Arsenal, Waktunya menyentuh final

March 26, 2010 on 3:56 am | In sepak bola | 14 Comments


Berdasarkan hitung-hitungan tren positif sejak gagal juara pada 2005-06, musim ini Arsenal akan mampu masuk ke partai final.

MENGHADAPI Barcelona di babak perempat final Liga Champions musim ini, bukanlah sebuah hal mudah bagi Arsenal. Apalagi catatan mereka saat menghadapi pasukan Blaugrana itu juga tak mentereng. Dari tiga pertemuan sebelumnya, The Gunners sama sekali belum pernah meraih kemenangan dan hanya sekali meraih hasil seri. So, rasanya tugas berat kini sedang menanti kubu Emirates.

Tapi, melihat data statistik pasukan Arsene Wenger di ajang Liga Champions, para penggemar Arsenal mungkin bisa sedikit bernapas lega. Pasalnya, stelah gagal juara pada musim 2005-06, Arsenal terus menunjukkan tren positif di ajang Liga Champions tiap musimnya.

Bertarung hingga babak 16-besar di musim 2006-07, Arsenal berhasil melaju ke babak perempat final di musim berikutnya. Langkah itu semakin tak tertahankan dengan melangkah ke babak semi final musim 2008-09, sebelum akhirnya dikandaskan kompatriotnya di Inggris, Manchester United. Artinya, jika tren itu terus berlanjut, maka musim ini mereka akan menjejak partai final.

Tren positif itu tentu ingin diteruskan Arsenal musim ini. Dengan mencatat prestasi di level yang lebih tinggi dibandingkan semifinal tentunya, yakni babak final. Mereka ingin menjaga tren positif tersebut karena sebelum melaju ke babak final musim 2005-06, mereka gagal menjaga tren itu.

Di musim 1998-99 dan 1999-00, langkah Arsenal hanya sampai babak pertama saja. Di musim 1998-99,  The Gunners tak mampu melawan kekuatan Dynamo Kyiv bersama Andriy Shevchenko-nya. Sementara di musim 1999-00, pasukan Wenger harus kalah bersaing dengan Barcelona dan Fiorentina di Grup B.

Lonjakan prestasi dicatat The Gunners di musim 2000-01, ketika mereka melangkah hingga babak perempat final. Sayang, langkah mereka harus kembali terhenti. Kali ini di tangan klub Spanyol, Valencia yang saat itu dilatih Hector Cuper. Arsenal berhasil menang 2-1 di Highbury, tapi harus kalah 1-0 di Mestalla.

Dua musim berikutnya, tren positif itu gagal diulang. Malah mereka harus menelan pil pahit dengan hanya lolos hingga babak II penyisihan grup. Prestasi naik-turun itu tentu kini sudah menjadi masa lalu. Meski demikian, Arsenal pasti tak ingin mengulanginya dan ingin terus menjaga tren positif tersebut.

 

SIKLUS UNIK

Selain tren positif, fans Arsenal juga bisa mengandalkan siklus unik yang dialami klubnya dalam tujuh musim terakhir. The Gunners mencatat prestasi bergiliran antara babak perempat final dan final di tahun genap. Di musim 2003-04, Arsenal berhasil melangkah ke babak perempat final sebelum kandas di tangan Chelsea dengan skor 1-1 di Stamford Bridge dan 1-2 di Highbury.

Di musim 2005-06, prestasi Arsenal sangat mencolok, yakni dengan melaju hingga babak final sebelum akhirnya kalah dari Barcelona. Gol Sol Campbell di menit ke-37 berhasil dibalas Samuel Eto’o di menit ke-76 dan Juliano Belletti empat menit kemudian.

Di musim 2007-08, sesama klub Inggris, Liverpool berhasil menghentikan langkah Arsenal di babak perempat final. Menuai hasil seri 1-1 di Stadion Emirates, Arsenal tak berdaya di hadapan The Reds setelah tersungkur dengan skor 4-2. Liverpool unggul lewat gol Sami Hyypia, Fernando Torres, Steven Gerrard, dan Ryan Babel. Sementara Arsenal hanya mampu mencetak gol lewat Abou Diaby dan Emmanuel Adebayor.

Akankah siklus itu terulang di tahun genap sekarang? Dengan mencapai babak final tentunya. Hanya saja peluang Arsenal kali ini agak sulit. Pasalnya, ketika menjaga peluang tren positif itu sejak musim 2006-07, prestasi mereka di Premier League tidaklah semoncer musim ini. Mereka hanya berhasil menjaga kans untuk tetap berada di empat besar klasemen akhir, dan bukan membuka peluang untuk menjadi juara Inggris seperti sekarang.

Rasanya, Arsenal kini harus memilih untuk fokus di salah satu ajang saja, Liga Champions atau Premier League? Apa pun pilihan Wenger, yang pasti dia yakin peluang kedua tim masih sama besar untuk melaju ke babak semifinal.

“Barcelona memang tim besar yang punya prestasi di Liga Champions. Langkah kami tidaklah mudah, tapi cara terbaik untuk sukses adalah berada dalam kondisi yang bagus dan punya kepercayaan diri yang kuat jelang pertandingan,” kata Wenger.

