Juventus, Dianggap tak kompeten
March 5, 2010 on 3:29 am | In Uncategorized |Penunjukkan Alberto Zaccheroni sebagai pelatih menjadi bukti betapa amatirnya Juventus.
Peluru itu akhirnya ditembakkan. Vonis pun akhirnya dijatuhkan. Kursi Ciro Ferrara akhirnya dicongkel dan dilengserkan. Namun sepertinya solusi ini tak akan memecahkan persoalan Juventus. Tindakan ini justru membuktikan, setelah kembali ke Serie-A usai skandal Calciopoli, Juve sama sekali tak berkompeten untuk berada di level tertinggi.
Jean-Claude Blanc dipromosikan dari posisi general manager menjadi Presiden Klub. Padahal sesungguhnya dia masih mengendalikan tugas-tugas sebelumnya sebagai general manager. General Manager saat ini, Roberto Bettega malah lebih berperan sebagai asisten Blanc.
Tak hanya itu. Secara teknis, sebenarnya Blanc juga merangkap sebagai Direktur Umum Juventus, karena tak ada satu orang pun mengisi jabatan itu di Bianconeri sekarang. Dengan kondisi tersebut, paling tidak Blanc mempermudah publik untuk langsung menunjuk hidungnya saat Juventus terus mengalami kemunduran.
Pebisnis asal Prancis itu memang boleh punya pengalaman segudang. Dia sangat berpengalaman mengorganisir event-event olahraga kelas dunia, seperti turnamen tenis Prancis Terbuka atau balap Paris-Dakar. Namun satu hal harus diingat, dia sama sekali belum pernah berkecimpung dalam dunia sepak bola sebelum di Juventus.
Keberadaan dirinya di Juve sebenarnya lebih karena Juve membutuhkan figur baru dan “bersih” pasca skandal Calciopoli pada 2006 lalu. Sayang, desakan akan adanya figur tersebut ternyata malah membuat Juve menunjuk orang yang sama sekali tak berkompeten.
Lihatlah seperti apa kinerjanya selama empat tahun terakhir. Didier Deschamps yang membawa Juve promosi kembali ke Serie-A sadar betul dirinya tak akan mendapatkan pemain yang diinginkannya setelah promosi. Mundur pun menjadi solusi Deschamps sebelum musim baru bergulir.
BOM WAKTU
Blanc pun lalu memasukkan nama Claudio Ranieri ke Juve. Bukan sebuah kesuksesan yang didapat, melainkan surat pemecatan diulurkan ke tangan Ranieri ketika musim tinggal menyisakan dua pekan. Ferrara pun ditunjuk untuk menggantikannya.
Tapi ternyata Ferrara didapuk sebagai pelatih permanen, bukan pelatih sementara seperti yang sebelumnya diperkirakan publik. Sekarang Ferrara sudah pergi, sehingga posisi itu jatuh ke tangan Alberto Zaccheroni, tapi hanya sampai Rafael Benitez bisa membebaskan dirinya dari Liverpool. Rencana ini pun sebenarnya tak ubahnya seperti bom waktu.
Kenapa? Kalau memang Juve berniat mempersilakan Rafa menggelar era baru musim depan, mengapa sekarang mereka memperkerjakan pelatih yang memiliki taktik andalan yang jauh berbeda dengan Rafa? Sekarang Zac sudah mulai mempraktikkan taktik tiga pemain defender yang pastinya akan langsung diobrak-abrik Rafa kalau memang dia tiba musim panas nanti.
Pemilihan Zac seakan menandakan Juve yang terdesak memperkerjakan pelatih yang masih available di bursa saat ini. Pelatih yang rela menerima kontrak hanya selama empat bulan, tak peduli taktiknya sesuai bagi Juve atau tidak.
Melihat kondisi tersebut, wajar rasanya seandainya Juve nanti tak lolos ke Liga Champions musim depan. Dalam beberapa musim terakhir, kecuali Inter, peta kekuatan di Serie-A cenderung seimbang. Misalnya musim ini. Ajaib rasanya melihat Lazio dan Udinese berkutat di papan bawah, sementara Palermo, Napoli, Bari, dan Genoa, malah sibuk bersaing menuju ke pentas Eropa.
Di musim ini juga, siapa yang bisa menduga ketika AS Roma disulap dari klub yang sempat berkutat di zona degradasi, tapi mampu duduk di posisi kedua di periode Februari?
Ranieri pasti sedang menikmati momen ini. Melihat bekas klubnya mengais poin di Livorno. Rasanya pasti menyenangkan ketika dendam itu terbalaskan, meski mungkin Ranieri tak terlalu frontal saat mengatakannya. Dia berhasil membuat Roma tak terkalahkan dalam 19 laga. Dan ketika Luca Toni pulih, siapa yang bisa menyangkal AS Roma sebagai kandidat scudetto musim ini?
Tentu saja keinginan itu ditebar dengan harapan Inter akan tersandung, meski Nerazzurri kini bukan lagi sebuah klub yang membeli pemain hanya berdasarkan penampilan. Dan tak peduli bagaimana pemain-pemain itu akan masuk ke skema taktik pelatih.
Inter juga bukan lagi klub yang menghabiskan dana besar untuk membeli bintang dadakan dan berharap mereka akan tetap menjadi bintang di Serie-A tanpa memberi waktu beradaptasi. Inter bukan lagi klub yang terus memecat pelatihnya dan tak punya rencana jelas di masa depan.
Inter tak lagi jadi klub yang tak punya kemampuan manajerial yang kompeten. Intinya, kini semua jejak inkompetensi Inter dulu diikuti Juventus yang kini sama sekali tak kompeten.(*)
1 Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^
< blockquote >< a href=”http://medicamentspot.com/”>MedicamentSpot.com. Canadian Health&Care.Best quality drugs.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy. No prescription drugs. Buy drugs online< /a >…
Buy:Synthroid.100% Pure Okinawan Coral Calcium.Valtrex.Actos.Mega Hoodia.Prednisolone.Nexium.Prevacid.Human Growth Hormone.Zovirax.Retin-A.Lumigan.Accutane.Zyban.Petcam (Metacam) Oral Suspension.Arimidex….
Trackback by FERNANDO — July 21, 2010 #