About My Family

bapak1.jpgmother_00284.JPGmas-cuk_0021.jpgael31.jpg

Michael Hargiyono

PRIA yang satu ini begitu hebat di mataku. Meski aku hanya mengenalnya selama 12 tahun sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tak banyak memori yang kuingat tentangnya. Aku hanya mampu mengingat hangat dekapannya yang kerap memelukku sejak kecil.
Aku baru mampu mengenalnya justru saat ia sudah tak ada lagi di bumi ini dan ketika aku sudah mampu merekam memori dan data yang lebih banyak di otakku. Cerita-cerita dari semua saudaranya bahkan saudara iparnya sekalipun mengenai bapak tak ada satupun yang cacat.
Mulai dari bagaimana ia berjuang membiayai semua biaya sekolah adiknya sampai mereka semua lulus sekolah. Setelah itu, ia baru memikirkan dirinya sendiri dan menikah di usia 41 tahun, padahal ibuku masih 22 tahun. “Bapakmu ki pengen adik-adiknya rampung sekolah sik, lagi kawin nduk,” begitu kata budheku. Maklum, bapak adalah anak pria sulung sehingga ia harus memberi contoh yang baik pada 7 adiknya.
Aku ingat satu kalimatnya sampai sekarang. Bagaimana ilmu itu tak pernah bisa berhenti dikejar. “Nek bapakmu iki ora sekolah, pasti yo ming macul ning Gondang.” (Kalau bapakmu tak sekolah, pasti juga cuma akan bertani di Gondang). Gondang sendiri adalah sebuah desa kecil nan asri di daerah Magelang, Jawa Tengah, tempat bapak kini beristirahat dengan tenang.
Saat sekolah, kata budheku lagi, bapak memang memiliki semangat yang besar. Betapa tidak, ia harus berjalan kaki sepanjang 30 kilometer sebelum mencapai sekolahnya. Belum ada sarana transportasi yang memungkinkan saat itu, bahkan sebuah sepeda pun tak dimilikinya. Semangat itu pula yang membuatku tak pernah ingin berhenti belajar dan terus menyalakan semangat bapak.
Ah, bapak. Meski aku hanya mengenalmu sebentar, namun wajahmu selalu terpatri dalam hatiku. Selama-lamanya.(*)

Yohana Sri Wening Budiningsih

WANITA yang satu ini tak pernah dipercaya teman-temanku sebagai ibu kandungku. Pasalnya, ia adalah seorang wanita yang sangat lemah lembut dan manja, sungguh berbanding terbalik dengan diriku. Tak hanya itu, dari segi fisik, kulitnya yang putih bersih membuat teman-temanku semakin tak percaya bagaimana aku bisa lahir dari kandungannya. Tapi sungguh, aku memang benar-benar lahir dari kandungannya.
Sejak kecil, aku memang kurang merasa dekat dengannya. Aku lebih dekat dengan ayahku. Namun, ia menjadi satu-satunya orang tuaku, sehingga akupun dekat dengannya sejak bapak meninggal dunia.
Sekarang, ibuku seakan menjadi prioritas hidupku. Aku ingin sekali menjaganya dan menjaganya. Ia sudah kembali ke tangan kami bertiga, dan semoga kali ini kami benar-benar bisa menjaganya...(*)

Leonardus Cuk Swandito

SEWAKTU kecil, aku tak pernah rukun dengan kakakku satu-satunya ini. Kami bertengkar hampir setiap hari. Pertengkaran antara kami berdua pun masih terus berlanjut sampai kami menginjak bangku SMA. Bahkan tak jarang, kami tak bertegur sapa selama beberapa minggu. Mungkin karena jarak umur kami yang terlalu dekat ya?
Ketika ia harus meninggalkan Indonesia tahun 1995 lalu, aku bahkan mensyukurinya dalam hati. Karena aku tak perlu menghadapi orang yang selama ini tak pernah rukun denganku.
Tapi tak berselang dua bulan setelah ia pergi, sebuah surat melayang untukku. Dari orang yang selama ini selalu bertengkar denganku. Katanya dia kangen padaku. Sebuah desiran halus menyapa di dada. Baru kali itu aku menyadari arti seorang kakak. Bener apa kata pepatah, jika kamu baru menyadari arti seseorang justru ketika ia sudah tak ada.
Sejak itu, ia berubah menjadi seorang kakak yang sangat baik. Ia mampu menggantikan sosok ayahku yang sudah tak ada meski jarak yang sangat jauh memisahkan kami berdua.
Kadang, ia masih suka janji palsu dan menjulukiku sebagai adik yang baru mampu Sabdo Malumahing Asto. Itu julukan yang ia tujukan pada aku dan adikku yang saat itu baru bisa terus meminta padanya.
Tapi sungguh, meski dengan semua kekurangannya, ia mampu memberiku kasih yang luar biasa dan aku bisa belajar padanya bagaimana belajar mandiri di tempat asing. Dia selalu memberiku semangat menjalani hidup walau sendirian merantau di tempat asing. Kalau kakakku bisa kenapa aku tak bisa? Itu selalu kutanam di benakku.
Kini, meski jarak memisahkan kami, tapi aku yakin suatu saat Tuhan pasti kembali mempertemukan kami setelah puluhan tahun berpisah.(*)

Yasinta Aprilia Widyaseanty

ADIKKU satu-satunya ini memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan aku. Orang-orang selalu menjuluki kami sebagai kakak-adik yang bagaikan langit dan bumi. Kalau ia pandai dandan, aku sebaliknya. Kalau dia pinter ngatur rumah tangga, aku sebaliknya. Kalau ia rajin bersih-bersih en ngatur barang-barang, aku sebaliknya. Dan sudah bisa ditebak, dia feminin habis, dan aku sebaliknya…
Tapi, kami berdua seakan saling melengkapi. Saling sayang dan kompak banget. Aku siap menolongnya kapanpun dia membutuhkanku. Sampai sekarang sekalipun, ketika ia sudah menikah, aku yakin ia masih membutuhkanku.
Meski manjanya minta ampun, tapi Lia selalu mampu mendamaikan kami sekeluarga. Ia mampu berperan menjadi penengah antara aku dan Mas Cuk atau antara aku dan ibu. Padahal aku yakin, ia sendiri memiliki masalah dengan ibu. Tapi ia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan selalu menjadi pendengar baik bagi kami semua.(*)

Michael Farrell Wibowo

Our little angel…

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^