Keyakinan Wenger belum tentu berbanding lurus dengan keinginan untuk meneruskan tren positif sejak musim 2006-07 dan melaju hingga babak final musim ini. Untuk mewujudkannya, sebuah tugas berat menanti, menaklukkan Barcelona!=Ruri

 

INFOGRAFIS è dibuat grafik

Musim        Pencapaian               Posisi di EPL

2008-09      Semifinal                    4

2007-08      Perempatfinal             3

2006-07      Babak 16-besar          4

2005-06      Final                           4

2004-05      Babak 16-besar          2

2003-04      Perempatfinal              1

2002-03      Babak II                     2

2001-02      Babak II                     1

2000-01      Perempatfinal             2

1999-00      Babak I                       2

1998-99      Babak I                       2

 

 


Serba-serbi di perempatfinal

  • CESC FABREGAS dan Thierry Henry menjadi pahlawan Arsenal saat menyingkirkan Juventus di babak perempat final Liga Champions musim 2005-06. Kini keduanya berdiri berseberangan.
  • ENAM gol diciptakan Arsenal ke gawang dua klub Spanyol di babak perempat final. Dua gol ke gawang Valencia di musim 2000-01 dan empat gol ke gawang Villarreal di musim 2008-09.
  • THEO WALCOTT dan Robin Van Persie menjadi dua pemain tersisa di Arsenal yang pernah mencetak gol ke gawang klub Spanyol di babak perempat final. Mereka melakukannya saat mengalahkan Villarreal 3-1 di musim 2008-09. Selain mereka, eks pemain yang pernah mencetak gol ke gawang klub Spanyol adalah Thierry Henry, Ray Parlour, dan Emmanuel Adebayor.
  • KEMENANGAN terbesar Arsenal di babak perempat final Liga Champions di 10 musim terakhir adalah saat mengalahkan Villarreal dengan skor 3-0 di musim 2008-09. Sementara kekalahan terbesar di perempat final Liga Champions 10 musim terakhir didera Arsenal saat kalah dari Liverpool di musim 2007-08, dengan skor 2-4.
  • CATATAN Arsenal di babak perempat final di 10 musim terakhir tidaklah terlalu mencolok. Mereka menang tiga kali, seri empat kali, dan kalah empat kali. Dari semua laga itu, The Gunners berhasil mencetak 11 gol dan kebobolan 11 gol di babak perempatfinal.
  • DALAM 10 musim terakhir, Arsenal belum pernah kalah di leg pertama babak perempat final. Mereka mencatat tiga kali seri dan dua kemenangan. Sementara di leg kedua, Arsenal kalah tiga kali, seri sekali, dan menang sekali.

Roman Abramovich, Potong gaji pemain

March 23, 2010 on 3:04 am | In sepak bola | 3 Comments


Setelah merugi hingga 70 juta pounds untuk membayar pemain-pemain yang tak berguna, Abramovich menerapkan kebijakan pemotongan gaji pemain.

Ketika Michael Ballack pindah ke Chelsea di musim panas 2006, sebuah keuntungan besar direguknya, terutama untuk menambah tebal kantongnya. Adalah besaran gaji sebesar 121 ribu pounds diberikan untuknya setiap pekan. Besaran gaji itu membuatnya sebagai pemain bergaji tertinggi di The Blues bersama Andriy Shevchenko.

Namun itu semua sudah menjadi masa lalu. Empat tahun kemudian, semua kondisi terbalik. Sebuah tawaran perpanjangan kontrak terulur kepadanya, hanya saja Ballack harus menerima kenyataan pahit. Gajinya harus rela dipotong hingga 50 persen, menjadi 60 ribu pounds per pekan saja.

“Negosiasi ini haruslah menguntungkan kedua pihak. Kami akan duduk bersama untuk membicarakannya dan tak ada tekanan apapun untuk itu. Aku betah di klub ini dan betah berada di London, jadi menyenangkan rasanya kalau aku bisa tetap di sini,” kata Ballack.

Pemotongan gaji ini merupakan kebijakan baru di Chelsea yang segera memberlakukan kebijakan pemotongan gaji pemain. Semua ini terjadi akibat klub yang kehilangan uang hingga 70 juta pounds akibat membayar gaji pemain-pemain yang hanya memberikan sedikit kontribusi ketika berada di Stamford Bridge.

Nama-nama seperti Juan Veron, Hernan Crespor, sampai Shevchenko bukanlah nama-nama pemain yang bisa dibayar murah. Gaji mereka bertiga saja mencapai 41 juta pounds ketika dipinjamkan ke klub lain, karena jasanya tak dipakai di skuad Chelsea.

Melihat kondisi tersebut, tentu saja Abramovich tak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. Dia tak ingin pemain-pemain yang tak punya kontribusi positif bagi klub mereguk keuntungan pribadi dari besaran gaji mereka.

Herannya, kebijakan ini juga akan diterapkan bagi pemain-pemain tim utama. Mulai dari Ballack, Nicolas Anelka, hingga Joe Cole, yang dua musim terakhir lebih sering dibekap cedera.

Tentu saja kebijakan ini bisa jadi akan membuat Chelsea kehilangan pilar-pilar penting mereka dalam tim. Cole diperkirakan menjadi pemain terdepan yang akan meninggalkan Stamford Bridge musim depan. Pasalnya, baru-baru ini dia merasa terhina terhadap tawaran yang diberikan Chelsea kepadanya.

Tawaran perpanjangan kontrak baru baginya hanya berlangsung setahun ke depan. Tapi dia diberikan kesempatan untuk membuktikan diri supaya dianggap pantas menerima perpanjangan kontrak hingga satu tahun berikutnya. Sayang, di tawaran tersebut terdapat pasal pemotongan gaji hingga 40 persen. Pemotongan itu membuat Cole hanya  akan menerima gaji sebesar 36 ribu pounds saja. Padahal, dia sejak awal meminta kenaikan gaji hingga 100 ribu pounds per pekan.

