John Terry, Kehidupan tak lagi sama…

March 5, 2010 on 3:25 am | In modern |


Skandalnya mengguncang Inggris. Publik kini memusuhinya.

Kehidupan kini tak lagi sama bagi eks kapten Inggris, John Terry. Usai skandal seksnya terkuak bebas ke media, dipastikan hidupnya tak akan lagi sama. Ke manapun dia pergi, pasti semua mata meliriknya, menghinanya. Skandal seks itu akan terus diingat publik sepak bola Inggris sampai kapanpun.

Dia tak akan lagi bisa berjalan di lounge khusus sponsor di Stadion Wembley dan mewakili timnas Inggris tanpa melihat pandangan-pandangan negatif di sekitarnya. Penonton dan jurnalis pasti akan berbisik-bisik dan menghinanya saat melihatnya berjalan di lounge tersebut.

Dia juga tak bisa lagi duduk di konferensi pers dan berbicara mengenai nilai-nilai kepercayaan dan kekompakan dalam sebuah tim. Terry tak akan punya nyali untuk memberi contoh kepada anak-anak yang ingin menjadi pemain sepak bola. Semua orang pun pasti akan menertawakannya ketika dia berbicara mengenai tanggungjawab seorang pemimpin.

Jadi, sebenarnya kalau Terry punya harga diri, dia akan menerima itu semua dengan lapang dada dan mengundurkan diri sebagai kapten timnas dan dari timnas Inggris. Dengan begitu, dia akan bisa meminimalisir semua berita negatif tentangnya dan menunjukkan pada dunia, betapa dia masih punya harga diri.

Tapi ternyata tidak. Kendati sudah tak lagi berstatus sebagai kapten Inggris, namun tanda-tanda untuk mundur dari timnas tak juga muncul. Padahal skandal seks ini sudah benar-benar mencoreng sejarah sepak bola Inggris dalam satu dekade terakhir.

Skandal ini merupakan yang terbesar sejak mantan manajer Manchester United, Tommy Docherty terbukti menjalin affair dengan istri ahli fisioterapi klub itu pada 1977. Skandal itu membuat dirinya dipecat. Namun, Clive James, seorang presenter televisi asal Australia, masih membela Docherty dengan mengatakan jika Docherty sebenarnya masih pantas mengelola sebuah klub, meski terlibat skandal itu.

Terry bisa saja mengusung alasan tersebut. Malaikat pun tahu talentanya yang besar sebagai pemain sepak bola. Tak ada yang bisa membantah kedudukannya sebagai bek tengah timnas Inggris. Hanya saja, publik pasti akan sulit melupakan perilaku negatifnya tersebut.

Sulit rasanya mengurangi banyaknya publikasi mengenai dirinya saat ini, meski mungkin hanya setengah dari berita itu yang benar. Satu-satunya kesempatan adalah meminta maaf dan menggunakan alasan lama jika kehidupan pribadinya tak akan pernah memengaruhi performanya di dunia sepak bola.

Apabila Terry mengatakannya, dia sama saja dengan mengatakan jika politik dan olahraga seharusnya tak boleh dicampur. Ide bagus tentunya. Tapi sangat naif rasanya mengatakan hal itu di sebuah negara di mana kehidupan sepak bola berjalan seiring dengan kehidupan glamor ala selebriti.

Rasanya kesempatan itu sudah tak ada lagi bagi Terry. Dia sudah tak lagi memegang kartu truf. Kisah pengkhianatannya terhadap Wayne Bridge, eks rekan setim di Chelsea dan rekan di timnas Inggris, rasanya akan sangat sulit dilupakan.

Jadi, apa yang terjadi pada Terry dan Perroncel di kamar tidur kini sudah bergeser ke ruang ganti timnas Inggris. Dan ini yang menjadi masalah Fabio Capello, manajer The Three Lions.

Manajer asal Italia itu enggan mengambil keputusan gegabah. Dia bukan tipe orang yang bisa dipojokkan media. Hanya saja dia harus membuat keputusan besar dalam waktu dekat. Apakah dengan mencoret nama Terry dari skuad Inggris akan memengaruhi peluang Inggris merebut gelar juara di Piala Dunia nanti?

Keputusan itu bakal sulit karena bakat Terry sebagai defender terbaik Inggris dan memiliki bakat alami sebagai pemimpin di lapangan. Namun sebelum mengambil keputusan tersebut, baik rasanya Capello mendengarkan nasehat dari Harry Redknapp, manajer Tottenham Hotspur.

“Harus ada standar tertentu bagi para pemain sepak bola di Inggris. Pasalnya mereka adalah contoh bagi anak-anak muda di luar sana yang ingin menjadi pemain sepak bola. Para pemain haruslah berperilaku positif karena anak-anak mencontoh mereka setiap hari,” kata Redknapp.

Terry tentu saja tak akan bisa menjadi contoh lagi. Dia kini menjadi musuh banyak orang. Dia sudah melangkah terlalu jauh, dan tak ada lagi jalan mundur baginya. So, kehidupan memang tak lagi sama bagi Terry mulai sekarang.(*)

No Comments yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^