tak akan pernah mengubahnya. Aku bahagia dan selalu bersyukur karena Tuhan sudah memberikanku anugerah itu. Sekarang aku hanya ingin membuat keluargaku bahagia,” kata dia.
“Aku kehilangan ayahku di usia tiga tahun. Jadi aku tahu betapa pentingnya peran ayah bagi seorang anak laki-laki. Ketika aku masih muda, teman-temanku selalu dijemput ayahnya usai pulang latihan. Tapi aku tak punya siapa-siapa. Kenyataan itu sungguh memengaruhiku,” kenangnya pahit.
Tapi kini semua sudah berlalu. Dia mengaku sudah memiliki segalanya. Dua anak laki-laki dan seorang istri yang sempurna. Sekarang dia hanya ingin melihat kedua anaknya tumbuh dewasa. “Kini tak ada lagi yang aku inginkan selain melihat keluargaku hidup bahagia. Merekalah yang selalu menjadi sumber inspirasiku,” pungkas dia.(*)
(BOKS2)
Berkat Rigobert
Ditinggal sang ayah di usia tiga tahun dan berada di sebuah keluarga besar yang terdiri dari 17 saudara perempuan dan 10 saudara laki-laki tentu membuat masa kecil Alexandre Song berada di bawah garis kemiskinan. Beruntung, sebuah tangan terulur kepadanya. Dari seorang pemain sepak bola nasional Kamerun, Rigobert Song, yang juga merupakan pamannya.
Melalui Rigobert, Alex meretas jalan kesuksesannya menjadi pemain sepak bola. Dengan jeli Rigobert mencium bakat keponakannya dan mendidiknya menjadi pemain sepak bola. “Hubunganku dengan paman sangat dekat. Kalau aku punya masalah, aku bisa membicarakannya dengan paman Rigobert. Dia tahu bagaimana menjadi pemain sepak bola yang benar. Dia memberikanku berbagai nasehat kapanpun aku memerlukannya,” kata Alex.
Dia kini bermain bersama sang paman di timnas Kamerun. Awalnya, tentu banyak cibiran menghampirinya. Banyak yang mengatakan kalau keberadaannya di timnas adalah karena pamannya dan bukan karena kemampuannya.
“Mereka mengatakan aku ada di timnas karena pamanku juga ada di sana. Tapi sekarang semua sudah berubah. Orang-orang kini berkata, ‘Keponakanmu sangat bagus, kami bangga memilikinya dalam tim.’,” kata Alex.
Dan kini generasi sepak bola itu sepertinya akan berlanjut. Anak tertua Alex, Nolan yang baru berusia dua tahun sudah mulai menunjukkan bakatnya. “Ketika aku mengajaknya bersepeda, dia langsung menolak dan memilih bermain dengan bola. Tenaganya saat menendang sungguh mengagumkan untuk anak seusianya, mungkin itu sudah mendarah daging dalam keluarga kami,” bilang Alex bangga.(*)
Alexandre Song
Nama lengkap: Alexandre Dimitri Song Billong
Julukan: The Rhino
Lahir: Douala (Kamerun), 9 September 1987
Tinggi/Berat: 185 cm / 75 kg
Posisi: Defensive midfielder / Centre back
Nomor kostum: 17
Debut Premier League: Arsenal 2-0 Everton, 19 September 2005
Debut timnas: Mesir 4-2 Kamerun, 22 Januari 2008
Karier klub:
2004-06 Bastia (34 main/0 gol)
2005-06 Arsenal (pinjam) (5 main/0 gol)
2006-… Arsenal (52 main/1 gol)
2007 Charlton (12 main/0 gol)
(INFOGRAFIS)
Perbandingan tiga pemain
Sampai akhir musim lalu, sebuah lubang besar menganga di posisi defensive midfielder setelah kepergian Patrick Vieira. Para pemain muda yang menghuni Emirates dianggap belum mampu menggantikan Vieira. Hingga akhirnya muncul nama Denilson, Alexandre Song, dan Abou Diaby. Seperti apa perbandingan statistik Actim Index ketiga pemain itu di lapangan? Berikut perbandingannya.