Tawaran itu tentu saja ditolak Cole. Kalau dia menerimanya, dia akan menjadi pemain bergaji terkecil dibandingkan para kompatriotnya asal Inggris. Mulai dari John Terry, Ashley Cole, sampai Frank Lampard.

 

ANELKA LEBIH BERUNTUNG

Kasus Cole sepertinya lebih rumit dibandingkan tawaran perpanjangan kontrak bagi Anelka. Meski Anelka meminta kenaikan gaji sebesar 50 persen dari gajinya sebesar 80 ribu per pekan saat ini, namun sepertinya manajemen klub bersedia sedikit berkompromi. Tak heran, karena Anelka banyak memberikan kontribusi positif bagi tim dengan gol-golnya di tim utama.

 Tawaran kontrak bagi Anelka diperkirakan akan berlangsung hingga 2013 mendatang. Kalau proses negosiasi berjalan lancar, maka kabar ini akan menjadi pukulan tersendiri bagi Cole.

Sederet fakta di atas merupakan puncak masa kepemimpinan Abramovich di Chelsea. Setelah tujuh tahun berlalu, sepertinya dia tak lagi ingin menghambur-hamburkan uangnya di The Blues. Bisa jadi dia tak lagi yakin kalau penghamburan uang akan menjamin kesuksesan instan baginya.

Paling tidak, Abramovich mengakui kalau krisis finansial kini benar-benar menghantam dunia sepak bola. Pria asal Rusia ini menyadari jika pembibitan pemain, seperti Nemanja Matic, Daniel Sturridge, atau Gael Kakuta lebih membuat dirinya berhemat dibandingkan harus membeli pemain bintang, yang belum tentu memberikan kesuksesan bagi klub.

Mulai saat ini, Abramovich dan chief executive Chelsea, Ron Gourlay, dipastikan akan mengeluarkan uang secara efisien. Dan pastinya pemain Chelsea lain akan mendapatkan giliran pemotongan gaji ketika kontrak mereka berakhir.=Ruri

 


(DATA)

Pemain tak efektif di Chelsea

Akhir musim ini, beberapa pemain bisa jadi akan angkat koper dari Stamford Bridge. Tak hanya untuk mengurangi jumlah pengeluaran uang untuk membayar gaji mereka, pun kontribusi mereka tak terlalu mencolok bagi The Blues. Siapa saja mereka? Berikut penjelasannya.

JOE COLE

Gaji: 80.000 pounds

Tampil: 21

Starter/Pengganti: 13/8

Menit bermain: 799

Indeks Actim: 137

Ranking Actim: 224

Prediksi: Keluar dari Chelsea di akhir musim, akibat permintaan kenaikan gaji tak dipenuhi.

 

● DECO

Gaji: 92.000 pounds

Tampil: 18

Starter/Pengganti: 12/6

Menit bermain: 957

Indeks Actim: 65

Ranking Actim: 328

Prediksi: Keluar dari Chelsea di akhir musim, karena ingin pindah ke Brasil.

 

ALEX

Gaji: 50.000 pounds

Tampil: 7

Starter/Pengganti: 5/2

Menit bermain: 495

Indeks Actim: 177

Ranking Actim: 173

Prediksi: Lebih sering diturunkan ketika Ricardo Carvalho dibekap cedera.

 

● YURI ZHIRKOV

Gaji: 54.300 pounds

Tampil: 12

Starter/Pengganti: 7/5

Menit bermain: 675

Indeks Actim: 67

Ranking Actim: 320

Prediksi: Jarang diturunkan akibat dibekap cedera di awal musim. Tapi tetap bisa dipertahankan Ancelotti.

 

● PAULO FERREIRA

Gaji: 30.000 pounds

Tampil: 5

Starter/Pengganti: 3/2

Menit bermain: 291

Indeks Actim: 57

Ranking Actim: 341

Prediksi: Kendati jarang diturunkan di Chelsea, nama Ferreira tetap akan masuk ke skuad Portugal di Piala Dunia, menggantikan Jose Bosingwa.

 

● JULIANO BELLETTI

Gaji: 50.000 pounds

Tampil: 15

Starter/Pengganti: 8/7

Menit bermain: 819

Indeks Actim: 55

Ranking Actim: 349

Prediksi: Keluar dari Chelsea di akhir musim, karena kontrak berakhir, dan usianya yang sudah menginjak 34 tahun.

Krisis Timnas Inggris, Keropos dari dalam

March 23, 2010 on 2:56 am | In sepak bola | 4 Comments


Berbagai peristiwa buruk mewarnai persiapan The Three Lions menuju ke Piala Dunia. Tanda-tanda kegagalan Inggris?

TAHUN lalu, Inggris merupakan tim favorit yang berpeluang besar menjadi juara Piala Dunia 2010. Betapa tidak, mereka berhasil memetik sembilan kemenangan dari 10 laga di babak kualifikasi. Sayang, status itu kini tak lagi disandang Inggris. Bukan disebabkan faktor dari luar, melainkan pengeroposan di tubuh timnas sendiri.

Sederet kabar buruk didapat The Three Lions di masa persiapan menuju ke Afrika. Kabar buruk terakhir tentunya mengenai cedera David Beckham, yang gagal tampil di pentas Piala Dunia. Sebelumnya, tentu semua masih ingat mengenai kabar cedera dan skandal Ashley Cole, cedera Rio Ferdinand, hingga skandal John Terry yang membuat Wayne Bridge enggan membela timnas.

Absennya Cole dan Bridge tak bisa membuat Fabio Capello secara serta-merta mendatangkan Patrice Evra sebagai penggantinya. Tak ada bursa transfer musim dingin atau musim panas guna mendatangkan pemain-pemain berkualitas di timnas. Memang bukan hal enteng untuk menemukan pemain berbakat guna membela timnas. 

Beruntung, Inggris memiliki sosok bernama Capello. Dengan gaji sebesar 6 juta pounds setahun, pelatih asal Italia itu memang didapuk untuk menyelesaikan masalah. Pilihan FA tepat. Capello memang selalu bersikap tenang menghadapi semua masalah. Dia mampu menyelesaikan semuanya, mulai dari masalah cedera metatarsal hingga masalah rumah tangga.

Capello juga diyakini akan mengikuti jejak kesuksesan Sir Alf Ramsey, eks manajer timnas Inggris 1966. Dia mampu membuat pasukannya mencetak empat gol, tanpa adanya sosok pemain sayap ketika Inggris mengalahkan Jerman Barat di babak final Piala Dunia 1966.

Capello bisa juga mengikuti jejak kesuksesan Luis Aragones, pelatih Spanyol ketika merengkuh gelar Euro 2008 lalu. Dia rela menghapus nama Cesc Fabregas di lini tengah guna memperkuat barisan tengah yang dipenuhi empat midfielders.

Apalagi Capello juga berhasil memupus anggapan yang menyebut Steven Gerrard dan Frank Lampard tak bisa bermain bersama. Dia juga memutuskan duet Michael Owen dan Wayne Rooney, yang tak pernah berhasil. Capello jugalah yang akhirnya mencopot ban kapten John Terry akibat skandal yang menimpanya.

So, krisis boleh saja tengah menimpa Rooney dkk di timnas Inggris, tapi mereka seakan mendapatkan jaminan asuransi dalam diri Capello. Pria yang mampu menyelesaikan semua masalah.

 “Perbedaan besar saat menangani timnas adalah segi psikologisnya. Penting rasanya untuk melatih pikiran, menemukan rasa percaya diri, dan membentuk mental jawara. Tantangan ini baru buat saya. Dan di usia seperti saya sekarang, Anda butuh tantangan baru atau menikmati hidup saja. Dan ini adalah tantangan paling penting dalam hidup saya,” pungkas dia.=Ruri

(DATA)

Masalah timnas Inggris jelang Piala Dunia

  • Skandal John Terry dan Wayne Bridge
  • Cedera David Beckham
  • Cedera Rio Ferdinand
  • Cedera Ashley Cole
  • Pengunduran diri Bridge dari timnas Piala Dunia
  • Pencopotan ban kapten dari Terry
  • Inkonsistensi penampilan Theo Walcott

Juventus, Dianggap tak kompeten

March 5, 2010 on 3:29 am | In Uncategorized | 1 Comment


Penunjukkan Alberto Zaccheroni sebagai pelatih menjadi bukti betapa amatirnya Juventus.

Peluru itu akhirnya ditembakkan. Vonis pun akhirnya dijatuhkan. Kursi Ciro Ferrara akhirnya dicongkel dan dilengserkan. Namun sepertinya solusi ini tak akan memecahkan persoalan Juventus. Tindakan ini justru membuktikan, setelah kembali ke Serie-A usai skandal Calciopoli, Juve sama sekali tak berkompeten untuk berada di level tertinggi.

Jean-Claude Blanc dipromosikan dari posisi general manager menjadi Presiden Klub. Padahal sesungguhnya dia masih mengendalikan tugas-tugas sebelumnya sebagai general manager. General Manager saat ini, Roberto Bettega malah lebih berperan sebagai asisten Blanc.

Tak hanya itu. Secara teknis, sebenarnya Blanc juga merangkap sebagai Direktur Umum Juventus, karena tak ada satu orang pun mengisi jabatan itu di Bianconeri sekarang. Dengan kondisi tersebut, paling tidak Blanc mempermudah publik untuk langsung menunjuk hidungnya saat Juventus terus mengalami kemunduran.

Pebisnis asal Prancis itu memang boleh punya pengalaman segudang. Dia sangat berpengalaman mengorganisir event-event olahraga kelas dunia, seperti turnamen tenis Prancis Terbuka atau balap Paris-Dakar. Namun satu hal harus diingat, dia sama sekali belum pernah berkecimpung dalam dunia sepak bola sebelum di Juventus.

Keberadaan dirinya di Juve sebenarnya lebih karena Juve membutuhkan figur baru dan “bersih” pasca skandal Calciopoli pada 2006 lalu. Sayang, desakan akan adanya figur tersebut ternyata malah membuat Juve menunjuk orang yang sama sekali tak berkompeten.

Lihatlah seperti apa kinerjanya selama empat tahun terakhir. Didier Deschamps yang membawa Juve promosi kembali ke Serie-A sadar betul dirinya tak akan mendapatkan pemain yang diinginkannya setelah promosi. Mundur pun menjadi solusi Deschamps sebelum musim baru bergulir.

 

BOM WAKTU

Blanc pun lalu memasukkan nama Claudio Ranieri ke Juve. Bukan sebuah kesuksesan yang didapat, melainkan surat pemecatan diulurkan ke tangan Ranieri ketika musim tinggal menyisakan dua pekan. Ferrara pun ditunjuk untuk menggantikannya.

Tapi ternyata Ferrara didapuk sebagai pelatih permanen, bukan pelatih sementara seperti yang sebelumnya diperkirakan publik. Sekarang Ferrara sudah pergi, sehingga posisi itu jatuh ke tangan Alberto Zaccheroni, tapi hanya sampai Rafael Benitez bisa membebaskan dirinya dari Liverpool. Rencana ini pun sebenarnya tak ubahnya seperti bom waktu.