|
Statistik |
Song |
Denilson |
Diaby |
|
Menit bermain |
924 |
324 |
860 |
|
Gol |
0 |
1 |
3 |
|
Passes |
231 |
93 |
214 |
|
Dribbles |
3 |
5 |
7 |
|
Skor Indeks |
129 |
65 |
148 |
|
Ranking Indeks |
80 |
204 |
50 |
|
Tampil |
10 |
4 |
10 |
|
Starter |
9 |
4 |
10 |
|
Pengganti |
1 |
0 |
0 |
|
Persentase tekel sukses musim lalu |
76 % |
64 % |
52% |
Perputaran uang Arsenal, Terbesar sepanjang sejarah
November 5, 2009 on 10:27 pm | In sepak bola | No CommentsJumlah perputaran uang di Arsenal musim 2008-09 melebihi rekor milik Man. United musim 2007-2008 yang mencapai 256,2 juta pounds.
Kesuksesan seorang manajer klub tak selamanya diukur dari prestasinya di dalam lapangan. Kesuksesannya di luar lapangan, terutama menjaga kondisi finansial klub, juga patut dijadikan tolok ukur. Seorang manajer klub yang bagus seharusnya tak membuat klubnya berada dalam kesulitan keuangan ketika musim berakhir. Setidaknya itulah pendapat Arsene Wenger, manajer Arsenal.
Dan dia berhasil membuktikannya. Pada akhir September lalu, jumlah perputaran uang di Arsenal dilaporkan mencapai 313, 3 juta pounds atau Rp4,76 triliun sampai 31 Mei 2009. Jumlah perputaran uang terbesar sepanjang sejarah klub sepak bola Inggris. Sampai periode tersebut, jumlah keuntungan yang diraup setelah terpotong pajak mencapai 35,2 juta pounds. Jumlah itu belum ditambah jumlah pendapatan dari penjualan Emmanuel Adebayor dan Kolo Toure ke Man. City yang berkisar 42 juta pounds.
Jumlah perputaran uang itu naik dari angka 223 juta pounds sampai periode yang sama tahun lalu. Kepindahan dari Highbury ke Stadion Emirates pada 2006 lalu terbukti membawa perubahan positif bagi Arsenal, terutama di sisi finansial. Pendapatan dari match-day naik dari angka 94,6 juta pounds tahun lalu menjadi 100,1 juta pounds.
Angka-angka tersebut semakin menambah pundi-pundi Arsenal juga berkat prestasi mereka mencapai babak semifinal Liga Champions dan Piala FA musim lalu. Jumlah pertandingan Arsenal yang semakin banyak, membuat uang tiket yang masuk pun juga semakin banyak.
“Keuntungan klub selalu mengalami kenaikan setiap tahun selama tiga tahun terakhir setelah pindah ke Stadion Emirates. Ini adalah berita gembira, meski saya harus menekankan kalau laporan keuangan ini bukan semata-mata tujuan para pimpinan manajemen klub. Yang paling penting, sebagai suporter sejati klub, kami ingin terus meraih kesuksesan bagi Arsenal,” kata Chairman Arsenal, Peter Hill-Wood.
“Sepak bola adalah kompetisi yang ketat dan bisnisnya berkembang cepat. Kami harus memastikan kalau Arsenal harus bisa mengikuti perkembangan itu, baik di dalam maupun di luar lapangan,” timpal Chief Executive Arsenal, Ivan Gazidis.
WENGER TAK GEGABAH
Prestasi Arsenal sebagai klub yang meraup keuntungan besar tak membuat Wenger gegabah dalam urusan mendatangkan pemain. Dia tak mau membeli pemain dengan banderol harga yang tinggi. Padahal kalau dia mau, dia bisa menghabiskan dana 80 juta pounds untuk mendatangkan pemain hebat manapun.
“Memang saya punya uang untuk dibelanjakan. Tapi saya merasa bahagia dengan skuad yang saya miliki. Itu bukan berarti saya tak mau menghabiskan uang. Bukan karena masalah pribadi, saya hanya berpikir kalau skuad saya sudah cukup bisa bersaing dalam berkompetisi,” kata Wenger.