Kenapa? Kalau memang Juve berniat mempersilakan Rafa menggelar era baru musim depan, mengapa sekarang mereka memperkerjakan pelatih yang memiliki taktik andalan yang jauh berbeda dengan Rafa? Sekarang Zac sudah mulai mempraktikkan taktik tiga pemain defender yang pastinya akan langsung diobrak-abrik Rafa kalau memang dia tiba musim panas nanti.

Pemilihan Zac seakan menandakan Juve yang terdesak memperkerjakan pelatih yang masih available di bursa saat ini. Pelatih yang rela menerima kontrak hanya selama empat bulan, tak peduli taktiknya sesuai bagi Juve atau tidak.

Melihat kondisi tersebut, wajar rasanya seandainya Juve nanti tak lolos ke Liga Champions musim depan. Dalam beberapa musim terakhir, kecuali Inter, peta kekuatan di Serie-A cenderung seimbang. Misalnya musim ini. Ajaib rasanya melihat Lazio dan Udinese berkutat di papan bawah, sementara Palermo, Napoli, Bari, dan Genoa, malah sibuk bersaing menuju ke pentas Eropa.

Di musim ini juga, siapa yang bisa menduga ketika AS Roma disulap dari klub yang sempat berkutat di zona degradasi, tapi mampu duduk di posisi kedua di periode Februari?

Ranieri pasti sedang menikmati momen ini. Melihat bekas klubnya mengais poin di Livorno. Rasanya pasti menyenangkan ketika dendam itu terbalaskan, meski mungkin Ranieri tak terlalu frontal saat mengatakannya. Dia berhasil membuat Roma tak terkalahkan dalam 19 laga. Dan ketika Luca Toni pulih, siapa yang bisa menyangkal AS Roma sebagai kandidat scudetto musim ini?

Tentu saja keinginan itu ditebar dengan harapan Inter akan tersandung, meski Nerazzurri kini bukan lagi sebuah klub yang membeli pemain hanya berdasarkan penampilan. Dan tak peduli bagaimana pemain-pemain itu akan masuk ke skema taktik pelatih.

Inter juga bukan lagi klub yang menghabiskan dana besar untuk membeli bintang dadakan dan berharap mereka akan tetap menjadi bintang di Serie-A tanpa memberi waktu beradaptasi. Inter bukan lagi klub yang terus memecat pelatihnya dan tak punya rencana jelas di masa depan.

Inter tak lagi jadi klub yang tak punya kemampuan manajerial yang kompeten. Intinya, kini semua jejak inkompetensi Inter dulu diikuti Juventus yang kini sama sekali tak kompeten.(*)

John Terry, 13 wanita penggoda

March 5, 2010 on 3:28 am | In modern | 3 Comments


Sebanyak 13 wanita diketahui sudah pernah berkencan dengan Terry selama dia mengenal Toni Poole.

Kehidupan glamor memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan para pemain sepak bola. Limpahan harta melimpah sangat identik dengan kehidupan glamor yang tak jauh dari minuman beralkohol, judi, dan godaan wanita-wanita cantik.

Termasuk di antaranya John Terry. Sudah berulangkali kapten Inggris ini membuat ulah dengan para wanita cantik di klub-klub malam. Penunjukkan dirinya sebagai kapten Inggris pun tentu disertai dengan berbagai syarat, Terry harus mengubah perilakunya. Sang istri, Toni Poole, yang juga teman masa kecilnya pun bersemangat membantu. Namun ternyata Terry gagal membuktikannya. Dia terlibat affair dengan Vanessa Perroncel.

Parahnya, wanita yang satu ini merupakan mantan kekasih rekannya di Chelsea dan timnas Inggris, Wayne Bridge. Tak hanya itu, Bridge sendiri masih memiliki hubungan saudara dengan Toni. Tak heran, Toni dan Vanessa bersahabat dan kedua keluarga ini terlihat sering bepergian bersama di masa liburan.

Ternyata, bukan hanya Vanessa yang selama ini menghiasi daftar cinta dan skandal Terry. Masih banyak wanita lain yang masuk ke dalam daftar tersebut. Berikut beberapa di antaranya.

(dibuat anak-anak panah ya. John Terry ditaruh di tengah)

November 1999

Jayne Connery, model. Jayne merupakan salah satu affair pertama Terry, meski saat itu dia sudah berhubungan dengan Toni. Terry menjalin hubungan selama lima bulan dengan Connery.

Maret 2002

Nicola Ulian. Terry kembali menjalin hubungan selama lima bulan. Ulian tertangkap kamera sedang keluar dari hotel tempat Terry menginap saat Chelsea bertandang ke Liverpool.

September 2003

Rebecca Ryan. Model berusia 18 tahun ini diyakini sudah berada di kamar Terry di sebuah hotel di Manchester. Saat itu Terry bersama Timnas Inggris sedang berlaga di babak Pra-Piala Eropa 2004.

Januari 2004

Terry tertangkap kamera sedang mencium Linsey Dawn Mckenzie, seorang model telanjang di Inggris.

Mei 2004

Mantan bintang porno, Karina Clarke mengklaim Terry sudah menyelundupkannya ke kamar hotelnya. Di bulan yang sama, Emma Kearney, mengaku sudah pernah berhubungan intim dengan bintang Chelsea tersebut.

November 2004

Dikabarkan menjalin hubungan selama enam bulan dengan Lauren Pope, model glamor asal Inggris.

April 2005

Lianne Johnson, seorang wanita biasa di Inggris mengaku sudah berhubungan intim dengan Terry di toilet sebuah klub malam. Padahal Lianne saat itu sedang mengalami patah kaki dan menggunakan tongkat untuk berjalan.

September 2005

Menjalin hubungan selama dua bulan dengan Shalimar Wimble. Parahnya, Terry meminjam rumah Wayne Bridge untuk bertemu dengan Wimble.

November 2005

Jenny Barker, seorang gadis cantik berusia 17 tahun asal Inggris mengaku sudah berhubungan seks dengan Terry di mobil Bentley miliknya seharga 100 ribu pounds.

Januari 2006

Model glamor Alicia Douvall mengaku sudah berhubungan seks dengan Terry selama beberapa kali ketika Toni sedang mengandung anak Terry.

September 2009

Mulai berkencan dengan Vanessa Perroncel, mantan kekasih Wayne Bridge.

Desember 2009

Terry berjumpa dengan jurnalis sebuah tabloid di Inggris, Katie Hind di sebuah klub malam. Terry sempat membombardir Hind dengan SMS-SMS mesra, namun Hind tak pernah memedulikannya.

 

(BOKS)

Terry Merugi

Permasalahan yang harus dihadapi Terry ternyata tak berhenti hanya sebatas skandal seks dan cinta saja, melainkan sampai ke masalah finansial. Baru-baru ini, Aaron Lincoln, eks agen Terry, meminta bagian dari proses negosiasi deal iklan Terry dengan Umbro.

Pasalnya, meski deal belum terjadi, namun sebagai pihak yang sudah mewakili Terry dalam proses negosiasi itu, Lincoln merasa dia pantas dapat bagian. Pihak Umbro sendiri tak bersedia mengomentari permasalahan ini dan menganggap keributan yang terjadi antara pemain dan agennya bukan merupakan urusan sponsor.

Konflik ini terjadi setelah Terry secara sepihak memutuskan hubungan profesional dengan Lincoln pada Agustus lalu. Padahal Lincoln banyak membantunya mendapatkan berbagai tawaran iklan.

Selain Umbro, King of Shaves, dan Samsung, Terry juga menjadi bintang iklan Chelsea dan FA di seluruh Inggris. Uang sebesar lima juta pounds tercatat masuk dari iklan Umbro dan King of Shaves. Tak diketahui berapa jumlah pemasukan iklan-iklan lain yang dibintanginya.

Pemasukan dalam jumlah besar itu harus siap dirogoh dalam-dalam seandainya dia benar-benar bercerai dari Toni. Terry harus mengeluarkan tunjangan dalam jumlah besar dalam proses perceraian itu. Diperkirakan uang sebesar 10 juta dolar akan keluar dari kantongnya seandainya Toni benar-benar meminta cerai.

Hanya saja, Terry kini bisa sedikit bernafas lega. Mengingat sang istri masih memberikan satu lagi kesempatan untuk rujuk kembali. Hanya saja, kalau dia kembali berulah dan tak berubah, bukan tak mungkin permintaan cerai itu akan benar-benar terjadi.=Ruri

Don Revie, Disayang dan Dibenci

March 5, 2010 on 3:27 am | In Uncategorized | 6 Comments


Berhasil mendidik pemain bermental jawara, tim asuhan Revie sekaligus menjadi salah satu tim paling dibenci di Inggris.

PARA penggemar sepak bola pasti sulit melupakan tim Leeds United di era 1960-an dan awal 1970-an. Kesuksesan demi kesuksesan mereka raih sepanjang tahun itu. Mulai dari juara Divisi I musim 1963-64, Juara Liga Inggris musim 1968-69 dan 1973-74, Piala FA 1972, Piala Liga 1968, dua Piala Inter-Cities Fairs 1968 dan 1971.

Lalu, siapa sebenarnya tokoh di balik sederet kesuksesan tersebut? Jawabannya, Donald George Revie, atau yang lebih dikenal sebagai Don Revie. Dia memulai kariernya di The Whites sebagai player-manager pada Maret 1961. Sekitar 2,5 tahun sebelumnya, Revie berstatus sebagai pemain Leeds dengan posisi sebagai centre-forward.

 Di awal kariernya sebagai manajer, dia belum berhasil membawa timnya merebut gelar juara Divisi II. Apalagi kondisi klub tengah terkena krisis keuangan, sehingga membuat Revie tak mampu berbuat banyak. Untungnya, di akhir musim itu, dia berhasil menghindari zona degradasi dan tak turun ke Divisi III.

Keberhasilan itu seakan melecut semangat Revie. Di musim berikutnya, dia membalikkan semua kondisi. Leeds United berhasil promosi ke Divisi I di musim 1963-64. Sejak itu Revie beserta pasukannya sama sekali tak tertahankan. Mereka tak pernah finis di luar posisi empat besar antara 1965—1974. Kesuksesan demi kesuksesan pun mereka raih sepanjang rentang waktu tersebut.

Apa rahasia sukses Revie? Ternyata dia berhasil membakar semangat para pemainnya setiap menjelang laga. “Kalau kalian ingin menjadi juara, milikilah mental juara. Begitupun kalau kalian sudah menjadi juara, bersikaplah sebagai seorang jawara, di dalam lapangan atau di luar lapangan. Seorang pemain sepak bola tak cukup hanya mampu meraih gelar, tapi dia juga harus berperilaku layaknya seorang jawara,” kata dia.