Menurut Wenger, dia akan membeli pemain yang dia yakini akan menambah kualitas skuad. “Saya sudah memiliki Samir Nasri, Theo Walcott, dan Nicklas Bendtner. Tapi orang-orang meminta saya membeli striker. Di mana saya harus menaruh mereka? Saya sendiri tak tahu,” imbuhnya.=Ruri
Sepak bola 2009* 2008*
Perputaran uang 225,1 207,7
Keuntungan operasional 62,7 59,6
Laba sebelum kena pajak 39,9 39,7
Penjualan Properti di Highbury 2009 2008
Perputaran uang 88,3 15,3
Keuntungan operasional 7,8 -
Laba sebelum kena pajak 5,6 3,0
Total 2009 2008
Perputaran uang 313,3 223,3
Keuntungan operasional 70,5 59,6
Laba sebelum kena pajak 45,5 36,7
Keterangan:
* Dalam juta pounds
Start Arsenal, Terbaik di masa Wenger
November 5, 2009 on 10:24 pm | In sepak bola | No CommentsSejak Wenger menangani Arsenal di musim 1996-97, torehan 24 gol dari 7 laga merupakan capaian terbaik.
Fans Arsenal patut berbangga. Sampai pekan ke-8 Premier League musim 2009-10, The Gunners berhasil menyarangkan 24 gol dari tujuh laga. 14 gol di laga kandang dan 10 gol di pertandingan tandang. Secara rata-rata, pasukan Arsene Wenger itu berhasil menyarangkan 3,43 gol per laga. Sebuah pencapaian nan fantastis.
Raihan gol tersebut paling banyak disumbang di dua laga, yakni melawan Everton yang berakhir dengan skor 6-1 dan mengalahkan Blackburn Rovers dengan skor 6-2. Khusus bagi Blackburn, catatan tersebut sekaligus memperburuk rekor pertemuan kiper mereka, Paul Robinson melawan Arsenal. Dari 13 laga, dia kebobolan 37 gol baik sejak masih membela Tottenham Hotspur atau 2,85 gol per pertandingan.
Torehan gol ini sekaligus pencapaian terbaik di era Arsene Wenger. Sejak menukangi Arsenal pada musim 1996-97 lalu, gol terbanyak Arsenal di 7 laga pertama adalah 22 gol di musim 2004-05 atau 3,14 per pertandingan. Sejak pencapaian tersebut, Arsenal tak pernah lagi mencetak lebih dari 20 gol di 7 pertandingan perdana.
Pun ketika menjadi juara Premier League di musim 1997-98, 2001-02, dan 2003-04. 16 gol tercatat disarangkan ke gawang lawan-lawan The Gunners di musim 1997-98. Jumlah gol yang sama ditorehkan saat menjadi juara di musim 2001-02. Jumlah itu menurun di musim 2003-04 menjadi 14 gol dari 7 pertandingan atau 2 gol per laga.
Tentu saja pencapaian musim ini membuat harapan fans Arsenal membubung tinggi. Dengan torehan 14 gol saja, mereka mampu menjadi juara liga, bagaimana dengan torehan 24 gol musim ini? Melihat prestasi ini, tak pelak Chief Executive Arsenal, Ivan Gazidis, meminta Wenger untuk memberikan sebuah tropi juara musim ini.
Maklum saja, sejak musim 2004-05, Arsenal dengan pasukan mudanya sama sekali belum pernah meraih gelar juara apapun. Dan melihat perkembangan para pemain muda, Gazidis bersikukuh kalau sekarang saat yang paling tepat untuk meraih titel juara.
“Tentu saja ambisi kami musim ini adalah meraih sebuah tropi juara. Saya tak bisa menutupinya lagi. Mengakhiri musim sebagai runner-up atau juara ketiga tak akan cukup. Kami ingin memenangkan gelar juara musim ini dan kami yakin punya tim yang mampu mewujudkan ambisi tersebut,” kata dia.
“Puas rasanya melihat penampilan pemain Arsenal sekarang. Mereka menampilkan sepak bola nan fantastis. Tentu tim ini punya potensi. Jadi sekarang saatnya kami fokus dan meraih gelar juara bagi para fans setia Arsenal. Mereka pantas mendapatkannya. Karena klub ada bagi fans yang hanya mempedulikan hasil positif di lapangan,” pungkas dia.=Ruri
Torehan gol Arsenal di 7 laga perdana
Musim Jumlah gol Rasio
2008-09 13 1,85
2007-08 16 2,28
2006-07 12 1,71
2005-06 10 1,43
2004-05 22 3,14
2003-04 14 2,00
2002-03 17 2,43
2001-02 16 2,28
2000-01 14 2,00
1999-00 12 1,71
1998-99 6 0,86
1997-98 16 2,28
1996-97 15 2,14
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^