Karenanya, dia benar-benar menanamkan disiplin keras kepada para pemain. Revie tak mengizinkan pemain memiliki rambut melebihi krah kostum. Dia pun dikabarkan pernah menggertak dua pemain yang diketahuinya menonton bioskop dengan membeli kursi yang paling murah. “Sebagai seorang jawara, seharusnya kalian duduk di kursi untuk juara, dan bukan di kursi murahan seperti ini!” bentak Revie.

 

JAUH KE DEPAN

Uniknya, tak ada satu pun pemain yang mengeluh karena harus menaati peraturan-peraturan yang diterapkan Revie. Bahkan Peter Lorimer, salah satu pemain legendaris Leeds menyebut, sosok Revie malah dianggap sebagai sosok ayah dalam tim. “Kami sadar, apa yang dilarang olehnya merupakan yang terbaik buat kami,” kata dia.

“Pemikiran Revie selalu ke jauh depan. Di saat klub lain belum menerapkan peraturan berangkat ke laga tandang sehari sebelum pertandingan, kami sudah melakukannya. Begitu pula dengan peraturan diet makanan sebelum laga. Mungkin itu normal dilakukan di zaman sekarang, tapi Revie sudah menerapkannya 40 tahun lalu,” imbuh Lorimer.

Sayang, di balik semua kesuksesan itu, Leeds United di era Revie harus rela disebut sebagai salah satu tim paling dibenci sepanjang sejarah sepak bola Inggris. Di lapangan, mereka diberkahi bakat yang luar biasa seperti Lorimer, Johnny Giles, dan Billy Bremmer.

Tapi bakat itu diikuti dengan gelar Dirty Leeds yang tersemat di dahi mereka. Media sering menghujat tim Leeds yang sering bermain kasar. Pemain-pemain seperti Billy Bremner dan Norman Hunter, sering terlibat pertikaian dengan pemain lawan. Bremner bahkan pernah menarik krah kostum pemain Tottenham Hotspur, Dave Mackay, akibat menekel Bremner pada 20 Agustus 1966.

Namun di balik sikap bengalnya, rupanya Bremner merupakan anak kesayangan Revie. Revie pernah sampai mengancam manajemen klub yang ingin menjual Bremner dengan harga 25 ribu pounds. “Kalau dia pergi, maka saya juga pergi.” Ancaman itu ternyata manjur, klub tak jadi menjual Bremner.

Revie sadar betul Bremner adalah salah satu aset berharga bagi tim, termasuk Bobby Collins tentunya. Tak heran, di bawah asuhan Revie, Bremner sampai merebut gelar Pemain Terbaik Liga Inggris bersama Collins. Di saat yang sama, Revie juga merebut gelar sebagai manajer terbaik se-antero Inggris.=Ruri

 

DATA REVIE

Nama lengkap      : Donald George Revie

Lahir                     : Middlesbrough (Inggris), 10 Juli 1927

Wafat                    : Edinburgh (Skotlandia), 26 Mei 1989

Karier pemain      : Leicester City (1944-1949), Hull City (1949-1951), Manchester City (1951-1956), Sunderland (1956-1958), Leeds United (1958-1962)

Karier pelatih       : Leeds United (1961-1974), Inggris (1974-1977), Uni Emirat Arab (1977-1980), Al-Nasr (1980-1984), Al-Ahly (1984-1985)

 

(BOKS)

Dimusuhi FA

USAI mengantar kesuksesan bagi Leeds, Revie pun menerima tawaran sebagai manajer timnas Inggris. Kontroversi lain dibuatnya saat menukangi Inggris. Padahal awalnya dia memulai jabatan itu dengan baik saat mengalahkan Cekoslovakia dengan skor 3-0 di Pra-Piala Eropa 1976.

Tapi dia gagal membawa Inggris lolos ke turnamen tersebut. Sejak itu dia dianggap gagal membawa kesuksesan bagi The Three Lions. Bukan prestasi yang diukir, tapi malah kontroversi yang dibuat. Dia mengaku diam-diam sudah bernegosiasi dengan Asosiasi Sepak Bola Arab Saudi saat dia masih menjabat sebagai manajer Inggris.

Tak hanya itu, dia pun dihujani kritik ketika menjual kontrak pembuatan kostum timnas ke perusahaan lain. Dia dianggap mengambil keuntungan dari penjualan tersebut. Kontroversi lain terjadi saat dia memutuskan mengundurkan diri.

Dia lebih memilih menjual ceritanya secara eksklusif kepada Harian Daily Mail, bahkan sebelum mengatakan keputusannya kepada FA. Media lain pun langsung heboh dan menyebut Revie menerima jabatan itu karena gajinya di Arab Saudi naik 17 kali lipat dibandingkan gajinya sebagai manajer Inggris.

Tentu saja berita ini membuat FA meradang. Mereka melarang Revie terlibat dalam dunia sepak bola selama 10 tahun. Namun, hukuman ini dihapus ketika Revie melakukan banding. Revie pun akhirnya memilih berkarier di Arab Saudi hingga akhir kariernya sebagai pelatih.

Sepertinya FA benar-benar menaruh dendam terhadap Revie. Di saat Revie meninggal dunia pada 26 Mei 1989, tak satupun pejabat FA yang datang menghadiri pemakamannya. Bahkan FA juga tak memerintahkan semua pertandingan untuk menggelar upacara penghormatan selama satu menit bagi Revie.

Beruntung masih ada mantan-mantan pemain Leeds yang masih menghormatinya dan datang ke upacara pemakaman. Mulai dari Allan Clarke, Jack Charlton, Billy Bremner, sampai Johnny Giles.

“Dia adalah seorang pria sejati sekaligus sebagai manajer terbaik yang membungkus kami dengan kain emas dan memperlakukan kami dengan baik. Di bawah asuhannya, Anda akan merasa lebih tinggi tiga meter daripada pemain, dan membuat kami merasa rela sekalipun harus mati demi Leeds United,” pungas Terry Cooper, pemain legendaris Leeds.(*)

John Terry, Kehidupan tak lagi sama…

March 5, 2010 on 3:25 am | In modern | No Comments


Skandalnya mengguncang Inggris. Publik kini memusuhinya.

Kehidupan kini tak lagi sama bagi eks kapten Inggris, John Terry. Usai skandal seksnya terkuak bebas ke media, dipastikan hidupnya tak akan lagi sama. Ke manapun dia pergi, pasti semua mata meliriknya, menghinanya. Skandal seks itu akan terus diingat publik sepak bola Inggris sampai kapanpun.

Dia tak akan lagi bisa berjalan di lounge khusus sponsor di Stadion Wembley dan mewakili timnas Inggris tanpa melihat pandangan-pandangan negatif di sekitarnya. Penonton dan jurnalis pasti akan berbisik-bisik dan menghinanya saat melihatnya berjalan di lounge tersebut.

Dia juga tak bisa lagi duduk di konferensi pers dan berbicara mengenai nilai-nilai kepercayaan dan kekompakan dalam sebuah tim. Terry tak akan punya nyali untuk memberi contoh kepada anak-anak yang ingin menjadi pemain sepak bola. Semua orang pun pasti akan menertawakannya ketika dia berbicara mengenai tanggungjawab seorang pemimpin.

Jadi, sebenarnya kalau Terry punya harga diri, dia akan menerima itu semua dengan lapang dada dan mengundurkan diri sebagai kapten timnas dan dari timnas Inggris. Dengan begitu, dia akan bisa meminimalisir semua berita negatif tentangnya dan menunjukkan pada dunia, betapa dia masih punya harga diri.

Tapi ternyata tidak. Kendati sudah tak lagi berstatus sebagai kapten Inggris, namun tanda-tanda untuk mundur dari timnas tak juga muncul. Padahal skandal seks ini sudah benar-benar mencoreng sejarah sepak bola Inggris dalam satu dekade terakhir.

Skandal ini merupakan yang terbesar sejak mantan manajer Manchester United, Tommy Docherty terbukti menjalin affair dengan istri ahli fisioterapi klub itu pada 1977. Skandal itu membuat dirinya dipecat. Namun, Clive James, seorang presenter televisi asal Australia, masih membela Docherty dengan mengatakan jika Docherty sebenarnya masih pantas mengelola sebuah klub, meski terlibat skandal itu.

Terry bisa saja mengusung alasan tersebut. Malaikat pun tahu talentanya yang besar sebagai pemain sepak bola. Tak ada yang bisa membantah kedudukannya sebagai bek tengah timnas Inggris. Hanya saja, publik pasti akan sulit melupakan perilaku negatifnya tersebut.

Sulit rasanya mengurangi banyaknya publikasi mengenai dirinya saat ini, meski mungkin hanya setengah dari berita itu yang benar. Satu-satunya kesempatan adalah meminta maaf dan menggunakan alasan lama jika kehidupan pribadinya tak akan pernah memengaruhi performanya di dunia sepak bola.

Apabila Terry mengatakannya, dia sama saja dengan mengatakan jika politik dan olahraga seharusnya tak boleh dicampur. Ide bagus tentunya. Tapi sangat naif rasanya mengatakan hal itu di sebuah negara di mana kehidupan sepak bola berjalan seiring dengan kehidupan glamor ala selebriti.

Rasanya kesempatan itu sudah tak ada lagi bagi Terry. Dia sudah tak lagi memegang kartu truf. Kisah pengkhianatannya terhadap Wayne Bridge, eks rekan setim di Chelsea dan rekan di timnas Inggris, rasanya akan sangat sulit dilupakan.

Jadi, apa yang terjadi pada Terry dan Perroncel di kamar tidur kini sudah bergeser ke ruang ganti timnas Inggris. Dan ini yang menjadi masalah Fabio Capello, manajer The Three Lions.

Manajer asal Italia itu enggan mengambil keputusan gegabah. Dia bukan tipe orang yang bisa dipojokkan media. Hanya saja dia harus membuat keputusan besar dalam waktu dekat. Apakah dengan mencoret nama Terry dari skuad Inggris akan memengaruhi peluang Inggris merebut gelar juara di Piala Dunia nanti?

Keputusan itu bakal sulit karena bakat Terry sebagai defender terbaik Inggris dan memiliki bakat alami sebagai pemimpin di lapangan. Namun sebelum mengambil keputusan tersebut, baik rasanya Capello mendengarkan nasehat dari Harry Redknapp, manajer Tottenham Hotspur.

“Harus ada standar tertentu bagi para pemain sepak bola di Inggris. Pasalnya mereka adalah contoh bagi anak-anak muda di luar sana yang ingin menjadi pemain sepak bola. Para pemain haruslah berperilaku positif karena anak-anak mencontoh mereka setiap hari,” kata Redknapp.

Terry tentu saja tak akan bisa menjadi contoh lagi. Dia kini menjadi musuh banyak orang. Dia sudah melangkah terlalu jauh, dan tak ada lagi jalan mundur baginya. So, kehidupan memang tak lagi sama bagi Terry mulai sekarang.(*)

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^